Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 91



"Gue pikir kemarin lo bakal masuk kedalam perangkap gue,hahaha gue akui lo emang pintar dalam hal kayak gini.Tapi gue mau tau,orang pinter dan pemberani kayak Lo ini punya rasa kemanusiaan gak terhadap korban gue selanjutnya?"


Baru saja membuka mata di pagi hari,Erika sudah mendapatkan pesan kotor seperti itu.Korban,apakah dia akan berulah lagi hari ini?Siapa yang jadi korban selanjutnya?


Erika melempar ponsel nya ke sembarang arah,ia melihat Bintang yang masih tertidur dengan sangat nyenyak di samping nya.


Erika tidak perduli dengan pesan yang Resya kirim,tetapi jika mengingat tentang kata Korban ia jadi bingung harus melakukan apa.


Erika memutuskan untuk menyegarkan badan nya terlebih dahulu.Beberapa menit kemudian setelah Erika keluar dari kamar mandi,terlihat Bintang yang sedang duduk termenung di atas tempat tidur karena baru saja terbangun.


"Kamu udah bangun?" Tanya Erika.


"Belum" Jawabnya dengan wajah setengah sadar.


Ponsel Erika berbunyi,Panggilan Video yang Resya inginkan.Dengan rasa malas nya Erika menerima panggilan tersebut.


"Gimana?Apa Lo gak kasihan?" Tanya Resya dengan kamera yang memperlihatkan dua orang manusia yang sedang terikat di kursi yang berdekatan.


"AYUU!!" Teriak Erika kaget. "Ayu,Itu lo kan?" Tanya Erika.


"Kurang jelas ya,yaudah nih gue deketin" Kata Resya yang berjalan mendekati Ayu. "Say hi dulu dong"


"Lo mau ngapain sih?Gue bilang gak usah banyak gaya deh!"


"Gue gak banyak gaya,gue mau Lo Dateng ke sini temuin gue"


"Kalo Lo mau ketemu sama gue,ya Dateng kesini lah.Gak punya ongkos Lo?Gue bayarin" Kata Erika dengan wajah kesal nya.


"Gue tau lo udah siapin rencana kan buat serang balik gue?"


"Rencana apaan sih? Ngomong aja deh apa intinya.Kalo Lo mau war gue jabanin sekarang juga,tapi gak usah bawa-bawa orang lain"


"Dateng kesini sekarang atau satu jam kemudian Lo bakal dapet kabar tentang kematian mereka.Inget,harus sendiri.Gak usah bawa suami Lo dan centeng-centeng nya itu"


"Lo dapet anak kecil itu dimana?Anak siapa itu?Lo gila ya??!!" Teriak Erika.


Tanpa menjawab pertanyaan Erika,Resya langsung menutup panggilan nya.


"Kenapa?" Tanya Bintang.


"Si Resya berulah lagi.Kamu tau gak?Aku tuh yakin banget kalo cewek yang jatuh dari lantai lima gedung sekolah itu pasti karena ulah si Resya"


"Terus sekarang dia mau ngapain lagi?"


"Ayu,Ayu sama satu orang lain di sandera sama dia"


"Ayu??Ayu temen kita??" Tanya Bintang.


"Iya siapa lagiiii.." Ucap Erika yang sudah mulai gemas sendiri.


"Kok bisa?"


"Ya mana aku tau?Nama nya orang gila ya bisa aja"


"Terus apa yang dia mau?"


"Dia mau aku kesana sekarang, sendiri"


"Sendiri?Aku ikut" Kata Bintang.


"Tapi aku gak tau apa yang akan dia lakuin kalo aku datang sama kamu"


Bintang hanya terdiam.


"Yaudah kalo gitu aku ganti baju dulu"


Dengan cepat Erika langsung masuk kedalam ruang ganti pakaian.Tidak lupa ia meminta izin kepada Bintang untuk memakai senjata yang kemarin akan ia pakai.



"Nona,ada yang bisa kami bantu?" Tanya Tori saat melihat gerak-gerik Erika yang terlihat sedang terjadi sesuatu.


"Gak ada,kalian tetap stay disini aja ya" Erika kembali berjalan untuk masuk ke dalam mobil nya dan dengan segera mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.


Di tengah-tengah perjalanan Resya kembali menghubungi Erika untuk menanyakan dimana keberadaan nya.


"Apa lagi sih???" tanya Erika.


"Pengawas ulangan lo ngitungin waktu?"


"Masih bisa bercanda ternyata"


"Btw lokasi nya dimana?Lo suruh gue Dateng tapi gak kirim alamat nya"


"Itu dia,Lo harus mandiri buat cari alamat nya sendiri.Inget ya,dua puluh menit lagi" Lagi-lagi Resya mematikan panggilan nya tanpa memberikan petunjuk apapun kepada Erika.


"Sialan.Banyak tingkah nih orang" Erika menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menghubungi Tori untuk mengecek dimana keberadaan Resya sekarang.


