Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 93



Erika bahkan Ayu pun tidak mengetahui siapa gadis kecil tersebut.Entah dari mana Resya bisa menemukannya.


Ana mengatakan bahwa dirinya dibawa oleh seorang pria saat sedang bermain di halaman yang tak jauh dari tempat tinggalnya.


Erika dan Bintang berusaha membantu Ana untuk mengingat dimana dan seperti apa tempat tinggalnya.


Ana mengatakan bahwa ia tinggal bersama lebih dari lima belas orang disatu rumah tersebut.Dimana kelima belas orang tersebut tidak mempunyai kedua orang tua dan mereka tinggal bersama wanita yang sering di panggil umi oleh mereka semua.


Tak salah lagi,Erika sangat yakin bahwa gadis kecil ini tinggal di salah satu panti asuhan yang ada di Jakarta.


Tidak perlu berfikir panjang lagi Erika dan Bintang langsung membawa nya ke panti asuhan terdekat,jika tidak dalam masalah seperti ini Erika sangat ingin membawa Ana pulang ke rumah mereka dan mengangkatnya sebagai anak asuh.Tetapi hal itu tidak akan Erika lakukan karena mengingat mereka sedang dalam permasalahan yang cukup serius dengan Resya.


...•••...


Malam nya Erika sangat merasa mual yang berlebihan dan terus menerus memuntahkan semua makanan yang sudah ia konsumsi.


Bintang yang sedang fokus menonton serial kartun Boboiboy itu langsung terdiam seketika dan melirik ke arah pintu kamar mandi tanpa menggerakkan badannya sedikit pun.


Erika masih belum berhenti bersuara,malah kondisi nya itu seperti semakin menjadi-jadi.Bintang memutar kedua bola matanya perlahan karena bingung dan berjalan mendekat ke arah sumber suara.


Bintang menempelkan telinga nya di pintu saat suara Erika sudah tidak terdengar lagi.Tak lama pintu kamar mandi terbuka secara tiba-tiba hingga membuat Bintang langsung terjatuh di tempat.


"Astaga!!!" Teriak Erika dengan wajah lesu nya.


"Kamu sakit?" Tanya Bintang yang langsung berdiri dengan cepat.


"Gak tau nih"


"Muka kamu pucet loh" Bintang langsung mencengkeram erat wajah mungil Erika dengan kedua tangannya itu.


"UUUUWEEE!!!" Lagi-lagi rasa mual itu datang sehingga Erika langsung kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Bintang berfikir sebentar,ia berfikir apa yang harus dilakukan untuk mengatasi rasa mual yang menimpa Erika.


Ia berlari menuju laptop nya untuk mencari tahu tentang hal tersebut di internet.


'apa yang harus di lakukan ketika istri..."


"Kok gue tolol sih.Ya kalo istri sakit di bawa ke rumah sakit lah ngapain pake acara browsing segala" Oceh nya yang langsung berlari keluar kamar untuk memanggil Bi Ira.


"BI!!!!!!BIBI!!!!" Teriak Bintang sambil berlari menuruni tangga. "BIBIIII!!!!!!"


"Iya tuan!!!" Teriak si Bibi dari kejauhan.


"Bibi dimana??!!"


"Saya disini tuan,maaf ada apa ya tuan?"


"Bi bilangin Tori atau siapapun,cepet siapin mobil ya.Saya mau bawa Erika ke rumah sakit" Ucap nya yang terlihat sangat panik.


"Nona kenapa tuan?"


"Erika muntah-muntah Bu,gak berhenti-berhenti"


"Kok bisa?"


"Mana saya tau Bi...udah ya nanya nya,mending sekarang bibi lari ke depan panggil siapapun yang ada di sana buat siapin mobil.Sekarang!!" Oceh Bintang yang mulai gemas karena si bibi terus bertanya tanpa melakukan tindakan nya dengan cepat.


"Apa nona sudah datang bulan?" Tanya si bibi tiba-tiba.


"Hah?" Bintang langsung terdiam dengan wajah datarnya.


"Datang bulan"


"Datang bulan??"


"Iya tuan,datang bulan.Menstruasi" Ucap si bibi dengan jelas.


"Kemarin..bilang nya gitu,tapi ternyata bohong" ujar Bintang dengan wajah polos nya, sementara senyuman langsung terukir di wajah cantik Bi Rani.


"Kenapa bibi senyum-senyum?Jadi merinding saya" dengan wajah gelisah nya Bintang terus mengusap leher nya yang terasa sangat merinding.


"Bibi boleh ke kamar tuan buat temuin nona?" Tanya Bi Rani.


"Aduh bibi...dari pada ke kamar,mendingan bibi ke depan biar bisa langsung pergi" ucap Bintang kesal.


"Tuan..." Bisik Bi Rani sambil berjalan mendekat ke arah Bintang dan pria itu hanya terdiam.


"Maaf kalau pertanyaan saya lancang.Sejak pertama menikah,tuan sudah pernah melakukan hubungan intim dengan nona Erika?" Bisik nya.


