ANDROMEDA

ANDROMEDA
Kejutan besar



Di rumah Gibran.


Dengan bantuan sopir, Gibran dibawa masuk ke kamarnya. Tak lama kemudian pria itu siuman.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Emily. 


"Setiap aku berusaha mengingat apapun tentang masa laluku, kepalaku begitu nyeri," ungkapnya.


"Kami mengerti. Kami akan membuatmu kembali mengingat segalanya," ucap Emily.


Aurora memandang Andro.


"Kurasa Mister handsome harus beristirahat," ucap Aurora.


Andro paham dengan ucapan sang ibu. Ia pun lalu beranjak dari duduknya dan segera berpamitan pada Gibran dan Nyonya Emily.


Andro menatap mata Gibran selama beberapa detik. Sebuah tatapan yang tak dipahami siapapun selain Aurora.


*****


Di rumah Hans.


"Apa kau yakin dengan keputusanmu untuk kembali lagi ke New York?" Tanya Hans.


"Ya, Ayah. Mungkin aku akan melamar pekerjaan di sana. Kalian jangan khawatir, aku akan sering-sering mengunjungi kalian," ucap Nadine sambil memasukkan baju ke dalam tasnya.


Maaf jika aku harus meninggalkanmu. Aku ingin mencari kebahagiaanku," ucapnya kemudian.


"Kau sudah pamit pada Nyonya Emily?" Tanya Hans. 


Nadine menggeleng pelan.


"Apa yang harus kukatakan padanya?" Apakah aku harus mengatakan jika kau membatalkan pertunangan itu dan memilih kembali ke New York?"


"Katakan saja sejujurnya, Ayah. Aku tahu Nyonya Emily tak menyukai kebohongan."


"Baiklah jika itu keputusanmu. Aku akan menemuinya siang ini."


Nadine beranjak dari kamarnya.


"Kau mau kemana?" Tanya Hans.


"Aku akan akan menemui kawanku," ucapnya sambil berlalu.


*****


Di sebuah cafe.


"Mengapa kau ingin menemuiku, apakah ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" Tanya Keenan.


"Aku akan berangkat ke New York hari ini," jawabnya.


Keenan tersentak. "Kau benar-benar membatalkan pertunanganmu?" Tanyanya.


"Aku merasa kebahagiaanku bukan di sini. Gibran bahkan tak mengenaliku sekarang," ucapnya.


"Apakah seseorang telah mengisi hatimu?" Tanya Keenan.


Nadine terdiam. Ia tak memiliki jawaban atas pertanyaan kawannya tersebut.


"Aku pun tak menyangka jika semua yang telah kurencanakan akan menjadi serumit ini," ucap Keenan.


"Apa maksudmu?" Tanya Nadine. 


Keenan membuang napas.


"Semua barang bukti yang telah susah payah aku kumpulkan hilang," jawabnya.


"Hilang? Bagaimana mungkin?" 


"Ponselku hilang beberapa waktu lalu di kamar apartemenku."


"Astaga!"


"Ponsel itu menyimpan suara pengakuan Gibran yang pernah menyentuh Aurora delapan tahun lalu. Bahkan sampel rambut antara dirinya dan Andromeda juga hilang bersama ponselku."


"Kurasa apartemenmu memiliki kamera pengawas."


"Saat kejadian itu kamera pengawas di apartemenku tengah dalam perbaikan. Tak ada sedikitpun kejadian yang terekam pada hari itu."


"Mengapa semua menjadi serumit ini?" gumam Nadine.


"Entahlah. Kini aku hanya bisa pasrah. Hanya waktu yang bisa menjawab. Amnesia yang dialami Gibran bukan penyakit sepele yang mudah untuk disembuhkan. Ia akan membutuhkan waktu yang sangat lama agar ingatannya pulih. Dokter juga tak bisa menjamin Gibran bisa sembuh total."


"Apa mungkin ini karma baginya? Di hadapanku ia selalu bersikap seolah-olah tak mengenal Aurora. Dan kini Tuhan benar-benar membuat ingatannya hilang."


"Aku pun berpikiran sama denganmu."


Keenan melirik jam tangannya. Kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Aku harus pergi sekarang," ucapnya.


"Selamat tinggal," ucap Nadine.


"Aku membenci kata itu," ucap Keenan.


"Aku akan pergi jauh. Dan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti," ucap Nadine.


"Sampai jumpa. Semoga kau menemukan kebahagiaanmu di sana," Keenan tersenyum lalu menggenggam tangan Nadine.  


"Sampai jumpa, Keenan," ucap Nadine.


Tiba-tiba air matanya menetes.


*****


Di rumah sakit.


"Hari ini kau akan pulang bersamaku, Helena," ucap Joyce.


