Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 62



"Halo" Ucap Erika saat Lastri telah membuka pintu kamarnya untuk keluar.


"Loh nona sudah pulang" Ia tersenyum."Oh iya non,kalau boleh tau kenapa ramai-ramai?" Tanya nya.


"Maaf kalau jemput ya terlalu ramai" Kata Erika.


Wajah Lastri seketika langsung pias dengan tatapan kosong nya,dengan cepat ia langsung memutar balikkan Badannya untuk melarikan diri dari jendela yang berada di dalam kamar Erika.


Tetapi rencana nya tersebut tidak berhasil karena beberapa anak buah Erika tiba-tiba muncul dari dalam menghalangi langkahnya.


"Siapa yang mengutus kamu?" Tanya Erika.


"Mengutus?Apa maksud nona?"


Erika memutar kedua bola matanya dan langsung menempelkan ujung pistolnya di kening Lastri.


"Aishh ketahuan" Bisik nya seperti tidak merasa bersalah ataupun ketakutan.


"Apa?" Kata Erika.


"Saya ketauan.Bagaimana ini?"


"Hhh,babu banyak tingkah" Kata Erika.


"Babu?Kita setara" Lastri mendekatkan wajahnya ke telinga Erika.


Mendengar perkataan Lastri,Anak buah Erika yang berada di sana langsung mengangkat senjatanya dan mengarahkan kepada Lastri.


Erika mengangkat tangannya untuk memberhentikan mereka. "Turunkan senjata kalian"


"Kenapa?Ayo bunuh" Kata Lastri menantang.


"Waah penghianat yang setia" Kata Erika. "Tunggu apa lagi?Ayo bawa dia"


"Baik bos"


"Apa ini?Mau dibawa kemana?Ayo bunuh aja" Kata Lastri.


"Bawa dia ke markas" Kata Erika.


Saat itu juga Erika dan yang lainnya kembali lagi ke markas untuk memberikan pelajaran kepada Lastri dan mencari tahu siapa dalang di balik semua teror yang Erika dapatkan.


"Bos,ini" Kata Raga yang datang menghampiri Erika setelah menemukan barang yang merupakan ulah dari Lastri.


"Apa ini?" Tanya Erika.


"Isi perut seperti yang kemarin"


"Wahh kenapa dia selalu kasih isi perut setiap hari?Isi perut siapa ini?" Tanya Erika dengan ekspresi wajah lucu nya.


***


Lastri dimasukkan ke dalam ruangan kedap suara yang berada di markas dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Duduk,kamu disini sebagai tamu" Kata Erika.


Dengan wajah datarnya,Lastri langsung duduk di kursi yang berada di dekatnya.Erika duduk di hadapan Lastri,lagi-lagi ia mengeluarkan revolver kesayangan nya.


"Hei tau gak?" Tanya Erika. "Ini revolver kesayangan saya, kemanapun saya bawa" Dan Lastri masih terdiam.


"Siapa yang utus kamu?" Tanya Erika langsung ke intinya dan Lastri masih terdiam juga.


Erika memutar magazine revolver nya dan mengarahkan tepat di mulut Lastri. "Saya buat kamu tidak bisa bicara sungguhan"


"Tembak saya di dada atau kepala mafia brengsek" Lastri menekankan nada bicaranya.


"Apa ini?Saya bukan mafia" Kata Erika sedikit mengejek. "Ah oke,kalau kamu mau saya bertindak seperti mafia"


Erika berjalan menuju meja yang berada di dalam ruangan tersebut,lalu ia membuka salah satu lagi meja yang berisi berbagai macam alat tajam yang berukuran sangat kecil.


"Yang mana ya" Bisik nya sambil memilih-milih.


Setelah menentukan alat yang ia inginkan,Erika langsung berjalan menghampiri Lastri dengan ekspresi wajah seperti seorang psikopat kelas kakap namun dengan tindakan psikopat kelas Teri.


"Apa nama benda ini?" Tanya Erika sambil menunjukkan sebuah silet kecil yang ia punya.


"Ah bagus,cepet sayat di leher saya" Lastri mendongakkan kepalanya untuk mempermudah Erika mengabulkan permintaan dirinya.


"Apa maksudnya?Siapa yang mau bunuh kamu?Kalau saya mau bunuh kamu,sudah dari tadi saya lubangi kepalamu itu" Kata Erika.


"Hei tuan" Erika memanggil salah satu anak buahnya yang sedang berdiri tak jauh di dekatnya.


Jangan heran jika Erika memanggil anak buah nya dengan panggilan Tuan.Hal itu ia lakukan untuk menghargai kerja keras mereka yang sudah berusaha untuk setia tanpa berfikir untuk menghianati nya.


