
Kringg!!!!...Kringg!!!!...Kringg!!!!...
Ponsel Erika berbunyi di pagi hari.Dengan wajah dan rambut yang berantakan,setengah sadar Erika mengangkat telpon dari ayahnya itu.
"Halo?" Sapa ayahnya.
"Hmmm"
"Kamu masih tidur?'
"Hmmm...kenapa?"
"Kita bisa ketemu?"
"Kirim alamat nya" Tanpa mengucapkan apapun Erika langsung mematikan telpon tersebut dan memejamkan matanya kembali.
Ting!!!!....
Suara notifikasi pesan di ponselnya membuat ia membuka matanya kembali karena sedikit terkejut.
"Aishh,bisa gak sih kirim nya satu jam lagi?" Gerutu Erika yang langsung membuka pesan berisi alamat dari ayahnya.Ia pun langsung beranjak dari tempat tidur dan segera bersiap setiap untuk pergi menemui ayahnya.
***
"Ayah fikir kamu gak akan datang" Kata Mr.Derrick saat melihat Erika sedang berjalan ke arah nya.
"Hmm... memang harusnya aku gak usah dateng" Gerutu Erika karena kesal tidur lelapnya terganggu.
"Mau makan apa?"
"Apa aja yang bisa di makan"
"Sekolah kamu gimana?" Tanya ayahnya.
"Aku udah lulus"
"Oh iya,waah sudah besar sekali kamu"
"Hhh,masa aku harus kecil terus kayak lima belas tahun yang lalu" Sindir Erika hingga membuat ayahnya terdiam sejenak.
"Lupain, makanannya udah dateng" Lanjutnya.
Saat Erika sedang menyantap makan sarapan pagi bersama ayahnya,tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Halo?" Sapa Erika.
"Lo dimana?'
"Di luar,kenapa?"
"Ke markas bisa?"
"Wah gak bisa nih,siang aja gimana?" Tanya Erika.
"Yaudah siang lo ke markas ya"
"Hmmm"
"Siapa?" Tanya ayahnya.
"Bintang"
"Dia orang yang udah bikin ayah kehilangan banyak anak buah" Kata nya dengan tatapan tajam. "Ayah udah punya rencana buat balas dendam sama dia"
"Gak usah" Bantah Erika.
"Kenapa?Dia sudah banyak merugikan ayah"
"Dia ngelakuin itu juga kan buat tolongin aku.Dia kan gak tau kalo orang yang nyulik aku ternyata ayah aku sendiri.Jadi salah siapa sebenarnya?" Tanya Erika.
"Salah ayah sih"
"Haha bisa bisa nya nyulik anak sendiri" Erika melayangkan pandangan jengkel.
***
Setelah menghabiskan waktu di pagi hari dengan ayahnya,Erika langsung bergegas pergi menuju markas untuk menemui Bintang.
"Halo Mr.Danu" Sapa Erika kepada Danu yang sedang berdiri di dekat pintu masuk.
"Halo nona Erika" Jawabnya dengan ramah.
"Dia datang!!!!" Teriak Tamara yang berjalan mendekat ke arah Erika.
"Aishh dia berulah lagi" Gerutu Erika.
"Kenapa lo suruh gue ke sini?" Tanya Erika kepada Bintang.
"Ya ke sini aja kali,biasa nya juga ke sini kan?"
"Tau nih sombong amat" Timpal Tamara.
"Sombong amat sombong amat.Lo tuh bule berwajah lokal,tapi seenggaknya bisa gak sih berbicara layaknya bule.Kalo gaya bicara Lo gitu kesannya lo kayak bule dari Bojong gede tau gak?" Ejek Erika.
"Sembarangan Lo ya,Gue kan emang asli Indonesia ya jadi wajar aja kalo bahasa gaul gue lancar"
"Aaaa gitu...yaudah terserah lo aja,gue yang waras cuma bisa ngalah" Kata Erika.
"Aishh!!Gue bosen banget,bisa gak sih lakuin apa gitu selain berdebat?" Tanya Tamara.
"Perasaan gue gak enak kalo lo udah ngomong kayak gitu" Bintang langsung ikut berbicara.
"Mau ngapain Lo?" Erika melirik Tamara dengan curiga.
"Ahh gue tau!!" Teriaknya dan langsung berlari masuk ke ruangan Bintang.
Tamara keluar dari ruangan Bintang dengan pistol di tangannya.Bintang dan Erika langsung membuka matanya lebar-lebar karena berfikir bahwa Tamara akan melakukan hal yang buruk kepada mereka berdua.
"Lu mau ngapain???" Erika beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Bintang untuk meminta perlindungan karena Tamara semakin berjalan mendekat ke arah nya.
"Hei,hei.Lo jangan macem macem" Kata Bintang.
Alfredo yang melihat hal tersebut langsung berlari mendekat ke arah Tamara untuk mengambil pistol dan mengamankan nya.
"Mau apa kamu?Jangan membuat keributan" Kata Alfredo sambil memegang erat kedua tangan Tamara.
"Mr.Alfredo ambil pistolnya!" Teriak Erika.
