
"Gimana dok keadaannya?" Tanya Erika kepada dokter yang baru saja memeriksa kondisi mama nya.
"sama seperti kemarin,belum ada perubahan sedikit pun" Kata dokter.
"Tapi kenapa belum sadar juga dok,Mama saya baik baik aja kan?Bisa sembuh kan?" Tanya Erika.
"Kita berdoa saja,untuk saat ini pasien harus tetap memakai selang oksigen nya untuk mempercepat proses pemulihan nya juga" Kata dokter. "Kalau begitu saya permisi" Lanjutnya.
"Iya dok,makasih" Kata Erika.
Seorang lelaki ber jas hitam rapih berdiri di balik pintu ruangan sambil menguping pembicaraan mereka.Setelah melihat dokter akan keluar ruangan,ia langsung pergi berjalan cepat dan tidak sengaja menabrak Ayu yang sedang berjalan menuju ruang inap mama Erika bersama teman temannya.
Brukkk!!...
Mereka saling bertabrakan.
"Maaf dek,saya tidak sengaja" Kata lelaki tersebut.
"Oh iya gak apa apa pak" Jawab Ayu.
"Kalau begitu saya permisi" Ucap nya.
"Yang mana ruangan nya?" Tanya Samuel.
"Yang ini" Ayu menunjukkan ruangan tersebut dan mengetik pintu terlebih dahulu.
"Masuk.." Kata Erika.
"Mama Lo udah sadar? Tanya Ayu.
"Belum, Kondisi nya masih sama kayak kemarin" Wajah Erika lesu.
"Sabar ya ka" Novia memeluk Erika.
"Makasih ya udah repot repot Dateng buat jenguk nyokap gue" Erika mengambil buah buahan yang diberikan Gibran.
"Tapi nyokap gue belum bangun.Jadi,mungkin gue yang makan buah-buahan nya" Erika mengangkat kantong plastik tersebut sambil tersenyum.
"Hei,saat kaya gini Lo masih bisa bercanda" Samuel menunjuk wajah Erika.
"Terus gue haru apa?Nangis gak bakal bikin nyokap gue sadar" Erika tersenyum.
"Oh iya, Bintang juga bela belain Dateng ke sini loh.Padahal biasa nya dia selalu sibuk" Kata Novia.
Erika langsung menatap Bintang dengan tatapan curiga karena apa yang di lihatnya kemarin.Iya langsung tersenyum dan melambaikan tangan kepada Bintang.
"Makasih ya" Kata Erika kepada Bintang.
"Yaelah,kayak sama siapa aja Lo" Bintang berjalan menghampiri Erika dan merangkul nya.
"Kayak nya kita gak bisa lama lama deh.Gak enak juga kan ngobrol santai gini di depan nyokap Lo yang masih belum sadar" Kata Samuel.
"Iya bener" Timpal Gibran.
"Yaudah,kita balik dulu ya.Kalau ada apa apa telfon aja" Kata Novia.
"Lo pulang sama mereka ya,gue harus di sini temenin Erika" Kata Ayu kepada Novia.
"Oh iya,gak apa-apa.Lagian gue juga kan di jemput" Kata Novia.
"Lo pulang aja kali.Gue gak apa-apa kok di sini,ada suster juga kan" Kata Erika kepada Ayu.
"Serius?" Tanya Ayu.
"Iya" Erika meyakinkan.
"Yaudah kalau gitu gue pulang ya.Inget,kalau ada apa-apa hubungi gue.Oke" Ayu mengacungkan jempol nya kepada Erika.
"Iya,iya"
"Yaudah yuk" Ajak Gibran.
Saat mereka sedang berjalan keluar ruangan,Erika langsung menarik tangan Bintang untuk mengajaknya berbicara sebentar.
"Kenapa?" Tanya Bintang.
"Gue mau tanya sesuatu" Kata Erika.
"Apa?" Tanya Bintang lagi.
"Kemarin Lo kemana gak ikut Nongkrong?" Tanya Erika.
"Gue ada urusan" Jawab Bintang.
"Urusan?" Tanya Erika curiga.
"Acara kumpulan anggota keluarga" Bintang menjawab dengan santai. "Kenapa emang?" Lanjut nya.
"Oh,gak apa-apa.Gue cuma pengen tau aja" Erika menepuk bahu Bintang sambil tersenyum.
"Oh,yaudah gue balik ya" Bintang menyentuh rambut Erika.
"Pertemuan keluarga?" Tanya Erika kepada dirinya sendiri saat Bintang sudah keluar ruangan.
"Bisa jadi sih,secara pakaian nya kemarin rapih banget.Di jemput mobil mewah,ditambah lagi ada pengawalnya juga" Erika berjalan mondar mandir.
"Gue jadi penasaran kayak apa keluarga nya Bintang.Secara hampir tiga tahun temenan gue gak pernah tau siapa orang tua nya,dimana rumah nya" Erika menyentuh dagu dengan jari tangan layaknya seorang detektif yang sedang berusaha memecahkan misteri.
