
Malam nya Alfredo datang ke rumah Bintang untuk melaporkan tentang bisnis nya tersebut.Dengan berpakaian jas rapih,ia di temani oleh dua anak buahnya.
"Selamat malam bos" Sapa Alfredo yang memasuki ruangan Bintang.
"Duduk" Bintang mempersilahkan.
Berbeda dengan Alfredo yang memakai setelan Jas rapih,Bintang justru memakai setelan baju tidur.
"Tadi saya udah terima informasi dari pak Wijaya,Barang siap diantar" Bintang menatap Alfredo sambil tersenyum.
"Jadi kapan bisa saya ambil bos?" Tanya Alfredo.
"Malam ini juga bisa" Jawab Bintang.
"Iya bos,akan saya ambil malam ini juga" Alfredo langsung beranjak dari tempat duduk nya sambil sedikit membungkukkan kepala.
"Kamu pergi sendirian?" Tanya Bintang.
"Ada beberapa anak buah yang ikut bos" Jawab Alfredo.
"Kamu gak mau ajak saya?" Tanya Bintang lagi.
"Wah.. Gimana bisa saya perintah bos" Alfredo tersenyum.
"Tunggu sebentar,saya ganti baju gak lama" Bintang langsung beranjak dari duduknya dan pergi keluar ruangan diikuti oleh Alfredo di belakangnya.
Kamar Bintang dan Erika bersebelahan, letaknya ada di lantai dua.Sedangkan Ruangan pribadi Bintang ada di lantai tiga.
Erika masih di dalam kamarnya,setelah selesai mandi ia merebahkan tubuhnya di kasur yang sangat luas dan empuk tersebut.Erika menatap langit langit kamar dan perlahan memejamkan matanya.
"Bintang lagi ngapain ya?" Tiba tiba Erika membuka matanya dan bertanya kepada dirinya sendiri.
"Turun ah" Erika langsung bergegas keluar dari kamar untuk menemui Bintang.
Tok...tok...tok...
Erika mengetuk pintu kamar Bintang dengan menempelkan telinganya ke pintu.
"Bintang...Lo udah tidur?" Tanya Erika pelan.
Tak lama Erika mendengar suara pintu lift terbuka,ia langsung berjalan dan melihat ke arah lantai satu.Erika melihat Bintang keluar dari lift dengan pakaian yang sudah rapih,Bintang berjalan keluar rumah diikuti oleh Alfredo di samping dan keempat anak buah di belakangnya.
"Mau kemana dia?" Tanya Erika dengan suara pelannya. "Ah bodo amat,ngapain juga gue ikut campur" Erika berjalan menuju kamar nya.
Tetapi saat ia hendak membuka pintu kamar,tiba tiba perut nya berbunyi karena ia kelaparan.
"Woahh!!Apa itu?" Erika terkejut mendengar suara bunyi perut nya sendiri.
"Ahh bener,gue belum makan dari tadi siang.Ada makanan gak ya?" Erika langsung berjalan ke lantai satu dengan menuruni tangga.
"Waahh...Sepi banget" Bisik nya sambil melihat kesana kemari. "Permisi,ada orang gak?" Teriak Erika.
"Bener sih gak ada orang" Erika berjalan menuju ruang makan yang sangat megah tersebut.
Ia membuka tudung saji yang berada di atas meja makan tetapi hanya ada satu toples kerupuk yang tersisa di sana.
"Wahh...Dimana identitas nya sebagai orang kaya?" Tanya Erika kepada dirinya sendiri.
Ia langsung berjalan lagi dan membuka satu persatu lemari yang ada di ruang makan dan juga dapur bersih,tetapi hanya ada bumbu dapur di sana.
"Apaan ini??Dia orang kaya tapi gak punya makanan.Apa yang dia makan setiap hari?" Kata Erika sambil menendang kursi dengan kesal.
Erika berjalan lagi menuju dapur kotor dan membuka setiap lemari yang ada di sana.Akhirnya ia berhasil menemukan makanan berupa mie instan.
"Waah ada mie instan" Erika tersenyum sumringah dan segera mengambil dua bungkus mie instan.
Setelah memasaknya,Erika langsung menyantap makanannya tersebut dengan sangat lahap hingga ia tersedak makanan.
"Ohookkk...ohookkk!!!Airrr" Erika berjalan ke arah kulkas dan langsung membukanya.
