Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 10



Tuk..tukk...tukk.tukk!


Suara ujung Pistol yang di ketuk kan pada kursi menembus keheningan ruangan yang gelap dan sunyi itu.Seorang lelaki ber jas hitam duduk di kursi sambil mengangkat kaki kanannya dengan wajah yang menatap langit langit ruangan.


Bersamaan dengan itu,kurang lebih sepuluh orang laki laki berbaris di hadapannya dengan wajah tertunduk.


"Sudah di siapkan barang nya?" Tanya Bintang dengan wajah yang masih menatap langit-langit ruangan.


"Sudah bos" Mereka menjawab dengan kompak.


"Berapa jumlah yang ada?" Tanya Bintang lagi.


"Seribu dua ratus" Kata Alfredo yang merupakan orang kepercayaan atau kaki tangan Bintang.


"Mana contohnya" Bintang berdiri dan meletakkan pistol yang ia pegang.


"Ini bos.Ada dua jenis seperti yang bos katakan" Alfredo memberikan dua buah kotak yang masing masing berisi pistol dengan jenis yang berbeda.


"Ini semi otomatis?" Tanya Bintang sambil menarik pelatuk pistol yang siap di tembakan pada objek sasarannya.


"Iya bos" Jawab Alfredo.


Doorrrrr!!!!!.


Suara tembakan bergema di ruangan yang sunyi tersebut.Bintang menembakkan peluru tersebut pada manekin yang biasa di jadikan objek untuk uji coba senjatanya yang siap untuk di jual kepada pengedar langganan nya.


"Ini Desert Eagle?" Tanya Bintang sambil menarik pelatuk pistol seperti sebelum nya.


Doorrrrr!!!.


Bunyi tembak kan kedua yang bergema di ruangan tersebut.Bintang langsung meniup ujung pistol, mengelusnya dan langsung meletakkan kembali ke tempatnya.


"Tepat jam 04.00 waktu Indonesia barat.Kalian sudah harus sampai di pelabuhan.Karena menjelang subuh adalah waktu yang paling tepat untuk memindahkan barang" Kata Bintang yang duduk kembali di kursi nya.


"Kalian tau kenapa?" Tanya Bintang.


"Tidak tahu bos" Jawab salah satu anak buahnya.


"Jawab" Bintang menunjuk Alfredo untuk memberikan penjelasan kepada para anak buahnya.


"Para petugas yang jaga keamanan malam hari di pelabuhan,selesai bertugas saat menjelang subuh.Sekitar jam 03.00 dini hari.Petugas selanjutnya akan berjaga di pagi hari sekitar pukul 07.00 Pagi" Kata Alfredo menjelaskan.


"Tandanya,saat waktu menjelang subuh tidak ada satupun petugas yang sedang berjaga.Jadi kita bisa memanfaatkan kesempatan itu" Lanjut Alfredo.


"Yap betul" Kata Bintang tiba tiba. "Pastikan besok kalian memakai baju layaknya para buruh tani yang sedang mengekspor barang hasil tani nya" Lanjut Bintang sambil memakai masker wajah dan kacamata hitam nya dan langsung pergi menuju pintu keluar,di ikuti oleh Alfredo di belakang nya.


"Lakukan seperti biasa" Bisik Alfredo kepada salah satu anak buahnya.


"Siap" Jawab anak buahnya yang langsung keluar ruangan Bintang dan memasuki ruangan senjata yang siap untuk di jual.


Untuk mengelabuhi siapapun yang mencurigai nya,mereka menggunakan cara efektif dengan menaruh tumpukan beberapa jenis hasil tani di atas tumpukan kotak senjata tersebut.


***


Di pagi hari,Erika masih tertidur di samping mama nya yang masih belum sadarkan diri.Sedangkan Ayu tertidur di sofa dekat Erika.


Erika terbangun karena cahaya sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan dan mengenai wajahnya yang sedang tertidur pulas.


"Hah,jam berapa ini?" Tanya Erika sambil melihat ponsel nya yang menunjukkan waktu pukul 06.30.


Erika langsung menoleh ke arah Ayu yang masih tertidur pulas dan beranjak untuk membangun kan nya.


"Yu..yu..Ayu..." Erika menyentuh tangan Ayu.


"Hemmm..." Ayu bergumam.


"Bangun,Lo harus pergi ke sekolah" Erika terus berusaha membangunkan Ayu.


"Hemm,iya iya.." Ayu membuka sedikit mata nya dan langsung duduk dengan rambut yang berantakan.


"Hah,Maaf gue lupa kalau lagi ada di rumah sakit" Ayu menutup kedua wajah nya.


"Gak apa-apa,maaf gue bangunin Lo.Soalnya Lo kan harus berangkat sekolah" Erika menyentuh bahu Ayu.


"Oh iya,Lo gimana?" Tanya Ayu.


