
Helena berlari menjauhi kamar hotel itu. Dia tak lagi memperdulikan teriakan Hans yang terus memanggil namanya. Dia tidak begitu memperhatikan jalan. Hingga tiba-tiba dia merasa tubuhnya menabrak seseorang.
"Maaf, Nyonya," ucap pria itu.
Helena hanya mengangguk tanpa memandangnya. Dia kembali berlari.
Sementara itu Hans terus mengejar Helena. Pria itu hanya memandang keduanya dengan tatapan heran.
Rupanya pria itu bertujuan mendatangi kamar Nadine. Nadine sedikit kaget saat Joe tiba-tiba berada di depan pintu kamarnya.
"Joe," ucap Nadine.
"Kenapa dengan laki-laki itu? Mengapa dia mengejarnya?" tanyanya.
"Laki-laki dan perempuan itu adalah kedua orang tuaku."
"Sungguh?" tanya Joe setengah tak percaya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku mengusirnya."
"Astaga! Apa kau sudah kehilangan akalmu?"
"Perempuan itu sudah melukai perasaanku. Sulit bagiku untuk memaafkan dan menerimanya kembali."
"Apakah sedikit saja kau tidak bisa menghargai ibumu? Dia sudah jauh-jauh datang ke tempat ini hanya untuk menemuimu. Namun, apa yang kau lakukan padanya? Kau justru membuatnya sakit hati dan kecewa. Mungkin ibumu pernah berbuat kesalahan. Namun, ibumu sudah berubah dan mau memperbaiki kesalahannya. Tak sepantasnya kau terus menyimpan dendam dan kebencian padanya."
Nadine terdiam dan menundukkan wajahnya. Dia tak memiliki sepatah kata pun untuk menanggapi ucapan laki-laki yang belum lama ini menjadi kekasihnya itu.
"Pernahkah kau berpikir? Tanpa ibumu,mustahil kau ada di dunia ini. Dia sudah susah payah mengandung dan melahirkanmu. Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya agar kau bisa hadir di dunia ini. Lihat aku, sedari kecil aku tidak pernah merasakan kasih sayang ibu." Tiba-tiba raut wajah Joe berubah begitu sedih.
"Setiap orang mungkin pernah membuat kesalahan. Namun, saat mereka menyadari kesalahannya, mereka juga berhak mandapatkan kesempatan ke dua. Begitupun ibumu. Aku yakin jika ibumu sudah menyesali kesalahannya. Dia ingin kembali pada keluarganya dan memperbaiki semuanya. Tak ada kata terlambat untuk memperbaiki sesuatu. Meskipun sudah hancur sekalipun."
Joe mengangkat dagu Nadine. Dia lantas menatap lekat bola mata kebiruan itu. entah sejak kapan mata indah itu berkaca-kaca.
"Pergilah, temui ibumu. Minta maaf lah padanya," ucap Joe.
Nadine mengedipkan matanya agar buliran bening yang sedari tadi merebak di bola matanya tidak jatuh. Namun, usahanya gagal. buliran bening itu justru mengalir begitu deras membasahi pipinya.
Dengan sigap Joe menyeka air mata di wajah kekasihnya itu. Dia menangkup wajah oval itu dengan kedua tangannya. Sekali lagi dia menatap lekat mata perempuan yang belakangan ini mengisi hatinya.
"Aku tahu kau memiliki hati yang besar" ucapnya.
Tiba-tiba senyum mengembang di bibir Nadine. "Terima kasih, Joe, kau telah membuka mataku. Kau benar. Aku beruntung masih memiliki ibu. Perempuan yang paling berharga dalam hidupku. Joe, maukah kau menemaniku menemui ibuku? Aku ingin meminta maaf padanya."
Joe tersenyum. "Tentu saja," ucapnya.
Keduanya pun bergegas mengikuti Hans dan Helena. Mereka mencarinya di lobby hotel, namun keduanya tak berada di sana. Joe lalu bertanya pada seorang petugas keamanan yang berjaga di area tersebut. Pria berseragam itu mengatakan jika beberapa saat yang lalu dia melihat seorang perempuan dan laki-laki berkejaran keluar dari hotel. Keduanya menaiki taksi menuju arah bandara.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Joe dan Nadine pun menghentikan sebuah taksi yang melintas dan berniat menyusul Hans dan Helena menuju bandara.
"Cepatlah! Atau kita akan terlambat!" seru Joe sesaat sebelum menaiki taksi tersebut.
Joe meminta pengemudi taksi untuk mempercepat laju taksinya agar segera sampai di bandara. Hanya dalam waktu beberapa menit taksi yang ditumpanginya itu pun tiba di bandara.
