
Di malam hari Erika terus menatap langit-langit kamar tidur nya.Sambil terus berfikir bahwa sekarang ia benar-benar sudah tidak mempunyai siapapun selain Bintang.
Tokk!!...Tokk!!...Tokk!!...
Suara ketukan pintu kamar Erika membuat ia tersadar dari lamunannya. "Siapa?" Teriak Erika.
"Bibi non,mari makan malam semuanya sudah siap" Teriak si bibi.
"Tolong bawain aja makanannya ke kamar bi"
"Tapi ada Tuan Bintang sama teman perempuan nya di bawah"
Erika langsung duduk dengan wajah kebingungan. "Kapan mereka sampe?kenapa gak bilang-bilang kalo mau ke sini?" Bisik Erika.
Erika langsung keluar untuk menemui si bibi yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar Erika.
"Serius mereka ada di bawah?" Tanya Erika.
"Iya non"
"Lagi ngapain?"
"Sedang duduk di meja makan"
"Yaudah"
Saat sampai di ruang makan,Erika melihat Bintang dan Tamara sedang makan dengan lahap,Terutama Tamara.
"Astaga,Lo kelaparan?" Tanya Erika kepada Tamara.
"Hmm...Si duduk anggap aja rumah sendiri" Kata Tamara yang tidak tahu malu.
"Aishh...Ya nyonya" Kata Erika. "Kalian kenapa ada di sini?"
"Siapa tau Lo butuh hiburan" Kata Tamara.
Erika langsung memutar kedua bola matanya. "Gue rasa Lo yang lagi butuh hiburan"
"Nggak,kenapa juga gue harus butuh hiburan?"
"Lo kan baru jadi orang miskin,masa gak sedih?" Ejek Erika.
"A-ahhh...wahhh,kenapa Lo harus bahas soal itu.Gue jadi gak nafsu makan" Tamara meletakkan sendok dan garpunya.
"Aishh kalo gak nafsu makan kenapa itu udah gak ada sisa di piring Lo?" Gerutu Erika yang hanya di balas dengan senyuman palsu Tamara.
"Oh iya gue mau bahas hal penting sama Lo" Kata Erika kepada Bintang.
"Hal penting apa?"
"Gimana kalo kita kerja sama"
"Kerja sama buat apa?"
"Karena sekarang gue udah gantiin posisi bokap,mau gak mau gue harus terusin bisnis nya"
"Lo Serius mau gantiin bokap Lo?" Tanya Bintang.
"Gak ada pilihan lain"
"Tapi kan bisnis yang dijalanin bokap Lo itu..."
"Iya gue tau, meskipun gue terusin bisnis nya tapi bukan bisnis itu kok.Bisnis yang lain"
"Terus Lo mau kerja sama dalam hal apa?" Tanya Bintang.
"Gue tertarik sama bisnis senjata yang Lo jalanin, makanya gue mau coba kerja sama bareng Lo"
"Ah itu,kalo Masalah itu gampang.Besok gue bakal aja Lo ke gedung perusahaan gue"
"Gedung perusahaan?" Tanya Erika.
"Hmmm"
"Semenjak kapan Lo punya gedung perusahaan sendiri?"
"Besok bakal gue ceritain semuanya, pokoknya yang harus Lo lakuin cuma investasi ke perusahaan gue"
"Oke,besok gue ikut ke kantor Lo"
"Gue di ajak gak?" Tanya Tamara.
"Gak usah,Lo diem aja di rumah"
"Aahh oke"
***
Keesokan harinya Bintang dan Erika hadir di acara tersebut.Dua hari sebelumnya Bintang memberi tahu pak Wijaya untuk mengadakan acara khusus untuknya.
Bintang sengaja menggelar acara tersebut untuk memberitahu kepada semua orang bahwa ia adalah seorang pemilik dari perusahaan sukses dan berpengaruh tersebut.
Karena ia rasa waktu nya sudah cukup tepat, mengingat Bintang sudah lulus SMA.Dan mulai hari itu juga Bintang tidak akan pernah menyembunyikan wajah tampan nya ketika ia hendak pergi ke manapun.
Mereka berjalan masuk ke dalam dan di sambut oleh beberapa staf serta karyawan yang bekerja di sana.
Pak Wijaya juga memperkenalkan Erika sebagai Investor yang akan berinvestasi di perusahaan besar tersebut.
Pak Wijaya juga sempat heran mengapa bos nya menerima investasi tersebut,padahal sebelumnya ia selalu menolak jika ada perusahaan besar lain yang ingin berinvestasi di sana.
Perusahaan tersebut bekerja untuk negara.Memproduksi berbagai macam jenis senjata untuk polisi terutama kemiliteran di Indonesia.
Tetapi Bintang berbuat lebih daripada itu.Ia menjual senjata tersebut secara ilegal ke berbagai negara terutama Australia dan Thailand.
Bintang sendiri tidak menjual senjata senjata tersebut secara terang-terangan.Ia menjual berbagai senjatanya dengan cara penyelundupan atau pasar gelap.
Meskipun di lakukan dengan cara terang terangan sekalipun,tidak akan ada petinggi di pemerintahan yang berani mengganggu gugat bisnis gelap Bintang tersebut.
Karena mereka berfikir kemungkinan besar Bintang akan memberhentikan produksi senjata yang bisa menyebabkan turunannya jumlah persenjataan di Indonesia.
Tidak tahu bagaimana sejarahnya keluarga Bintang sampai bisa mendirikan perusahaan yang sangat berpengaruh tersebut di Indonesia.
