
Bab 29
"Kurasa aku sudah sedikit terlambat," ucap Keenan. Ia pun meninggalkan kakak tirinya begitu saja di depan kamarnya.
"Tunggu! Keenan!" Gibran terus memanggilnya namun Keenan tak menghiraukannya. Pria itu pun lalu menuju mobilnya. Dan meninggalkan apartemen.
"Sial!" Umpatnya.
Ucapan Keenan benar-benar berhasil membuat pikiran dan perasaannya menjadi kacau.
*****
Di rumah Aurora.
Aurora tampak sibuk membuat adonan kue. Ia menatap Andro yang entah mengapa hari itu ia terlihat kurang bersemangat.
"Are you OK, dear?" Tanyanya.
Andro membuang napas.
"Kemarin aku bertemu Mister Handsome," jawabnya. Jawaban dari Andro membuat Aurora hampir menumpahkan loyangnya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.
"Dimana kau bertemu dengannya?" Tanya sang ibu.
"Di kedai dekat taman," jawab Andro.
"Apa yang kau lakukan di sana?" Aurora mendekati Andro dan duduk di sampingnya.
"Aku mengantar seorang kakek yang mencari kedai untuk membeli sarapannya. Di sana aku bertemu mister Handsome," jawabnya.
"Dia mengatakan sesuatu?" Tanya sang ibu. Andro menggelengkan kepalanya.
"Kami tak sempat mengobrol. Tiba-tiba ponselnya berdering. Tak lama setelah itu ia pergi meninggalkan kedai."
Aurora menghela napas. Ada perasaan lega di dadanya.
"Apa kau juga melarangku terlalu dekat dengannya?" Tanya Andro dengan wajah polos. Aurora terdiam. Lagi-lagi Andro mengajukan pertanyaan yang sulit untuk ia jawab. Ia pun mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana kabar Florencia?" Tanyanya.
"Ia mendapat peringkat tiga besar di kelasnya semester ini," jawab Andro.
"Benarkah? Kau sudah berhasil menjadi guru lesnya, anak pintar," puji sang ibu.
Andro tersenyum.
"Kue itu untuk siapa, mom?" Tanya Andro saat melihat sang ibu tengah menghias sebuah kue yang baru diangkat dari oven.
"Coba kau tebak," ucap sang ibu.
Andro tampak berpikir. Ia lalu menggelengkan kepalanya.
"Kau mau mengantarkan kue ini untuk Keenan?"
"Mister tampan! Tentu saja aku mau." Andro tiba-tiba menjadi begitu bersemangat.
"Mommy membuat kue ini sebagai tanda terima kasih karena ia telah membantu kita saat kau sakit. Entahlah jika malam itu tak ada dia."
Andro pun lalu mengantar kue tersebut ke apartemen Keenan.
Sesampainya di kamar Keenan.
Andro mengetuk pintu kamar Keenan. Ia juga beberapa kali memanggil namanya. Namun tak ada jawaban. Bocah itu bingung. Ia harus membawa kembali kue nya atau meninggalkannya di depan pintu.
"Sepertinya kurang sopan jika aku menaruh kue ini di lantai" gumamnya.
Andro pun berinisiatif menitipkan kue tersebut pada salah satu penguni apartemen di lantai yang sama.
Ia lalu mengetuk pintu kamar yang tak jauh dari kamar Keenan. Beberapa menit kemudian seorang pria keluar dari kamar tersebut.
"Excuse me," ucap Andro sopan.
"Ada yang bisa kubantu, anak tampan?" Tanyanya dengan senyum ramah.
"Kau mengenal peghuni kamar itu?" Tanya Andro.
"Tentu saja aku mengenalnya. Aku sudah cukup lama tinggal di apartemen ini." Jawabnya.
"Boleh aku minta tolong? Aku ingin memberikan kue ini. Tapi sepertinya Keenan sedang keluar. Apa kau keberatan untuk memberikan kue ini padanya nanti setelah dia kembali?"
"Tentu saja tidak. Berikan kue itu padaku. Setelah ia kembali ke kamarnya aku akan memberikannya."
"Siapa namamu, adik kecil?" Tanyanya.
"Andromeda," jawabnya dengan sambil tersenyum.
Setelah mengucapkan terima kasih, Andro pun meninggalkan apartemen Gibran.
****
Andromeda kembali ke rumahnya.
"Cepat sekali kau sampai. Apa kue buatanku sudah mendarat ke tuannya?" Tanya sang ibu. Andro menggelengkan kepalanya.
"Mister tampan tak ada di kamar apartemennya, mom," jawab Andro.
"Lalu, dimana kue itu?" Tanyanya lagi.
"Aku menitipkannya pada seorang pria yang tinggal di sebelah kamarnya," jawab Andro.