Mereka bergegas mencari Hans dan Nadine di ruang tunggu penumpang. Namun, keduanya juga tak terlihat di antara ratusan calon penumpang yang tengah menunggu giliran pesawat mereka.
"Astaga! Kita benar-benar terlambat!" seru Nadine. Tiba-tiba rasa penyesalan menghampirinya.
Nadine terduduk lemas di sebuah kursi kosong. Tiba-tiba tangisnya pecah.
"Ibu, maafkan aku," isaknya.
Tiba-tiba seseorang menyentuh lembut pundaknya. Nadine lantas menoleh ke arah belakang.
"Ibu sudah memaafkanmu, Nak," ucap Helena dengan wajah haru bercampur bahagia. Nadine tersentak saat mendapati sang ibu tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"I--I--Ibu, Ayah, kalian masih di sini?" tanyanya.
"Kami dari kamar kecil," Hans menimpali.
Nadine memandang wajah Helena. Satu detik kemudian netra keduanya pun bersitatap. "Maafkan aku, Ibu," ucapnya dengan suara bergetar.
"Kau benar-benar memanggilku ibu, Nak?" tanya Helena setengah tak percaya.
Helena tak berkata-kata lagi. Dia pun merengkuh tubuh putri kandungnya tersebut ke dalam pelukannya. Keduanya saling berpelukan untuk beberapa saat.
Tiba-tiba pandangan Helena tertuju pada laki-laki yang berdiri di tak jauh dari Nadine.
"Siapa laki-laki ini? Apa dia kawanmu?" tanyanya.
Joe tersenyum. "Namaku Joe. Aku adalah kekasih Nadine," ucapnya.
"Sungguh?" tanya Helena setengah tak percaya.
"Joe yang membuka mataku. Aku begitu beruntung masih memiliki ibu," ujar Nadine.
"Dan aku begitu beruntung mengenal Nadine." Joe menimpali.
Ucapan Joe membuat Nadine tersipu. Pipinya tiba-tiba merona.
"Ayah dan ibu harus membeli tiket pesawat sekarang," ucap Hans.
"Ayah mau kemana?" tanya Nadine.
"Ayah dan ibu harus pulang," jawab Hans.
Tiba-tiba Nadine menarik lengan
Hans dan bergelayut manja di pundaknya.
"Ayah dan ibu menginap saja di kamarku," ucapnya setengah merayu.
"Kami harus pulang, Nak," ucap Helena.
"Kumohon. Menginaplah di kamarku satu malam saja," rengek Nadine. Dia masih belum beranjak dari pundak sang ayah.
"Baiklah, ayah dan ibu akan menginap di kamarmu malam ini," ucap Hans.
Tiba-tiba mata Nadine berbinar. Dia lantas menghambur ke pelukan sang ayah.
"Sejak kapan kau mengenal putriku?" tanya Hans.
"Beberapa bulan yang lalu. Saat itu aku melihat Nadine duduk termenung di bangku taman. Dia pun mengatakan jika dirinya meninggalkan kekasihnya karena merasa kecewa. Sejak saat itulah kami sering bertemu dan semakin dekat. Hingga akhirnya kami saling jatuh cinta," ungkap Joe.
"Syukurlah, akhirnya Nadine menemukan kebahagiaannya di sini," ucap Hans.
"Aku juga merasa bahagia bisa mendapatkan hatinya."
"Apa kau sungguh-sungguh mencintai putriku? tanya Hans.
"Apa maksud ucapan Tuan?"
"Jika kau benar-benar mencintai putriku, aku ingin kau segera melamarnya," ucap Hans.
"Ta--ta--pi, Tuan, aku belum selesai kuliah. Aku juga belum memiliki pekerjaan."
"Kau tenang saja. Kau bisa bekerja di kantorku," ucap Hans.
Nadine yang penasaran pada obrolan keduanya pun memandang ke ke arah mereka. "Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya.
Hans dan Joe saling memandang. Sedetik kemudian keduanya justru tertawa bersama.
"Apa kalian membicarakanku?" tanya Nadine.
"Tidak, Nak," ucap Hans.
"Lantas?"
"Kami membicarakan hal yang hanya dimengerti laki-laki." Joe menimpali.
Tiba-tiba Nadine mencubit lengan Joe hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan. Sementara Hans dan Nadine menggelengkan kepalanya melihat tingkah sepasang kekasih itu.
Hans begitu bahagia. Joe telah mengembalikan keceriaan Nadine. Laki-laki itu telah membuat putrinya menemukan kembali senyum dan kebahagiaannya.
Bersambung….