Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 74



Erika memberikan pistol nya kepada Bintang agar pria tersebut bisa merasakan pembalasan dendam nya kepada William.


Dengan tangan gemetar karena lemah Bintang berusaha meraih pistol tersebut sementara Erika membantu Bintang dengan menggenggam tangannya.


Tembakkan telah dilayangkan kepada William, pria tersebut benar benar sudah mati bersama dengan para anak buah nya itu.


Bintang langsung menjatuhkan pistolnya karena merasa sangat lemas kehilangan banyak darah.


Erika menutup luka di dada Bintang dengan tangan mungil nya. "Ayo cepat bawa Bintang ke rumah sakit!!" Teriak Erika.


Saat para anak buahnya sedang berlari menuju Bintang,Pria tersebut langsung menghentikan nya dan memilih untuk mati di tempat itu.


"Jangan...saya baik-baik saja" Kata Bintang dengan suara lesu nya.


"Tapi Lo gak keliatan baik-baik aja" Erika mulai panik.


"Lo khawatir?" Tanya Bintang.


"Ya,gue khawatir banget"


"Gue seneng"


"Udah jangan banyak ngomong nanti Lo semakin sakit" Kata Erika yang masih berusaha menutupi dada Bintang.


"Lo semakin cantik kalo lagi khawatirin gue" Bintang tersenyum kecil.


"Berhenti bicara,ayo ke rumah sakit"


"Kalau pun sekarang kita pergi ke rumah sakit,pasti akhirnya gue akan mati di jalan" Kata Bintang.


"Lo pasti bakal selamat,Lo harus tetap hidup"


"Karena sebentar lagi gue mau mati,gue mau bilang ini untuk terakhir kalinya"


"Apa?"


"I love you"


"Apa?" Bisik Erika yang mulai meneteskan air mata nya karena mendengar perkataan Bintang.


"Lo bercanda"


"Apa Lo fikir gue sanggup ngomong kayak gini di menit terakhir hidup gue?" Tanya Bintang.


Erika tidak bisa menahan air matanya lagi,ia menundukkan kepalanya tepat di atas dada Bintang yang sedang merebahkan tubuhnya di pangkuan Erika.


"Lo beneran cinta sama gue?" Tanya Erika dengan suara terisak.


"Hmm"


Erika menutup wajah dengan tangannya yang berlumuran darah Bintang. "K-kenapa Lo baru bilang sekarang-sekarang ini?"


"Gue udah bilang dari kemarin-kemarin,tapi Lo gak percaya"


"Maafin gue...Ayo ke rumah sakit sekarang,abis itu gue bisa balas cinta Lo" Teriak Erika dalam tangisnya yang tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya.


"Lo cinta sama gue juga?" Bintang tersenyum kecil.


"Ya, gue cinta sama Lo!!!" Teriak Erika.


"Ucapin lebih keras lagi"


"Gue cinta sama Lo Bintang!!!"


"Makasih udah cinta sama gue, seenggaknya gue bisa rasain cinta Lo di akhir hidup gue" Bintang perlahan mulai menutup mata nya.


"Jangan tutup mata Lo Bintang!!!Ayo liat gue,Lo gak boleh tidur!!!"


Dalam kondisi setengah sadar nya,Bintang mengangkat tangan dan melambaikan nya.Ia ingin menggenggam wajah Erika untuk terakhir kalinya.


"Apa? Kenapa?" Tanya Erika.


"Sini"


Erika menggenggam tangan Bintang dan meletakan di wajah cantiknya itu.


"Kalo Lo beneran cinta sama gue..."Bintang menarik nafas sebentar. "Lo janji harus buka hati buat siapapun nanti.Buat buka hati itu,Lo harus bisa lupain gue"


"Lupain?" Tanya Erika.


Padahal Erika baru mencintai Bintang tetapi ia harus merelakan dan melupakan Bintang.Bagaimana Erika bisa?Bagaimana caranya?Tolong beri tahu Erika.


"Apa gue harus ikut Lo aja?" Tanya Erika.


"Jangan pernah berfikir buat bunuh diri,gue benci itu" Kata Bintang. "Kalian.."


"Iya bos" Mereka mendekat ke arah Bintang.


"Jaga wanita saya,jangan biarkan dia di dekati oleh pria yang tidak bertanggung jawab"


Pierre melihat Erika sekilas dan wanita tersebut menganggukkan kepalanya.


"Baik bos"


"Jalani hidup kalian dengan baik setelah ini"


"Ya,baik bos"


"Menangis jika kalian ingin"


Sontak Bara,Pierre dan yang lainnya langsung menangis saat itu juga karena sudah tidak bisa menahan kesedihannya.


