
Erika sudah berbaring di tempat tidur sambil fokus menyaksikan salah satu acara televisi kesukaannya,sedangkan Bintang masih sibuk menata rambut nya selepas mandi.
"Tolong ambilin air minum" perintah Erika tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi tersebut.
"Aku?" Tanya Bintang yang langsung menghentikan aktivitas nya sejenak.
"Terus kalo bukan kamu siapa?"
"Oke oke" Dengan cepat Bintang langsung mengambil kan segelas air putih dan memberikan nya kepada Erika.
Tiba tiba ponsel Bintang berbunyi, ia mendapat panggilan dari pak Wijaya.Pak Wijaya mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengan Bintang untuk membahas tentang salah satu masalah perusahaan nya malam itu juga.
Tentu Bintang menolak,tetapi pak Wijaya terus memohon agar Bintang segera datang menemui nya malam itu juga karena menurut nya masalah ini cukup serius.
"Besok aja ya pak,besok pagi.Sekarang saya lagi liburan sama istri" Kata Bintang.
"Saya mohon pak,kita harus bertemu malam ini juga karena masalah yang saya maksud cukup serius dan sangat berpengaruh terhadap jumlah peningkatan penjualan di perusahaan bapak"
"Kita bicara disini aja,lewat telepon".
"Sulit bagi saya jika harus menjelaskan masalah ini melalui telepon"
"Kirim alamat dimana kita harus ketemu,sekarang" Bintang langsung mematikan panggilan nya dengan eskpresi wajah yang cukup kesal.
"Kenapa?" Tanya Erika.
"Aku keluar dulu sebentar ya" ucap Bintang sambil memakai jaket nya.
"Kemana?"
"Aku harus ketemu sama pak Wijaya sekarang juga,ada masalah serius di perusahaan katanya"
"Sekarang banget?" tanya Erika dengan wajah ragu.
"Iya,gak lama kok.paling dua jam,aku janji langsung balik lagi kesini kalo udah selesai" Bintang duduk di hadapan Erika dan meyakinkan nya bahwa Bintang tidak akan pergi lama.
"Yaudah kalo gitu,kamu hati-hati ya"
"Kamu gak apa-apa kan di tinggal sendiri disini?" Tanya Bintang.
"Gak apa-apa,banyak orang juga kan disini.Kalo ada apa-apa nanti aku minta tolong sama mereka" Erika tersenyum manis.
"Yaudah inget ya,kalo ada apa-apa langsung telpon aku"
"Iya,kalo aku telpon kamu langsung jawab ya"
"Iya,yaudah aku berangkat sekarang ya" Bintang mendekatkan wajahnya ke arah perut Erika seolah-olah ingin mengajak putra nya berbicara sebentar.
"papah pergi sebentar ya,jagain mama.Kamu jangan nakal oke" bisik Bintang.
"Oke,papa" bisik Erika.
Bintang sudah pergi meninggalkan Erika,kini wanita itu merasakan keheningan yang luar biasa.Erika beranjak dari tempat tidurnya dan duduk di kursi yang berada tidak jauh dari kasur.
Angin diluar bertiup cukup kencang,Erika bisa melihatnya dari gorden yang sedikit bergoyang karena tertiup angin.
Ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan tak lama keluar lagi.Erika sangat merasa bosan saat tidak ada Bintang di dekatnya.Ia terus menatap foto Bintang yang berada di ponselnya.Foto saat mereka berdua bermain-main di pantai tadi.
"Papah kamu ganteng banget" ucap Erika sambil mengusap-usap lembut perutnya.
"Mama yakin nanti kamu jauh lebih ganteng dari dia,itupun kalau cowok.Kalau cewek ya lebih cantik dari mama"
"Kalau nanti kamu udah besar,mama mohooonn banget jangan tiru perilaku mama sama papah dulu.Kamu harus jadi anak yang lebih baik dari kita"
Tok...tok...tok...
Erika langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar ketukan tersebut.
"Kenapa dia balik lagi?Kenapa gak langsung masuk aja?" Bisik Erika yang mengira bahwa orang itu adalah Bintang.
Tok...tok...tok...
Lagi-lagi ketukan itu terdengar hingga membuat Erika penasaran dan yakin bahwa orang itu bukanlah Bintang. "Siapa??!!" Teriak nya.
Tidak ada jawaban dari orang tersebut,Erika sedikit mengernyitkan dahi nya kebingungan.Ia beranjak dari duduk nya dan berjalan untuk membukakan pintu karena barangkali orang itu adalah salah satu staf hotel yang akan memberikan suatu informasi kepadanya.
"Siapa?" Tanya Erika.
Erika melihat seorang wanita cantik di layar kecil yang terletak di dekat pintu masuk kamar nya.Wanita itu tersenyum ramah seperti mengetahui bahwa Erika sedang menatap dirinya di layar tersebut.
"Saya ingin mengantar makan malam untuk ibu dan bapak" kata wanita tersebut.
"Makan malam?" Bisik Erika,karena setahu nya jika ia ingin makan malam maka Erika akan turun ke lantai satu dan memesan makanan disana.
