
Keesokan harinya.
"Gimana dok kondisi mama saya?" Tanya Erika.
"Kondisi pasien berangsur-angsur membaik,detak jantung nya kembali normal suhu badannya juga sudah meningkat.Kita tinggal menunggu pasien sadarkan diri" Kata dokter.
"Saya hari ini harus berangkat ke sekolah,apa akan baik baik aja kalau saya tinggalin mama saya sendiri di sini?" Tanya Erika.
"Sangat bisa,ini kan rumah sakit.Ada banyak suster juga yang akan menjaga ibu kamu" Kata dokter tersenyum.
"Yasudah kalau begitu saya permisi" Lanjutnya.
"Iya dok.terimakasih".
"Mah, Hari ini Erika harus pergi ke sekolah dulu ya.Nanti pulang sekolah Erika janji bakal langsung balik lagi ke sini buat jagain mamah.Semoga mama cepet sadar ya mah" Erika mencium kening mama nya dan pergi meninggalkan ruangan.
***
"Erika!" Teriak Ayu dan Novia saat berada di gerbang sekolah.
"Hai" Sapa Erika.
"Lo sekolah hari ini?Nyokap Lo gimana?" Tanya Ayu.
"Ada suster yang jagain" Kata Erika.
"Yaudah ke kelas yuk" Novia merangkul kedua sahabatnya tersebut.
"Eh,cewe Berandal.Kemana aja?" Tanya Resya saat berada di dalam kelas.
"Kenapa Lo?Kangen ya sama gue?" Erika langsung berjalan melewati Resya.
"Aishh..." Resya kehabisan kata kata.
"Selamat pagi semuanya" Sapa Pak Rama yang memasuki ruang kelas.
"Pagi pak" Semua siswa kompak.
"Bapak harap tidak ada yang bersuara kecuali bapak" Kata pak Rama.
"Hari ini bapak akan mengumumkan bahwa Minggu depan kita akan melaksanakan ujian akhir semester ganjil selama satu pekan,jadi bapak mohon kepada kalian untuk belajar dengan giat agar bisa mendapatkan hasil yang memuaskan" Kata pak Rama sambil menempelkan selembar kertas di mading yang ada di dalam kelas.
"Untuk jadwal nya bapak tempel di sini".
"Bersemangat lah karena setelah melaksanakan ulangan akhir,kalian akan libur selama dua pekan.See you" Pak Rama langsung berjalan ke luar kelas.
"Teman teman,kita semua diminta kepala sekolah dan para guru untuk keluar kelas dan berkumpul di aula" Kata ketua kelas.
"Cuma kelas kita doang?" Tanya Ayu.
"Ngga,kelas lain juga" Kata ketua kelas.
"Kenapa emang?" Tanya Rani.
"anggota komite sekolah hari ini datang.Udah ayo cepet kumpul di aula" Lanjut ketua kelas.
Semua siswa yang ada di dalam kelas langsung merasa risih saat ketua kelas mengucapkan tentang komite sekolah.Mereka sangat malas menatap wajah licik para anggota komite tersebut.
Sebagian besar siswa yang tidak menyukai anggota komite adalah siswa yang sering membuat masalah di sekolah,siswa yang kurang berprestasi, dan juga siswa kalangan bawah.
Karena setiap anggota komite adalah perwakilan dari beberapa orang tua siswa di sekolah tersebut.Orang tua yang memiliki kekayaan melimpah dan banyak berinvestasi untuk fasilitas di sekolah.Salah satu nya adalah Bu Renita yang merupakan orang tua dari Resya,teman sekelas Erika.
"Aishh...Mau apa lagi sih mereka?" Tanya Erika sedikit mengeluh.
Semua siswa dari berbagai jurusan keluar kelas nya masing masing dan berjalan menuju aula dengan wajah yang tidak bersemangat.
"Anak anak ayo cepat berbaris" Kata Kepala sekolah.
"Anak anak?Gue bukan anak lo" Kata Erika kepada dirinya sendiri.
"Silahkan Bu" Kepala sekolah mempersilahkan salah satu Anggota komite untuk berbicara di hadapan para siswa.Orang yang di tunjuk adalah mama nya Resya.
"Nyokap gue,nyokap gue" Kata Resya kepada Zahra.
"Aishh,bangga banget Lo" Kata Erika.
"Hai semuanya,mungkin kita sudah saling mengenal.Jadi saya tidak akan memperkenalkan diri saya lagi" Kata Bu Renita.
"Langsung saja,tujuan para anggota komite datang ke sekolah adalah untuk membicarakan beberapa hal terkait fasilitas sekolah.Kami akan membangun lift di beberapa titik area sekolah dan seperti yang kalian tahu,lift tersebut hanya bisa di gunakan oleh para siswa yang orang tua nya ikut berinvestasi di sekolah ini.Jadi bagi kalian yang tidak ada campur tangan orang tua tidak bisa menggunakan fasilitas tersebut" Lanjut Nya dengan wajah sombong.
"Hah?Udah gila ya?" Tanya Ayu tercengang.
"Waahh..hahah" Erika tertawa kecil.
"Walaupun orang tua gue ikut berinvestasi di sekolah.Gua gak bakal pake fasilitas itu" Kata Novia dengan wajah kesalnya.
Sementara Bintang hanya menatap tajam para anggota komite tersebut sambil menyeringai kan bibirnya.
"Bukan hanya itu,kami juga akan membangun fasilitas kantin VIP yang hanya bisa di gunakan oleh para siswa yang orang tuanya berinvestasi di sekolah ini.Mungkin bonus nya,siswa berprestasi juga boleh singgah di sana" Lanjut Bu Renita.