"Good job!" Puji sang ibu.
Andro tersenyum. Bocah itu menuntun sepedanya.
"Kau mau kemana lagi?" Tanya Aurora.
"Kau lupa? Setiap sore aku belajar bersama kawan-kawanku di taman," jawabnya.
"Astaga! Lihat ibumu ini. Sepertinya aku mulai pikun," sang ibu terkekeh.
****
Keenan baru saja kembali ke kamarnya. Tiba-tiba seorang pria mengetuk pintu.
"Rio? Masuklah," ucap Keenan.
"Ada titipan untukmu," ucap Rio.
Keenan menatap kotak persegi di tangan pria yang telah lama menjadi tetangga kamarnya.
"Titipan? Kau tahu dari siapa?" Tanyanya sedikit heran.
"Seorang anak kecil berambut pirang yang mengantarkannya ke kamarmu siang tadi saat kau berada di luar," jawabnya.
"Andromeda?" Tanyanya.
"Ya," jawab pria itu.
"Kurasa kue ini terlalu banyak untuk kunikmati sendiri. Duduklah, aku akan membuatkanmu teh hangat," ucap Keenan. Pria itu lalu masuk ke dalam dapur. Tak lama ia pun kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Sepertinya perempuan itu tak tinggal di apartemen ini lagi," ucap Rio.
Keenan sedikit kaget mendengar ucapannya.
"Bagaimana kau tahu?" Tanyanya.
"Beberapa hari lalu aku melintasi kamarnya. Aku melihat seorang perempuan bersama anak kecil di depan kamarnya. Kurasa mereka yang menempati kamar itu sekarang," jawabnya.
"Ayahku mungkin sudah bosan dengannya," ucap Keenan.
"Apa ibumu tak pernah curiga jika ayahmu bermain di belakangnya?" Tanya Rio.
Keenan mengambil sepotong kue lalu dimasukkan ke dalam mulutnya.
"Ayahku selalu bersikap manis di hadapan ibu. Mana mungkin ia percaya jika suaminya berbuat macam-macam."
"Ayahmu memang drama king," ucap Rio. Keenan hanya terkekeh.
"Sudahlah. Aku malas membahasnya." Keenan lalu menyeruput teh hangatnya.
"Ngomong-ngomong, siapa Andromeda? Sepertinya hubungan kalian begitu dekat." Rio lalu menyeruput teh hangatnya.
Keenan membuang napas.
"Andromeda. Anak itu adalah anak Aurora." Jawaban Keenan hampir membuat Rio tersedak oleh minumannya.
"Aurora? Perempuan itu sudah menikah? Tunggu. Bukankah kau lama menjalin hubungan dengannya?" Tanya Rio heran.
"Mungkin Aurora bukan jodohku," ucap Keenan dengan raut sedih.
"Kau benar. Kita tak pernah tahu cara Tuhan mempertemukan kita dengan jodoh kita," ucap Rio.
"Kau sendiri, sudah berapa gadis yang termakan rayuan mautmu?" Tanya Keenan sambil menahan tawa.
"Ah, itu aku yang dulu saat masih SMA. Aku bukan playboy lagi sekarang."
"Benarkah?" Tanya Keenan.
"Sejak kepergian Celine, aku begitu sulit membuka hatiku untuk perempuan lain," ucap Rio.
"Di mana pacarmu itu sekarang?"
"Sejak Celine meninggalkanku dan menikah dengan pria lain, aku tak pernah tahu kabarnya. Aku menghapus kontaknya dari ponselku. Kurasa dia melakukan hal yang sama denganku." Ucap Rio dengan nada sedih.
Tiba-tiba ponsel Keenan berdering. Nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya. Keenan enggan menjawab panggilan dari nomor asing itu. Ia justru menggeletakkan ponselnya di atas meja.
"Mengapa kau tak menjawab teleponmu?" Tanya Rio heran.
"Aku tak mengenal penelepon itu. Nomornya tak tersimpan di ponselku," jawab Keenan.
Ponsel Keenan tak henti berdering. Nomor asing itu terus meneleponnya. Keenan mulai kesal. Pria itu pun mengambil ponselnya dan menjawab telepon tersebut.
~Keenan: Halo, siapa disana?
~Nomor Asing: Tak bersuara
~Keenan: Halo?
~Nomor Asing: Tak bersuara
Keenan pun lalu memutus teleponnya.
"Sepertinya seseorang tengah mengerjaiku," ucapnya dengan nada kesal.
Selang beberapa menit nomor tak dikenal itu kembali menelepon. Keenan yang terlanjur kesal pun menjawab telepon tersebut.
"Apa kau kurang kerjaan, 'heh?" Tanyanya.
"Keenan...ini aku," terdengar suara perempuan dengan nada sedih.
Bersambung….
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