Erika Clarista

Erika Clarista
Episode 24



Setelah sampai di depan rumah Erika,Bintang langsung membukakan pintu mobil untuk Erika.


"Makasih ya" Kata Erika tersenyum.


"Gue mau pinjem kamar mandi Lo sebentar ya" Kata Bintang.


"Oh yaudah ayo masuk" Erika dan Bintang berjalan masuk kedalam rumahnya.


Didalam Rumah mereka melihat Naura sedang tertawa sendiri sambil menyaksikan salah satu acara televisi.


"Aishh...Gak ada bosen nya dia ngetawain tv" Kata Erika.


"Kakak udah pulang?" Tanya Naura.


"Dia siapa?" Tanya Bintang.


"Temen kerja gue" Jawab Erika.


"Kok manggil Lo kakak?" Tanya Bintang lagi.


"Dia satu tahun lebih muda dari gue" Jawabnya."Yaudah sono katanya mau ke kamar mandi,gue mau tidur ngantuk nih" Kata Erika yang langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya.


Beberapa Menit kemudian...


"Erika mana?" Tanya Bintang kepada Naura.


"Tidur kayak nya"


"Oh yaudah,gue pergi dulu ya" Kata Bintang yang langsung berjalan keluar rumah.


Bintang pulang ke rumah untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu.Setelah mengganti pakaiannya,kini ia menggunakan kaos hitam yang dibalut dengan jas berwarna hitam juga serta memakai celana jeans dengan model sobek dibagian lututnya.


Tidak lupa ia memakai masker dan kacamata berwarna hitam juga agar tidak ada orang yang mengenali ia selain anak buahnya.


Dimalam hari nya,Bintang langsung pergi menuju markas untuk memberi pelajaran kepada kedua anak buah yang telah mengkhianati nya.


Seperti layaknya seorang bos besar,Bintang pergi ke markas dengan kedua anak buah yang bertugas mengawal dan mengendarai mobil nya.


Kringg!!!!kring!!!!....


Suara ponsel Bintang berbunyi,ia mendapat panggilan dari Alfredo.


"Halo?" Sapa Bintang.


"Kapan bos akan datang?" Tanya Alfredo.


"Sekarang saya lagi di jalan" Jawab Bintang.


"Baik bos" Kata Alfredo,Bintang langsung menutup telpon nya.


"Ini tas saya?" Tanya Bintang kepada salah satu anak buahnya.


"Ya bos" Jawab nya.


Bintang langsung membuka tas Tersebut,Ternyata tas itu berisikan dua buah kotak pistol kesayangan Bintang lengkap dengan peluru nya juga.


Bintang mengeluarkan salah satu pistol tersebut,dan langsung mengarahkan kepada salah satu anak buahnya.


"Bos?" Kata Laki laki tersebut sambil mengangkat kedua tangannya dan perlahan menoleh ke belakang.


"Kenapa?Santai aja kali,ini gak ada pelurunya.Nih" Bintang tertawa sambil mengarahkan pistol tersebut ke kepalanya sendiri dan menekan pemicu pistolnya.


"Gak ada kan?" Ucapnya sambil tersenyum.


"Saya cuma kaget aja,kirain bos mau tembak saya" Anak buahnya tertawa.


"Saya gak akan tembak kamu kalau kamu gak macem macem" Bintang menunjuk prria tersebut dengan pistolnya.


"Saya akan jaga kepercayaan bos semaksimal mungkin" peri tersebut sedikit menunduk dan menghadap ke depan lagi.




Mobil Bintang sudah sampai di depan markas mewah tersebut, salah satu anak buah nya yang sudah menunggu nya sejak tadi langsung bergegas membukakan pintu mobil untuk Bintang.



Bintang berjalan masuk kedalam markas dengan wajah yang masih tertutup dengan kacamata dan masker hitam nya.



Badan nya yang tinggi dan cara berjalan nya yang gagah serta rambut yang berantakan membuat pesona Bintang terpancar dan terlihat seperti badboy meskipun wajah nya masih tertutup.



Bintang dan semua anak buah yang sudah menunggunya langsung berjalan masuk kedalam markas,hanya tersisa empat orang pria yang sedang berjaga di gerbang utama.



Keadaan di luar sangat sepi,hanya terdengar suara jangkrik di malam hari.



Tiba tiba bagasi mobil Bintang terbuka sendiri,ada seseorang yang sedang mengintip di balik pintu bagasi tersebut untuk melihat kondisi sekitar.



Ya,orang itu adalah Erika.Ia memakai setelan pakaian berwarna serba hitam agar tidak ada yang melihatnya karena samar samar dengan gelap nya malam hari.



Setelah dirasa aman,Erika langsung keluar dari bagasi mobil.Ia terkejut karena ada empat orang pria yang sedang berjaga dengan posisi badan yang berlawanan arah dengan posisi keberadaan nya.



