Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 49



Erika terus menatap wajah pria tersebut di dalam mobil,ia terus berusaha mengingat siapa sebenarnya pria tersebut dan pernah bertemu dengannya dimana.


Erika mengernyitkan kening nya,tak berapa lama matanya terbuka lebar tanda ia mengingat siapa pria tersebut.


"Ya,gue pernah liat di kantornya si nenek lampir" Erika menjentikkan jari nya.


"Tapi apa hubungannya sama nyokap gue?" Erika menatap langit langit mobil kebingungan.


"Tunggu dulu" Erika mulai teringat sesuatu dan berhenti menatap langit-langit. "Mama kan pernah kerja di perusahaan itu.Apa waktu itu dia ke rumah sakit buat jenguk mama?Tapi kenapa gak masuk?"


"Kok menurut gue ada yang gak beres ya"


"Tapi apa hubungannya orang kantor nenek lampir sama orang yang buat mama meninggal?"


"Tunggu...jangan jangan..." Erika mulai mencurigakan satu hal,ia langsung menelpon Bintang untuk mengajaknya bertemu dan membicarakan tentang permasalahan ini.


Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, coba beberapa saat lagi.


"Haishh!!" Erika langsung memakai sabuk pengaman dan menancap gas untuk bergegas menuju rumah Bintang.


***


Tiiiiiiittttt!!!!!.....Tiiiiiiiiitttttt!!!!!....Tiiiiiiiiittttttt!!!!!


Erika terus membunyikan klakson mobil nya setelah sampai di depan gerbang utama rumah Bintang.Tetapi para anak buahnya yang berjaga tidak lekas membukakan pintu gerbang karena harus di periksa terlebih dahulu siapa yang datang.


"Aishh...apa susah nya tinggal buka tuh pager,pake di periksa segala.Mereka pikir gue mau maling apa" Gerutu Erika kesal sambil membuka kaca mobil.


"Tolong cepet buka"


"Maaf saya pikir tadi bukan nona,kalau kesini untuk mencari bos,bos sedang tidak ada di rumah"


"Gak ada di rumah?Terus dimana?"


"Sekarang sedang berada di markas"


"Ah bener juga ngapain gue kesini" Bisik Erika. "Makasih yaa"


Tanpa basa-basi lagi Erika langsung memutar balik dan mengendarai mobilnya dengan sangat ugal-ugalan.Saat itu jalan pikiran Erika hanya sejengkal, bagaimanpun caranya dia harus cepat menemui Bintang untuk meminta bantuannya.


Lagi lagi sesampainya Erika di gerbang utama markas,ia tidak segera dibukakan pintu gerbang melainkan harus di periksa terlebih dahulu.


Lagi lagi anak buah Bintang yang berjaga meminta maaf kepada Erika karena tidak tahu bahwa orang yang datang adalah Erika.


Terlihat beberapa mobil mewah berjejer di depan markas mewah tersebut,pertanda Bintang sedang kedatangan tamu penting.


Erika berfikir bahwa tamu tersebut pasti seprofesi dengan Bintang.Kalau tidak,mungkin Bintang tidak akan bertemu dengan mereka di markas melainkan di rumahnya.


Karena takut mengganggu dan juga tidak mempunyai kepentingan diantara mereka,dengan sangat terpaksa Erika harus menunggu di luar sampai para tamu penting tersebut pergi meninggalkan markas.


"Yaudah deh saya nunggu di depan aja" Erika menutup kembali kaca mobil dan memutar balikkan mobilnya untuk menunggu di sebrang jalan.


Siang berlalu,kini hari sudah gelap.Erika tertidur pulas karena terlalu lama menunggu mereka pulang.Erika terbangun dan melihat jam yang menunjukkan pukul 19.00.


"Aishh mereka gak tau diri atau gimana sih bertamu sampe malem gini,dari tadi gak pulang pulang" Gerutu Erika kesal sambil beberapa kali menguap.


"Wah i-itu mereka,nah bagus pulang sana pulang" Erika mulai antusias saat melihat beberapa mobil mewah yang berjejer di depan markas tadi satu persatu sudah keluar dari gerbang utama.


Setelah mobil terakhir keluar,Erika langsung mengendarai mobil nya masuk kedalam halaman dengan kecepatan yang lumayan tinggi.


Saat Erika sudah sampai di depan markas,terlihat salah satu anak buah Bintang hendak membukakan pintu mobil untuk Erika tetapi hal itu tidak terjadi karena Erika sudah terlebih dahulu turun dari mobil dan langsung berlari masuk kedalam markas untuk menemui Bintang.


