ANDROMEDA

ANDROMEDA
Secepat ini?



Di rumah Emily.


"Sebaiknya kau segera menikahi Aurora," ucap Emily di sela makan malam mereka.


Ucapan Emily membuat Gibran hampir tersedak oleh makanannya. Ia lantas mengambil segelas air putih dan meneguknya dengan cepat.


"Menikah?" tanya Gibran.


"Bukankah sudah jelas jika Andromeda adalah anak kandungmu?"


"Ta-tapi, apa yang pernah kulakukan bersama Aurora adalah sebuah kesalahan. Aku tak mencintainya sedikit pun," bantahnya.


"Lantas, di mana rasa tanggung jawabmu sebagai seorang laki-laki? Apa kau mau lari begitu saja? Andromeda adalah anak kandungmu. Sudah menjadi tanggung jawabmu untuk memenuhi seluruh biaya hidupnya."


"Aku tak akan lari dari tanggung jawab. Aku mau menanggung hidup Andromeda sampai kelak ia dewasa, tetapi tidak untuk menikahi Aurora. Aku masih begitu mencintai Nadine."


"Sampai kapan kau akan menyimpan cinta untuk gadis itu? Kurasa Aurora lebih baik dari Nadine."


"Aku sama sekali tak mencintai Aurora, bagaimana mungkin aku bisa menikahinya? Itu hanya akan menyiksa perasaanku."


"Cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Apa kau tak merasakan betapa bahagianya Andromeda saat mengetahui jika kau adalah ayah kandungnya?"


"Lalu, bagaimana dengan Aurora? Apakah ia mau menikah denganku?" tanya Gibran.


"Kurasa Aurora mau melakukan apapun demi kebahagiaan Andromeda," jawab Emily.


*****


Di rumah Aurora.


"Ibu, kapan ayah akan tinggal bersama kita? Aku ingin seperti teman-temanku. Mereka memiliki orang tua yang lengkap," ucap Andromeda.


Aurora tak menyangka jika Andromeda akan melayangkan pertanyaan itu padanya. 


"Apa kau tak bahagia hidup berdua saja dengan ibu?"


"Aku bahagia hidup bersama Ibu. Tetapi kebahagiaanku belum lengkap jika ayah tak tidak bersama kita," ungkapnya.


Aurora terdiam sejenak, ia lantas berpikir.


"Apakah aku harus menikah dengan Gibran? Lalu bagaimana dengan Keenan? Dia yang selama ini bersamaku. Dia yang selalu ada saat aku butuhkan. Bukankah aku akan melukai hatinya untuk ke dua kali jika aku menikah dengan Gibran?" gumamnya.


"Aku ingin memiliki keluarga yang lengkap, Ibu," ucap Andromeda. 


Beberapa hari kemudian.


Malam itu Aurora dan Andromeda tengah menonton televisi. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Andromeda beranjak dari tempat duduknya. Ia lantas berjalan ke ruang tamu untuk membukakan pintu.


Andromeda tercengang saat melihat siapa yang datang ke rumahnya malam itu. Mereka adalah Gibran beserta ibu dan adik perempuannya, Alicya.


"Ayah!" serunya. Ia lantas menghambur ke pelukan Gibran.


Suara Andromeda terdengar hingga ke dalam rumah. Aurora pun bergegas menuju ruang tamu.


"Siapa yang datang, Sayang?" tanyanya.


Aurora tersentak saat mendapati Andro tengah memeluk Gibran.


"Astaga!" serunya.


"Sejak kapan kalian datang?" tanyanya. Ia lantas mempersilahkan ketiganya masuk ke ruang tamu.


"Aurora, maksud kedatangan kami malam ini adalah aku ingin melamarmu untuk putraku, Gibran," ucap Emily.


Aurora terkesiap. Ia menelan salivanya.


"Mengapa harus secepat ini?" gumamnya.


"Apa kau mau menikah denganku?" tanya Gibran. Ia lantas mengeluarkan sebuah kotak berbentuk hati dari dalam saku jasnya.


Aurora terdiam. Ia hanya memandang kotak itu. Gibran benar-benar datang untuk melamarnya. Tapi entah mengapa pikiran Aurora justru terus tertuju pada Keenan. Ia tak sampai hati jika harus membuatnya terluka untuk ke dua kalinya. 


Namun di sisi lain, ia juga ingin mewujudkan keinginan Andromeda untuk memiliki orang tua yang lengkap. 


"Maaf, kurasa ini terlalu cepat. Aku perlu waktu untuk berpikir," ucap Aurora.


"Baiklah, aku mengerti. Aku akan memberimu waktu tiga hari," ucap Emily.


*****


Di kamar apartemen Keenan.


