
Sementara itu,Erika dan Bara sudah sampai di tempat tersebut.Mereka berdua bisa melihat Pierre dan yang lainnya sedang berdiri di dekat lokasi tersebut.
"Apa kalian sudah cek?" Tanya Erika kepada Pierre.
Pierre menunjuk ke salah satu mobil yang sedang terparkir didepan swalayan.Mobil tersebut terlihat sangat mirip dengan mobil William.
Erika pernah menonton salah satu film favorit nya,dalam sebuah adegan musuh bersembunyi ditempat yang tidak akan terduga oleh siapapun.
"Periksa mobil itu" Kata Erika.
Beberapa anak buah Erika berjalan mendekati mobil tersebut untuk memeriksa apakah benar mobil William atau bukan.
Dari kejauhan salah satu anak buah Erika menganggukkan kepala tanda ia sangat yakin bahwa mobil tersebut adalah milik William.
Erika memasukkan pistol yang ia genggam ke saku jaket nya,begitu juga dengan para anak buahnya.
Erika menganggukkan kepala dan berjalan bersama Pierre serta bara dengan santai untuk masuk ke dalam swalayan tanpa pengunjung tersebut.
Mereka sengaja masuk bertiga terlebih dahulu untuk menghindari kecurigaan,sementara yang lain masih menunggu perintah dari luar
"Selamat datang" Kata salah satu pegawai wanita yang sedang berdiri di dekat pintu masuk.
Bukannya menjawab sapaan pegawai tersebut,Erika malah menatap pegawai dan penjaga kasir dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita itu.
"Saya mau membeli makanan ringan"
"Ada di sebelah sana"
"Terimakasih"
Mereka bertiga langsung berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh pegawai wanita tersebut.Erika sangat mencurigai mereka berdua karena tatapan nya yang terlihat ketakutan dan juga kebingungan.
Erika tidak memperdulikan makanan apa yang dia ambil,tetapi langkah dan tatapan matanya terhenti pada sebuah pintu yang berada di dekat rak makanan ringan tersebut.
Erika berhenti menatap dan segera berjalan menuju meja kasir untuk membayar makanan yang ia ambil.
"Apa kalian butuh bantuan?" Bisik Erika.
"Maaf?"
"Saya rasa begitu"
"Maaf,saya tidak mengerti maksud kakak" Penjaga kasir tersebut tersenyum manis kepada Erika.
"Kalian yakin akan menolak tawaran saya?"
Pertanyaan terakhir Erika membuat penjaga kasir tersebut terdiam dan seketika raut wajah nya berubah menjadi datar karena kebingungan.
"Katakan dimana mereka" Kata Erika.
"Mereka?"
"Dimana?"
Pegawai kasir tersebut tidak menjawab Erika dengan kata-kata melainkan dengan tatapan mata nya yang mengarah ke sebuah pintu yang Erika curigai tadi.
Erika menatap Pierre dan Alfredo kemudian menghubungi yang lainnya untuk segera masuk ke dalam sana.
Sambil berjalan perlahan,Erika mulai mengeluarkan pistol dari saku jaket nya sebagai pertahanan.
Ke dua anak buah Erika mendobrak pintu tersebut dengan susah payah hingga berhasil terbuka.
Dengan sigap mereka langsung masuk ke dalam sana.Alangkah terkejut nya mereka saat tidak dapat menemukan William dan anak buahnya.
Terlihat jendela di ruangan tersebut terbuka dengan barang-barang yang berantakan.Pertanda bahwa mereka sudah mengetahui keberadaan Erika dan langsung melarikan diri dengan cepat dari tempat tersebut.
Erika langsung berhenti berfikir,Ia langsung menoleh ke arah pintu dan menyuruh anak buahnya untuk segera ke luar swalayan untuk mencegah William pergi dari sana.
"Cepat keluar!!" Teriak Erika.
Saat mereka sampai di luar terlihat mobil William yang baru saja pergi dari tempat itu.Tidak mau kehilangan jejak,Erika dan yang lainnya langsung masuk ke dalam mobil dan mengejar mereka.
"Mereka berpindah lokasi bos" Kata Tori kepada Bintang saat mereka sedang dalam perjalanan untuk menyusul Erika.
"Lebih cepat lagi" Kata Bintang.
"Baik bos"
Terjadi insiden kejar-kejaran dan akhirnya mobil William berhenti di dekat rumah tua yang posisinya berdekatan dengan perkebunan di pinggir kota.
"Kenapa mereka berhenti disini?Kalau niat kabur seharusnya mereka pergi lebih jauh dari tempat ini" Kata Erika.
"Mereka tidak akan menyerah begitu saja,pasti mereka telah merencanakan sesuatu yang mungkin sangat berbahaya" Kata Pierre.
"Bos tunggu saja disini,biar kami yang melakukan" Kata Bara demi keselamatan Erika.
"Engga,saya harus ikut dan membunuh William dengan cara saya sendiri.Karena mau bagaimana pun semua ini berawal dari konflik keluarga saya"
"Baik bos"
Saat Erika keluar dari mobil para anak buah William sudah berdiri di sana sejak tadi, seolah-olah mereka sedang menantang Erika dan yang lainnya.
