Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 54



Keesokan harinya sepulang sekolah Erika pergi ke restoran yang telah ditentukan oleh pak Tirta.


Pak Tirta telah menunggunya disana,tetapi Erika memutuskan untuk mengganti tempat menjadi sesuai keinginan nya karena khawatir jika pak Tirta memiliki rencana lain terhadap dirinya.


Datang ke tempat ini kalau mau menemui saya.Isi pesan Erika kepada Pak Tirta.


Beberapa jam kemudian Erika sampai di sebuah Restoran Eropa,ia memesan salah satu meja di ruang VIP yang sudah tersedia hanya untuk pengunjung kalangan atas.


15 menit menurut Erika waktu yang cukup lama dan membosankan jika untuk menunggu orang seperti Pak Tirta.


Dengan setelan jas rapih pak Tirta duduk di hadapan Erika dan langsung menekan bel untuk memesan makanan.


Erika hanya memalingkan wajah kesal karena tidak ada sedikitpun permintaan maaf darinya.


"Kamu mau pesan apa?" Tanya Pak Tirta.


"Cepet pesen aja,gak usah basa basi" Bisik Erika datar.


"Udah mbak ini aja"


"Kenapa kamu tiba tiba minta pindah lokasi?" Tanya Pak Tirta.


"Langsung ke intinya aja"


"Ah iya.Apa kamu yang membunuh istri saya kemarin?" Bisik nya.


"Iya,kenapa?" Dengan mudah Erika menjawab pertanyaan tersebut dengan wajah dan suara datar nya.


Pak Tirta menelan saliva nya saat mendengar jawaban dari Erika.Meskipun ia sudah yakin Erika yang membunuh istrinya,ia tidak menduga jika wanita seusia putri nya tersebut akan berbicara jujur dengan semudah itu.


"Kenapa kamu kasih tau saya?Bisa aja kan kamu berbohong sama saya"


"Karena bapak nanya,kalau gak nanya ya gak akan saya kasih tau.Sekalipun bapak nanya dan gak saya kasih tau pun pasti bapak langsung berfikir kalau orang yang melakukan hal itu adalah saya" Kata Erika.


"Kamu gak takut saya laporin ke polisi atau pihak hukum lainnya?" Tanya Pak Tirta.


"Kalau saya takut gak mungkin saya mulai.Saya juga tau bapak pasti gak akan laporin saya dan tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun"


"Y-ya,saya tidak akan memberitahu siapapun"


"Kenapa?Padahal bisa aja bapak laporin saya sekarang juga" Kata Erika.


"Kalau saya laporkan kamu bisa-bisa nasib saya sama seperti istri saya Teru untuk apa harta kekayaan jika saya tidak bisa menikmati nya?"


"Keluarin hp bapak" Kata Erika.


"Kenapa?"


"Keluarin aja dulu"


Dengan ragu dan perasaan yang gugup bercampur ketakutan phak Tirta perlahan mengambil ponsel di saku celana dan meletakkan nya di atas meja.


Ternyata kecurigaan Erika benar,sejak pertama datang pak Tirta sudah merekam pembicaraan mereka.


"Uuuu... pembicaraan kita di rekam buat apa?Buat dikenang seumur hidup,buat barang bukti atau buat ancam saya?" Erika mengetukkan jari telunjuk nya ke meja, sementara pak Tirta hanya diam.


"Dah udah saya hapus,gak ada lagi yang mau di bicarain kan?" Lanjut Erika. "Kalau gitu saya pergi"


"Tunggu!"


"Kenapa?" Tanya Erika.


"Makasih"


Erika menaikkan sebelah alisnya karena bingung dengan apa yang dimaksud oleh pak Tirta.


"Buat?"


"Terimakasih sudah membuat istri saya pergi mendahului saya" Kata Pak Tirta.


"Hah?" Erika tercengang bingung.


"Kamu pasti mengerti apa maksud saya"


Erika mengerti maksudnya,ia mengira pasti ada permasalahan diantara mereka berdua.Erika tidak mau tau apapun itu masalahnya.


Erika melemparkan Smirk kemudian berjalan kembali mendekat ke arah Pak Tirta.


"Jadi ada keuntungan besar dibalik tindakan saya?" Tanya Erika dengan kedua tangan yang masuk kedalam saku celananya.


"iya"


"Apa itu?" Tanya Pak Tirta.


"Saya gak ambil keuntungan sedikit pun tapi setidak nya hal ini bisa mengurangi dosa dosa saya"


"Apa?"


