
"Permisi..." Teriak Samuel sambil mengetuk pintu ruang konseling.
"Kenapa?" Tanya Bu Tesa membuka pintu. "Astaga,ada apa ini ramai ramai" Lanjutnya terkejut.
"Masuk" Kata Erika.
Mereka semua langsung masuk ke dalam,seketika ruangan konseling yang tadi nya terasa sepi sekarang berubah menjadi lebih hidup.
Erika duduk di meja Bu Tesa untuk menjelaskan semua kesalahan yang dilakukan para siswa tersebut.
"Kenapa?" Wajah Bu Tesa kebingungan. "Kalian semua bertengkar?" Lanjutnya.
"Ya,kita berlima habis berantem sama mereka.Tapi kali ini saya membela kebenaran Bu" Erika mnyentuh pundak nya dengan kepala yang sedikit menunduk.
"Diam kamu!" Bu Tesa memukul meja hingga membuat Erika terkejut.
"Katakan yang sebenarnya" Bu Tesa menunjuk salah satu berandal.
"Cepet ngomong!" Erika memaksa berandal itu.
"I-iya Bu" Katanya gugup.
"Iya apa?" Bu Tesa masih kebingungan.
"Aduuh..Udah deh Bu saya aja yang jelasin" Kata Erika.
"Diam kamu,saya tidak percaya dengan perkataan kamu" Bu Tesa menunjuk Erika dengan penggaris nya.
"Kalau gitu saya aja yang jelasin Bu" Kata Bintang tiba tiba.
"Sama saja!" Teriak Bu Tesa. "Kalian ber en..am,Kemana satu lagi?" Orang yang di maksud adalah Ayu.
"Itu dia Bu,Ayu lagi ke ruang kesehatan buat anter siswa yang babak belur gara gara di hajar mereka" Erika menatap tajam para berandal tersebut.
"Hah?" Tanya Bu Tesa bingung.
"Permisi Bu" Tiba tiba siswa yang mengadu kepada Erika datang ke ruang konseling untuk memberikan penjelasan kepada Bu Tesa.
"Ya,kenapa?" Tanya Bu Tesa.
"Nah!Ini dia bu,dia saksinya" Gibran langsung merangkul siswa kelas 10 tersebut.
"Ada apa?" Tanya Bu Tesa kepada siswa itu.
"Duduk,duduk" Kata Samuel sambil menggeser kursi di sebelah Erika.
"Gak apa-apa" Erika menyentuh bahu siswa tersebut karena merasa terancam dengan tatapan para berandalan itu.
"Mereka minta uang kepada teman saya secara paksa.Teman saya tidak mau memberikan uang nya, akhirnya dia di bawa ke belakang sekolah lalu di hajar oleh mereka semua" Siswa tersebut menundukkan kepalanya sambil memainkan jari tangannya karena gugup.
"Apa hubungannya sama mereka?" Tanya Bu Tesa kepada siswa itu.
Mereka yang di maksud Bu Tesa adalah Erika,Bintang dan teman temannya.
"Saat itu saya bingung harus meminta bantuan siapa,karena mereka mengancam saya untuk tidak memberitahu para guru.Jadi saya terpaksa meminta bantuan mereka" Lanjut nya.
"Kalian lawan mereka?" Tanya Bu Tesa kepada Erika dan teman temannya.
"Iya" Mereka menjawab secara bersamaan.
"Berantem sama mereka?" Tanya Bu Tesa lagi.
"Iya"
"Pukul pukulan?" Tanya Bu Tesa lagi dan lagi.
"Iya,kenapa emang nya Bu?Ibu gak percaya?" Tanya Erika.
"Ah,mana mungkin saya gak percaya.Bodoj kalau saya tidak percaya" Kata Bu Tesa.
"Oh iya Bu,bukan cuma meminta uang secara paksa.Mereka juga diam diam membawa barang ini" Kata Erika sambil mengangkat tangan nya ke arah Gibran.
"Apa?" Tanya Gibran.
"Barang yang gue kasih ke Lo" Kata Erika.
"Apa?" Tanya Gibran yang masih kebingungan.
"Rokok,rokok" Bisik Samuel sambil menyenggol tangan Gibran dengan siku nya.
"Oh rokok,rokok" Gibran langsung merogoh kantong celana nya. "Nih" Iya memberikan kepada Erika.
"Aishh..." Erika kesal. "Barang ini" Lanjut Erika kepada Bu Tesa sambil menunjukkan beberapa bungkus rokok tersebut.
