
New York, 09.00 am
Nadine tengah duduk menyendiri di tepi telaga tak jauh dari hotel tempatnya menginap.
Ia melempar satu per satu kerikil ke dalam air yang terlihat tenang.
"Di sini kau rupanya. Aku kira kau telah kembali ke negara asalmu," ucap Joe tiba-tiba.
Nadine memandang bayangan Joe di dalam air telaga.
"Sejak kapan kau bisa bernapas di dalam air?" Tanya Nadine.
"Aku di sini, konyol!" seru Joe sedikit kesal. Nadine terkekeh.
"Air telaga ini sungguh menenangkan," ucap Nadine.
"Air yang tenang jangan disangka tiada berbuaya," ucap Joe.
"Seperti Gibran. Dari luar dia terlihat nyaris sempurna di mata wanita. Ia tampan dan mapan. Namun siapa sangka, ia memiliki masa lalu yang kelam," ucap Nadine.
"Hampir tiga minggu meninggalkannya. Kurasa kau mulai merindukannya," ledek Joe.
"Aku datang ke tempat ini ingin mencari ketenangan. Bukan ingin mendengar leluconmu," gerutu Nadine.
"Kau belum bisa melupakannya, Nona."
"Berhenti melucu, Joe! " Serunya.
"Kau lupa? Aku ini seorang badut. Anak-anak menyukaiku karena aku lucu," ucap Joe. Pria itu terkekeh.
"Aku bukan anak-anak!" Seru Nadine dengan wajah kesal.
Joe lalu duduk di sisi Nadine. Ia melempar sabuah kerikil dengan cukup jauh ke dalam telaga. Tanpa ia sadari Nadine memperhatikannya.
"Lemparanmu jauh juga," ucapnya.
"Kau mau beradu lempar kerikil?" Tanya Joe.
"Siapa takut!" Nadine bediri dari tempat duduknya. Ia melempar sebuah kerikil ke dalam telaga. Kemudian berganti Joe, dan berganti Nadine. Begitu seterusnya. Namun sejauh apapun Nadine melempar kerikil-kerikil miliknya ke dalam air telaga. Lemparannya masih kalah jauh dibandingkan Joe.
"Aku menyerah! Kau pemenangnya." Ucap Nadine. Joe tertawa puas.
"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Tanyanya.
Nadine membuang napas.
"Aku merasa lebih baik. Walaupun kau sedikit konyol tapi setidaknya aku beruntung mengenalmu," ucap Nadine.
"Konyol katamu? Kau yang konyol." Ucap Nadine.
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
Keduanya tak mau kalah. Hingga akhirnya Joe memilih mengakhiri perdebatan.
"Ponsel milikmu." Joe menyodorkan ponsel ke arah Nadine.
Nadine tampak begitu senang saat melihat kembali ponselnya yang sudah dianggapnya hilang tersebut.
"Lihat wajahmu. Seperti anak kecil yang baru saja diberi cokelat." Joe terkekeh.
"Dimana kau mendapatkannya?" Tanya Nadine.
"Ponselmu terjatuh tak jauh dari meja kedai waktu kita makan disana siang itu, Pemilik kedai yang menyimpannya. Aku sering mengunjungi kedainya. Mungkin dia melihatku duduk di sana." jawab Joe.
Sekali lagi Nadine berterima kasih pada pria yang kerap disapa badut Joe tersebut.
Nadine mencoba menghidupkan ponselnya. Namun tak menyala. Perempuan itu pun tampak kebingungan.
"Ponselku rusak!" Serunya dengan wajah panik.
"Astaga! Tentu saja ponselmu mati karena kehabisan daya, konyol." Ucap Joe. Nadine menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Aku harus pergi sekarang. Aku harus sampai di kampus sebelum jam sepuluh," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Nadine.
"Kau meninggalkanku sendiri di tempat ini?" Tanya Nadine.
Joe menghentikan langkahnya.
"Kurasa kita tak datang ke tempat ini bersama," jawabnya.
Lagi-lagi Nadine merasa dirinya konyol di hadapan pria itu.
"Hei, Tunggu!"
Nadine berlari kecil mengejar Joe yang semakin menjauh dari telaga.
*****
Keenan merasa kacau. Membeli laptop dan ponsel baru bukanlah masalah besar baginya. Yang menjadi masalah adalah isi yang ada di dalam kedua benda tersebut.