Ekspresi yang sangat lucu itu terlihat dari wajah tampan Bintang.Ia langsung membelalakkan matanya dan melirik ke arah Bi Rani dengan wajah panik nya.


Bi Rani yang melihat ekspresi itu langsung tertawa gemas. "Gak apa-apa kok,saya ngerti.Jadi gini tuan,kalau nona bulan ini belum datang bulan...bisa jadi mual-mual itu karena nona hamil"


"Apa??" Teriak Bintang terkejut. "Hamil?"


"Iya hamil,ada Dede bayi di dalam perutnya" Bi Rani memberikan penjelasan seperti sedang berbicara dengan anak kecil.


Bintang terdiam sejenak lalu menggandeng tangan Bi Rani dan membawa nya lari menuju kamar agar Bi Rani bisa melihat kondisi Erika secara langsung. "Ayo bi,ayo bi"


Saat mereka masuk kedalam kamar,Bintang dan Bi Ira melihat Erika yang sedang duduk termenung di tepi kasur dengan wajah lesu nya.


"Coba liat bi" ujar Bintang.


"Nona kenapa?" Tanya Bi Rani.


"Bi kayaknya aku sakit deh,tolong buatin minuman jahe atau apa aja bi yang penting anget" Kata Erika.


"Bibi duduk di sini aja,jangan di bawah.Dingin" Erika menarik tangan Bi Rani.


"Yaudah iya non,maaf ya tuan" Hanya di balas anggukan oleh Bintang.


"Apa kata bibi tadi?"


"Bulan ini nona sudah datang bulan?" Tanya Bi Rani.


"Belum bi,terakhir dua satu Minggu sebelum nikah" Sontak Bi Rani langsung menoleh ke arah Bintang sambil tersenyum riang.


"Kenapa emang bi?" Tanya Erika.


"Kalau nona tes kehamilan dulu gimana?"


"Hah?Tes kehamilan?Emang aku hamil?"


"Ya justru itu kamu cek aja dulu" Sahut Bintang.


"Kalian apaan sih,aku tuh gak hamil.Aku cuma kecapean aja" Rengek Erika.


"Nona,saya mohon.Coba dulu aja ya"


Erika terdiam saat melihat wajah Bintang dan Bi Rani yang sedang menatapnya dengan tatapan sangat memohon.


"Terserah deh" Erika mengalah.


"Nona punya kan testpack nya?Biar saya ambilkan"


"Punya?Saya gak punya bi"


"Gak punya?"


"Iya gak punya"


"Ya berarti kalau begitu harus beli dulu dong"


"Eh kamu..." Ucap Erika sambil menunjuk Bintang.


"Aku??"


"Iya kamu"


"Kenapa?" Tanya Bintang sambil mendekati istrinya itu.


"Stop!Jangan mendekat!!" Teriak Erika.


"Loh kenapa??" Tanya Bintang heran.


"Kamu keluar deh dari sini"


"Aku???Kenapa??" Tanya Bintang.


"Aku...aku...Harus banget jujur ya?"


"Ya harus lah, kenapa kasih tau aku?"


"Aku eneg banget liat muka kamu,jadi bawaannya pengen muntah terus"


"Apa?!!Apa kata kamu??Coba sekali lagi??" Teriak Bintang sambil mendekatkan telinganya kepada Erika.


"Udah udah tuan,mohon maklumi saja.Meskipun belum di tes,tetapi saya yakin kalau nona sedang mengandung.Jadi harap di maklumi saja" Kata Bi Rani.


"Gitu ya?"


"Iya tuan".


"Yaudah jadi gak nih di tes nya?" Tanya Erika.


"Jadi nona,tapi harus beli dulu"


"Yaudah Bu tolong beliin ya,nih uang nya" Bintang mengeluarkan dompetnya untuk memberi yang itu kepada Bi Rani.


Tetapi Erika langsung menghentikan nya dan mengatakan sebaiknya Bintang yang membelikan untuknya.


"Kamu aja deh yang beli" Kata Erika.


"Bibi aja,aku disini temenin kamu"


"Kan aku udah bilang,aku gak mau liat muka kamu dulu.Jadi mending kamu aja yang beli,bibi disini temenin aku"


"Yaudah aku suruh Tori aja deh" Baru saja memegang handle pintu,Erika kembali berkata bahwa harus Bintang yang membelinya.


"Kok jadi Tori?Suami aku Tori atau kamu sih?" Teriak Erika.


Ia menghembuskan nafasnya dan melemparkan senyuman hangat kepada Erika. "Iya nona,saya yang akan membelikan nya untuk nona tersayang"


"Gitu dong"


"Yasudah kalau begitu,saya pergi dulu ya nona cantik.Baik-baik dirumah.Bibi,jagain ya"


"Iya tuan"


Setelah keluar dan menutup pintu kamar,Bintang kembali memperlihatkan wajah sebal nya dan terus melemparkan ocehan kepada dirinya sendiri.


"Waahh...semoga cuma berlangsung malam ini aja.Gue gak sanggup kalo harus ngehadapin dia yang kayak gini setiap hari.Bisa-bisa nya pengen muntah karena liat wajah tampan gue ini" Oceh nya.