"Aku tak yakin bisa melanjutkan hidupku," ucap Helena.


"Apa yang kau katakan? Kau masih memiliki aku. Aku akan mengajakmu tinggal bersamaku," ucap Joyce.


"Perempuan hina sepertiku tak pantas mendapatkan kebaikan," ucap Helena.


"Setiap orang memiliki masa lalu. Menurutku kau perempuan yang luar biasa. Kau memilih pergi dari kubangan masa lalumu yang kelam dan berusaha menjadi orang yang lebih baik," ucap Joyce.


"Aku pantas mendapatkan karma ini," ucap Helena. Tiba-tiba air matanya mengalir.


"Sudahlah. Kau tak perlu meratapi nasibmu. Kau harus terus melanjutkan hidupmu. Ayo kita pulang ke rumahku sekarang."


Joyce meminta sopir pribadinya untuk membawakan tas Helena. Joyce sendiri menuntun Helena berjalan. Mereka pun lalu keluar dari ruangan tersebut.


Ketiganya sampai di tempat parkir. Joyce hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun tiba-tiba seseorang turun dari mobil dan menyapanya.


"Joyce...Sedang apa kau disini?" Tanyanya.


"Hei, Hans. Hari ini penjahit di butikku yang mengalami kecelakaan waktu itu diperbolehkan pulang. Dan ia akan tinggal bersamaku," jawabnya.


"Apakah ia tak memiliki keluarga? Mengapa kau mengajaknya tinggal bersamamu?"


"Dia telah lama meninggalkan keluarganya."


Sementara di dalam mobil, meskipun tak dapat melihat pria yang kini tengah mengobrol dengan Joyce, namun Helena merasa mengenal suara itu.


"Dimana dia sekarang?" Tanya Hans.


"Namanya Helena. Dia ada di dalam mobilku," jawabnya.


"Helena?" Tanya Hans. Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang.


"Ya. Namanya Helena. Mari kukenalkan padanya." 


Joyce membuka pintu mobilnya.


"Helena, turunlah sebentar. Kawanku ingin berkenalan denganmu," ucapnya.


Hans merasa jantungnya berdegup semakin kencang. Ia merasa nama Helena yang disebutkan Joyce adalah Helena istrinya. Helena ibu kandung Nadine. Helena yang lebih dari tiga puluh tahun meninggalkan keluarganya demi cinta pertamanya.


Helena turun dari mobil dan berdiri tepat di hadapan Hans. Hans seketika merasa jantungnya berhenti berdetak. Ia tersentak. Perempuan itu benar-benar Helena. Meskipun penampilannya kini telah banyak berubah, namun Hans tetap mengenalinya.


Wajah Hans memucat. Bahkan ia merasa sesak bernapas. Ia sama sekali tak menyangka jika Tuhan kembali mempertemukan mereka.


Helena yang ia yakini akan kembali padanya suatu hari nanti. Dan kini harapan itu benar-benar terwujud. Helena yang ia cintai benar-benar berada di hadapannya.


Hans memandang wajah Nadine. Ia tak melihat ekspresi terkejut di wajahnya seperti yang ia rasakan kini. Bahkan tatapan matanya kosong.


"Kau kenapa, Hans?" Tanya Joyce yang mendapati pria itu berdiri terpaku.


"Akibat kecelakaan itu Helena kehilangan penglihatannya," ungkap Joyce.


Hans tersentak untuk kedua kalinya.


"Helena…" 


"Kau mengenalnya?" Tanya Joyce.


"Dia...dia...Helena istriku," jawab Hans.


Kini giliran Joyce tersentak kaget. Ia berharap jika Hans tengah bercanda. Namun dari tatapan mata Hans pada Helena, ia pun sadar jika Hans tak sedang berbohong padanya.


"Helena…ini aku, Suamimu, Hans," ucap Hans dengan suara bergetar. Ia lalu meraih tangan Helena.


"Hans...benarkah itu kau?" Tanyanya.


Helena meraba wajah Hans dengan kedua tangannya. Tak lama kemudian ia bersujud di kaki suaminya tersebut.


"Maafkan aku, Hans...aku kejam, aku bodoh," ucapnya terisak.


"Bangunlah, kau tak perlu bersujud di depanku. Aku sudah memaafkanmu." Hans menarik tubuh Helena dan membantunya berdiri.


Hans lalu menyeka air mata Helena. Wajah keduanya kini tak berjarak. Hans kemudian merengkuh tubuh Helena ke dalam pelukannya. Keduanya salin menangis menumpahkan kerinduan yang telah puluhan tahun terpendam.


Sementara dari tempat yang tak begitu jauh dari tempat mereka berdiri, sepasang mata memandang adegan tersebut dengan perasaan hancur.


Bersambung….


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕



Visual Keenan