Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 66



Lagi-lagi ada serangan yang tidak terduga datang menyerang Erika dan anak buahnya,kali ini serangan tersebut berasal dari pihak musuh.


Dengan cepat,Erika dan anak buahnya langsung melindungi diri dengan bersembunyi dan terus membalas tembakan mereka.


Saat kedua pihak tersebut sedang sibuk bertempur,William berhasil melarikan diri bersama ke-lima anak buah yang membantu dirinya.


Saat William berhasil lolos,serangan musuh langsung menghilang seketika dan mereka juga ikut melarikan diri.


"Semuanya berpencar!!!" Teriak Erika.


Erika,Raja dan Pierre berlari melalui pintu utama.Mereka berpapasan dengan Bintang serta anak buahnya.Ya,mereka yang sudah membantu Erika untuk membunuh sebagian anak buah William.


"Makasih bantuannya,tapi dia baru aja kabur dari sini" Kata Erika.


"Kabur?"


"Iya,ke arah selatan" Erika menunjukarah tersebut.


"Kalian semua berpencar jangan lupa untuk saling berkomunikasi dan meminta bantuan ketika terjadi sesuatu" Kata Bintang.


"Baik bos"


"Ayo"


***


Pencarian sudah berjalan selama kurang lebih tiga jam.Tetapi belum ada hasil apapun,tidak ada satu orang pun diantara mereka yang berhasil menemukan William maupun anak buahnya.


Oleh sebab itu,Bintang dan Erika memutuskan untuk memberhentikan pencarian dan melanjutkan nya besok hari.


Bintang menyuruh Erika untuk tidak pulang ke rumah atau markasnya,ia meminta Erika untuk bermalam di rumah nya.Sementara anak buahnya akan bermalam di markas milik Bintang.


Sesampainya di rumah Bintang,mereka berdua di sambut dengan berbagai macam pertanyaan yang diajukan oleh Tamara.


Tamara sangat kecewa karena mereka tidak mengajaknya untuk pergi bersama meskipun dalam masalah.


"Lo disini?" Tanya Tamara kepada Erika.


"Hmm"


"Lupain.Dari mana kalian?Kenapa akhir-akhir ini kalian berdua ceukin gue?"


"Cuekin Lo?" Tanya Erika.


"Ya karena Lo gak punya urusan" Kata Bintang.


"Aahh urusan" Gerutu Tamara.


"Isshh...semenjak kapan sih Lo jadi posesif gini sama kita?"


"Semenjak hari ini.Kenapa?" Tamara bertanya dengan wajah garang nya.


"oh gitu"


"Kalian gak mau minta maaf sama gue?" Tanya Tamara.


"Gak" Singkat Erika.


"Oke lupain, pokoknya mulai besok gue harus dilibatkan dalam urusan kalian" Kata Tamara.


Di malam harinya,Erika tertidur sangat pulas.Situasi kamar tidur yang Erika gunakan sangat gelap karena ia sengaja mematikan lampunya agar bisa tidur dengan nyenyak.


Kemudian saat dalam tidur nyenyak nya,Erika mendengar suara langkah kaki dari balkon kamar tersebut.


Dengan cepat Erika langsung terbangun dari tidur dan membuka matanya lebar-lebar tanpa berubah posisi sedikit pun.


Saat Erika sedang terdiam dan berusaha mendengarkan kembali suara tersebut, sekelebat cahaya terpampang di dinding ruangan tersebut.Erika yakin bahwa itu adalah cahaya dari senter seseorang.


Erika semakin membuka lebar matanya dan melirik dengan sorot mata yang sangat tajam penuh kewaspadaan.


Jika orang tersebut adalah anak buah Bintang yang sedang berjaga,untuk apa ia berpatroli hingga balkon kamar Erika yang jelas-jelas tidak ada akses untuk naik kesana selain melewati pintu kamar Erika.


Karena Erika merasa bahwa orang tersebut masih memantau kondisi,ia bergegas menuju ruangan yang masih berada di dalam kamar tersebut.


Erika berharap disana ada setidaknya satu senjata untuk melindungi dirinya.Erika masuk kedalam ruangan tersebut dengan cara merangkak agar orang itu tidak bisa mendengar suaranya.


Erika berusaha terus mencari senjata dalam keadaan ruangan yang sangat gelap,tidak ada cahaya sedikitpun disana.


Erika mengambil lampu meja yang berada di dekatnya sebagai sumber penerangan utama, meskipun minim cahaya.


