
Erika mengendarai mobil nya dengan kecepatan tinggi,kebetulan suasana jalan hari itu sangat sepi pengendara.
Saat sedang fokus mengendarai mobilnya,Erika langsung menginjak pedal rem di tikungan jalan secara tiba-tiba karena dia mengingat sesuatu dalam fikiran nya.
'Sebenarnya saat ini Erika tidak mempunyai masalah atau urusan apapun dengan Resya.Erika merasa tidak ada hubungannya sama sekali dengan kematian wanita malang itu dan juga pak Tirta.Jadi untuk apa dia repot-repot mencari dimana keberadaan wanita itu?Jika Resya membunuh kedua manusia itu karena alasan ingin mengancam Erika secara tidak langsung,Resya bisa datang kepadanya kapanpun' Itulah yang Erika pikirkan.
Ia langsung mengambil ponsel nya dan menghubungi Tori untuk memberikan keputusan bahwa mereka tidak perlu lagi mengejar dan mencari dimana keberadaan Resya.
Bukan karena Erika khawatir ataupun takut,karena rencana murahan nya ini hanya akan membuang-buang waktu mereka saja.
Jika Resya ingin benar-benar berperang dengan Erika,maka datanglah dengan persiapan yang matang agar tidak ada basa-basi lagi seperti ini.
"Bi,Erika mana?Di kamar?" Tanya Bintang saat dirinya sudah sampai di rumah.
"Itu Tuan...Tadi nona Erika tiba-tiba pergi buru-buru,gak kasih tau juga mau pergi kemana"
"Bawa mobil?"
"Iya Tuan"
Bintang melirik keluar sebentar dan langsung duduk di sofa sambil membuka dua kancing teratas kemeja nya.
Samar-samar Bintang mendengar suara derungan mobil yang berjalan masuk ke halaman rumahnya.Dan itu adalah mobil Erika,disusul satu mobil lain di belakangnya.
Dengan cepat salah satu pria yang ada di mobil belakang itu langsung keluar dan membukakan pintu mobil untuk Erika.
"Kamu habis dari mana?Kok udah ganti baju aja?" Tanya Bintang.
Tanpa berkata apapun,Erika langsung mengeluarkan foto yang Resya berikan dari saku jaket nya.
"I-ini?Pak Tirta kan?" Tanya Bintang sambil memperlihatkan foto tersebut kepada Erika.
"Iya.Dan ini tangan Resya.Kamu tau kan artinya apa?" Tanya Erika.
"Gak mungkin..." Bintang langsung menatap pias wajah Erika.Bukan karena Bintang merasa takut dengan foto itu,tetapi dia hanya tidak percaya bahwa Pak Tirta dibunuh oleh putri kandung nya sendiri.
"Ini serius?" Tanya Bintang yang memerlukan keyakinan.
"Iyaa,makanya tadi aku langsung kejar dia.Taoi gak jadi karena tiba-tiba aku pikir gak penting banget kalo harus capek-capek kejar dia"
"Maksud dia apaan sih?" Tanya Bintang sambil mengerutkan keningnya kebingungan. "Ceritanya dia mau ngancem kita?Atau kamu doang?"
"Mana aku tau.Kamu ngerasa terancam gak?" Tanya Erika.
"Ngga,kalo kamu?" Tanya balik Bintang.
"Ngga juga" Jawab Erika dengan wajah polosnya.
"Terus dia ngancem siapa?"
"Mana aku tau"
"Ini apa?" Tanya Bintang sambil menyentuh perut Erika yang terdapat dua buah pistol di saku jaket nya.
"I-ini...Bukan,ini...aduh apa ini ya" Erika kebingungan karena harus mencari alasan dengan cepat.
"Apa ini?" Tanya Bintang dengan nada sinis nya.
"I-ini...Stopp!!!Jangan di pegang!Sakit tau" Teriak Erika yang sedikit menjauh dari Bintang.
