Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 51



Terdengar suara langkah kaki yang nyaring masuk kedalam ruangan tersebut.Dengan langkah yang sangat percaya diri Bintang mengenakan celana jeans sobek dibagian lututnya dan juga mengenakan kemeja hitam warna kesukaannya.


Kali ini dia menghadapi tawanan tanpa menutup sedikit pun wajahnya.


"Dahh...ayo kita mulai" Bintang mengambil pistol yang di pegang oleh salah satu anak buahnya,ia mengeluarkan peluru tersebut dan memperlihatkannya kepada Pak Tio bahwa ia sedang benar benar mengancam dan tidak berniat untuk bermain-main.


Pak Tio tidak bisa mengatakan apapun,ia hanya menggeleng geleng kan kepalanya ketakutan.


Sementara Bintang memasukkan kembali peluru tersebut, mengarahkan tepat di kepala pak Tio dan menarik pelatuk nya hingga membuat Pak Tio tambah ketakutan dan hanya bisa memejamkan matanya saja.


"Tangan diikat,mulut di tutup tapi telinga masih aman kan?" Tanya Bintang santai.


"Anda tidak perlu memberontak, mengangguk tanda iya dan menggeleng tanda tidak.Saya tidak akan membunuh jika anda tidak membuat saya menunggu" Lanjutnya.


"Daaah...Siapa yang suruh orang buat ngebunuh Bu Tia?"


"hmm?"


"Saya tidak mau mengulangi pertanyaan yang sama" Ucapnya datar.


Bintang semakin menekankan ujung pistol dan perlahan menekan pemicunya.Tetapi saat pemicu tersebut ditekan tidak ada reaksi apapun,Pak Tio yang sejak tadi menahan nafasnya langsung menghembuskan dengan sangat lega.


"Waah...Bapak beruntung sekali" Bintang menepuk nepuk pipi pak Tio dengan pistolnya sambil tertawa.


"Kenapa ini?Kenapa tiba tiba tidak bisa di gunakan" Bisik nya sambil kembali mengeluarkan peluru dan memasukan nya kembali.


"Ini kesempatan terakhir"


"hmm!!!!...hmmm!!!" Teriak Pak Tio dengan mulut yang masih tertutup.


"Mau jawab?" Pak Tio menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Buka" Perintah Bintang. "Siapa?"


"P-pimpinan"


"Apa?Pak Tirta?" Tanya Bintang terkejut.


"Bukan,istrinya"


Tahan Bintang!!!. Teriak seseorang dari earphone yang ia gunakan di telinga kanan nya.


Ya,sejak tadi Bintang terhubung panggilan dengan Erika.Erika tidak ikut masuk kedalam dengan Bintang melainkan menunggunya di mobil bersama Bara.


"Apa?" Tanya Bintang bingung.


"Tahan,jangan di tembak.Tanya dia apa alasan nenek lampir itu suruh orang buat bunuh nyokap gue"


"Apa alasannya membayar orang untuk membunuh Bu Tia?" Tanya Bintang kepada pak Tio.


"Saat itu mungkin Bu Tia tidak sengaja mendengar pembicaraan saya dengan Bu Renita di ruangannya,karena kami menyadari hal itu Bu Renita memerintah saya untuk menyelidiki nya.Tanpa saya tahu ternyata ia mengidap penyakit dan di rawat di rumah sakit.Saat itu saya berusaha mencari kelemahannya atas perintah Bu Renita agar ia tidak memberitahu tentang rahasia kami kepada siapapun"


"Rahasia apa yang buat kalian nekat untuk membunuhnya?" Tanya Bintang,Pak Tio hanya terdiam bingung.


"Diam tidak akan bisa menyelamatkan nyawa anda"


"Kami menggunakan salah satu jenis narkoba dalam sebuah produk yang diluncurkan" Ujarnya.


Mendengar perkataan pria tersebut,Bintang dan Erika langsung terdiam sesaat.Erika masih didalam lamunannya karena tidak menyangka jika mendiang mama nya meninggal dengan alasan seperti itu.


Sementara Bintang langsung menelpon anak buahnya untuk membawa Bu Renita dan suaminya ke markas,tidak perduli dengan cara apapun.


Erika langsung mematikan panggilannya dan tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.


"Apa ini?Apa yang setan itu lakuin" Bisik Erika.


Melihat air mata Erika sudah jatuh di pipinya,Bara langsung memberikan tisu kepada Erika.


"Kenapa kasih tisu?Saya gak nangis" Erika menengadah dan terus menerus mengedipkan mata nya agar tidak terlihat sedang menangis.


Kebetulan malam itu Bu Renita dan keluarganya sedang mengadakan acara makan malam di luar.Setelah ber jam jam pesta makanan akhirnya mereka pulang dengan rasa kantuk yang sangat berat.


"Pak tolong ambilkan minyak angin saya" Ucap Bu Renita kepada sopir pribadi nya.


Mobil terus berjalan menyusuri jalanan ibu kota,Bu Renita mulai dan suaminya mulai menyadari bahwa itu bukan arah jalan pulang menuju rumahnya.


"Pak ini kan bukan jalan yang biasanya" Kata Pak Tirta.


Karena sopir pribadi nya tidak menjawab Bu Renita mulai curiga dan perlahan mendekati nya untuk memastikan benar atau tidak jika pria tersebut adalah sopir pribadi nya.


