Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 42



Satu Minggu kemudian,Erika kembali masuk ke sekolah karena pembelajaran sudah dimulai seperti biasanya.


Seperti biasa Erika pergi ke sekolah dengan menaiki kendaraan umum.Wajah nya berbinar-binar saat ia sedang berjalan menyusuri lorong sekolah menuju kelas nya.


Binar di wajahnya perlahan melenyap saat melihat sepasang kepala dan wakil sekolah sedang berjalan berlawanan arah dengan nya.


"Oh my God.Hai pak....." Sapa Erika dengan sangat antusias.


"Kenapa harus dia" Bisik pak Bobi kepada pak Feri.


"H-hai Erika" Jawabnya dengan wajah ketus.


"Santai aja kali pak,sekarang bapak bisa marahin saya sepuasnya.Soalnya hp saya ilang jadi rahasia bapak aman" Erika menjentikkan jari nya.


"Rahasia apa?" Tanya Pak Feri.


"Pake nanya lagi,yang waktu itu" Bisik Pak Bobi sambil memukul bahu Pak Feri.


"Sekarang saya gak punya senjata lagi" Bisik Erika.


"Ekhemm...Semenjak kapan saya takut sama kamu?" Tanya Pak Bobi angkuh.


"Uuuu...Emmm...iya juga ya,semenjak kapan bapak takut sama saya.Ahahah iya juga ya,kenapa juga kepala sekolah yang terhormat harus takut sama siswa berandal kayak saya" Erika tertawa layaknya orang bodoh.


"Ahhh...Capek.Saya duluan ya pak" Erika mengedipkan sebelah matanya dan langsung berjalan meninggalkan kedua gurunya tersebut.


"Apa sih sebenarnya yang dia takutin?" Tanya Pak Bobi kepada pak Feri.


"Ah saya tau" Kata Pak Feri.


"Apa?"


"Allah,saya yakin hanya itu yang ia takuti" Kata Pak Feri penuh keyakinan.


"Jam berapa sekarang?Masih pagi kenapa saya merasa sangat kepanasan" Ucap Pak Bobi yang langsung berjalan meninggalkan Pak Feri karena kesal dengan jawaban yang keluar dari mulutnya.


***


"Hai kawan kawan!!!" Teriak Erika antusias saat memasuki ruang kelas nya.


"Erika!" Teriak Novia.


"Bintang mana?" Tanya Erika.


"Lo kayak gak tau dia aja" Kata Gibran yang ikut berbicara dari kursi nya.


"Pulang sekolah kita nongkrong yuk di tempat biasa" Ajak Novia.


"Baru juga gue duduk udah ngomongin pulang aja" Erika mendorong tubuh Novia dengan sangat pelan.


"Yaelah gak apa-apa kali"


"Eh ada kumpulan biang kerok" Resya tiba tiba datang menghampiri mereka.


"Kemarin liburan kemana aja tuh?Pasti bikin onar di jalanan ya,ups" Resya menutup mulutnya sendiri.


Mereka berlima menatap wajah Resya sekejap dan langsung mengalihkan pembicaraan nya lagi.


"Nyokap Lo apa kabar?" Tanya Erika kepada Ayu.


"Baik lah,baik banget" Kata Ayu.


"Waktu liburan gue pergi ke Swiss,ini gue beli jam tangan baru disana" Resya menunjukkan jam tangan nya kepada Zahra.


"Waahh..Bagus banget" Kata Zahra si lebay.


"Lo tau gak?" Tanya Erika kepada temannya.


"Apa?"


"Waktu liburan kemarin gue habisin waktu buat main ala ala gangster gitu,seru deh pokoknya.Jadi sekarang gue udah dapet beberapa ilmu buat singkirin lawan,eee...patahin tangan lawan yang suka pamer misalnya" Erika sengaja menyinggung Resya.


"Ada cara lain?" Tanya Novia yang langsung mengerti maksud Erika.


"Ada lah"


"Apa?" Tanya Ayu.


"Ini...apa sih namanya.Oh,jahit mulut lawan biar gak banyak cingcong.Tau gak jahit nya pake apa?" Tanya Erika.


"Pake apa?"