"Sakit apanya,emang aku apain?Orang cuma di pegang doang" Gerutu Bintang.
"Aku lagi datang bulan.Kamu gak tau ya semenyeramkan apa perempuan kalo lagi datang bulan?" Tanya Erika dengan wajah galak nya.
"Datang bulan?Kemarin engga tuh"
"Baru tadi pagi"
"Masa?"
"Beneran!!" Erika terus meyakinkan.
"Coba sini aku liat" Goda Bintang dengan wajah nya yang terus menerus melirik kebagian tubuh tertentu milik Erika.
"Mana bisa kayak gitu" Dengan cepat Erika langsung mengambil bantal yang ada di sofa dan menutup bagian bawah perutnya.
Bintang tidak berulah,Ia terus menatap lekat mata Erika dengan wajah serius nya hingga membuat Erika tidak berkutik karena tatapan aneh nya itu.
"Apa?Kenapa?Kenapa liat-liat?" Kata Erika dengan wajah nya yang terlihat gugup, sementara Bintang masih terus memperhatikan mata Erika.
"Kamu bohong" Ucap Bintang tiba-tiba dan langsung menghentikan tatapan nya itu.
"Bohong apa?"
"Kamu gak datang bulan kan?" Tanya Bintang.
"Jangan sok tau ya kamu"
"Cepet keluarin apa itu" Dengan wajah datarnya Bintang menyuruh Erika untuk mengeluarkan benda yang ada di dalam saku jaket nya tersebut.
"Bintang..." Panggil Erika dengan suara lembut nya.
"Emmm...menurut kamu apa ini?"
"Mana aku tau,kan aku belum liat"
"Apapun benda nya,kamu harus janji jangan marah ya" Erika tersenyum lebar.
"Tergantung sih..."
"Tergantung??Tergantung apa nya??"
"Tergantung,kalau itu pistol yang ada di lemari gudang aku marah banget" Bintang berbicara sambil memalingkan wajahnya.Sedangkan wajah Erika langsung berubah drastis,yang semula wajah nya tersenyum riang kini langsung menjadi wajah yang sangat datar.
Tanpa mendengar perkataan Bintang lagi,Erika langsung memberanikan diri untuk mengeluarkan dua senjata nya itu dan menaruhnya diatas meja dengan sangat perlahan.
"Maaf ya...aku gak bilang-bilang" Bisik Erika.
Bintang melirik dua senjata tersebut dan mengambil salah satunya.Ia mengusap-usap lembut pistol tersebut,dengan cepat ia langsung mengarahkan nya kepada Erika hingga membuat wanita itu langsung terlonjak kaget.
"Heii...Bintang...Kamu ngapain itu?" Tanya Erika dengan wajah pias nya saat Bintang beranjak dari sofa tersebut.
Bintang tidak memberikan respon apapun,ia hanya menatap tajam wajah cantik Erika yang terlihat sangat gelagapan.
"A-aku tau aku salah,tapi kan pistol nya gak jadi di pake buat apapun.Aku juga pake nya karena mendesak,itu juga karena Resya yang mau aku lawan.Kebetulan juga kamu tadi gak ada di rumah kan,jadi aku bingung mau minta izin nya gimana.Tadi aku gak kepikiran buat telfon kamu karena aku buru-buru banget tadi.Tapi karena aku gak jadi pake,sekarang udah aku kembaliin" Oceh Erika yang terus menerus keluar dari mulut nya seperti seorang rapper yang sedang menampilkan bakat nya di acara bergengsi.
"Ayo dong jangan kayak gini,kamu kok tiba-tiba kayak gini sih" Bisik Erika. "Ngomong dong jangan diem aja"
Bintang menarik pelatuk pistol tersebut sehingga Erika benar-benar sangat panik "Bintang...Kamu gila?Atau lagi menghayal serang musuh.Hei,bangun!!Liat ini aku" Erika terus berusaha membujuk Bintang untuk menghentikan aksinya.