"Apa yang kamu lakukan?Saya mau mengajak dia bertaruh!" Teriak Tamara sambil memberontak.
"Hah?" Bintang dan Erika mengucapkan kata tersebut secara bersamaan.
"Gue mau ngajak Lo taruhan"
"Apa maksud Lo?" Tanya Erika.
"Lepasin dulu apa!" Teriak Tamara yang meminta Alfredo untuk melepas genggaman tangannya.
"Apa yang kalian pikirin?" Tanya Tamara dengan wajah nya yang lugu. "Jangan bilang kalian pikir gue mau nembak Lo"
"Ya terus kenapa lo Deket Deket gue,mana muka Lo mendukung banget lagi" Kata Erika.
"Terus gue harus harus bicara sama Lo dimana?di ujung sana sambil teriak teriak??"
"Ya lagian lo pake bawa pistol segala"
"Liat dulu,gak ada peluru nya" Tamara membuka tempat pengisian amunisi pada pistol tersebut.
"Alfredo" Bintang memalingkan wajahnya tanda menyuruh Alfredo untuk pergi meninggalkan mereka yang sedang berdebat lagi.
"Dah udah!!" Teriak Bintang. "Lo bisa kan gak berulah sekaliiii aja" Bintang menekankan bicara nya.
"Ahhh diem dulu" Tamara menyingkirkan wajah Bintang dari hadapannya dengan pelan.Bagaimana bisa seorang mafia di perlakukan seperti itu?Hanya kedua wanita tersebut yang bisa melakukan nya tanpa membuat sang mafia menaruh dendam.
"Apa?Lo mau apa?" Tanya Erika.
"Kita taruhan"
"Taruhan apa?"
"Taruhan.Tembak lima botol tanpa meleset,yang kalah harus kabulin tiga permintaan pemenang" Kata Tamara.
"Jangan" Bintang menyilangkan kedua tangannya tanda agar Erika tidak menyetujui permintaan Tamara, tetapi lucu nya bintang tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
"Ayo.Gue setuju" Perkataan Erika bertolak belakang dengan permintaan Bintang.
"Ayo ikut gue" Tamara berjalan menuju halaman belakang,sebelum itu Tamara mengambil lima botol miras di tempat sampah khusu botol minuman tersebut.
Bintang awalnya tidak tertarik hingga menyuruh Erika untuk tidak menyetujui permintaan Tamara.Tetapi akhirnya ia sedikit penasaran dengan apa yang mereka lakukan.Ia pun menyusul kedua wanita tersebut ke halaman belakang.
"Siapa nih yang nembak duluan?" Tanya Tamara.
"Lo duluan deh"
"Oke,gue duluan ya.Kesalahan terbesar Lo adalah ngasih peluang ini ke gue" Sombong nya.
"Aaah banyak ngomong Lo"
"Iya iya sabar" Tamara mengisi amunisi ke dalamnya dan mulai beraksi menembak ke lima botol dari jarak yang cukup jauh.
Ternyata ia hanya berhasil menembak dua botol saja,sedangkan tiga botol yang lain tidak tepat sasaran.
"Kesalahan terbesar Lo adalah sombong di depan gue" Kata Erika yang langsung mengambil pistol tersebut dari tangan Tamara.
Ya,Erika berhasil mengenai ketiga botol tersebut dengan sangat cepat.Ia meletakkan satu tangannya di pinggang sambil meniup ujung pistol tersebut dengan gaya angkuh nya.
"Wah ini gak bener.Gue bisa jelasin, keahlian tembak menembak gue udah ilang ternyata.Seharusnya tadi gue pemanasan dulu..."
"Permintaan yang pertama adalah..." Erika motong ocehan Tamara.
"Plis batalin taruhannya" Tamara terus menggosokkan kedua tangannya di hadapan Erika.
"Gue mau minta barang Lo yang paling mahal"
"Hah?"
"Tuuh" Erika menunjuk ke arah sepatu mahal yang sedang di kenakan Tamara.
"Waah jangan,Lo tau kan gue lagi miskin sekarang"
"Ah gue lupa,lagian udah tau lagi miskin pake ngajak taruhan segala lagi" Gerutu Erika
"Plis batalin taruhannya,anggap aja tadi gue gak ngajak Lo taruhan tapi ngajak Lo latihan ketangkasan"
"Layani gue selama dua puluh empat jam penuh,gak perduli kalo Lo sakit sekali pun" Erika tersenyum licik.
"Dua puluh empat jam??"
"Hmm"
"Lo gila ya?Gue disuruh jadi babu Lo selama dua puluh empat jam?"
"Babu?Sebutan yang bagus sih.Lo yang minta di panggil babu ya" Erika melemparkan senyum penyihir dan langsung berjalan masuk kedalam rumah meninggalkan Tamara.
Bintang yang sejak tadi melihat tingkah mereka hanya menggeleng kan kepala layaknya seorang ayah yang sedang memaklumi perilaku gadis kecilnya.
"Waah babu" Dengan wajah kesal Tamara berjalan menyusul Erika yang sudah masuk kedalam.