Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 47



Erika terus menatap lekat foto yang ia temukan tersebut sambil terus berfikir siapa sebenarnya kira kira kedua orang asing ini.


Ponselnya berbunyi,ia mendapat panggilan dari Bintang yang ingin mengajaknya pergi makan malam di luar.


Sebenernya Erika malas,tapi karena kemarin malam dia sudah menolak Bintang maka mau tidak mau ia harus menerima ajakan bintang malam ini sebagai gantinya.


Mereka makan malam di salah satu restoran yang ada di Jakarta,memesan makanan dan berbicara seperti biasanya sambil mentertawakan hal yang tidak penting.


Saat mereka sedang tertawa terbahak-bahak,tidak sengaja Bintang menyenggol tas Erika yang berada di atas meja hingga terjatuh dan hampir semua isi yang ada didalamnya keluar.Meskipun hanya dompet dan ponsel saja.


"Eh sorry sorry" Bintang mengambil dan memasukan kembali semua barang yang keluar.


"Yaelah santai aja kali"


"Eh,ini foto siapa?" Bintang menemukan foto berukuran kecil tersebut,saat Erika hendak berangkat tadi tidak sengaja ia malah memasukkan foto tersebut kedalam tas nya.


"Eh jangan,sini sini" Erika berusaha merebut kembali foto tersebut.


Tentu saja Bintang terdiam saat melihat wajah yang ada didalam foto tersebut.Wajah wajah mereka sangat tidak asing menurut nya,Bintan


g sangat amat mengenal mereka.


"Siapa mereka?" Tanya Bintang dan mau tidak mau Erika harus menjawab nya.


"Yang ini bokap gue" Perkataan Erika membuat Bintang cegukan seketika,tetapi rasa terkejut yang berlebihan ia tahan sebisa mungkin agar Erika tidak terlalu mencurigainya.


"Terus mereka siapa?" Mereka yang Bintang maksud adalah wanita dan pria muda tersebut. sebenarnya Bintang tahu,tapi ia pura pura tidak tahu saja dulu sementara.


"Nah itu dia,gue juga gak tau"


Karena Bintang teringat sesuatu,terpaksa juga dia harus memberitahu Erika jika dia bertanya.


"Tunggu dulu bentar" Kata Bintang tiba tiba.


"Kenapa?"


"Berarti orang yang waktu itu culik lo??"


"Ah iya,gue lupa cerita sama Lo soal itu.Iya...yang waktu itu culik gue bokap gue sendiri.Lucu kan?" Erika tertawa kecil.


"Lumayan sih"


"Ah...Lo kan yang kirim orang orang itu buat bebasin gue?" Tanya Erika.


"Lo tau lah"


Bintang masih tidak percaya bahwa Mr.Derrick adalah ayah kandung Erika.Wajahnya seketika pias,hal itu membuat Erika menaruh kecurigaan kepada Bintang.


"Sebelumnya Lo udah kenal bokap gue ya?"


"Sejujurnya sih iya"


"Gak heran sih,gue rasa kerjaan kalian sama" Ceplos Erika sambil mengaduk aduk minumannya.


"Bokap Lo pernah bisnis bareng keluarga gue, lebih tepatnya sama bokap gue sih tapi sekarang udah enggak"


"Kenapa?"


"Ya karena udah selesai"


"Tunggu.Berarti Lo kenal mereka berdua dong?" Erika mendekatkan wajahnya kedepan.


Aduh kebanyakan ngomong kan gue.


Bintang tau betul ada hubungan apa antara mereka bertiga.Tetapi ia sangat tidak enak hati untuk menceritakan semuanya kepada Erika.


"Tapi Lo janji ya gak boleh marah kalo gue udah cerita" Bintang mewanti-wanti.


"Iya,udah cepetan"


"Bokap Lo pernah bisnis sama bokap gue di Rusia.Mereka juga adain pertemuan keluarga gitu,itu salah satu syarat berbisnis di keluarga gue"


"Terus terus?"


"Tapi itu terjadi waktu gue masih kelas 10 SMA.dua tahun yang lalu"


"Lanjut"


"Bokap Lo ini kenalin keluarga nya ke keluarga bokap gue, perempuan ini istrinya dan ini anak nya" Bintang berbicara dengan sangat berhati-hati.


"Tuh kan dugaan gue bener" Erika menundukkan badannya kembali dengan wajah kesal. "Apa lagi?"


"Itu doang yang gue tau"


"Terus Lo perhatiin deh anaknya ini keliatan kayak lebih tua dari pada gue bahakan kayak lebih tua dari Lo juga" Erika menunjuk wajah yang ada didalam foto tersebut.


"Iya juga sih"


"Masa nyokap gue istri kedua?"