"Hahhh????" Tiba tiba rasa perih di tenggorokan nya langsung hilang saat ia melihat botol minuman keras yang berjejer dan hampir memenuhi seluruh bagian kulkas.
"Apaan ini?" Erika terperangah dan mengambil satu botol minuman lalu membuka bagian tutupnya.
"Woahh,Bau alkohol" Erika langsung memasukan botol tersebut ke dalam kulkas dan menutupnya kembali.
"Aaaaaa...Udah gak ada makanan,Gak ada minuman yang aman lagi!!" Teriak Erika.
Setelah selesai menyantap mie instan nya,Erika duduk di ruang tv sambil membaca beberapa buku yang tergeletak di meja.
Seperti biasa,Bintang memakai masker wajah dan kacamata hitam saat sedang bepergian untuk urusan bisnis nya.Karena ia tidak mau ada orang lain yang mengetahui identitas nya sebagai pelajar dan juga mafia.
"Selamat datang Pak Feliks" Sapa pak Wijaya.
"Terimakasih pak Wijaya" Kata Bintang.
"Silahkan" Kata Pak Wijaya.
Feliks Duscha,itu adalah nama asli Bintang.Ayah Bintang berasal dari Rusia sementara ibu nya berasal dari Indonesia.Orang tua Bintang menikah karena di jodohkan atas kesepakatan keluarga mereka masing masing.
Ibu Bintang tidak memiliki darah Nusantara,Ia hanya lahir di Indonesia tetapi kedua orang tua nya berasal dari Spanyol yang menetap di Indonesia.
Ibu dan ayah Bintang berasal dari Keluarga Mafia kejam namun hanya kejam kepada lawan bisnis nya saja.
Ibu nya berasal dari keluarga Mafia di Spanyol dan ayahnya dari keluarga Mafia di Rusia.
Bintang lahir di Rusia dan di besarkan oleh kedua orang tua nya di Indonesia.Saat usianya sudah beranjak dewasa,kedua orang tua nya memberi nama Indonesia untuknya yaitu Bintang kavindra.
Disaat pemuda berusia 17 tahun sedang menikmati masa remaja nya dengan berfoya-foya dan bersenang-senang,Bintang menjalani masa muda nya dengan berbisnis yang disertai ancaman berdarah.
Selain nama Indonesia dan Rusia nya,Bintang juga memiliki nama khusus dalam organisasi nya.Sesama mafia akan mengenalnya dengan nama **Star Moran**.
Jadi,Bintang memiliki nama di masing-masing tempat yang berbeda.
"Sudah siap?" Tanya Bintang saat berada di dalam ruangan Pak Wijaya.
"Sudah,siap di antar" Jawab pak Wijaya.
"Ada hal yang ingin sekali saya tanyakan pak" Lanjut pak Wijaya.
"Oh silahkan" Bintang tersenyum.
"Apa tidak masalah menjual senjata secara ilegal seperti ini?" Tanya Pak Wijaya berbisik.
"Tidak ada masalah kalau tidak ada yang membuka mulut" Bintang menatap tajam pak Wijaya sambil menyeringaikan bibir nya.
"Di perusahaan ini hanya bapak dan wakil direktur yang tau" Lanjut Bintang.
"Oh...iya.." Pak Wijaya gugup dan menggenggam erat kedua tangannya sendiri.
"Lagi pula kalau badan intelijen tau, masalahnya pasti tidak akan begitu besar" Kata Bintang.
"Kalau boleh saya tau,apa alasannya pak?" Tanya Pak Wijaya.
"Ini perusahaan saya, perusahaan ini bekerja sama dengan aparat hukum negara terutama angkatan bersenjata.Bapak tau kan kalau perusahaan ini adalah perusahaan terbesar yang memproduksi senjata untuk di jual kepada para aparat hukum negara?" Tanya Bintang.
"Ya,tentu saja saya tahu" Jawab Pak Wijaya.
"Walaupun mereka tau kalau perusahaan ini menjual senjata secara ilegal,apakah mereka berani menuntut dan menutup perusahaan ini?Mereka juga pasti harus mempertimbangkan hal itu" Lanjut Bintang.
"Ahh..iya pak,saya percayakan semuanya kepada bapak" Pak Wijaya menundukkan sedikit kepalanya.
"Jangan khawatir,Biasa aja dong mukanya" Bintang menggoda pak Wijaya. "Saya pergi dulu" Bintang langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar gedung diikuti oleh Alfredo dan pak Wijaya di belakangnya.