Malam itu entah mengapa Keenan sulit memejamkan mata. Pikirannya terus tertuju pada Aurora. Di satu sisi ia merasa lega karena semua rahasia mengenai Gibran sudah terungkap, namun di sisi lain ia begitu takut jika harus kehilangan Aurora.


"Apakah aku harus kehilangan Aurora untuk ke dua kalinya?" gumamnya.


Pukul 02.00.


Keenan terbangun karena mendengar suara benda jatuh. Ia terperanjat saat mendapati seorang pria bertopeng berada di dalam kamarnya. Ia terlihat tengah mengobrak abrik lemari pakaiannya. Namun tak sengaja tangannya menyenggol vas bunga yang terletak di atas meja. Ia baru ingat jika sebelum ia tidur, ia lupa tak tak memeriksa pintu kamarnya.


"Astaga! Hei, siapa kau!" serunya. Pria bertopeng itu terlihat mengambil sebuah map dari dalam lemari baju Keenan. Secepat kilat ia berusaha melarikan diri dari kamar tersebut. Keenan tak diam saja. Ia tak rela jika map berisi surat wasiat mendiang ibunya tersebut diambil olehnya.


Keenan berhasil menarik ujung baju pria itu namun pria itu justru mengangkat kakinya kemudian menendang ke arah perut Keenan dengan cukup keras. Keenan terpental, kepalanya membentur dinding. Tiba-tiba ia merasakan pandangan matanya gelap.


Keesokan harinya.


Pukul 08.00. Rio bersiap berangkat ke kantornya. Biasanya ia dan Keenan hampir bersamaan keluar dari kamar. Namun ia sedikit heran, pagi itu pintu kamar Keenan terbuka lebar.


Rio pun memeriksa kamar Keenan. Ia ingin memastikan jika semuanya baik-baik saja. Rio mengedarkan pandangannya di ruang tamu, namun tak menemukan Keenan di ruangan tersebut.


"Keenan, Keenan, everything is OK?" tanyanya sambil terus melangkah menuju ruang makan. Keenan juga tak sedang berada di ruangan itu. Ia lantas melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Rio menghentikan langkahnya saat melintasi kamar Keenan. Pintu kamarnya terbuka lebar. "Keenan, apa kau di dalam kamarmu?" tanyanya lagi. 


Rio memasuki kamar Keenan. Ia terperanjat saat mendapati Keenan tergeletak di lantai. Kepalanya berlumuran darah.


"Astaga! Apa yang terjadi?" Rio bergegas menghampiri Keenan yang tak sadarkan diri. Darah di kepalanya bahkan telah mengering. Dengan tangan bergetar Rio menaruh jarinya di depan lubang hidung Keenan. Berharap Keenan masih bernafas.


"Syukurlah, dia masih hidup," ucapnya.


Rio mengambil ponselnya. Ia lantas menghubungi ambulance.


"Keenan! Sadarlah!" serunya sambil mengguncang tubuh Keenan namun pria itu tak bergeming.


Tak berselang lama sebuah mobil ambulance tiba di apartemen. Dua orang petugas terlihat keluar dari mobil berwarna putih tersebut. Mereka lantas membawa Keenan masuk ke dalam mobil tersebut.


Sesampainya di rumah sakit.


Perawat bergegas membawa Keenan ke sebuah ruang ICU.


Rio bingung, Keenan tak memiliki keluarga. Ia tak begitu dekat dengan ayah angkatnya, sedangkan Sarah, ibu angkatnya telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu.


Tiba-tiba ia mengingat satu nama, Aurora.


Beruntung ponsel milik Keenan luput dari sasaran pencuri. Rio sengaja membawanya. Ia mulai membuka kontak di ponsel milik Keenan.


Rio segera menekan tombol berwarna hijau saat menemukan kontak bernama Aurora. 


[Aurora: Halo, ada apa, Ken?]


[Rio: Maaf, ini aku, Rio, kawan Keenan. Aku menelponmu dengan ponselnya.]


[Aurora: Apa yang terjadi?]


[Rio: Beberapa saat yang lalu aku menemukan Keenan pingsan di kamarnya. Kepalanya berdarah. Kamarnya begitu berantakan. Sepertinya Keenan baru saja mengalami pencurian sekaligus penganiayaan.]


[Aurora: Astaga! Apakah Keenan baik-baik saja?]


[Rio: Keenan sedang dalam penanganan dokter di ruang ICU.]


Bersambung...


Novel pertamaku sebentar lagi tamat, terima kasih buat pembaca setia Andromeda...nanti aku ajak pindah ke lapak baruku di pf sebelah...🥰🥰


Salam hangat...