"Kayak nya hari ini gue gak bisa sekolah dulu deh" Kata Erika.


"Lo gak apa-apa kalo harus jagain nyokap Lo sendirian?" Tanya Ayu cemas.


"Gak apa-apa,lagian juga kan ada suster" Erika tersenyum.


"Serius?" Tanya Ayu lagi.


"Serius,udah cepetan nanti Lo bisa terlambat" Erika membantu Ayu untuk berdiri.


"Oke,oke.Gue pergi ya,nanti pulang gue ke sini lagi" Kata Ayu.


Mama Erika masih belum sadarkan diri dari semalam, kondisi jantung nya masih lemah belum ada peningkatan juga dari semalam.


Erika terus berfikir positif bahwa mama nya pasti akan sembuh dan kembali ke rumah bersama nya.


***


Di sekolah.


"Erika mana?" Tanya Bintang kepada Ayu saat sedang duduk di ruang kelas.


"Dia gak bakal masuk hari ini" Kata Ayu.


"Kenapa?" Tanya Gibran penasaran.


"Dia bikin ulah lagi?" Tanya Samuel.


"Bukan gitu" Ayu menatap tajam Samuel.


"Terus kenapa?" Tanya Novia.


"Dia gak bisa dateng ke sekolah,karena nyokap nya lagi di rawat di rumah sakit" Ayu menundukkan kepalanya.


"Hah di rawat? Kenapa?" Teriak Samuel.


"Suuuutsss!!!!" Ayu langsung menutup mulut Samuel.


"Kenapa?" Tanya Bintang.


"Semalam mama nya pingsan, Erika minta bantuan gue sama nyokap bokap buat bawa nyokap nya ke rumah sakit" Ayu menjelaskan.


"Sakit apa?" Tanya Gibran.


"Kata dokter sih,ada masalah sama jantung nya.Penyakit nya cukup bahaya juga katanya" Lanjut Ayu.


"Terus sekarang kondisi nya gimana?" Tanya Bintang.


"Masih sama kaya semalam,belum sadar,belum ada peningkatan sedikit pun" Ayu menundukkan kepalanya dengan wajah sedih.


"Apa kita jenguk aja nanti pas pulang sekolah?" Tanya Novia.


"Gue sih rencananya pulang sekolah mau langsung ke sana.Tapi kalau kalian mau ke sana juga,kenapa gak bareng aja?" Tanya Ayu.


"Yaudah pulang sekolah kita langsung ke sana" Kata Gibran.


"Lo bisa gak?" Tanya Samuel kepada Bintang.


"Pasti gak bisa" Kata Novia.


"Siapa bilang,gue belum ngomong" Timpal Bintang.


"Bisa?" Tanya Ayu.


"Bisa" Jawab Bintang.


Bintang langsung mengeluarkan ponsel nya dan mengirim pesan secara hati hati kepada Alfredo agar tidak terlihat oleh teman temannya.


"Urus semua kepentingan hari ini,termasuk pertemuan dengan klien dari Timor Leste.Buat kesepakatan yang bagus,saya tidak bisa datang hari ini" .


"Hemmm.Kemana satu biang kerok lagi?" Tanya Resya yang tiba tiba menghampiri mereka.


"Lo ngomong sama siapa? sama kita?" Tanya Samuel dengan wajah yang pura pura kebingungan.


"Yaa sama siapa lagi?Biang kerok di sini kan cuma kalian" Resya memasang wajah licik nya.


"Hei,Resya.Benerin dulu tuh resleting rok lu.Baru urusin urusan orang" Teriak Rani yang kesal mendengar perkataan Resya yang selalu mencampuri urusan orang lain.


Semua siswa yang berada di dalam kelas langsung menoleh ke arah Resya dan mentertawakan nya karena mereka juga langsung melihat ke arah resleting Resya yang masih terbuka.


"Hah,gak usah bercanda ya kalian!" Teriak Resya.


"Res ya ampun,ini beneran resleting rok lu belum di tutup" Kata Zahra yang langsung menutup resleting Resya.


"Hah serius?" Tanya Resya panik.


"Hei,Gak udah ketawa Lo semua.Berhenti gak!" Teriak Resya kepada Teman sekelasnya.


Rani hanya menyeringai kan bibir nya dengan wajah licik sambil terus fokus menatap buku yang sedang ia baca.


"Aduh kalau Lo malu,tutup nih muka Lo pake ini" Samuel membuka sepatu dan memberikan nya kepada Resya.


"Iyyuuuww....Ih Samuel jorok!!!Bau tau!!!" Teriak Resya sambil melemparkan sepatu Samuel.


"Ehhh jangan di lempar,sepatu ini lebih mahal dari pada harga diri Lo" Samuel langsung berlari untuk mengambil sebelah sepatu nya.


Mereka berempat dan siswa lain nya hanya menyaksikan dan mentertawakan apa yang mereka lihat.