Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 46



Dua jam berlalu,pertemuan Erika dengan ayahnya telah selesai.Erika pulang ke rumah dengan perasaan yang bercampur aduk karena bingung harus bagaimana menghadapi ayahnya.


Dia kesal,kecewa tapi dia juga senang bisa bertemu dengan ayahnya kembali.


Erika merebahkan tubuh di kasur empuk miliknya sambil menatap lekat foto berukuran kecil yang jatuh dari dalam dompet ayahnya saat ia hendak membayar makanan nya tadi.


Foto tersebut menampakkan wajah ayahnya dan dua orang yang tidak ia kenal.Satu orang perempuan yang seumuran dengan mendiang mama nya dan satu orang lelaki yang kira kira usia nya tidak begitu jauh dari nya.


Laki laki muda tersebut tampak terlihat seperti pemuda berumur 23 tahun.


Erika bingung melihat Poto tersebut, pertanyaan demi pertanyaan terus muncul dalam benak nya.


Siapa mereka?Apa mereka keluarga baru ayah, maksudnya istri dan anak ayah.Tapi kalau memang benar mereka keluarga baru ayah,kenapa laki laki ini kelihatan lebih tua dari gue?Apa mereka udah menikah jauh sebelum ayah kenal sama mama?Apa jangan jangan mama istri keduanya ayah?Apa ayah tega ninggalin kita berdua waktu itu cuma karena mau balikan lagi sama istri pertamanya?


Baru aja baikan,Kebencian Erika terhadap ayahnya mulai bangkit lagi setelah memikirkan teori tersebut.


Erika memasukkan foto berukuran kecil tersebut kedalam laci dan bergegas untuk tidur agar tidak terus menerus menambah beban pikiran nya.


***


Erika dan kelima teman nya sedang berjalan menuju kelas setelah selesai makan siang di kantin.Mereka berjalan sambil menikmati minuman nya masing masing.


Tiba tiba salah satu siswa perempuan kelas 12 datang menghampiri Erika dan memberikan titipan surat dari Bu Tesa, yaitu guru konseling.


"Apa ini?"


"Ini dari Bu Tesa,Lo lagi ditunggu disana" Kata siswa perempuan tersebut dan langsung pergi meninggalkan Erika serta teman temannya begitu saja.


Erika yang sedang tersenyum sumringah langsung merubah raut wajahnya menjadi raut wajah yang begitu terlihat kesal.


"Nih buat Lo" Erika memberikan minumannya kepada Samuel dan langsung bergegas pergi menuju ruangan konseling.


"Beneran ortu nya si Resya Dateng ke sekolah?" Tanya Bintang.


"Ya bener lah, buktinya itu si Erika di panggil" Sahut Novia.


"Tuh orang kenapa sih cari gara gara Mulu"


"Udah dah dah,Ngapain pada gibah disini sih.Udah ayo ke kelas" Kata Gibran Yangs selalu tidak ingin banyak bicara.


***


Erika bingung karena tidak melihat adanya satu orang pun di dalam ruang konseling.Erika masuk dengan perlahan sambil terus memanggil nama Bu Tesa.


"Bu...Bu Tesa" Erika mengetukkan jarinya ke meja.


Tetap tidak ada jawaban karena tidak ada orang disana.


Seseorang menepuk bahu Erika dari belakang,Erika langsung berteriak karena terkejut di tambah lagi dengan situasi Yang sangat sepi di sana.


Ternyata orang yang menepuk bahu nya adalah satpam yang di perintahkan oleh kepala sekolah untuk cepat cepat memangil Erika karena kedua orang tua Resya tidak mau menunggu lama katanya.


"Aishh kaget saya.Bapak ngapain sih?"


"Saya disuruh cepat cepat panggil kamu untuk langsung ke ruang kepala sekolah"


"Bukannya disini?"


"Udah ayo cepetan"


Mereka berdua langsung berjalan menuju ruang kepala sekolah.Wajah pak Tirta dan Bu Renita langsung berubah drastis saat melihat siswa yang datang ternyata Erika.


Mereka berdua tidak tau kalau siswa yang bermasalah dengan putrinya adalah Erika.Jika mereka mengetahui lebih awal mungkin mereka tidak mau datang ke sekolah untuk membela putrinya.


Kedua orang tua Resya terlihat sangat gelagapan dan bingung sementara Erika langsung duduk dengan raut wajah santai.


"Kenapa kamu lama sekali?" Tanya kepala sekolah.


"Saya tadi ke ruang BK tapi gak ada orang disana"


"Kamu pikir mereka rela buang buang waktunya cuma demi nunggu kamu?"


