
Erika dan Tamara pulang ke rumah Bintang untuk membersihkan badan dan mengganti pakaian mereka,serta membawa beberapa kebutuhan Bintang disana.
Di siang hari nya mereka kembali datang ke rumah sakit untuk menemani Bintang, Alfredo yang sedang duduk di sofa langsung beranjak saat melihat Erika dan Tamara memasuki ruangan tersebut.
"Kamu boleh pergi sekarang" Kata Erika kepada Alfredo.
"Baik bos,saya akan melanjutkan pencarian William dan para anak buahnya"
"Oke"
"Lo udah agak baikan?" Tanya Erika kepada Bintang.
"Yaa, berkat lo"
"Cihh" Erika memutar kedua bola matanya dan berjalan menuju sofa.
Tak lama dokter dan seorang perawat datang untuk memeriksa kondisi Bintang secara bertahap.
"Selamat siang,maaf mengganggu.Saya ingin memeriksa kondisi terkini pasien" Kata Dokter tersebut.
"Siang dok,silahkan"
Dokter mulai memeriksa bagian mata,lidah dan detak jantung Bintang.Semuanya terasa normal bagi dokter,pertanda bahwa kondisi Bintang sudah mulai membaik.
"Gimana kondisi nya dok?" Tanya Tamara.
"Kondisi pasien sudah mulai membaik,detak nya sudah berdetak dengan normal.Kita tinggal menunggu kondisi pasien benar-benar pulih agar bisa segera keluar dari rumah sakit"
"Iya dok, terimakasih"
"Baik kalau begitu kami permisi dulu"
***
Malam harinya Bintang sedang tertidur pulas,sementara Tamara dan Erika sedang asyik memainkan ponsel mereka masing-masing.
"Lo bete gak sih?" Tanya Tamara.
"Banget"
"Gue laper nih,Lo punya Makanan gak?"
"Menurut Lo?"
"Dari tampang nya sih gak punya" Tamara kembali menatap layar ponsel nya.
Saat Tamara sedang kembali asyik dengan ponsel nya itu,ia langsung terkejut karena tiba-tiba Erika melemparkan sebuah kartu kredit kepadanya.
"Cepet beli" Kata Erika.
"Apa?"
"Beli makanan,cepet"
"Upahnya gue bebas ya mau beli apapun" Kata Tamara dengan wajah polos nya.
"Aishh,beli sepuas Lo" Ejek Erika.
Tamara langsung bergegas keluar untuk membeli beberapa makanan dan minuman yang lokasi nya tidak terlalu jauh dari rumah sakit.
"Kesini dong" Bisik seorang pria kepada Erika.
Dengan sedikit terkejut Erika langsung menoleh ke arah Bintang yang sudah terbangun dari tidurnya.Entah sebenarnya sejak tadi ia tidur atau tidak.
"Aishh kaget gue"
"Sini sini" Bintang menunjuk kursi yang berada di dekat ranjang nya.
"Apa?kenapa?" Tanya Erika dengan suara jengkel nya.
"Gue mau minum" Bintang tersenyum manis.
"Nih" Erika hanya menggeser segelas air mineral tersebut tanpa memberikannya langsung kepada Bintang.
"Kenapa Lo gak peka banget sih?" Tanya Bintang sedikit kesal.
"Kenapa lagi?Tadi Lo minta air minum,yaudah ini"
"A-aduh aduh!!Badan gue lemes semua,gue rasa udah gak punya tulang kayaknya"
"Baru kali ini gue liat Mafia selebay ini" Gerutu Erika yang kembali mengambil segelas air tersebut dan memberikan nya kepada Bintang.
"Kata orang-orang gak boleh makan atau minum sambil tiduran"
"Terus Lo mau gimana?Kayang?"
"Bangunin gue" Bintang menjulurkan tangannya.
"Bantu gue.Lo tau gak sih gimana pegelnya bokong gue sekarang?" Tanya Bintang.
"Aaaa oke,oke" Erika merangkul Bintang untuk membantunya ke dalam posisi duduk sambil bersandar.
"Nih.Manja!"
Saat Bintang sedang meminum segelas air putih tersebut, tiba-tiba lampu ruangan tersebut padam.
Bahkan Bintang dan Erika tidak bisa melihat kondisi satu sama lain."Lo dimana?" Tanya Erika dengan suara yang sedikit terengah-engah karena panik.
"Gue disini,disini" Erika berusaha meraih tangan Erika dalam kondisi yang sangat gelap.
