
Erika langsung menuju kamar inapnya untuk bergegas mengganti pakaian dan langsung beranjak tidur,sementara pakaian dan senjata yang ia pakai telah dibawa oleh kedua anak buah Bintang tersebut.
Erika beranjak tidur di kasur empuk tersebut seolah olah hari ini tidak terjadi apa apa.Di sore hari nya polisi mulai berdatangan ke hotel bintang lima tersebut karena banyak saksi mata yang mengatakan bahwa peluru tersebut datang dari arah sana.
Meskipun mengetahui hal itu,tentu saja Erika tidak kabur.Justru ia tetap diam disana dan juga tetap bersikap seperti tidak mengetahui apapun.Erika tidak bodoh,dia sudah memikirkan beberapa hal.Jika ia pergi di waktu yang bersamaan justru beberapa orang akan mencurigai dirinya.
Atas izin pemilik hotel tersebut, polisi mulai menggeledah satu persatu kamar tamu disana dan juga seluruh ruangan staf hotel.
Tentu saja polisi tidak menemukan bukti apapun di gudang,karena semua bukti tersebut sudah dibersihkan oleh Erika dan kedua anak buah Bintang.
Polisi mulai menggeledah kamar inap Erika.Dengan berpura-pura lugu Erika keluar menemui para polisi tersebut dengan rambut dan wajah yang berantakan karena memang ia baru saja terbangun dari tidur lelapnya.
"Ada apa pak?" Tanya Erika.
"Tadi siang telah terjadi penembakan,banyak yang menduga peluru tersebut berasal dari gedung ini"
"Penembakan?" Erika terhentak kaget.
"Anda tidak tahu?"
"Saya baru bangun tidur pak dari tadi pagi jadi gak tau apa apa deh"
"Kami meminta izin untuk menggeledah kamar ini"
"Oh silahkan"
15 menit berlalu tetapi polisi tidak menemukan apapun yang mencurigakan.Akhirnya mereka mengalah dan memilih untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Beneran ada penembakan pak?" Tanya Erika lagi.
"Iya"
"Terus itu orang orang mau pada kemana?" Erika pura pura bingung saat melihat beberapa tamu yang menginap bergegas pergi membawa barang barangnya untuk meninggalkan hotel tersebut karena takut menjadi sasaran.
"Mereka bergegas pergi dari sini karena takut menjadi sasaran"
"Hah?Berarti pelaku nya masih berkeliaran?"
"Iya"
"Sebaiknya anda juga segera meninggalkan tempat ini"
"Iya pak, sekarang saya langsung pergi.Saya mau beresin barang barang saya dulu"
"Ya,kalau begitu terimakasih maaf mengganggu waktu nya.Selamat sore"
"Selamat Sore pak" Erika menundukkan sedikit kepalanya dan langsung masuk kedalam untuk membereskan barang barang nya.
Setelah mengganti pakaian Erika langsung keluar dei ruangan tersebut dan berjalan ke arah parkiran.
Ia melihat beberapa orang yang sedang berlalu lalang dengan ekspresi wajah yang sangat cemas.
Haishh...gue juga mikir mikir dulu kali buat nembak kalian.Emang kalian pikir gue bakal asal nembak orang apa?Bikin masalah dulu Lo sama gue baru gue tembak.
Gerutu Erika sambil terus berjalan cepat menuju parkiran.
Erika terus berlari kecil dengan wajah cemas seperti benar benar sedang ketakutan.Setelah keluar dari pintu utama ia langsung melamparkan smirk dengan wajah datarnya.
Ia langsung masuk kedalam mobil.Setelah pergi ke markas untuk menaruh semua barang bukti,kedua anak buah Bintang tersebut datang lagi untuk menjemput Erika.
Mereka segera pergi meninggalkan tempat itu dan pergi menuju markas untuk menemui Bintang.
Saat dilarikan ke rumah sakit,dokter mengatakan bahwa Bu Renita telah meninggal sejak peluru melubangi kepalanya.
Pak Tirta terlihat tanpa ekspresi sedih atau apapun.Justru ia hanya terdiam seperti tidak terjadi apa apa.
Alasannya, Pak Tirta memulai pertengkaran saat mengetahui bahwa istrinya adalah penyebab meninggalnya mama Erika.