"Kalian pasti punya rencana kan?" Tanya Erika.
"Mari hentikan ini.Mengalah atau mati" Kata salah satu anak buah William.
"Kalian terlalu berbaik hati sampai memberikan dua pilihan.Jika kalian berharap saya akan memberi pilihan yang sama kalian salah.Saya hanya akan memberikan satu pilihan yaitu kematian" Kata Erika.
"Kalau begitu mari lanjutkan ini"
"Mana bos kalian?Saya ingin membunuhnya terlebih dahulu sebelum membunuh kalian"
"Saya disini" William akhirnya muncul dari belakang anak buahnya.
Erika menodongkan pistol ke arah William dan menarik pelatuk nya dengan perlahan.Bersamaan dengan itu,terlihat titik laser berwarna merah menggerayangi wajah Erika.
Laser merah tersebut berasal dari senapan yang digunakan oleh anak buah William dari tempat yang tersembunyi.
"Cepat tembak" William meneken tangan tangannya untuk menguji Erika.
Erika mulai menekan pemicu tersebut dengan sangat perlahan.
Bruuggg!!!....
Terdengar suara keras seperti benda yang jatuh dari langit,ternyata suara tersebut berasal dari anak buah William yang terjatuh dari atas pohon saat sedang berusaha membidikkan senapan nya ke arah Erika dari atas pohon.
Salah satu anak buah William langsung menghampiri pria tersebut.Ia sangat terkejut saat melihat pria yang jatuh dari atas pohon itu sudah berlumuran darah di kepala nya.
Anak buah William langsung menoleh ke arah belakang Erika karena melihat Bintang dan yang lainnya datang.
Karena bingung,Erika juga ikut menoleh dan snagat terkejut ketika melihat Bintang datang ke sana untuk menemui nya.
"Kenapa Lo di sini?" Tanya Erika.
"Kenapa Lo gak bilang sama gue?" Tanya balik Bintang dan Erika hanya terdiam.
Tiba-tiba salah satu anak buah William menembakkan peluru nya kepada anak buah Erika hingga pria tersebut jatuh dan meninggal di tempat.
Mereka memulai pertemuan dan terjadi peristiwa tembak menembak di tempat tersebut.
Karena posisi mereka yang sudah tidak beraturan,Erika berhasil di tawan oleh salah satu anak buah William.
Pria tersebut menodongkan pistol nya tepat di kepala bagian belakang Erika hingga membuat wanita tersebut berhenti menodongkan senjata nya ke arah depan.
"Sudah ku bilang menyerah saja" Bisik pria tersebut.
"Beri aku waktu sepuluh menit lagi untuk berusaha membunuh William,setelah itu bunuh aku" Kata Erika.
Bintang langsung menodongkan kembali pistolnya tepat di belakang kepala pria tersebut hingga posisi mereka sekarang adalah saling menodong.
"Turunkan senjata mu" Kata Bintang.
Dari kejauhan seorang anak buah William sedang bersembunyi di balik semak-semak dengan senapan di tangannya.
Ia membidikkan senapan tersebut ke arah Bintang,bersamaan dengan itu juga William ikut menodongkan pistol nya ke arah Erika.
Jadi,Jika anak buah William tersebut terbunuh maka William akan langsung menembak Erika dan anak buah William akan menembak Bintang.
DOORRR!!!...
Bintang memberikan asupan peluru ke dalam kepala pria tersebut.Saat mendengar suara tembakan itu,Erika langsung berlari dengan cepat untuk menghindar dari sana.
Alangkah terkejut nya Erika dan anak buahnya yang lain saat melihat Bintang berlumuran darah yang keluar dari kepala dan dada nya.
Itu semua karena tembakan yang diberikan anak buah William dari semak-semak.
Pierre dan Bara langsung menembakkan peluru nya ke arah semak-semak tersebut sehingga membuat pria itu turut merasakan apa yang Bintang rasakan.
Sementara Erika berlari menghampiri Bintang dan merangkul nya yang perlahan ingin jatuh tersungkur ke tanah.
Bersamaan dengan itu anak buah Erika tetap berfokus untuk membantai para anak buah William.
"Lo gak apa-apa?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulut Erika,padahal ia sudah bisa melihat bahwa Bintang tidak baik-baik saja.
"Ya" Suara dan tatapan sendu itu membuat Erika tidak tau harus berbuat apa.
"Lo gak lemah,Lo kuat" Kata Erika yang sangat berbanding terbalik dengan perkataan nya data beberapa waktu lalu.
William membidikkan senapannya ke arah Erika, menurut nya itu adalah peluang besar.Tetapi rencana nya tidak berjalan karena Bara terlebih dahulu menembakkan peluru nya tepat di jari tangan William sehingga pria tersebut menjatuhkan senapannya ke tanah.
Mendengar suara tembakkan tersebut,Erika langsung menoleh ke arah William.Tidak mau kehilangan peluang nya,Erika langsung menembak William tepat di bagian dada sebelah kiri dan kepala nya.
Sebenarnya kedua tembakkan itu sudah sangat cukup untuk membuat William kehilangan banyak dara dan mati.