
"Ayo" Ajak Erika yang sudah bersiap-siap untuk pulang ke rumah nya.
"Kemana?" Tanya Tamara.
"Ikut gue lah,Lo kan babu dua puluh empat jam gue"
"Aduh plis ganti permintaan deh.Jangan yang itu" Rengek Tamara.
"Aishh udah deh gak usah ada permintaan permintaan.Gue batalin semuanya" Erika mulai kesal.
"Aaaa thank you very much"
"Gue balik dulu" Ketus Erika yang langsung berjalan keluar markas.
***
Pagi pagi sekali Erika mendapat panggilan dari Pierre.Erika terus berbicara asal karena kesal setiap pagi tidur lelapnya harus terganggu oleh panggilan seseorang.
"Halo?" Sapa Erika dengan suara yang masih serak-serak basah.
"Saya Pierre,ada kabar buruk yang harus saya sampaikan kepada nona"
"Pierre?...Ah tangan kanan ayah.Kabar buruk apa?" Tanya Erika dengan mata terpejam.
"Dengan berat hati saya mengatakan bahwa bos telah meninggal dunia" Kata nya.
"Ah bos" Ucap Erika dengan setengah sadar. "Bos?bos meninggal?Bos kamu ayah saya?" Erika langsung beranjak duduk dengan sigap karena terkejut.
"Iya,bos.Jasad nya di temukan tadi malam di dalam kamar beliau" Kata Pierre.
"Kenapa?"
"Terlihat seperti ada orang yang sengaja menembaknya karena ada luka tembak disekitar dada dan kepala beliau"
"Sekarang dimana?" Tanya Erika.
"Kami tidak tau,pelaku sudah melarikan..."
"Bukan itu,kalian sekarang dimana?"
"Di markas-"
Tuuuut.....
Erika mematikan telpon tersebut dan langsung menghubungi Bintang untuk meminta bantuannya,karena Erika tidak tahu persis dimana lokasi markas yang pernah ia datangi sebelumnya.
Tak lama setelah menerima panggilan dari Erika,Bintang sudah sampai di rumah Erika.Ia datang bersama Tamara.
Diduga tepat pukul tiga pagi Mr.Derrick di datangi oleh beberapa orang yang sengaja ingin membunuhnya.
Tidak tahu bagaimana caranya para pelaku tersebut berhasil menerobos masuk kedalam markas Mr.Derrick yang memiliki keamanan tingkat tinggi.
Erika terus menatap lekat jasad ayah nya yang sudah terbujur kaku.Erika terus terdiam terapi tidak menunjukkan raut kesedihan sedikit pun.
Berbeda dengan Tamara yang terlihat sangat ketakutan sampai menutup mulutnya karena syok melihat jasad Mr.Derrick dengan luka tebak di bagian dada dan kepalanya.
"Udah cek cctv?" Tanya Erika kepada Pierre.
"Sudah,tetapi tidak ada bukti apapun"
"Gimana bisa?" Tanya Tamara.
"Apa ini?Mereka teliti banget" Bisik Erika.
Di siang hari nya Erika,Bintang,Tamara dan para anak buah Mr.Derrick pergi untuk menghadiri acara pemakaman.
Saat proses pemakaman sudah selesai seluruh anak buah Mr.Derrick berjalan menuju mobilnya masing masing dan menunggu arahan lebih lanjut.
Sementara Bintang dan Tamara masih menemani Erika yang sedang jongkok menghadap ke arah makam ayahnya dengan tatapan datar.
"Kenapa ayah gak pergi dari dulu aja sebelum kita ketemu?Ayah bikin Erika merasa bersalah jadinya" Kata Erika.
Bukan maksud Erika menyumpahi ayahnya agar meninggal sejak dulu.Karena ia sendiri berfikir jika ayah nya benar benar sudah meninggal sejak ia masih kecil karena Mr.Derrick tidak pernah datang untuk menemui ia dan ibu nya.
Jika Mr.Derrick benar benar sudah meninggal sebelum bertemu dengan Erika maka Erika tidak akan merasakan sakit hati yang kedua kalinya.
"Siapa yang udah bunuh ayah?Kasih tau aku"
Tamara yang sedang menangis karena terharu langsung berhenti menangis saat mendengar perkataan Erika dan menatap nya.