"Hp...Hp gue dimana tadi" Erika berusaha mencari Ponselnya yang baru saja ia letakkan di meja yang berada di dekatnya.
"Gue liat tadi Lo taro di meja"
"Ada,ada" Kata Erika yang akhirnya berhasil menemukan ponselnya.
"Ketemu?"
"Ya" Erika menyalakan senter ponselnya dan mereka bisa saling melihat keberadaan satu sama lain.
"Lo baik-baik aja?Apa Lo sesak nafas?" Tanya Erika dengan wajah nya yang terlihat sangat khawatir.
"Gue baik-baik aja" Kata Bintang.
"Tunggu disini sebentar" Erika berjalan menuju sofa untuk mengambil ponsel Tamara yang sengaja ditinggalkan karena ia hanya akan pergi sebentar.
"Dia gak bawa hp nya" Erika menunjukkan ponsel Tamara,ia menyalakan senternya dan langsung memberikan ponsel tersebut kepada Bintang sebagai alat penerangan nya.
"Gue mau liat keluar dulu" Erika berjalan menuju jendela kamar,ia benar-benar terkejut saat melihat kondisi diluar sana sangat gelap sekali.
Tetapi ia sedikit heran mengapa pemadaman lampu tersebut hanya terjadi di rumah sakit itu saja,sementara pemukiman dan jalan raya tidak ada pemadaman listrik.
"Di luar gelap banget" Kata Erika yang kembali berjalan ke arah Bintang.
Bintang menekan bel untuk memanggil perawat,tetapi tidak ada respon akibat pemadaman listrik tersebut.
"Sus,halo?Siapapun disana bisa datang ke ruangan saya?" Tanya Bintang yang tidak ada respon sama sekali. "Gak berfungsi"
Saat mereka sedang terdiam, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki dari lorong kamar yang perlahan terdengar seperti menuju ke arah kamar tersebut.
Mereka tidak hanya mendengar suara langkah kaki seseorang,tetapi langkah kaki banyak orang.
Tokkk!!!...tokkk!!!...tokkk!!!...
Tak lama ada orang yang mengetuk pintu kamar Bintang tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Siapa?" Tanya Erika dengan suara ragu nya.
"Tuan Bintang...saya dokter yang menangani anda,jadi izinkan kami masuk" Kata salah satu pria tersebut dengan suaranya yang sedikit mengerikan ditambah lagi dengan logat yang sedikit Bintang ketahui.
Erika langsung beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu,padahal saat itu kondisi pintu belum terkunci.
Bintang langsung menggenggam tangan Erika agar wanita tersebut tidak melakukan nya. "Tetap diem disini" Bisik Bintang.
"Apa?"
"Suutss...jangan bersuara"
Setelah Erika duduk kembali di kursinya,Bintang langsung membuka selang infus dan alat bantu yang menempel di tubuh nya dengan cepat.
"Apa yang Lo lakuin?Lo gak boleh kayak gini" Erika beranjak dari duduk nya.
"Suuutts!!!Udah gue bilang,jangan bersuara!" Bisik Bintang.
Pria tersebut langsung berjalan perlahan menuju pintu ruangan dengan sangat berhati-hati karena Bintang benar-benar sangat mencurigai semua orang yang sedang menunggunya di luar sana.
"Tuan Bintang...Bisakah kami masuk sekarang?"
Dengan perlahan,Bintang mengunci pintu tersebut tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.Setelah itu Bintang berjalan menghampiri Erika dan menarik tangannya untuk ikut bersembunyi dengan nya.
Bintang dan Erika bersembunyi di balik sofa,mereka terus berjongkok agar tidak ada yang bisa melihat nya meskipun dalam kondisi yang sangat gelap.
Tak lama mereka malah mendobrak pintu ruangan tersebut hingga mengalami kerusakan parah.
Jumlah mereka lebih dari lima orang,tentu saja mereka membawa senjata.Baik senjata api maupun senjata tajam.
Bintang memeluk Erika dengan tangan yang menutup mulut wanita tersebut dengan erat agar ia tidak mengeluarkan suara apapun yang dapat menimbulkan kecurigaan para pria tersebut.
"Jangan bergerak sedikit pun,atau kita mati hari ini" Bisik Bintang dan Erika hanya mengangguk.
Mereka memang bukan pengecut,tetapi siapa yang berani melawan kawanan yang jumlah nya berkali-kali lipat dari mereka.Terlebih lagi para pecundang tersebut membawa senjata mereka masing-masing.
"Cari ke semua sudut!!" Teriak salah satu Pria.