"Stop penggunaan narkoba pada produk yang perusahaan bapak produksi atau saya bakar gedung produksi itu" Meskipun berbisik tetapi bisikan tersebut berhasil membuat bulu kuduk pak Tirta berdiri.


"Y-ya,akan segera saya stop pengunaan nya"


"Ini bukan ancaman,tapi peringatan" Bisik Erika dan langsung berjalan meninggalkan pak Tirta begitu saja, seperti biasa jika makan atau minum dengan seseorang Erika tidak akan membayar apapun yang ia pesan.


Erika tidak langsung pulang ke rumah,melainkan mampir terlebih dahulu ke rumah pak Tio yaitu Sekertaris mendiang Bu Renita.


Sebelum turun dari mobil,Erika membuka laci mobil nya terlebih dahulu dan mengambil sebuah pistol beserta sekotak peluru yang ada di dalamnya.


Erika memasukkan benda tersebut ke dalam jaketnya dan langsung turun dengan satu tas berisi kotak bingkisan didalamnya.


Langkahnya terhenti saat melihat ada sebuah mobil di depan rumah pak Tio,tentu mobil itu bukan milik pria tersebut.


Lagi lagi langkahnya terhenti saat telah berada di dekat pintu masuk.Ia melihat pak Tio yang keluar bersama satu orang wanita.Erika menatap sekilas wanita tersebut.


Tentu saja itu wanita yang berbeda dari dua wanita yang Erika lihat sebelumnya.Erika melemparkan Smirk sambil memalingkan wajahnya dan melanjutkan langkah nya untuk masuk kedalam rumah Pak Tio tanpa seizin nya.


"Siapa dia?itu selingkuhan kamu?" Tanya wanita tersebut kepada Pak Tio dengan suara cemburu.


Erika langsung membalikkan badan menatap wanita tersebut dengan malas. "Hei tante!Apa muka gue yang muda gini keliatan serasi sama bapak bapak kayak dia?Bungkus sana,bawa pulang"


"Cewe ke berapa ini?" Tanya Erika kepada Pak Tio dan langsung berjalan masuk ke dalam meninggalkan mereka berdua.


Erika duduk di sofa sambil memakan cemilan yang ada.Tak lama Pak Tio kembali masuk setelah mengantar wanita tersebut ke depan.


Terlihat wajahnya yang masam.Antara kesal,bingung dan takut.Bukan nya duduk,pak Tio terus berdiri di dekat Erika seperti seorang pengawal yang sedang bertugas menjaga majikan nya.


"Lagi ngapain? Duduk" Erika terus mengunyah makanan nya.Saat itu ia seperti tuan rumah bagi pak Tio.


"Santai aja kali,tegang banget kayak lagi undi arisan"


"Kenapa kamu datang ke sini?" Tanya Pak Tio.


"Ah saya lupa kasih tau sebelumnya" Erika mulai berakting. "Perempuan yang tadi marah karena saya datang ke sini?"


"Iya sepertinya begitu"


"Gak usah khawatir,paling besok juga udah ganti yang baru kan?" Erika melemparkan senyuman palsu kepada Pak Tio.


"Oke langsung aja" Erika mulai mengeluarkan pistol dan peluru yang ia sembunyikan dibalik jaket nya.


Ia sengaja mengisi peluru tersebut di depan pak Tio,hal itu ia lakukan agar pak Tio merasa terancam.


"Tau gak?" Tanya Erika.


"Apa?"


"Akhir-akhir ini saya lagi suka banget sama mainan ini" Erika tersenyum dan melanjutkan aktivitas nya.


"Ahh iya,tapi itu bukan mainan" Pak Tio mulai gugup.


"Memang bukan"


"Apa mau kamu?" Tanya Pak Tio.


"Saya belum bertindak apapun kenapa bapak sudah pasrah?"


"Katakan apapun yang kamu inginkan"


Erika langsung mengangkat pistol dan mengarahkan nya kepada pak Tio. "Kalo kemauan saya ini gimana?"


"Apapun itu kecuali membunuh saya"


"emmm oke" Erika mengangguk senang karena perkataan itu yang ia inginkan. "Ambil ini" Erika memberikan kotak bingkisan tersebut.


"Tunggu apa lagi,buka" Perintah Erika.


Pak Tio langsung membuka kotak tersebut. ia terkejut saat melihat isi dari kotak tersebut adalah satu set pistol beserta isinya.


"Apa maksudnya ini?Apa yang kamu mau?" Tanya Pak Tio.