Ia merasa frustasi karena khawatir jika Erika akan membunuh ia dan keluarganya.Mereka bertengkar bahkan Pak Tirta telah menggugat cerai istrinya ke pengadilan agama.
Perceraian yang belum sah itu membuat mereka sibuk memperebutkan harta Gono gini.Saat itu juga pak Tirta selalu mengumpat bahkan menyumpah istrinya dalam hati.
Maka tak heran saat Bu Renita dinyatakan meninggal dunia ia tidak terlihat sedih sama sekali.
"Serius itu ulah Lo?" Tanya Bintang yang masih belum percaya.
"Terus siapa lagi?"
"Orang orang gue mungkin"
"Tanya aja sama mereka" ketus Erika.
Bintang tidak menyangka bahwa teman perempuan nya yang sangat tidak tegaan tiba tiba berperilaku seperti monster yang menyeramkan.
"Dia aja gak ragu suruh orang buat bunuh nyokap gue,kenapa gue harus ragu buat bunuh dia.Gue ngerasa puas banget karena balas dendam pake tangan gue sendiri" Ekspresi wajah Erika datar.
Erika yang dulu bukanlah Erika yang sekarang.Dari dulu memang ia nakal,tapi tingkat kenakalan nya sangat berbeda dengan sekarang.
Mungkin sekarang ia bukan wanita nakal,melainkan wanita kejam haus balas dendam.
Dulu ia sangat takut jika berurusan dengan nyawa seseorang,tetapi sekarang kenyataan bahwa mama nya di bunuh dan ia juga berteman dengan orang yang bisa disebut sebagai pembunuh.
Sekarang Erika hidup di lingkaran dunia hitam.Teman dekat laki lakinya seorang Mafia berusia muda bahkan ayah nya pun begitu.Yang membedakan hanya usia tetapi nyali mereka tetap sama,atau bahkan lebih besar Bintang.
Perkataan dibalas perkataan,lebam dibalas lebam,darah dibalas darah dan juga nyawa yang harus dibalas dengan nyawa.
Begitulah jalan fikiran Erika sekarang ini.
"Tapi gue masih belum puas" Kata Erika tiba tiba.
"Apalagi?"
"Pembunuh yang mereka suruh gak tau ada dimana dan gue harus tau dia ada dimana"
"Lo butuh bantuan gue lagi?" Tanya Bintang sambil menghisap sebatang rokok nya.
"Gak,gak usah.Gue mau pulang" Erika menjawab dengan datar dan langsung berjalan keluar ruangan.
"Besok dan seterusnya jangan pernah ngerokok di depan gue" Erika menghentikan langkahnya dan menunjuk wajah Bintang.
Bintang langsung terdiam sesaat dan menaruh rokok nya di asbak sambil berjalan mendekat ke arah Bintang.
"Kenapa?"
"Kenapa apa nya?" Tanya balik Erika.
"Lo khawatir gue kenapa-napa ya?Kayak cewe cewe lain gitu yang posesif sama pacarnya" Bintang tersenyum sumringah.
"Dih" Erika memalingkan wajahnya malas. "Pertama,gue gak suka asap rokok itu bikin dada gue sesak.Yang kedua,Resiko kanker paru-paru gue lebih tinggi dari pada Lo karena posisi gue sebagai perokok pasif" Erika mendekatkan wajah dengan ekspresi berandal nya yang sudah lama tidak terlihat.
"Yaelah.Kali kali bikin hati gue seneng apa" Rengek nya.
"Jangan gitu muka nya gue sebel banget.Dahlah gue mau pulang" Erika langsung berjalan meninggalkan Bintang, sementara pria tersebut hanya tertawa senang karena telah membuat Erika sebal.
***
Saat Erika hendak naik ke mobil,tiba-tiba ponsel nya berbunyi.Lagi lagi ia mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal.
"Kenapa nomor gue murahan banget sih" Bisik Erika jengkel karena sudah banyak nomor yang tidak dikenal menghubungi nya, meskipun itu panggilan penting.
"Ya?"
"Ini saya"
"Saya? Saya nya siapa?" Tanya Erika.
"Saya pak Tirta"
"Ah kenapa?"
"Bisa bertemu dengan saya besok?" Ajaknya.
Erika hanya mengernyitkan dahi nya. "Oke,besok" Singkat Erika.
"Sampai bertemu besok,besok saya akan kirimkan alamatnya"