"Apa maksud Lo?Kalo bokap Lo kasih tau serem jadinya" Protes Tamara.
"Ah udah lah,ayo pergi" Ajak Erika.
Saat Erika hendak naik ke mobil Bintang tiba tiba Pierre berjalan mendekat ke arahnya dan menanyakan bagaimana nasib mereka sekarang.
"Maaf nona,Saya ingin bertanya"
"Sekarang saya Danyang lainnya harus berbuat apa?"
"Kenapa tanya saya,kalian mau berbuat apa ya terserah kalian.Itu kan hak kalian"
"Maksud saya,kami akan kehilangan pekerjaan"
"Ahh itu"
"Kami butuh pemimpin" Kata Pierre.
"Kalau gitu kamu saja yang menjadi pemimpin"
"Saya merasa tidak pantas".
Karena Erika sudah tidak ingin banyak berbicara, akhirnya Erika membuat keputusan saat itu juga.
"Ayo bekerja untuk saya" Kata Erika.
Bintang dan Tamara langsung membuka matanya lebar-lebar saat mendengar perkataan Erika.
"Apa maksud Lo?" Tanya Bintang.
"Lo mau gantiin posisi bokap Lo yang punya banyak anak buah ini?" Tanya Tamara.
"Bener kan itu yang kamu maksud?" Tanya Erika kepada Pierre.
"Nona benar benar mau menggantikan posisi bos?" Tanya balik Pierre.
"Terus siapa lagi?Kamu kan gak mau"
"Beri saya perintah" Ucap Pierre dengan semangat.
"Perintahnya ikut ke rumah saya,yang lainnya bisa langsung pulang ke rumah ayah"
"Baik"
"Gue pulang bareng Pierre,kalian bisa langsung pulang"
"Oh gitu yaudah kita balik" Kata Bintang.
"Makasih banyak ya kalian udah repot repot pagi pagi temenin gue"
"Santai aja kali,yaudah gue cabut duluan"
Bintang dan Tamara pulang ke rumah,sedangkan Erika pulang ke rumah nya dengan menaiki mobil Pierre.
***
"Jadi apa yang harus saya lakukan?" Tanya Pierre saat mereka sudah sampai di rumah Erika.
"Sekarang rumah itu jadi markas kalian untuk menetap.Sesekali kamu dan yang lain boleh datang ke sini jika ada perlu"
"Iya"
"Oh iya,saya belum tau hal ini.Usaha apa yang ayah jalanin bareng kalian?" Tanya Erika.
"Pasar gelap, penyelundupan senjata, perdagangan manusia dan bos juga merintis usaha narkoba sebagai bandar nya"
"Usaha apa itu?" Tanya Erika meledek. "Saya sangat jauh berbeda dengan ayah.Sekarang kita gak akan menjual manusia dan narkoba.tetapi kita bermain di pasar gelap aja,pasar gelap yang menjual senjata ilegal"
"Saya akan bekerja sama dengan Bintang" Lanjutnya. "Selain itu saya juga mau merintis bisnis sendiri,saya sangat butuh tenaga kalian"
"Bisnis apa?"
"Pinjaman uang tanpa bunga"
"Itu akan sangat merugikan jika tanpa bunga" Kata Pierre.
"Dengerin dulu makanya,saya belum selesai bicara"
"Oh iya maaf"
"Pinjaman uang tanpa bunga,itu cuma cara untuk menarik perhatian mereka.Jumlah uang yang di pinjam harus di atas lima ratus juta.Jika mereka telat membayar,maka bunga akan terus bertambah sekitar lima puluh persen setiap bulannya" Pierre hanya mengangguk sambil tersenyum kecil mendengar rencana Erika tersebut.
"Apa ada perintah yang lain?"
"Saat berbisnis kalian harus menyembunyikan identitas saya dan kamu harus terlihat seperti seorang bos yang sesungguhnya meskipun ada saya yang mengendalikan kamu"
"Baik,akan saya pastikan identitas anda akan di rahasiakan" Kata Pierre. "Mulai sekarang saya harus menyebut anda dengan panggilan apa?"
"Apa aja terserah"
"Baik bos,kalau begitu saya permisi untuk kembali ke markas" Pierre langsung berjalan keluar rumah untuk langsung kembali menuju markas nya.