***
"Bagaimana kondisinya?" Tanya seorang wanita berumur dengan pakai jas rapih yang bertanya kepada laki laki di hadapannya.
"Saya sudah tanyakan kepada dokter yang menangani nya.Ada penyakit yang sangat serius di jantung nya.Sampai hari ini dia belum sadari diri" Kata lelaki tersebut.
"Apa dia sedang koma?" Tanya wanita tersebut.
"Soal itu,saya tidak tahu pasti" Laki-laki tersebut menundukkan kepalanya.
"Seharusnya kau mencari tahu juga tentang itu" Teriak wanita tersebut sambil melemparkan tas yang ada di hadapannya ke arah lelaki itu.
"Maaf Bu" Jawabnya.
"Seharusnya dia mati secepatnya" kata wanita itu dengan wajaj penuh amarah.
"Jika itu yang ibu inginkan,saya siap melakukan nya" Kata laki laki tersebut sambil memegang erat perutnya karena kesakitan.
"Lakukan?apa yang akan kamu lakukan,bodoh!" Teriak nya.
"Saya mendengar satu hal,sekarang wanita itu hidup dengan bergantung pada selang oksigen yang di gunakan nya.Jika saya melepaskannya secara diam diam,apa yang mungkin akan terjadi?" Kata laki laki tersebut dengan tersenyum licik.
"Mati?" Tanya Wanita itu.
Lelaki tersebut hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum licik.
"Wahh... lakukanlah.Kali ini harus berhasil" Wanita itu tersenyum licik juga.
Wanita tersebut bernama Renita,usia nya hampir sama dengan mama Erika sekitar 40 tahunan.Dahulu,ia merupakan seorang putri tunggal pimpinan perusahaan yang sangat sukses di Korea Selatan.
Ibu nya asli Indonesia.Ia lahir di Jakarta.Ayah nya meninggal saat ia telah menikah
dengan suaminya yang merupakan pengusaha sukses juga.
Seluruh harta kekayaan orang tua jatuh ke tangan nya.Ia merintis perusahaannya sendiri dan sekarang sudah berkembang pesat menjadi perusahaan yang sangat maju di Jakarta.
Kembali lagi ke alasan mengapa Renita ingin membunuh Mama Erika.
Mama Erika atau Bu Tia bekerja di berbagai tempat yang berbeda beda setiap harinya.Ia pernah bekerja sebagai office girl selama satu minggu di perusahaan Bu Renita.
Suatu hari ia sedang membersihkan lantai di lorong kantor perusahaan,tepat nya di depan ruangan pimpinan yaitu Bu Renita.
Bu Tia tidak sengaja mendengar pembicaraan antara Bu Renita dengan sekertaris lelakinya.Pintu ruangan sedikit terbuka,hal itulah yang membuat pembicaraan nya tidak sengaja terdengar oleh Bu Tia.
"Gimana penjualan bulan ini?" Tanya Bu Renita kepada sekertaris nya.
"pendapatan meningkat drastis" Jawab sekretaris nya yang bernama pak Tio.
"Dalam bisnis memang kita harus sedikit bermain kotor" Kata Bu Renita.
"Tapi sampai kapan ibu akan menaruh morfin di dalam resep makanan?" Tanya Pak Tio.
"Sampai pendapatan bulan ini mencapai angka yang saya inginkan" Jawab Bu Renita.
Mendengar pembicaraan mereka,wajah Bu Tia langsung mendatar, Karena tidak menyangka dengan perbuatan yang dilakukan atasannya tersebut.
Tak lama sekertaris Tio keluar dari ruangan dan mendapatkan Bu Tia yang masih berdiri di depan ruangan tersebut.
"Ibu lagi ngapain?" Tanya pak Tio,Bu Renita yang mendengar nya dari dalam langsung beranjak terkejut karena ada orang yang mendengarkan pembicaraannya.
"Oh,saya lagi membersihkan lantai di daerah sini pak" Jawab Bu Tia.
"Ibu dengar pembicaraan kami?" Tanya Pak Tio.
"Pembicaraan?saya tidak mendengar pembicaraan apapun pak" Jawab nya.
"Sungguh?"
"Iya pak,saya permisi karena harus membersihkan bagian yang lain nya" Kata Bu Tia.
Setelah Bu Tia pergi,Bu Renita keluar menghampiri mereka dengan wajah yang masih cemas.
"Kenapa?" Tanya Bu Renita.
"Kayak nya office girl itu mendengar pembicaraan saya dan ibu" Kata Pak Tio.
"Kamu yakin?" Tanya Bu Renita yang bertambah cemas.
"Saya yakin Bu,saya tadi lihat pintu ruangan ini sedikit terbuka.Jadi tidak mungkin kalau dia tidak mendengar pembicaraan kita" Kata pak Tio.
"Bereskan masalah ini,bila perlu singkirkan dia" Bisik Bu Renita.