"Rokok?" Tanya Bu Erika mengambil rokok tersebut.
"saya temuin di saku baju dan celana beberapa orang dari mereka" Kata Erika.
"Bukan cuma itu juga,salah satu dari mereka.." Erika menoleh ke arah para berandal. "Mana orang nya?" Tanya Erika kepada salah satu dari mereka.
"Nah ini Bu,saya laporin dia secara langsung atas kasus pelecehan seksual secara lisan kepada saya" Erika menunjuk berandal dengan mata yang masih menatap bu Tesa.
"Kamu ada bukti?" Tanya Bu Tesa.
"Ibu masih tanyain bukti?" Erika mengetukkan jari tangannya ke meja dengan wajah yang mendekat ke arah Bu Tesa.
"Oke,mereka semua buktinya" Erika menunjuk ke pada teman nya dan para berandalan itu.
"Kalian dengar?" Tanya Bu Tesa.
Erika langsung menatap tajam kepada para berandalan.
"Dengar Bu,jelas banget" Kata mereka.
"Saya pikir di sekolah ini yang selalu membuat masalah hanya kalian.Ternyata masih ada lagi para penerus Berandalan ini" Bu Tesa duduk dan menundukkan kepalanya tanda mengeluh.
"Kalian boleh pergi" Lanjut nya kepada Erika dan teman temannya.
"Terimakasih ibu,lain kali saya akan berkunjung lagi ke sini" Erika tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan bersama teman temannya.
***
"Lo baik baik aja?" Tanya Ayu kepada siswa yang terluka.
"Gak apa-apa kak" Rintih nya sambil menyentuh bagian perut nya.
"Apa perlu kita ke rumah sakit?" Tanya Ayu lagi.
"Gak perlu kak, sebentar lagi juga sembuh" Jawabnya.
"Maaf nih,gue gak bisa jagain Lo sampe pulang nanti.Soalnya gue juga harus ikut jam pelajaran selanjutnya" Kata Ayu.
"Iya gak apa apa kak, sebelumnya makasih udah bantuin aku.Tolong sampaikan rasa terima kasih juga dari aku buat temen-temen kakak" Lanjutnya.
"Iya, yaudah.Baik baik ya" Ayu langsung meninggalkan Ruang kesehatan.
"Gue benci ruangan itu" Kata ayu kepada dirinya sendiri sambil menahan muntah.
***
Saat jam pulang sekolah.
"Bintang!" Erika menepuk kedua bahu Bintang yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah.
"Kenapa?" Bintang merangkul Erika.
"Kita mau nongkrong dulu sebentar,Lo ikut kan?" Tanya Ayu.
"Nongkrong?" Tanya balik Bintang.
Ayu menganggukkan kepalanya.
"Aduh,maaf nih gue gak bisa" Kata Bintang.
”Kenapa bro?" Tanya Gibran.
"Gue ada urusan" Bintang menepuk pundak Gibran.
"Urusan apa sih,setiap kita ajak Nongkrong pasti Lo gak bisa karena ada urusan" Timpal Samuel.
"Ini urusan pribadi,jadi maaf gue gak bisa kasih tau kalian" Kata Bintang.
"Main cewe ya Lo?" Tanya Gibran curiga.
"Ehhh,mana ada" Bintang mengacak-acak rambut Gibran.
"Yaudah gue duluan ya,kalian harus senang senang" Kata Bintang.
"Gue duluan ya" Bisik nya kepada Erika dan langsung pergi berjalan meninggalkan teman temannya.
"Kalian gak curiga sama dia?" Kata Novia tiba-tiba.
"Kenapa harus curiga?" Tanya Samuel.
"Pikirin aja,setiap kita ajak Nongkrong pasti dia nolak karena alasan ada urusan penting" Kata Novia dengan wajah curiga.
"Ya mungkin emang beneran ada urusan" Timpal Erika.
"Masa Urusan nya datang setiap kita ajak Nongkrong" Kata Novia lagi.
"eh iya iya,bener juga Lo" Ayu ikut berbicara.
"Ya kan?Emang Lo gak curiga sama urusan nya?" Tanya Novia kepada teman temannya.
"Aishh.. ngomong apa sih Lo.Udah ah ayo cepetan" Erika langsung berjalan mendahului mereka, diikuti oleh Ayu dan Novia.
Sementara Samuel dan Gibran saling bertatapan dengan wajah kebingungan.