"Kenapa kalian ikut menangis?Saya jadi tidak bisa berhenti" Kata Erika.


Perlahan Bintang menutup matanya dan tangan yang sedang menyentuh wajah Erika perlahan melemah tak berdaya.


"Bintang?" Panggil Erika pelan.


"Bintang....?"


"Bintang!!!!!" Teriak Erika.


"Bos...Boss!!" Teriak Bara.


Hari itu,detik itu, keberadaan sosok Bintang sudah hilang dari bumi.Hanya nama nya yang tetap hidup di hati mereka.


Keluarga Moran telah kehilangan putra nya,para anak buah telah kehilangan bos nya,dan Erika yang telah kehilangan orang yang baru saja ia cintai.


Tidak terbayangkan bagaimana rasa sakit hati nya Erika.Di saat Bintang sudah menyatakan perasaannya sejak lama,tetapi Erika mengira bahwa hal tersebut hanyalah sekedar candaan.


Dan saat Erika sudah mulai menaruh perasaan kepada Bintang dan mulai merasakan cinta dari Bintang,ia harus merelakan untuk ditinggal selama-lamanya oleh pria tersebut.


Yang tersisa di dalam diri Erika hanyalah penyesalan dan penyesalan.Penyesalan mengapa ia baru mencintai Bintang, penyesalan mengapa ia baru merasakan cinta Bintang dan penyesalan mengapa dia harus berurusan dengan dunia hitam ini.


Jika di tawarkan kematian,Erika sangat ingin mendapatkan nya.Tetapi ia tidak mau karena Bintang dan Tuhan sangat membencinya.


Jasad Bintang langsung dibawa ke rumah nya untuk di mandikan dan di makam kan.Erika yang masih berlumuran darah Bintang di pakaian dan wajahnya hanya melamun seperti orang yang baru kehilangan akal nya.


Dia bingung apa yang harus dilakukan oleh dirinya dan yang lain setelah ini.Mungkin Erika akan melakukan apapun,kecuali meneruskan bisnis ini.


Jenazah Bintang akan di kuburan keesokan harinya di pagi hari karena harus menunggu keluarga nya di Rusia yang akan datang menghadiri acara pemakaman nya.


Malam nya Erika masih duduk di hadapan Bintang yang sudah terbujur kaku dengan tatapan mata yang sangat hampa.


"Apa sekarang Lo lagi ada disini?" Bisik Erika sambil melihat ke seluruh penjuru ruangan, berharap agar ia dapat melihat sosok Bintang tanpa sengaja meskipun sekilas.Tetapi itu hanya khayalan.


"Bintang..." Terdengar suara wanita yang tidak asing di telinga Eriak.Wanita tersebut adalah Tamara yang datang bersama Naura.


"Tamara??.." Erika menoleh kebelakang dan langsung berlari menghampiri Tamara dan memeluknya dengan erat.


"Lo baik-baik aja?" Tanya Tamara.


"Ya,Lo dari mana aja?" Tanya balik Erika.


"Malam itu gue liat ada beberapa anak buah William masuk ke rumah sakit.Gue mau hubungi lo tapi gak bisa karena gue lupa bawa hp.Gue mau telfon di telepon umum tapi gak hafal nomor Lo"


"Lo baik-baik aja?" Tanya Erika.


"Yaa"


"Naura?Naura kan?" Tanya Erika.


"iya kak"


"Apa kabar?" Erika langsung memeluk Naura.


"Baik banget"


"Kenapa kalian bisa ketemu?" Tanya Erika.


"Sebenarnya malam itu gue mau ajak lo minum, kebetulan gue liat anak buah William dari depan Bar tempat Naura kerja.Jarak rumah sakit juga kan gak terlalu jauh sama Bar"


"Yaampun makasih banyak Naura"


Tamara melihat Bintang sekilas dengan raut wajah sedih nya,ia benar-benar kecewa ketika pulang hanya bisa melihat Bintang tanpa nyawanya.


"Apa kalian lagi tipu gue?" Tanya Tamara dan Erika hanya menggelengkan kepalanya.


"Apa dia cuma mau ngerjain gue?" Tanya Tamara lagi.


"Apa dia beneran meninggal?" Erika hanya mengangguk.


"Apa-apaan lo gak boleh mati sekarang" Tamara langsung berjalan sambil menangis layaknya anak kecil.


"Seenggaknya Lo harus liat gue nikah dulu"


Tamara terus menangis sementara Erika berusaha menenangkan,padahal sebenarnya ia juga sangat ingin menangis bersama.