Masalah lainnya adalah ia akan kesulitan mencari pencurinya. CCTV harapan satu-satunya pun kini tak bisa membantunya.
Tiba-tiba ia teringat rekaman suara Gibran yang berisi pengakuannya. Hal itu juga tak kalah penting baginya. Keenan memukul kemudi mobilnya dengan kesal.
"Bren*s*k!" Umpatnya.
Keenan lalu menepikan mobilnya di area counter handphone. Ia harus segera membeli ponsel baru atau masalahnya menjadi semakin rumit. Keenan melirik arloji di pergelangan tangannya. 08.15.
"Selamat pagi," sapa Keenan pada seorang perempuan yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Selamat pagi, ada yang bisa kubantu?" Tanyanya tanpa sedikitpun menoleh ke arah Keenan.
"Selamat pagi," Keenan mengulang sapaanya.
"Tunggu aku sedang sibuk!" Serunya. Matanya masih belum lepas dari layar ponsel.
"Seperti inikah kau memperlakukan para pelangganmu?" Kali ini pertanyaan Keenan berhasil mengalihkan perhatian perempuan itu dari ponselnya. Ia pun mendongakkan kepalanya.
"Kau…?" Tanyanya sedikit kaget saat melihat pelanggan pertamanya. Pria itu adalah pria yang beberapa waktu lalu tiba-tiba muncul di sela perdebatannya dengan penjaga counter ponsel miliknya.
"Dimana gadis itu?" Tanya Keenan.
"Siapa yang kau maksud?" Tanya Fiona.
"Kau benar-benar memecatnya?" Tanya Keenan kemudian.
"Gadis itu tak bekerja dengan baik," jawabnya.
"Sungguh?" Tanya Keenan.
"Kau ingin membeli ponsel?" Fiona mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin membeli ponsel sekaligus nomor perdana," jawab Keenan.
"Oh, baiklah. Kau bisa memilih ponsel yang kau mau di brosur ini." Fiona menyodorkan selembar kertas berisi ponsel beserta harganya.
"Aku pilih ponsel ini," ucapnya sambil menunjuk gambar sebuah ponsel di brosur tersebut.
"Ini ponsel termahal di tokoku," ucap Fiona.
"Aku harus segera berangkat ke kantorku." Keenan mengambil kartu ATM dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja.
"Siapa namamu? Aku harus mencatatnya di nota pembelian.
"Keenan," jawabnya singkat.
Setelah menyelesaikan pembayarannya, pria itu pun meninggalkan tempat tersebut.
"Keenan...nama yang bagus, cocok dengan orangnya yang tampan," gumam Fiona.
Tak lama berselang seseorang mendatangi Fiona.
"Selamat pagi, gadisku," sapanya.
Fiona mengacuhkannya.
"Mengapa belakangan ini kau mengacuhkanku?" Tanya Dave.
"Kurasa kau tahu alasannya," jawab Fiona dengan wajah kesal.
"Jangan membuatku seperti orang yang tak waras karena kau acuhkan, Fio" ucap Dave.
"Apalagi yang ingin kau beli. Jaket? Parfum? Sepatu?" Tanya Fiona.
"Aku hanya merindukanmu, Fio." Dave menyentuh wajah Fiona namun perempuan itu menepisnya.
"Kau urusi saja pacar barumu itu," ucapnya ketus.
"Hanya kau satu-satunya perempuan yang ada di hatiku," ucap Dave.
"Omong kosong!" Seru Fiona. "Siapa anak sekolah itu?" Tanyanya kemudian.
"Anak sekolah mana yang kau maksud?"
"Kau pikir aku tak tahu. Kau sering memberikannya hadiah dengan uangku?" Tanyanya.
"Aku benar-benar serius menjalin hubungan denganmu. Mana mungkin aku macam-macam di belakangmu," ucapnya. Dave menatap mata Fiona. Pria itu mencoba meyakinkannya. Jika ia tak sedang membohongi Fiona.
Tiba-tiba ponsel Dave berdering singkat. Sebuah pesan baru masuk di aplikasi percakapan. Dave lalu membuka pesan tersebut.
[From: Alicya
Kita bertemu malam ini di cafe Pandora.]
Dave bergegas memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya. Ia tak ingin Fiona melihat isi pesan tersebut.
"Pesan dari siapa?" Tanya Fiona.
"Bukan siapa-siapa," jawabnya dengan wajah gugup.
"Awas saja. Jika kau macam-macam di belakangku." Ancam Fiona.
Bersambung…
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