Tori memberikan alamat tersebut setelah lima menit berlalu dan wakt yang tersisa hanya tinggal lima belas menit lagi.


Dengan cepat Erika langsung menancap gas dengan kecepatan yang sangat tinggi di keramaian jalanan ibu kota.


Sepuluh menit berlalu,Erika sudah berada di jalanan butut yang terletak di pinggiran ibu kota.


Erika melihat beberapa rumah yang sudah terbengkalai dan ditumbuhi berbagai macam tumbuhan liar.Ia berfikir seperti tempat itu memang terkenal dengan kesan mistis nya.


Sebuah rumah yang terlihat lebih bagus dari rumah lainnya berhasil menarik perhatian Erika.Mengapa diantara banyak nya rumah terbengkalai yang ada,rumah itu yang paling bagus dan menarik.


Meskipun terlihat seperti berpenghuni,Justru hal itu yang memancing adrenalin Erika untuk turun dan menghampiri nya.


Ia Mengantongi satu pistol andalan dan dua kotak peluru.Entah apa yang Erika rencanakan,ia memakai earphone berwarna hitam bulat di telinga sebelah kirinya lalu turun dari mobil untuk mendekati area tersebut.


Erika berjalan dengan sangat berhati-hati,Ia menendang pintu tersebut dengan kaki nya.Pintu itu tidak terkunci,kemudian Erika langsung masuk kedalam rumah sambil membidikkan pistol nya dengan sangat fokus.


"Annyeong!" Sapa Resya yang sedang duduk diantara Ayu dan gadis kecil tersebut.


Terlihat mata Ayu yang langsung terbelalak saat melihat kedatangan Erika.Ia terus berusaha menggelengkan kepalanya tanda agar Erika segera pergi menjauh dari tempat itu.


"Kenapa?Lo jangan panik,gue akan lepasin kalian berdua" Kata Erika.


Ayu semakin berteriak histeris dengan mulutnya yang masih tertutup kain,gadis kecil itu juga melakukan hal yang sama.


"Apa yang mau Lo ucapin di akhir sisa hidup Lo ini?" Tanya Resya dengan sombongnya.


"Akhir sisa hidup?" Tanya Erika. "Apa ini?Apa yang Lo rencanain?" Erika melemparkan smirk kepada Resya.


"Yang jelas gue suruh Lo Dateng kesini bukan tanpa rencana"


"Baguslah,sekarang Lo lebih ngegunain otak wijen Lo itu"


Lagi-lagi Ayu berteriak seolah-olah sedang melihat sesuatu yang membahayakan untuk Erika.Sedangkan Erika merasa ada sesuatu yang sedang berdiri tegap di belakang nya.


Erika langsung menghindar di perhitungan yang tepat saat seseorang hendak membunuh dirinya dari belakang.


Seorang pria berumur dengan sebuah cangkul di tangannya.


Senyuman binar di bibir Resya langsung padam saat melihat bahwa Erika berhasil menghindar dari serangan frontal tersebut.


"Apa ini?Astaga astaga...Ternyata ini cangkul...Ternyata rumor tentang kakek cangkul itu beneran ada" Erika mengangguk-angguk takjub seolah-olah sedang mengejek skill cupu pria tersebut.


"Ngapain diem aja,ayo serang!!!" Teriak Resya.


Saat pria itu hendak menyerang Erika dengan cangkul kuno nya,Erika langsung menghindar dan menghajar pria berumur tersebut dengan sangat cepat.


Pria tersebut jatuh tersungkur tengkurap di lantai kotor rumah tua itu.Meskipun rumah tersebut terlihat bagus dari luar,nyatanya kondisi di dalam sangat memprihatinkan.benar-benar seperti rumah yang sudah terbengkalai sejak puluhan tahun lalu.


Erika meletakkan kedua tangan pria itu di punggungnya sendiri dan menginjak nya agar dia tidak bisa berkutik sedikit pun.


Karena penasaran dengan wajah nya,Erika membuka penutup wajah pria tersebut.Ia sedikit mengernyitkan dahi nya saat melihat wajah pak Leo yang ada di balik topeng tersebut.


"Hhh!! Daebak!!" Seru Erika yang menirukan gaya bicara Resya,ditambah lagi belakangan ini ia sangat suka menonton serial drama Korea.


"Ck!!..Padahal lebih aman kalo bapak gak tampakin wajah jelek ini di hadapan saya" Kata Erika dan pria itu hanya terdiam.


"Percaya gak sama saya?" Tanya Erika. "Percaya gak?"


"A-apa?" Tanya Pak Leo.


"Karena sekarang bapak melibatkan diri lagi dengan saya,cepat atau lambat akan berujung sama kematian bapak sendiri.Entah saya yang akan bunuh bapak atau dia" Dia yang Erika maksud adalah Resya. "Tapi saya rasa sih dia"


"Kenapa?Kenapa mau punya masalah sama saya lagi?Bapak dendam sama saya?Saya udah berbaik hati loh biarin bapak tetap hidup waktu itu"


Pria itu hanya terdiam.