***
Setelah selesai menghadiri acara tersebut,mereka berdua langsung pergi makan siang bersama.
Sangat lega bagi Erika dan Bintang karena bisa makan bersama tanpa ada perdebatan dengan Tamara.
"Lo gak balik lagi ke Rusia?" Tanya Erika.
"Mau ngapain?"
"Ya pasti kehidupan Lo di sana jauh lebih enak lah"
"Rusia udah banyak orang kayak gue,jadi di Indonesia paling enak sih" Kata Bintang.
"Iya juga"
"Gimana perasaan Lo setelah jadi bos besar Mafia?" Pertanyaan Bintang membuat Erika tersedak makanan nya sendiri.
"Wahh kalo Lo panggil gue mafia,gue jadi ngerasa kayak bener bener udah jadi orang jahat"
"Menurut gue Lo mafia yang gak jahat"
"Gue gak jahat?Ahh bener sih,secara kan gue di besarin sama nyokap.Beda cerita kalo gue di besarin sama bokap"
"Kalo gitu sekarang Lo terpaksa harus bisa belajar jadi orang jahat"
"Hmm bener,takdir gue jadi orang jahat" Kata Erika.
Malamnya Erika sedang menonton tv sendirian di ruang tv yang ada di lantai satu.Jam menunjukkan pukul satu dini hari,Erika sudah mulai merasakan kantuk nya yang datang tiba-tiba.
Saat ia membuka pintu kamarnya,ia sangat merasa ada yang aneh dan tidak beres.Sebelum terakhir kali meninggalkan kamar tidurnya,Erika sangat ingat sekali bahwa ia tidak mematikan lampu kamar nya dan dibiarkan tetap menyala.
Tetapi saat ia masuk lampu kamarnya sudah dimatikan oleh seseorang.Erika menyalakan kembali lampu kamar nya dan menoleh kesana kemari untuk memastikan ada seseorang atau tidak di sana.
Erika memeriksa jendela kamarnya tetapi tidak ada yang aneh.Lalu pandangan nya terhenti di pintu ruang kerja yang berada di dalam kamarnya.
Merasa ada yang tidak beres,Erika langsung bersikap normal seperti tidak mengetahui apapun.
"Aduh!Kok gue laper lagi ya?Padahal kan tadi udah makan malem.Kebiasaan nih,bisa bisa gendut kalo gini caranya" Ujar Erika sambil berjalan ke luar kamar.Ia sengaja berbicara dengan suara yang sangat lantang agar siapapun yang ada di dalam sana bisa mendengar perkataan nya.
Tak lama terdengar suara langkah kaki Erika yang perlahan terdengar mendekati kamar nya.Ternyata ia kembali bersama para anak buah,mereka membawa pistol dan senapannya masing-masing seolah siap bertempur.
Meskipun beramai-ramai,hanya suara langkah kaki Erika yang terdengar agar mereka tidak melarikan diri karena curiga.
Erika dan anak buahnya masuk ke dalam kamar dengan sangat berhati-hati lalu berdiam diri tepat di depan pintu ruang kerja yang masih tertutup.
Erika yang memakai baju piyama berdiri di tengah-tengah kedua anak buahnya yang memegang senapan dan juga beberapa anak buah yang lain memegang pistol berdiri tepat di belakangnya.
"Capek banget seharian ini,tidur ah ngantuk banget" Jebakan Erika yang sengaja memancing orang yang berada di dalam.
Benar saja,Tak lama pintu ruang kerja tersebut terbuka.Dengan sigap tiga orang pria berpenampilan serba hitam dan tertutup serta membawa senjata keluar dari sana.
Mereka sangat terkejut karena melihat ada banyak orang di sana,tentu saja para anak buah Erika sudah menodongkan senjatanya terlebih dahulu.
Erika perlahan ikut menodongkan pistol nya. "Siapa kalian?"
"Siapapun kami,kalian tidak perlu tau" Salah satu pria tersebut berbicara dalam bahasa Inggris.
Tanpa menandakan gerak gerik apapun mereka langsung menutup pintu nya dengan sangat sigap.Salah satu anak buah Erika melepaskan peluru nya,tetapi peluru tersebut mengenai pintu ruang kerja.
Praakkk!!!....
Terdengar sangat nyaring suara lentingan kaca yang pecah akibat ulah mereka yang berusaha melarikan diri melalui jendela ruang kerja.
Tidak perduli dengan luka yang akan di dapatnya,Mereka nekat loncat dari lantai dua dengan luka luka di tubuh akibat percikan kaca yang mengenai mereka.
"Cepet berpencar!!!Tangkap mereka!!" Teriak Erika.
Erika langsung berlari menuju balkon kamarnya,ia berhasil menembak salah satu pria tersebut tepat bagian dadanya.Tetapi pria tersebut belum menyerah,ia masih bisa bertahan dan berusaha melarikan diri dari sana.
Erika berlari menuju ruang kerjanya untuk mengambil senapan yang ia punya,dengan cepat ia merangkai bagian bagian senapan tersebut lalu mencari titik fokus pada teropong nya.
Jika tidak bisa tepat di organ vital, setidaknya Erika berhasil menembakkan peluru di bagian kelumpuhan nya seperti kaki yang akan membuat ia kesulitan untuk berjalan.
Dan berhasil,Pria tersebut terkapar tidak berdaya.Sementara dua pria yang lain tidak memperdulikan nya dan memilih untuk terus melarikan diri.