"Aduh,aduh..gue mulai gak sanggup denger mereka ngomong" Erika memegang erat kepalanya.
"Mereka udah mulai gila ya?" Tanya Gibran kesal.
"Menurut gue,ibu kantin lebih bermoral dari pada mereka" Kata Samuel sambil menunjuk ke depan.
"Ya,bahkan ibu kantin lebih bermoral dari pada nyokap gue" Kata Samuel lagi.
"Gue gak abis pikir sama mereka semua" Ayu kesal bercampur bingung.
"Dan yang terakhir" Lanjut Bu Renita.
"Masih ada lagi?" Kata Rani terperangah.
"Sekolah ini akan mengikuti olimpiade tingkat nasional dan peserta yang boleh ikut hanya siswa yang orang tua nya menanam saham di sekolah ini" Bu Renita tersenyum licik.
"Hah?serius?,udah gila ya?,apa apaan sih?,terus nasib siswa yang berprestasi gimana?".
Seluruh siswa saling bertanya kepada satu sama lain.Bertanya mengapa para komite sialan itu hanya memihak anak anak nya,seakan akan seluruh bagian sekolah ini di persembahkan hanya untuk anak anak mereka.
Mendengar perkataan terakhir dari Bu Renita,Erika langsing maju ke barisan paling depan untuk menyampaikan kritik dan juga meluapkan kekesalannya pada para komite sialan dan juga guru yang menyetujui nya.
Awas, permisi,kasih jalan dulu ya,awas gue mau lewat,minggir dulu bentar.
Kata Erika yang berjalan menyusuri barisan para siswa untuk maju ke barisan paling depan.
Melihat Erika yang berjalan menuju ke depan,para guru termasuk kepala sekolah langsung risau dan berusaha untuk menghentikan Erika karena khawatir ia akan melakukan sesuatu yang dapat mengacaukan acara tersebut
Berbeda dengan pak Rama yang langsung tersenyum senang saat melihat siswa didik nya memberanikan diri untuk maju ke depan menyampaikan keluh kesah bagi siswa yang merasa di rugikan.
Erika hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Pak Rama.
"Ya,ada yang mau di tanyakan?" Kata Bu Renita kepada Erika.
"Saya gak mau bertanya,saya cuma mau protes" Singkat Erika dengan wajah datar nya.
Seketika suasana aula berubah menjadi sangat hening dan tak lama terdengar suara bisikan beberapa siswa yang menyebut nama nya,diikuti oleh bisikan siswa lainnya secara bersamaan.
Erika...Erika...Erika...Erika...Erika...
Semua siswa menyemangati Erika
"Protes?Apa itu?" Kata Bu Renita.
"Saya mungkin gak peduli sama dua rencana kalian.Rencana pasang lift,dan rencana bangun kantin VIP untuk anak anak kesayangan kalian.Tapi yang bikin saya terganggu adalah kalian hanya menunjuk anak anak kalangan atas buat ikut olimpiade tingkat nasional.Terus gimana nasib siswa yang berprestasi tapi orang tua nya gak tanam saham di sekolah ini?" Tanya Erika dengan suara lantang.
"Oww,kamu sangat berani" Kata Bu Renita.
"Mungkin anak anak kesayangan ibu semua nya memang berasal dari keluarga kalangan atas,tapi apa mereka bisa pake ini(otak) nya dengan baik?" Tanya Erika sambil menunjuk kepala nya.
"Maksud kamu anak kami bodoh?" Tanya Bu Renita.
"buka saya yang bilang,tapi ibu sendiri" Erika tersenyum.
"Hei,apakah orang tua kamu anggota komite juga?" Tanya Bu Renita sambil menunjuk Erika.
"Bukan" Singkatnya.
"Kenapa kamu berani sekali" Suara Bu Renita menantang.
"Saya cuma siswa nakal yang suka cari masalah sama guru,saya juga bukan dari keluarga kalangan atas.saya cuma mewakili semua siswa yang terganggu dengan visi misi kalian" Erika santai.
"Erika,bapak minta kamu untuk kembali ke tempat" Kata pak Bobi.
Erika masih menatap tajam Bu Renita.
"Erika kembali ke tempat" Kata Pak Bobi lagi.
Erika masih terdiam.
"Bu tolong bawa Erika keluar dari sini" Kata oak Bobi kepada Bu Tesa.
"Baik pak"
"Erika,ayo keluar" Bu tesa menarik paksa tangan Erika.
Erika langsung pergi mengikuti Bu Tesa keluar aula dan mengedipkan sebelah matanya kepada Bu Renita.
"Siapa anak itu,berani sekali dia" Ucap Bu Renita kepada pak Bobi.
"Tolong di maafkan Bu,dia memang suka mencari masalah" Kata Pak Bobi.
Acara di aula telah selesai,Erika sedang menatap dirinya sendiri di cermin yang ada di toilet.
Sementara itu para anggota komite masih merasa sangat kesal dengan perlakuan Erika tadi.
"Panggil anak itu ke ruangan bapak,saya ingin melihat nya apakah masih bisa berkutik di hadapan kami" Kata Bu Renita kepada pak Bobi.
"Sebaiknya tidak perlu Bu,siswa itu sangat besar kepala dan nyali nya juga gak ada mati nya" Kata pak Bobi.
"Ssssttt" Bu Renita mengerang.
"Baik Bu,akan saya panggil sekarang juga" Kata pak Bobi.
"Pak Rama,tolong panggil Erika untuk datang ke ruangan saya sekarang juga" Kata pak Bobi kepada pak Rama.
"Baik pak" Pak Rama langsung bergegas mencari keberadaan Erika.