"Ya siapa yang suruh saya Dateng ke ruang BK?Bu Tesa kan,yaudah salahin aja Bu Tesa.Kenapa jadi saya yang disalahin"


"Kamu sudah baca surat suratnya?" Tanya Pak Feri.


"Ahh...Surat.Nih belum,buat bapak aja" Erika memberikan surat tersebut kepada pak Feri.


"Siapa?Saya?" Erika menunjuk dirinya sendiri.


"Ya iyalah,masa saya" Kata Pak Bobi.


"Tapi kan dia yang salah,kenapa harus saya yang minta maaf?"


"Ssstt!!Minta maaf cepetan,atau ini jadi hari terakhir kamu sekolah" Bisik Pak Feri.


"eee...Ini semua salah Resya,karena dia yang mencari masalah duluan.Jadi seharusnya Resya yang meminta maaf kepada Erika" Bu Renita ketakutan dan memilih untuk mengalah dari perdebatan ini daripada harus ketakutan karena diancam lagi oleh Erika dan Bintang.


"Bener kan Bu?" Tanya Erika.


"I-iya"


"Hmm..Bener tuh saran mama nya Resya,orang dia yang salah kok"


"Kami janji akan memberikan hukuman kepada Resya dari rumah.Kami akan menyita mobil dan seluruh fasilitas nya selama dua Minggu kedepan" kata ayah Resya.


Semua guru yang ada disana hanya terdiam tanpa berkedip sedikit pun.Mereka bingung mengapa tiba tiba kedua orang tua Resya terutama mama nya mudah sekali mengalah.Apalagi dengan Erika.


Padahal Bu Erika biasanya mati matian untuk menghukum Erika bahkan berusaha keras untuk mengeluarkan nya dari sekolah.


"Tapi pak..."


"Tidak apa-apa,kami yang akan menghukum nya"


"Udah kan?Udah selesai kan?Kalo gitu saya permisi" Erika menundukkan sedikit kepalanya dan langsung pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah.


Tak lama Resya dan kedua orang tuanya juga pamit untuk keluar dan menyusul Erika karena ada hal yang ingin mereka bicarakan.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Bu Renita.


"Bicarain apa?"


"Sebentar aja.Kamu tunggu disini" Ucap Bu Renita kepada Resya.


"Mama mau ngapain sih?Udahlah" Kata Resya.


Mereka bertiga berbicara di ruang tamu sekolah.Bu Renita dan pak Tirta meminta maaf kepada Erika atas apa yang telah di lakukan oleh putrinya.


"Kami mewakili Resya ingin meminta maaf kepada kamu"


"Saya harus memastikan jika masalah ini cukup sampai di sini saja,tidak akan di perpanjang lagi" Kata Pak Tirta.


"Yaudah,saya juga gak mau memperpanjang kok asal kalian jangan ganggu saya lagi" Kata Erika.


"Saya akan memastikan Resya untuk tidak mengganggu kamu lagi,saya akan Pastika itu"


"Asal kamu juga berjanji untuk tidak mengganggu kami lagi" Kata Bu Renita.


Erika memutar kedua bola matanya. "Aishh..Siapa yang ganggu kalian?Jangan pernah bilang kayak gitu lagi kalo kalian bener bener gak mau di ganggu" Erika kesal.


"Ah iya maaf"


"Yaudah bilangin sama Resya buat stop ganggu saya lagi, stop buat ngeliatin urusan sama saya" Kata Erika.


Ternyata sejak tadi Resya menguping pembicaraan mereka dari luar karena pintu ruangan yang sedikit terbuka memudahkan ia untuk mendengarkan pembicaraan nya.


Sepanjang perjalanan pulang Resya terus terdiam,tidak berani menanyakan tentang hal yang ia dengarkan tadi.


"Apa yang kalian bicarain tadi?" Tanya Resya saat mereka sudah sampai dirumah.


"Kenapa mama sama papa maafin cewek Berandal itu?Ini kelihatan bukan mama yang kayak biasanya" Lanjut nya.


"Pokoknya mulai sekarang dan seterusnya jangan pernah berurusan lagi sama Erika" Kata Bu Renita.


"Kenapa?Kenapa aku gak boleh berurusan sama cewek Berandal itu lagi?"


"Dan stop panggil dia cewe berandal!"


"Kenapa?Kok mama tiba tiba belain dia kayak gini sih" Resya mulai kesal.


"Kamu belum pernah kan liat cewek Berandal yang sebenarnya itu kayak gimana? Sebaiknya kamu gak usah liat" Bu Renita langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Resya.