Bintang terus berjalan mendekat sementara Erika terus berjalan mundur.Erika sudah tidak bisa berjalan mundur lagi karena tubuhnya sudah bertabrakan dengan dinding yang ada di belakangnya.
Lelaki tampan itu terus menatap Erika dengan tatapan dingin tanpa mengatakan apapun. "Apa yang salah??" Rengek Erika,tubuh mereka kini hanya berjarak lima sentimeter saja.
Bintang menekan pemicu nya hingga membuat Erika langsung memejamkan mata karena mengira bahwa suaminya itu benar-benar akan melubangi isi kepala nya.
Tidak ada suara apapun,dan tidak ada perubahan apapun dari kepala Erika.Semuanya masih tampak sama.
"Orang gak ada pelurunya" Kata Bintang tiba-tiba dengan wajah seperti orang yang paling tidak berdosa.
Dengan cepat Erika membuka matanya dan mencari peluru yang ia bawa, ternyata memang benar bahwa pistol tersebut tidak ada isinya.bahkan dua kotak peluru tersebut masih berada di dalam saku jaket Erika.
"Tapi bagus kan akting aku? Cocok gak kalo jadi pemeran utama cowok badboy?" Tanya Bintang sambil tersenyum lebar.Erika hanya menatap wajah Bintang dengan tatapan jengkel nya.Tidak perlu ditanyakan bagaimana perasaan nya, sangat sangat merasa jengkel dan juga kesal.
"Aku gak marah kok,tapi lain kali bilang dulu ya cantik" Dengan rasa tidak bersalah nya Bintang langsung membalikan badan dan berjalan kembali menuju sofa.
"Bii tolong ambilin minum Doong!!" Teriak Bintang.
Daan..... Bruuggghhhhh!!!!....
Tubuh tinggi dan kekar pria itu langsung terpental ke depan saat ada seseorang yang menendang keras tubuh bagian belakang nya itu.
Siapa lagi kalau bukan wanita yang telah terzalimi olehnya.
"ADUUHH!!!" Teriak Bintang.
Setelah melayangkan satu tendangan nya itu,Erika menghembuskan nafas nya karena lega sudah meluapkan emosi nya itu.
Bintang telah jatuh tersungkur di lantai,tetapi Erika tidak membantunya.Si bibi yang hendak mengantarkan minum langsung terperangah kaget saat melihat tuan nya itu terlihat sangat kesakitan.
"Jangan di tolongin bi!!" Kata Erika. "Biarin aja suruh bangun sendiri"
"I-iya non" Si bibi langsung meletakkan dua dua gelas minuman dingin itu di meja dan kembali berjalan cepat menuju dapur.
"Bi,bantuin dong" Bisik Bintang.Terlihat jelas ekspresi keraguan dari wajah bibi.
Dengan wajah galaknya Erika berjalan mendekati Bintang dan meminum minuman nya tanpa memperdulikan keberadaan suami malang nya itu.
"Tolongin dong,kamu jahat banget" Rengek Bintang.
"Bangun sendiri jangan manja" Ketus Erika.
Jika ditanya sakit atau tidak.Jawaban yang akan diberikan Bintang adalah Sakit tetapi tidak sangat.
"Kamu durhaka loh"
"Kalo aku durhaka itu salah kamu" Cetus nya.
"Kok salah aku?Kan kamu yang tendang aku,bikin aku kesakitan kayak gini"
"Suruh siapa ngeselin?Emang kamu pikir aku gak punya rasa jengkel?" Ucap Erika dengan wajah datar nya.
"Aah iya aku lupa.. Cowok selalu salah" Bisik nya.
"Bukan cowok yang selalu salah,tapi rata-rata cowok yang suka cari masalah duluan"
"Iya iya,aku salah deh"
"Gue yang di hajar,gue yang kesakitan,kenapa jadi gue yang salah ya?Siapa sih ini yang salah sebenarnya?Apapun Masalah nya,tetep aja author nya yang salah" Batin Bintang.