Untuk memastikan Erika membuka pintu dan menjelaskan bahwa dirinya tidak memesan makanan tersebut.
"Makan malem?" Tanya Erika.
"Betul,saya membawakan makan malam untuk ibu dan bapak"
"Tapi saya gak pesan makanan apapun loh mbak" Kata Erika.
Erika sedikit mengernyitkan dahi nya saat melihat wajah wanita itu yang tiba-tiba seperti orang yang sedang ketakutan.Ia terus menggerakkan bola matanya dengan cepat, seperti sedang memberi isyarat kepada Erika agar dirinya segera kembali masuk kedalam kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Erika memberikan pertanyaan lewat gerak-gerik tubuhnya, sedangkan wanita itu hanya menggerakkan bibirnya tanpa bersuara sedikit pun.Erika menangkap nya seperti sedang berbicara 'Cepat kembali masuk,ada orang yang berniat jahat disini'.
Tiba-tiba dengan cepat nya seseorang menyerang Erika dengan sebilah pisau tajam yang ia arahkan tepat di wajah Erika.Insting Erika sangat kuat,wanita itu langsung menghindar dengan cepat nya.
Wanita yang cukup lincah itu terus menerus berusaha menyerang Erika hingga mereka berdua masuk ke dalam kamar meninggalkan wanita yang masih merasakan trauma akibat ancaman wanita jahat tersebut.
Wanita bertopeng itu mengarahkan Pisau nya di dada Erika,Erika berhasil menangkal serangan itu dan menaham dengan tangan nya sekuat tenaga.
Posisi Erika terbaring di atas tempat tidur,sedangkan wanita itu berada tepat di atas Erika.Erika menendang keras perut wanita tersebut sebagai bentuk pertahanan nya hingga wanita itu langsung terpental dan tergeletak di lantai.
"Siapa Lo!" Teriak Erika.
Tanpa menjawab pertanyaan Erika,wanita itu kembali menggenggam erat pisau nya dan bangkit untuk kembali menyerang Erika.
Erika berhasil menghindar,namun pisau tajam itu melukai lengan kanan nya.Erika tidak merasa kesakitan karena itu hanya luka goresan.
"Siapa Lo!Ada masalah apa Lo berani serang gue kayak gini??!!" Teriak Erika.
Saat wanita itu hendak menyerang Erika,Erika langsung menendang nya hingga jatuh tersungkur di lantai.Lalu ia menggenggam erat kedua tangan wanita tersebut dan berusaha untuk membuka penutup wajah nya.
Staf wanita yang sedang berdiri di luar kamar tadi langsung berlari menuju lantai satu untuk meminta pertolongan kepada teman-teman nya yang lain dengan perasaan yang tidak karuan.
"Lo...Lo ngapain kayak gini??"
Dia masih tidak mengeluarkan suara,lalu memberontak dan membalikkan posisi mereka.
Erika yang duduk di lantai sambil bersandar di tempat tidur dan Resya yang terus menodongkan pisau nya tepat di hadapan Erika sambil memegang kuat tangan nya.
"Gue mau Lo mati" Bisik Resya.
"Apa masalah gue sama Lo??" Tanya Erika.
"Lo masih tanya apa masalahnya?Lo lupa sama apa yang udah Lo lakuin ke nyokap gue?" Tanya Resya.
"Huuft...Lo sama sekali gak tau inti permasalahannya apa,jadi gue minta tolong sama Lo gak usah ungkit-ungkit masalah ini lagi.Gue udah anggap semua ini impas!" ucap Erika dengan tegas.
"Kematian bokap gue?" Tanya Resya.
"Kok Lo tanya gue?Bokap Lo mati karena Lo yang bunuh!" Teriak nya.
"Kalo Lo gak bunuh nyokap gue,bokap gue gak mungkin mati sekarang"
"Tutup mulut lo.Bokap Lo mati itu salah Lo,bukan salah gue"
"Apa Lo bilang?Tutup mulut gue?Lo yang harus tutup mulut Lo itu jalang!!" Teriak nya.
"Bahkan Lo sebut gue jalang?"
"Tutup mulut Lo,gue bakal bikin Lo menikmati rasa sakit yang gue kasih buat Lo"
Saat Resya mengarahkan pisaunya tepat di leher Erika,Erika berhasil melepaskan tangannya dan menggenggam erat pisau lancip itu dengan kedua tangan sebagai ganti nya.
Darah dari telapak tangan Erika mulai bercucuran mengotori pakaian yang sedang ia kenakan.
"Gue kasih tau sama Lo.Lo bunuh gue,tapi gak sekarang" Kata Erika dengan wajah nya yang sedang menahan rasa sakit dari kedua telapak tangannya yang sedang menahan sisi pisau tajam tersebut.
"Kenapa?Kenapa gue gak boleh bunuh Lo sekarang?Justru lebih menyenangkan kalau gue bunuh Lo sekarang.Gue bisa bayangin gimana hancur nya Bintang kalo dia tau dua orang yang dia sayang pergi buat ninggalin dia selama-lamanya" kata Resya dengan tawa jelek nya itu.