"Jarum sol sepatu sama benang kasur,ahahahah" Erika tertawa terbahak-bahak begitu juga dengan teman temannya.


Mendengar perkataan Erika,Resya hanya menatap Erika sambil mengerutkan bibirnya dengan raut wajah kesal dan langsung duduk kembali di kursinya.


"Aishh...Gue pikir selama liburan dia udah sedikit insyaf" Kata Ayu.


***


Jam istirahat tiba,Erika dan teman temannya langsung pergi ke kantin untuk makan siang.Saat sampai disana,situasi kantin sangat ramai seperti biasanya.


Tetapi masih ada beberapa kursi yang masih kosong.Cukuplah untuk ke enam kawanan tersebut.


Disana juga terdengar suara gelak tawa para lelaki kelas 11 yang pernah baku hantam dengan Erika dan juga teman temannya.


"Ssuuttss!!!Woy,woy,woy diem diem!" Kata salah satu diantara mereka saat melihat Erika dan yang lainnya sedang berjalan ke arah mereka.


"Apaan sih Lo"


"Diem anjir mau mati Lo!" Ucapnya sambil menutup mulut salah satu temannya yang sedang tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa sih kenapa?"


"Itu itu" Lelaki tersebut memaksa temannya untuk melihat ke arah Erika datang.


"Anjir,woy woy diem gak lu semua" Kata ketua gerombolan tersebut.


"Berdiri,berdiri.Cabut sekarang" Kata salah satu dari mereka.


"Mau kemana?Santai aja kali,tuh makanannya masih banyak banget" Kata Erika sambil menunjuk ke arah makanan mereka.


"Volume suara kalian kecilin dikit, kotoran di telinga gue mau keluar tau gak gara gara kesakitan denger suara ketawa kalian yang badot itu" Erika memasukkan jari telunjuk nya ke dalam telinga.


"Ahh..Iya maaf kak" Kata Mereka.


"Yaudah lanjut" Kata Erika sambil mengambil beberapa makanan dan langsung pergi meninggalkan mereka,begitu juga dengan Novia dan Samuel yang mengambil makanan mereka.


"Pesen pesen" Kata Erika sambil memukul mukul meja dengan pelan.


"Kalian mau pesen apa?" Tanya Novia.


"Apa aja deh yang enak enak Bu" Kata Erika. "Kalian pesen aja,kali ini gue yang traktir" Lanjut Erika.


"Uuuu...Orang kaya" Samuel menggoda.


"Iyalah emang Lo,kaya dari lahir tapi gak pernah traktir kita.Bener gak?" Tanya Erika.


"Iya nih emang,pelit dasar Lo" Novia melempar botol kecap ke arah Samuel.


***


Pulang sekolah Erika berjalan menuju halte bus,kali ini dia tidak ikut Nongkrong bersama teman temannya.


Tiba tiba Bintang datang dan memberhentikan mobilnya tepat di hadapan Erika.Bintang menggunakan mobil yang berbeda dengan yang biasa ia pakai.Hal itu untuk menghindari kecurigaan orang lain.


"Naik" Kata Bintang.


Tanpa menjawab Erika langsung masuk kedalam mobil.


"Lo kenapa gak bawa mobil?,sekarang kan Lo udah punya mobil" Kata Bintang.


"Mobil itu terlalu mewah tau gak sih, Kesannya gue kayak norak tau gak kalau di bawa ke sekolah"


Alih alih mengantar Erika pulang,mobil Bintang berhenti tepat di depan showroom mobil dan langsung mengajak Erika untuk turun dari mobilnya.


"Ngapain ke sini?Lo mau beli mobil baru?" Tanya Erika yang langsung turun menghampiri Bintang.


"Bukan gue,tapi Lo"


"Ngapain beli mobil baru,kan gue udah punya" Kata Erika.


"Sekarang Lo beli versi yang sederhana nya" Bintang menatap Erika dan langsung berjalan memasuki showroom mobil tersebut.


"Halo selamat...datang...di.. showroom..ka..mi.." Dealer tersebut menyambut dari suara yang antusias menjadi sedikit kebingungan karena melihat pelanggan yang datang mengenakan seragam SMA.


