ANDROMEDA

ANDROMEDA
Bahagia untukmu



Pagi hari di rumah Aurora.


"Pagi ini wajah ibu terlihat begitu berseri," ucap Andromeda pada sang ibu yang baru saja usai mandi pagi.


"Tentu saja. Siapapun akan terlihat lebih segar setelah mandi." Aurora terkekeh.


"Bukan itu maksudku, Ibu."


"Lantas?"


"Aku melihat wajah ibu begitu bahagia. Apa karena tidak lama lagi Ibu akan menikah dengan mister tampan? ledeknya.


Pertanyaan itu membuat Aurora salah tingkah dan pipinya tiba-tiba bersemu merah.


"Sepertinya ibu baru saja mandi. Kenapa ibu sudah kepanasan lagi?" sindir Andro.


Aurora menghampiri Andro. Tiba-tiba dia mendekap tubuh putra semata wayangnya itu dan memberinya ciuman gemas. Dia tidak menghiraukan Andro yang menjerit ingin melepaskan diri dari dekapan sang ibu.


"Ibu! Mister tampan datang!" 


"Mana?" Aurora mengarahkan Pandangannya ke arah pintu. Tak ada siapapun di sana. Sedangkan Andromeda kini telah berhasil lepas dari dekapannya. Dia bahkan menjulurkan lidahnya ke arah sang ibu.


Tingkah dari bocah berusia tujuh tahun itu semakin membuat Aurora gemas. Dia pun kembali berusaha menangkap tubuh kecil itu. Namun, Andro bergerak lebih gesit. Dia justru masuk ke dalam kamarnya.


"Ibu menyerah, Andro." Aurora terduduk di depan pintu kamar Andro. Nafasnya masih tak beraturan.


Tidak berselang lama pintu itu terbuka.


"Maaf, Ibu. Aku hanya bercanda," ucapnya dengan raut wajah penuh rasa bersalah.


Aurora tersenyum. "Tidak apa, Sayang," ucapnya.


Tiba-tiba Aurora menatap lekat mata Andromeda. "Ayahmu sebenarnya adalah mister handsome. Apa kau tidak keberatan jika ibu menikah dengan mister tampan?"


Andromeda tersenyum. "Tentu saja tidak, Ibu. Kebahagiaanku adalah saat melihat Ibu tersenyum. Mister handsome memang ayahku. Namun, jika ibu merasa lebih nyaman dengan mister tampan, aku juga akan mendukung ibu. Mister tampan sangat baik dan perhatian pada kita. Akupun begitu menyayanginya. Aku yakin dia akan menjadi ayah yang baik bagiku," ujarnya.


Kalimat panjang yang terlontar dari mulut Andro membuat hati Aurora terasa begitu hangat. "Terima kasih, Nak." Aurora mengecup kening Andromeda kemudian merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya.


                       ********


Di apartemen Keenan.


"Tidak lama lagi aku akan segera menikah," ucap Keenan pada sahabatnya, Rio.


"Kau pasti sedang bercanda," kelakarnya.


"Tatap mataku, apa aku terlihat sedang bercanda?" ucap Keenan.


Rio pun menatap lekat mata sahabatnya itu. Dari sorot mata Keenan dia sama sekali tidak menemukan kebohongan.


"Siapa perempuan beruntung itu?" tanya Rio.


"Namanya…"


"Siapa namanya?"


"Kau mengenalnya."


Rio mengernyitkan keningnya.


"Mana mungkin aku mengenalnya. Kau bahkan tak pernah sekalipun mengajak perempuan datang ke tempat ini," ucapnya.


"Astaga! Mengapa sulit sekali bagimu untuk meyebut nama perempuan itu," gerutu Rio. Dia mengambil gelas miliknya lalu meneguk isi di dalamnya.


"Kau pasti mengenal perempuan itu. Namanya Aurora," ucap Keenan.


Ucapan Keenan membuat Rio tersedak oleh minuman yang baru saja melewati kerongkongannya.


"Coba kau ulangi lagi perkataanmu," ucapnya.


"Apa kau sudah bermasalah dengan pendengaranmu?" 


"Aku justru ingin memastikan jika telingaku baik-baik saja."


"Perempuan itu bernama Aurora." Keenan mengulangi ucapannya.


Rio membulatkan matanya. 


"Aurora? Bukankah dia…"


"Ya. Perempuan itu pernah menjadi kekasihku, bahkan hampir menjadi tunanganku. Hampir delapan tahun kami terpisah. Aku sama sekali tidak menyangka jika Tuhan kembali mempertemukan kami," ungkap Keenan.


"Mengapa tiba-tiba kalian memutuskan untuk menikah?"


"Aurora membuka rahasia yang telah ditutup rapat itu. Ternyata Andromeda adalah anak kandung Gibran."


"Astaga! Apakah Gibran yang kau maksud itu…"


"Ya, dia adalah saudara tiriku sendiri. Sebuah kesalahan di masa lalu membuat Aurora mengandung. Selama ini dia menutup rapat identitas ayah kandung Andromeda. Namun, Tuhan selalu memiliki cara untuk menyingkap rahasia."


"Jika Gibran memang benar ayah kandung Andromeda, mengapa Aurora justru ingin menikah denganmu?"


"Aurora dan Gibran sudah sepakat untuk merawat dan membesarkan Andromeda bersama-sama meskipun mereka tidak terikat tali pernikahan. Aku juga baru menyadari jika nama Aurora masih memiliki ruang tersendiri di dalam hatiku. Aku masih begitu mencintainya. Aurora pun mengatakan hal yang sama padaku jika selama ini dia masih menyimpan perasaan itu," ungkap Gibran.


Keenan tersentak saat memandang wajah Rio. Entah sejak kapan mata pria itu basah.


"Astaga! Mengapa kau menangis?"


Rio lekas menyeka air matanya.


"Siapa yang menangis? Mataku hanya perih," sangkalnya.


"Aku turut bahagia jika kau bahagia," ucap Rio sambil menepuk pundak sahabatnya itu.


Bersambung….


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Maaf ya Kakak, Author baru bisa update.


Belakangan emaknya Andro ngepet di pf sebelah. Mulai hari ini author akan usahain rajin up.🥰🥰🥰


Bagi yang penasaran sama novelku yang di pf sebelah, caranya gampang banget kok.


Download aplikasi Fizzo, lalu cari novel ku yang berjudu "Benih Bayaran". Jangan lupa masukkan ke daftar pustaka.


Di aplikasi itu juga 100% baca gratis.


Terima kasih... ditunggu ya...♥️♥️♥️


Happy reading...🥰🥰