
"Bagus... Berantem aja terus" Bu wati menepuk kan tangan nya perlahan dan menatap lekat ke arah kerumunan orang yang sedang bertengkar.
Mendengar suara guru killer tersebut,semua siswa yang berada di dekat kerumunan langsung bergegas duduk di kursi nya masing masing.
"Astaga,astaga" Bu Tesa menepuk jidat nya saat melihat wajah Resya yang lebam dan juga rambutnya yang berantakan seperti orang gila.
"Apa yang kalian lakuin?" Teriak Bu Wati dengan suara sangar nya. "Kalian berdua ikut kami ke ruang konseling!"
"Ck!" Gerutu Erika kesal. "Ayo,udah lama saya gak silaturahmi ke ruang BK" Erika mengibaskan rambutnya dan berjalan menuju ruang konseling dengan sukarela.
"HUAAAAAA!!!!....HAA..." Resya menangis sejadi jadinya.Entah apa yang sedang ia rencanakan,tapi tangisan nya itu terlihat sangat familiar seperti drama di televisi.
"Udaaah,Berhenti nangis.Kalo kamu nangis terus kapan saya mau interogasi kalian?" Bu Tesa berdecak sebal.
"Ibu bisa liat kan ini muka saya jadi kayak gini gara gara dia" Resya menunjukkan wajahnya sementara Erika memutar kedua bola matanya malas.
"Ssstt" Desis Bu Tesa. "Itu kamu apain dia sampai wajahnya babak belur kayak gitu?" Tanya Bu Tesa kepada Erika.
"Saya pukul lah Bu,kalo saya cium gak akan kayak gitu" Erika santai.
"Najis banget gue dicium Lo" ucap Resya.
"Siapa juga yang mau cium Lo?Muka Lo babak belur karena gue gak mau cium muka burik Lo itu"
"Sudah sudah!Dengan mudahnya kamu terus terang seperti itu Erika?" tanya Bu Tesa.
"Kalau saya ngelak pun ibu gak akan percaya kan?" Teriak Erika jengkel.
"Pasti" Kata Bu Tesa.
"Yaudah terus apa gunanya saya di interogasi kayak gini,mending langsung kasih hukuman aja deh biar cepet selesai"
Brakkk!!!!.....
Pintu ruangan konseling di buka dengan sangat kasar oleh pak Feri yang baru datang bersama Pak Bobi dan juga pak Rama selaku wali kelas mereka.
"Mana yang bikin masalah!" Teriak Pak Bobi.
"Haishh..." Gerutu Bu Wati.
"Aduh Erika kenapa lagi sih?" Tanya Pak Rama.
"Biasalah" Ucap Erika tegas.
"Resya kamu gak apa-apa,i-ini muka kamu kenapa lebam kayak gini?" Pak Bobi sok perhatian kepada Resya.
"Menurut bapak kenapa?" Bisik Resya.
"Kamu lagi?Sekian banyak siswa di sekolah ini kenapa harus kamu lagi?" Pak Bobi mencengkram kedua bahu Erika dan mengobrak-abriknya dengan suara yang di tekankan karena sangat merasa jengkel.
"Dari sekian banyak siswa,kenapa harus dia yang cari masalah sama saya?" Skakmat.
Ucapan yang keluar dari mulut Erika membuat pak Bobi perlahan melepaskan cengkraman tangan nya.
"Apapun masalahnya,dia tetap harus dihukum" Pak Bobi berbicara tanpa menatap wajah Erika.
"Saya doang?" Tanya Erika.
"Terus kamu mau ngajak siapa?Ngajak saya?" Tanya balik pak Bobi.
"Ayo kalo bapak mau"
"Kenapa dia terus jawab perkataan saya sih?" Teriak pak Bobi jengkel.
"Kenapa saya doang yang dihukum,kenapa gak berdua aja sama dia" Erika menunjuk Resya.
"Kamu gak lihat?Disini dia korban,muka nya babak belur gara gara kamu" Timpal Bu Wati.
"Tapi tetep aja Bu,dia yang cari masalah duluan"
Erika memutar kedua bola matanya jengkel dan langsung beranjak dari duduknya.
"Bu.Sakit kerena dipukul paling besok juga ilang rasa sakit sama bekas luka nya.Tapi kalau sakit karena mulutnya sampai kapan pun susah buat ilang atau dilupain"
"Pak,Bu.Saya bicara seperti ini tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada bapak dan ibu."