"Ada yang bisa saya bantu dek?" Tanya Dealer tersebut.


"Temen saya mau beli mobil baru" Kata Bintang.


"Hah,gak salah?" Tanya Dealer tersebut.


"Apa nya yang salah?" Tanya Erika.


"Serius kamu mau beli mobil?" Tanya Dealer tersebut.


"Iya lah pak" Kata Erika tersenyum.


"Saya mau lihat yang itu" Erika menunjuk ke salah satu mobil.


"Berapa harganya?" Tanya Erika.


"Kamu serius?" Tanya Dealer itu lagi.


"Bapak kenapa sih?Takut di tipu?Temen saya banyak duit nya loh pak" Kata Bintang.


Showroom mobil tersebut tempat Bintang membeli semua mobil yang ada di rumahnya dan juga mobil yang digunakan oleh para anak buahnya.


Tetapi para Dealer di sana tidak mengenal nya karena yang biasa datang kesana hanya Alfredo atau Bara.


"Udah Ka,keluarin" Kata Bintang.


"Keluarin,Apa?" Tanya Erika bingung.


"Itu si black black" Bintang menunjuk tas Erika.


"Ah bener,liat ya" Erika membuka tas nya dan mencari black card miliknya,tetapi ia tidak membawa barang tersebut.


"Gak gue bawa,lagian ke sekolah ngapain bawa black card Bambang" Erika menatap kesal Bintang.


"Terus kamu mau bayar pake apa?Pake daun?" Tanya Dealer tersebut sambil menaruh kedua tangannya di pinggang.


"Ahh sebutin aja harganya berapa" Erika mengambil ponsel nya.


"Kalo saya sebutin,nanti kamu bisa pingsan" Kata Dealer tersebut.


"Nih" Erika menunjukan jumlah saldo yang ada didalam ATM nya.


Jumlah saldo tersebut membuat pak Dealer langsung terperangah menatap layar ponsel Erika dan mengambil nya untuk menghitung jumlah angka yang tertera.


Melihat tingkah Dealer tersebut,Erika langsung menyeringaikan bibir nya sambil mengibaskan rambut panjangnya juga dengan ekspresi wajah angkuh.


Saat pak Dealer masih sibuk menghitung jumlah angka tersebut,Erika langsung merebut ponselnya dan meminta pak Dealer untuk segera mengurus surat tanda pembeliannya.


"Udah ngitung nya?Cepet urus surat suratnya" Perintah Erika angkuh.


Beberapa menit kemudian Pak Dealer sudah menyiapkan surat pembeliannya dan Erika juga sudah mentransfer uang ke rekening pemilik showroom mobil tersebut.


"Ini surat suratnya"


"Sesekali bapak tamasya keluar sana,Jaman sekarang banyak orang yang udah sukses walaupun masih SMA" Kata Erika.


"Iya maafkan saya dek" Kata Pak Dealer tersebut.


"Mau di antar ke alamat mana?" Tanya Pak Dealer.


"Gak usah mau langsung saya pake,mana kuncinya" Erika meminta kunci mobilnya dengan wajah angkuh.


Sebenarnya ia hanya ingin memberi pelajaran kepada pak Dealer yang sudah bersikap tidak sopan kepada pelanggan dan juga menganggap remeh pelanggan nya.


"Langsung di pakai?"


"Iya.Udah cepetan" Kata Erika.


"Ini" Dealer tersebut memberikan kunci mobilnya.


"Lihat ya,kalo orang kaya tuh pulang sekolah beli mobilnya aja dadakan" Kata Erika yang masih bersikap angkuh.


"Terimakasih bapak,Saya pergi dulu" Erika tersenyum dan langsung berjalan menuju pintu keluar.


Tetapi langkahnya terhenti dan langsung membalikkan badan berjalan ke arah pak Dealer lagi sambil mengeluarkan uang seratus ribu dari saku seragamnya.


"Ini uang parkir mobil temen saya,lumayan buat beli sorabi" Bisik Erika yang langsung tersenyum dan berjalan kembali keluar showroom.


Sejak tadi Bintang hanya tersenyum menahan tawanya karena melihat tingkah aneh Erika yang terus menggoda pak Dealer tersebut.