Mata Erika tertuju pada sebuah lemari besar,dengan cepat ia langsung menghampiri kemari tersebut dan membukanya.


Tak disangka,ternyata lemari tersebut adalah lemari khusus tempat penyimpanan beberapa macam jenis senapan milik Bintang.


Tak mau menunggu lama lagi, Erika langsung mengambil salah satu kotak yang ada dan merangkai senapan tersebut dengan sangat berhati-hati.


Setelah selesai merangkai senapannya,Erika membuka laci dan mengambil satu kotak kecil yang berisi peluru dan langsung ia masukkan kedalam saku piyama yang sedang ia kenakan.


Tak lupa Erika juga memakai helm dan baju Anti peluru yang ia lihat didalam lemari tersebut.


Setelah itu ia kembali merangkak untuk keluar dan bersembunyi di balik dinding yang sangat dekat dengan pintu menuju balkon.


Sinar cahaya dari senter tersebut muncul kembali dan tak lama menghilang bersamaan dengan suara langkah kaki yang sangat berhati-hati mendekati pintu balkon tersebut.


Erika tetap waspada,ia mencengkram kuat senapannya dengan posisi jari telunjuk yang siap menekan pemicu ketika orang tersebut berhasil masuk kedalam kamarnya.


Meskipun pintu balkon terkunci,pria tersebut berhasil membobolnya dan perlahan berjalan masuk kedalam kamar.


Setelah pria tersebut mulai melangkahkan kakinya, tiba-tiba datang seorang pria lain dari arah balkon.Ternyata mereka berusaha naik kesana dengan menggunakan sebuah tangga yang sangat besar,bahkan Erika pun belum pernah melihat benda itu sebelumnya.


Satu langkah pria tersebut memasuki ruangan,Erika langsung bergegas membidikkan senapannya tepat di kepala bagian samping.


"Siapa kamu!" Kata Erika.


Tanpa berbicara satu patah kata pun, pria tersebut diam-diam merogoh saku celananya dan mengeluarkan pistol yang ukurannya jauh lebih kecil dari senapan milik Erika.


Tetapi Erika sangat yakin bahwa pistol tersebut sangat mematikan meskipun ukurannya begitu sangat kecil.


Dengan kemampuan bela dirinya,Erika langsung menendang lengan pria tersebut hingga pistol yang ia genggam terlempar jatuh ke lantai dan Erika semakin membidikkan senapannya. "Siapa kamu!!!" Teriak Erika.


Erika melihat bahwa pria tersebut berusaha meraih pistolnya kembali,namun dengan cepat Erika langsung berganti arah bidikan dan mengambil pistol tersebut. "Apa kamu bisu?" Tanya Erika.


Tak lama satu orang pria yang lain telah tiba,pria tersebut langsung menodongkan pistol yang ia miliki ke arah Erika.


Bersamaan dengan itu Erika memperlihatkan kemampuan bersenjata nya dan terus membidikkan senapan itu hingga pria tersebut langsung berjongkok karena tekanan yang Erika berikan.


"Sebaiknya aku apakan teman mu ini?" Tanya Erika.


"Bunuh saja dia" Ucapnya.


"Siapa kalian?Apakah William yang mengutus kalian?" Tanya Erika.


"Kamu tidak perlu tau"


"Kesalahan terbesar kalian berdua adalah datang kemari tanpa keterampilan bersenjata yang baik dan benar" Kata Erika. "Siapa yang menyuruh kalian!" Erika menoyor kepala pria yang sedang berjongkok menggunakan senapannya.


"Menurutmu siapa?" Pria tersebut terlihat seperti tidak kenal takut meskipun nyawanya sedang terancam,bahkan saat itupun Erika sedang tidak bermain-main.


"Turunkan senjata mu"


DORRRRRRR!!!.....


Suara tersebut bergema di dalam ruangan itu.Perlahan pria tersebut melemah dan jatuh tersungkur ke lantai,bersamaan dengan darah yang terus mengalir dari kepalanya yang berlubang.


DORRRRR!!!!....


Tembakkan kedua Erika layangkan untuk pria yang masih berdiri di balkon,tetapi ia berhasil menghindar dan mengenai bahu nya.


Dengan cepat pria tersebut langsung meloncat ke bawah tanpa memikirkan apa yang akan terjadi.


"Aisshh bikin repot aja" Bisik Erika sambil menengok ke arah bawah dan melihat pria tersebut berlari dengan kakinya yang pincang akibat jatuh dari ketinggian.