"Iya bos"


"Tolong ambilkan bumbu dapur yang rasanya asin" Kata Erika.


"Apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Lastri.


"Kebetulan saya sangat suka membersihkan kulit saya dengan garam" Sudah sekian lama akhirnya Erika memperlihatkan kembali wajah Berandal nya.


"Ini bos"


"Thank you"


"Mau coba?" Tanya Erika kepada Lastri dan wanita tersebut hanya terdiam sambil menatap tajam Erika.


"Oke kalau gak mau,saya mau langsung bertanya lagi" Erika tersenyum. "Siapa yang suruh kamu untuk memata-matai saya" Ekspresi wajah Erika langsung mendatar.


"Gak ada" Lastri menjawab dengan wajahnya yang sangat mengejek.


"AAAAAAAAAA!!!!!" Teriak Lastri yang kesakitan karena sayatan yang di berikan Erika di paha mulusnya itu.


"Bau amis akan hilang ketika di beri garam" Erika menaburkan garam tepat di atas luka sayatan tersebut hingga membuat luka tersebut terasa sangat amat perih.


"Apa yang kamu lakuin mafia brengsek,cepat bunuh saya!" Teriaknya sambil merintih kesakitan.


"Saya pasti akan bunuh kamu.." Erika mengayunkan nada bicaranya seperti anak kecil. "Tapi sebelum membunuh,aku ingin bersenang-senang terlebih dahulu" Erika tertawa terbahak-bahak dengan suara khas seorang psikopat.


"Hei, psikopat" Kata Lastri.


"Apa katamu?" Tanya Erika.


"Psikopat!!!" Teriaknya.


"Terimakasih"


Lastri langsung terkejut dengan balasan dari perkataan nya.Ia sungguh mengira bahwa Erika benar-benar seorang psikopat.


Padahal saat itu Erika hanya ingin menakut-nakuti nya sambil mencoba untuk terus mengasah keterampilan nya dalam bidang kekejaman.


"Saya tidak akan mengganti pertanyaan dan kamu tidak akan mati sebelum memberi tahu saya siapa dalang nya" Kata Erika.


"Maka saya akan mati kehabisan darah" Timpal Lastri.


"Maka saya akan mendonorkan darah,tidak peduli golongan nya sama atau tidak.Yang penting kamu bisa terus hidup sampai saya mengetahui siapa dalangnya"


Perkataan Erika sungguh membuat Lastri hanya bisa terdiam.Karena berusaha sekeras apapun ia menjaga rahasianya,ia yakin bahwa Erika tidak akan meloloskan dirinya bahkan memberikan celah sedikitpun.


"Siapa dalangnya?" Tanya Erika.


"Gak ada" Jawab nya singkat. "AAAAAAA!!!" Luka sayat kedua di susul dengan taburan garam dapur yang membuat luka tersebut menjadi semakin terasa sangat perih.


"Siapa?"


"Gak ada!!!" Teriaknya.


Karena pertanyaan yang ketiga kalinya tak kunjung di jawab,Erika terus menyayat kaki Lestari berkali kali hingga berlumuran darah.Dan sebagai tambahannya ia menaburkan semua garam yang ada hingga Lestari berteriak kesakitan.


"Kalo kamu kasih tau siapa dalangnya,Kamu akan hidup tanpa rasa kesakitan lagi.Saya bisa jamin itu" Kata Erika sementara Lestari masih terdiam sambil menahan rasa sakitnya.


"Apa perlu saya buat rasa perih di wajah kamu yang mulus ini?" Tanya Erika.


"Jangan!"


"Ahh bagus,Cepet kasih tau" Kata Erika.


"Mr.William"


"Apa?" Tanya Erika bingung.


"Mr.William,orang yang menyuruh saya untuk datang ke sini" Kata Lestari.


"Siapa dia?"


"Saya tidak tau,saya hanya orang bayaran dari


Selat Malaka"


"Selat Malaka?" Tanya Erika. "Siapa dia?" Tanya Erika lagi kepada anak buahnya.


"William?" Tanya salah satu anak buah Bintang kepada Lestari.


"Iya,kamu pasti tau siapa William yang saya maksud"


Pria tersebut langsung membisikkan sesuatu kepada Erika.Setelah mendengar apa yang di sampaikan oleh anak buahnya itu,wajah Erika langsung datar tidak tahu harus berbuat apa.


"Kalian berdua hubungi dokter untuk mengobati dia.Setelah itu siapkan kamar,beri dia makan, istirahat dan perawatan yang sangat cukup agar bisa cepat pulih" Erika langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dan bergegas menuju rumah nya.


"Pierre siapkan mobil" Bisik Erika.


"Baik bos"