"Dari dulu,dari dua tahun yang lalu saya selalu sabar ngadepin manusia bermulut angsa kayak dia ini,tapi kali ini dia udah keterlaluan banget makanya sekalian aja saya kasih pelajaran" Erika menghembuskan nafas dan kembali duduk di kursi nya.
"Tapi kan gak harus pakai kekerasan Erika-" Kata Bu Tesa.
"Harus banget pake kekerasan buat ngadepin orang kayak dia Bu" Timpal Erika.
"Kata kata gak bisa nutup mulutnya,cuma kekerasan yang bisa nutup mulut busuk nya bahkan sekalian sama usianya juga" Tatapan nya mendatar sementara Resya menguatkan kedua rahangnya karena kalah telak dari Erika.
Para guru saling menatap saat mendengar kalimat terakhir Erika,mereka tahu bahwa orang yang memiliki sifat seperti Erika tidak akan bermain main dengan perkataan nya sendiri.
"Dan Lo juga" Erika menendang kaki kursi yang di duduki Resya. "Kenapa sih Lo tuh julid banget sama gue,emang gue pernah ngapain Lo sampe-sampe Lo selalu ngusik hidup gue?"
"Nah,kamu juga.Ngapain terus terusan melibatkan diri untuk berurusan dengan berandal sekolah yang satu ini?" Bu Tesa menekan kan nada bicaranya karena sangat amat jengkel kepada Resya.
"Iya kan Bu,Mau ngapain sih?Ngapain juga" Tanya Erika.
Resya masih belum berbicara dan mungkin tidak akan berbicara.Para guru terus menatap kesal ke arah Erika dan Resya,kecuali pak Rama yang masih terdiam.Karena mau bagaimana pun pak Rama adalah wali kelas mereka berdua.
"Jangan mentang mentang bokap Lo investor terbesar di sini,terus Lo jadi seenak jidatnya aja buat ngelakuin apapun yang Lo mau"
"Tolong bicara sesuatu Resya!!" Teriak Bu Wati.
"Intinya besok saya akan bawa orang tua saya buat selesain masalah ini.Dan gue bakal pastiin kalo besok Lo bakal di tendang dari sekolah ini" Ancaman Resya yang sangat murahan.
Erika langsung beranjak lagi dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Resya. "Bodo amat gue gak peduli.Udah gue bilang kan,kalo perlu panggil sekalian centeng-centeng bokap Lo itu"
"Nantang Lo?" Tanya Resya.
"Pokoknya gue peringatin mulai dari sekarang.Kalau seandainya besok gue gak dikeluarin dari sekolah ini sama bokap kesayangan Lo itu,gue minta sama Lo stop buat melibatkan diri buat berurusan sama gue"
"Stop kenal sama gue.Meskipun kita satu kelas,gue minta Lo buat pura pura gak kenal sama gue.Anggap aja gue gak ada di mata lo"
"Gue ingetin dari sekarang dan sebaiknya Lo dengerin apa yang gue bilang tadi" Erika langsung keluar dari ruang konseling meninggalkan Resya dan para guru.
Sementara Pak Rama menyusul Erika dengan berlari secepat mungkin.
"Pokoknya saya gak mau tau ya pak,Dia harus di hukum!" Ucap Resya kepada Pak Bobi dan ikut pergi keluar ruangan.
"Wah...Jaman sudah semakin berubah,mana ada siswa keluar ruangan sebelum di perintah gurunya?" Tanya Bu Wati.
"Wajar saja mereka seperti itu Bu,jika pemimpin sekolahnya saja tidak mempunyai pendirian seperti itu dalam mengambil keputusan,ups" Tesa pura pura kelepasan dan langsung berjalan keluar ruangan.
"Apa maksud ibu?Siapa yang tidak mempunyai pendirian?" Tanya Pak Bobi tersinggung.
"Menurut bapak siapa?" Tanya balik Bu Tesa kepada pak Feri.
Pak Feri mengarahkan lidah dan matanya ke arah dimana pak Bobi berdiri disampingnya.
"Nah betul sekali" Ucap Bu Tesa.
"Siapa?" Tanya Pak Bobi.
"Saya ada jam mengajar,Mari Bu Wati kita satu arah"
"Mari Bu"
"Saya juga ada jam mengajar pak, permisi" Pak Feri ikut meninggalkan.
"Bahkan kalian pergi sebelum menjawab pertanyaan saya"
Pak Bobi ditinggalkan dengan arwah yang masih penasaran dengan ucapan Bu tesa barusan.