Dan taraa...Pria tersebut adalah anak buah yang di perintahkan oleh Bintang untuk membawa pasutri tersebut ke markasnya.


"Siapa kamu!Berhenti disini buka pintunya!" Teriak Pak Tirta.


Saat mereka sedang sibuk berusaha melarikan diri,tiba tiba ada benda yang menyentuh kepala mereka masing masing dari belakang.Ya,mereka sedang di todong oleh satu orang yang memegang dua pistol.


Sontak mereka langsung terdiam dan perlahan duduk kembali dengan tenang.


Saat Bu Renita masih makan malam dengan keluarganya,Anak buah Bintang datang menemui sopir pribadi mereka dan membius nya hingga jatuh pingsan.


Pria tersebut segera dipindahkan kedalam mobil anak buah Bintang sementara yang lainnya menyamar menjadi sopir pribadi dan satu orang lagi sebagai pengendali agar mereka tidak membuat keributan.


Resya tidak satu mobil dengan kedua orang tua nya,ia pulang bersama sopir nya yang lain.Bahkan ia lu tidak tahu bahwa sekarang kedua orang tua nya sedang menjadi tawanan.


Sesampai nya di markas mereka langsung dibawa masuk kedalam dengan paksa,mereka berdua pun sangat merasa tidak asing dengan tempat tersebut.Tak lama ia mulai tersadar dengan dimana sekarang posisi nya berada.


"Siapa kalian?" Tanya Bu Renita,mereka hanya terdiam tidak perduli.


"Urusan kami sudah selesai" Lanjutnya.


Mereka membawa Bu Renita dan suaminya kedalam ruangan yang sudah di tentukan oleh Bintang, pasutri tersebut terkejut saat melihat Sekertaris Bu Renita ada disana dengan tangan yang masih terikat.


"Ada apa ini?" Tanya Pak Tirta kepada istrinya.


Pada dasarnya Pak Tirta sama sekali tidak mengetahui tentang permasalahan ini dan Bu Renita pun tidak pernah membicarakan nya kepada Pak Tirta.


Bu Renita mengernyitkan dahi nya sekejap sambil terus berpikir apa permasalahan nya.Ia langsung teringat dengan permasalahan yang terjadi antara ia dan Bu Tia.


Ia ingat jika Erika mengatakan bahwa Bu Tia adalah ibunya,secara langsung berarti ia juga telah membunuh ibu Erika.


Bu Renita langsung menarik dan menghembuskan nafas dengan kasar karena merasa sesak di dadanya saat mengingat hal itu.


Ia sampai berfikir bahwa kemungkinan besar ia akan mati malam itu juga di tangan Erika atau Bintang.


"Kenapa?Udah inget?" Tanya Bintang.


"Tolong ampuni saya!" Teriak Bu Renita yang langsung menghampiri Bintang dan bertekuk lutut di hadapan nya.


"Wahh...jangan kayak gitu lah,saya jadi merasa kalau ibu itu babu saya" Ucapnya meledek di situasi yang seperti itu.


"Ada apa??" Tanya Pak Tirta kepada Pak Tio.


"Bapak gak tau?" Tanya Bintang. "Wah gimana bisa pimpinan perusahaan nya gak tau?"


Di saat itu juga Erika langsung masuk kedalam ruangan dengan tatapan mata penuh amarah dan kebencian.


Mata Erika merah,sangat merah.Tanpa basa-basi Erika langsung menyeret kursi dan melemparkannya ke dinding karena darah di dalam tubuhnya sudah sangat mendidih.


"Kenapa!!!" Teriak nya penuh emosi hingga membuat semua orang yang ada di ruangan terdiam.


"Apa maksudnya kenapa?" Tanya Pak Tirta yang masih nekat bertanya karena benar benar tidak tahu.


Erika berjalan mendekati Bu Renita."Kenapa?" Tanya nya lagi.


Pertanyaan tersebut membuat Bu Renita tidak bisa bernafas.


"Maafin saya!!" Teriaknya sambil menangis tersedu-sedu karena benar benar sangat menyesal.


Bintang langsung keluar ruangan karena merasa urusan nya telah selesai dan tidak ingin banyak ikut campur dengan masalah tersebut.


"Saya terpaksa harus menyingkirkan dia karena ia tau rahasia besar perusahaan kami!" Teriaknya.


"Apa?Kamu udah gila ya?" Teriak pak Tirta kesal.


Erika sudah melayangkan tangannya yang siap untuk menampar wajah mulus Bu Renita.Tetapi hal itu tidak terjadi,Erika berusaha sebisa mungkin untuk menahannya.


Erika berjalan mengambil pistol yang ada di meja dan menembakkan nya ke atas seperti tanda peringatan hingga membuat mereka bertiga gelagapan.


"Kenapa kamu sebodoh itu??" Teriak Pak Tirta lagi kepada istrinya.


Erika menembakkan peluru yang kedua kalinya ke udara dan langsung melemparkan pistolnya ke dinding dengan sangat kuat.


Perlahan Erika berjongkok dan menutup wajahnya hingga menangis pilu karena rasa yang bercampur aduk.


Setelah merasa sedikit lega,Erika langsung mengusap air mata nya dan menarik nafas dalam-dalam serta berjalan mendekati mereka bertiga sambil mengatakan permohonan maaf.