Ia menutup pintu bagasi dengan sangat perlahan agar orang orang tersebut tidak akan mendengarnya.



Erika langsung berjalan cepat tanpa suara ke arah pintu masuk yang sangat besar,namun ia tidak berhasil karena untuk membuka pintu tersebut ia harus menempelkan kartu identitas yang telah di buat khusus oleh Bintang agar tidak ada orang yang masuk sembarangan ke dalam sana.



Karena tidak bisa masuk,terpaksa Erika harus mencari jalan lain.Ia melihat jendela belakang yang sedikit terbuka,Erika langsung berjalan ke arah jendela tersebut dan memanjatnya sedikit demi sedikit.



Ia mencari dimana keberadaan Bintang,karena setiap ruangan yang ia susuri tidak ada satupun manusia disana.




Ternyata ketiga pria tersebut berjalan ke arah ruangan besar yang disana sudah terdapat sekitar dua puluh anak buah Bintang sedang berbaris dihadapannya.



Erika masih belum menyadari kalau pria dengan wajah tertutup itu adalah Bintang.Erika malah berfikir jika Bintang yang menjadi mangsa mereka.



"Astaga!!" Bisik Erika terkejut saat melihat kawanan pria berwajah sangar tersebut.



"Siapa mereka?Gangster?Tapi kenapa Bintang di bawa kesini?" Tanya Erika dengan wajah pias nya.



"Siapa orang yang berdiri di depan mereka?Apa dia bos nya?" Bisik Erika sambil mengintip di balik dinding.



"Bawa mereka" Kata Bintang kepada anak buahnya.



Salah satu anak buah langsung berjalan ke arah sebuah ruangan,tak lama pria tersebut keluar bersama lima orang lainnya yang merupakan Alfredo,dua orang anak buahnya dan dua orang penghianat dengan kedua tangan yang terikat.



"Hah?siapa mereka?" Erika semakin panik.



kedua anak buahnya meletakkan dua orang penghianat tersebut di hadapan Bintang dengan posisi tubuh yang bertekuk lutut di hadapannya sambil menundukkan kepala.



Erika masih menyaksikan hal tersebut dengan wajah cemas bercampur detak jantung yang tidak karuan.



Bintang mengulurkan tangannya kepada anak buah dari rumah yang ikut dengan nya.Ia mengulurkan tangan tanda meminta benda yang ada didalam tas milik nya itu.



"Dia mau ngapain?" Bisik Erika bertanya kepada dirinya sendiri.



"Ini bos" Kata anak buahnya,dan Bintang mengambil salah satu pistol tersebut.



"Oh my God!" Erika terperangah dengan wajah nya yang sangat pias.



Kedua pria yang merupakan penghianat tersebut langsung terkejut dan memohon ampun kepada Bintang.



"Bos ampuni saya bos!!Saya mohon!!" Teriak Salah satu dari mereka.



Sementara Bintang masih berdiri dan memandang kedua pria yang sedang bertekuk lutut di hadapan nya itu.



"Saya mengakui semua kesalahan saya,Mohon ampuni kami bos!!" Teriak Salah satunya lagi.



Bosan melihat drama tersebut, Bintang langsung memasukan peluru kedalam Magazine (tempat peluru) dan memutarnya lalu mengarahkan pistol tersebut kepada salah satu anak buah nya yang berkhianat dengan memberikan informasi kepada Mr.Derrick.



"Lo mati duluan" Bintang berdiri tegap dengan tangan memegang pistol kearah pria tersebut.



"Dia mau bunuh orang itu?" Bisik Erika sambil menutup wajah nya karena sangat takut. "Dimana Bintang?Gimana nasib nya?Gue harus cepet temuin dia" Lanjut Erika dengan wajah yang bercucuran keringat.



Semua orang yang ada didalam ruangan sangat tegang,kecuali Bintang.Saat hampir menekan pemicu nya,Bintang langsung menghentikan dan menurunkan senjata nya perlahan.



"Kenapa bos?" Tanya Alfredo.



"Saya gak mungkin lubangin kepalanya di depan kalian semua.Kasihan dia mati nya dengan cara dipermalukan" Ucap Bintang dengan suara tengil nya.



"Bos ampuni saya kan?Terima kasih bos" Mereka bersujud di hadapan Bintang.



"Bawa mereka ke ruangan itu" Bintang langsung berubah ekspresi dan berbicara dengan suara datar nya yang terdengar seperti psikopat mengerikan.



Beberapa anak buah nya langsung membawa kedua pria tersebut masuk kedalam ruangan yang Bintang maksud.



"Bos!!!!Ampuni saya bos!!!" teriakan mereka berdua meramaikan suasana ruangan besar tersebut.



"Liat apa?Sana istirahat,jangan macam-macam kalau kalian tidak mau mati lebih cepat dari Waktu nya" Ucap Bintang yang langsung berjalan ke menyusul anak buahnya.