"Lepasin tangan Lo,gue bakal mempermudah semua ini" Kata Resya.
"Dua orang?" tanya Erika.
"Bayi Lo,anak kalian!" Teriak Resya.
"Apa yang Lo maksud?Gue gak hamil,bayi dan anak mana yang Lo maksud?" Tanya Erika yang berusaha untuk menutupi identitas bayi nya itu.
"Berhenti buat pura-pura bego.Tadi pagi,kalian pergi ke dokter kandungan.Lo fikir gue gak tau?" Tanya Resya.
"Lo ngikutin gue?Wah..Lo bener-bener ngefans sama gue" di situasi yang genting seperti itu Erika masih sempat melontarkan candaan nya.
Erika melihat ponselnya berada di atas tempat tidur,ia sangat ingin mengambilnya tetapi tidak bisa.Karena jika ia mengambil ponsel tersebut maka ujung pisau tersebut akan menancap tepat di leher nya.
"Lo bisa bayangin gak?Apa yang bakal gue lakuin ke Lo kalo sampe Lo gagal buat bunuh gue?Terutama Bintang...Lo bisa bayangin kan apa yang bakal dia lakuin ke Lo?" tanya Erika.
"Maka dari itu kita harus kerja sama,Lo harus sukarela gue bunuh biar perbuatan gue ini gak sia-sia"
"Bahkan psikopat lebih keren dari pada Lo" Bisik Erika.
Wanita itu semakin menekankan pisau nya hingga Erika semakin meringis kesakitan begitu juga dengan darah nya yang semakin mengalir banyak.
"Lo bisa mati karena kehilangan banyak darah" Kata Resya.
Erika,kini wanita itu merasakan rasa sesak yang benar-benar menyakitkan di dada nya.Ia seperti sedang kehabisan banyak oksigen karena telah kehilangan banyak darah.
"Lepasin tangan Lo,gue akan bikin ini lebih cepet" Bisik Resya.
"Lo beneran mau bunuh gue?" Tanya Erika dengan nafas nya yang mulai tidak beraturan.
"Lo fikir gue main-main?"
"Ambil hp gue dan telfon Bintang sekarang" kata Erika.
"Apa?"
"Cepet!!Setelah itu Lo boleh bunuh gue"
Resta menuruti perintah Erika dan mengambil ponsel tersebut dengan satu tangan yang masih menahan pisaunya.
Bintang tidak menjawab panggilan itu karena status panggilan yang sibuk dan artinya Bintang sedang menghubungi seseorang.
"Bahkan suami kesayangan Lo itu gak mau pamitan dulu sama Lo"
Erika sudah tidak tahan dengan rasa sakit di tangan nya,perlahan ia mulai melepaskan pertahanan nya itu sebagai tanda menyerah.
BRAAKKK!!!!...
Pintu kamar terbuka keras saat beberapa orang membuka nya dengan paksa.Samar-samar Erika melihat wajah Samuel dan Ayu disana.Ya,mereka ada disana.
"Jangan mendekat!!! Atau gue bunuh dia" Teriak Resya.
"Bahkan kalau mereka gak mendekat pun Lo tetep bunuh gue" ucap Erika dengan suara lesu nya.
"Erika" panggil Ayu.
Di saat energi nya sudah mulai berkurang,Erika masih bisa merasakan bahwa saat itu Resya sedang lengah.Maka dengan sisa tenaga nya ia memberikan perlawanan dengan memukul wajah penyihir itu dengan tangannya hingga pisau yang sedang mereka genggam terpental ke arah Ayu berada.
Resya tidak bisa berkutik saat Erika sudah menindih tubuh nya.Dengan cepat Gibran dan Samuel berlari menghampiri Erika dan menangkap Resya untuk membawanya ke pihak yang berwajib.
Setelah kedua teman pria nya itu menangkap Resya,Erika langsung jatuh tersungkur di lantai karena lemas.Ayu,Novia dan Naura langsung berlari menghampiri nya.
"Erika!!!kuatin diri lo,Lo gak boleh lemah" ucap Ayu.
Tak lama orang-orang mulai berdatangan karena wanita tadi sudah memberitahu teman-teman nya.Ia sangat terkejut saat melihat kondisi Erika yang sudah bersimbah darah.
"Cepet panggil polisi dan ambulans!!" Teriak Novita.
Dengan cepat salah satu dari staf hotel tersebut langsung menghubungi kedua nya dan tak lama ambulans sampai terlebih dahulu.
Erika di larikan ke rumah sakit terdekat sementara Bintang masih berada dalam perjalanan.Ia langsung bergegas kembali saat Novia menghubungi nya.
Saat panggilan nya sibuk,ternyata Novia sedang memberi kabar kepada Bintang bahwa Erika sedang tidak baik-baik saja.
Di perjalanan menuju rumah sakit Erika masih membuka sedikit matanya,hanya sedikit.Ayu terus menerus mengajak Erika berbincang agar wanita itu tidak menutup matanya.
Ayu sangat tidak ingin Erika menutup mata entah itu hanya tertidur ataupun pingsan. "Kuatin diri lo,rumah sakit gak jauh dari sini"