"Gak kesini juga kali"


"Ya iya maksud gue kerumah Lo"


Bintang dan Erika masih penasaran dengan teori tersebut,meskipun sudah tidak ada apa apa antara ayah dan mamanya tetapi tetap saja dia adalah putri ayahnya.


Erika harus mencari tau terlebih dahulu siapa mereka berdua sebenarnya,istri dan anak pertama ayahnya atau bukan.


Setelah selesai makan dan memikirkan hal yang menjengkelkan tersebut,Mereka langsung pulang ke rumah masing masing.


***


"Selamat pagi pak" Sapa Erika kepada pak Rama yang tidak sengaja bertemu di parkiran sekolah.


"Eh Erika,selamat pagi.Tumben kamu udah Dateng?"


"Bukan saya yang kepagian,tapi bapak yang ke siangan" Erika memperlihatkan jam di ponselnya.


"Eh iya.Yasudah ayo cepat masuk ke kelas sebentar lagi bel bunyi"


Kebetulan hari itu Pak Rama ada jadwal mengajar di kelasnya jadi sekalian mereka berjalan bersama menuju kelas.


"Oh iya soal Bu Renita waktu itu,kok bisa sih dia luluh kayak gitu.Kelihatan kayak bukan seorang Bu Renita gitu" Kata Pak Rama sambil terus berjalan.


"Saya gitu loh"


"Ahh...gitu...ya ya bapak percaya apapun itu" Pak Rama mengalah dengan wajah meledek.


"Eh bapak kepala sekolah yang terhormat" Erika tersenyum sumringah saat berpapasan dengan pak Bobi.


"Selamat pagi pak" Kata Pak Rama.


"Aih aih,kenapa guru dan siswa ini barengan terus.Kalian terlihat seperti ayah dan anak tau gak?" Ekspresi wajah pak Bobi terlihat jengkel ketika melihat wajah Erika.


"Kita kan best friend" Erika mengacungkan jempol nya sambil tersenyum lebar.


"Ahh gitu,hah kalian bapak paham kalian sama sama gak beres"


"Oh iya saya seneng banget hari ini karena masih bisa melihat wajah bapak yang unyu unyu dan suram ini" Erika tersenyum meledek.


"Apa?Apa kamu bilang?"


"Unyu unyu" Erika memonyongkan bibirnya.


"Ah benarkah?Padahal saya sudah kepala lima loh" Pak Bobi merapihkan rambutnya dengan percaya diri.


"Dan suram" Lanjut Erika yang membuat pak Bobi perlahan berhenti merapihkan rambutnya dengan wajah pias.


"Apa?"


"Suram bener gak pak?" Tanya Erika kepada pak Rama.


"A-hahaha...Wajar wajah saya suram.Wajah saya suram karena muak menghadapi siswa dan guru seperti kalian" Pak Bobi meletakkan kedua tangannya di pinggang dan langsung pergi meninggalkan mereka.


"Dah ah pak saya mau ke kelas bentar" Masih tersisa gelak tawa pada Erika karena melihat ekspresi pak Bobi.


"Bapak mau ke ruang guru dulu"


***


Saat melihat Erika masuk kedalam kelas,Resya yang tadinya sedang berjalan keluar kelas langsung bergegas duduk kembali di kursinya sambil memalingkan wajahnya.


Ia malu bercampur dengan rasa takut untuk menghadapi Erika karena mendengar perkataan mama nya semalam.


pokoknya kamu gak boleh berurusan sama Erika lagi,Masih mending mama sama papah sita mobil dan fasilitas kamu selama dua Minggu.Coba kalau sekali lagi kamu bikin masalah sama erika.bisa bisa kamu gak bakal lagi rasain yang namanya harta kekayaan.


Cih. Gumam Erika saat melihat kelakuan Resya yang berusaha menghindar dari nya.


"Ka ka ka.Gue mau tanya sesuatu deh sama Lo" Kata Novia.


"Apa?Jangan aneh aneh ya"


"Kok Lo bisa lolos dari si nenek lampir itu sih?Gak biasanya loh dia nyerah gitu aja"


"Padahal kan biasanya dia mati Matian buat keluarin Lo dari sekolah ini" Timpal Ayu.


"Aduh,udah gak usah di ambil pusing deh" Kata Erika.


"Gue cuma bingung,kok bisa?"


"Ayu,Novia.Gue kan pernah bilang,Harta kekayaan dan jabatan gak selama nya bisa nolong seseorang didalam suatu permasalahan.Terbukti kan sekarang,mental yang paling penting"


"Lo ngapain mereka Sampe si nenek lampir itu putus asa?" Tanya Ayu tercengang.


"Kenapa liatin gue kayak gitu?Jangan mikir yang macem-macem atau gue colok mata Lo berdua"