Orang orang yang sedang berjaga didepan hanya saling menatap satu sama lain karena bingung dengan sikap Erika.


Langkah Erika terhenti saat telah menemui Bintang yang sedang duduk santai di sofa sambil menghisap sebatang rokok dengan di temani oleh Bara dan Alfredo serta beberapa anak buahnya yang sedang berdiri di belakang Bintang layaknya sedang mengawal.


Tanpa basa basi bahkan menyapa,Erika langsung menghampiri Bintang dan merebut sebatang rokok tersebut dan menaruhnya di asbak.


Bintang sedikit kebingungan apa yang terjadi dengan sahabatnya tersebut, sementara para anak buah Bintang menatap tajam ke arah Erika layaknya hendak menerkam.


Tidak menjawab dengan kata kata,Erika hanya menatap satu persatu anak buah Bintang tanda bahwa ia hanya ingin berbicara berdua dengan Bintang.


Bintang langsung mengerti dengan maksud Erika,kemudian ia menatap para anak buahnya dan memalingkan wajah tanda menyuruh mereka untuk pergi meninggalkan mereka berdua.


Setelah mereka pergi,Erika langsung duduk di samping Bintang dengan wajah yang bingung harus memulai perkataan dari mana.


"Kenapa Lo kesini malem malem?Ini lagi,kenapa Lo ke sini masih pake baju sekolah?"


Erika langsung memperhatikan pakaiannya sendiri yang masih memakai seragam sekolah.Erika benar benar pelupa.


"Kan gue ud-"


"Iya iya suuuttss,iya maaf gue lupa.Gue lupa Bintang" Erika menatap wajah Bintang dengan penuh rasa bersalah.


"Kenapa Lo kesini?Kenapa Lo bisa lupa?"


"Lo kenal gak sama orang ini?" Erika memperlihatkan foto pria tersebut.


"Siapa dia?"


"Justru gue nanya sama Lo,siapa tau lo tau"


"Kenapa Lo tanyain ke gue?"


"Sebenernya ada orang yang sengaja bikin nyokap gue meninggal"


"Apa?Siapa?Kenapa?" Tanya Bintang dengan penasaran yang membara.


Erika tidak mau menceritakan panjang lebar karena hanya akan menghabiskan waktu saja.Ia langsung memberikan Ponselnya dan memperlihatkan video yang telah di kirim oleh suster tadi siang.


"Pasti ada kaitannya diantara mereka" Kata Erika setelah Bintang selesai menyaksikan video tersebut.


"Lo ngerasa kenal gak sama orang ini?"


"Gue gak kenal sih,tapi gue pernah liat dia.Waktu itu gue liat dia di kantor Bu Renita"


"Yakin Lo?


"Gak tau juga sih,maka dari itu gue mau cari tau dan pastiin bener gak kalo mereka itu orang yang sama"


"Terus gue harus apa?" Tanya Bintang.


"Kayak nya gue perlu banget bantuan Lo sama anak buah Lo buat masalah ini deh,karena gue rasa kayak ada yang gak beres aja gitu" Erika mulai berbicara dengan wajah kusutnya.


"Gak beres gimana?"


"Secara kan nyokap gue dulu kerja di sana bahkan mereka sita rumah gue,tapi selain itu gue juga ngerasa kayak ada yang gak beres"


"Mendingan sekarang Lo pulang dulu deh,istirahat terus besok kita ketemu lagi.Badan capek susah buat mikirin rencana" Bintang mengusap bahu Erika dengan sangat lembut.


"Ck!! Gue jauh jauh kesini,terus nunggu lama sampe ketiduran,ugal ugalan di jalanan,giliran udah nyampe malah di suruh pulang" Erika memutar kedua bola matanya.


"Udah percaya aja sama gue" Bintang langsung berubah sikap dari yang tadinya lemah lembut berubah menjadi ketus.


"A-aaahh...yaudah yaudah gue pulang"


"Jangan pulang sendiri,Lo harus di anter sama Bara"


"Udah gak..."


"Nurut kalo di bilangin!" Bintang ketus Kavindra.


"Oke,selamat malam tuan Moran" Erika membungkukkan badan nya meledek Bintang dan langsung berjalan menuju pintu keluar.


"Gue gak bakal nganter Lo ke depan ya!!" Teriak Bintang.


"Gak perlu!!" Balas Erika. "Tuan Bara let's go!" Teriak Erika kepada Bara yang sedang berdiri di dekat pintu keluar.