
Di kantor Freddy.
"Sudah lebih dari sebulan Helena pergi tanpa kabar," ucap Freddy.
"Kau masih saja memikirkannya," ucap Celine ketus.
Freddy membuang napas kemudian beranjak dari kursinya. Ia lalu berdiri di dekat jendela dan melayangkan pandangannya ke arah luar jendela.
"Sudahlah, lupakan perempuan itu," ucap Celine. Ia lalu melangkah mendekati Freddy dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria yang juga atasannya tersebut.
"Lihat aku. Aku tak akan pernah meninggalkanmu," ucap Celine.
Freddy membalikkan badannya. Ia kemudian menatap wajah Celine. Perempuan itu tiba-tiba mendekatkan bibirnya ke arah wajah Freddy. Bibir keduanya pun saling beradu.
Di saat bersamaan dua orang memasuki ruangan tersebut. Salah seorang perempuan menenteng sebuah kotak bekal di tangannya.
Pemandangan yang tersaji di depan keduanya tentu saja sangat mengejutkan. Perempuan yang memegang kotak berisi makanan tersebut seketika merasa tubuhnya kehilangan kekuatannya. Kotak berisi makanan itu terlepas dan jatuh dari tangannya.
Freddy kaget. Sontak ia menepis tangan Celine dari pinggangnya.
"Fred...Fred...Freddy? Apa yang kau lakukan…" ucap permpuan itu dengan suara bergetar.
"Sarah…? Keenan? Mengapa kalian ada di sini? Tanyanya dengan wajah gugup.
Sarah hanya berdiri terpaku dengan wajah pucat.
"Jadi benar selentingan yang kudengar belakangan ini. Tuan Freddy main gila dengan sekretarisnya!" seru Keenan dengan raut wajah penuh amarah.
"Aku bisa menjelaskan ini!" seru Freddy.
"Apa yang baru saja kulihat sudah cukup menjelaskan semuanya!" timpal Sarah.
Sarah merasa tubuhnya begitu lemah hingga ia hampir kehilangan keseimbangan. Keenan dengan sigap menopang tubuh sarah kemudian mengajaknya duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.
"Aku dan Celine tak memiliki hubungan apapun," tegas Freddy.
Keenan melangkah mendekat ke arah ayah angkatnya tersebut.
"Aku lebih percaya dengan apa yang kulihat daripada ucapan dari mulut anda yang busuk itu!" seru Keenan.
"Jaga ucapanmu! Bagaimanapun kau harus bersikap hormat padaku!" seru Freddy.
"Laki-laki seperti Anda tak pantas dihormati!" seru Keenan.
"Kau,....!" Freddy mengangkat tangannya ke arah wajah Keenan namun tertahan.
"Tampar saja itu bisa membuat Anda puas!" Keenan justru mendekatkan wajahnya ke arah ayah angkatnya tersebut.
Tiba-tiba Celine melangkah menghampiri Sarah yang sedari tadi hanya duduk diam di sofa.
"Kau rupanya istri Freddy yang sakit-sakitan itu?" Tanyanya sinis.
Celine melirik ke arah sarah dengan pandangan penuh kebencian.
"Perempuan tak punya harga diri! Kau tahu? Freddy pria beristri!"
"Tentu saja aku tahu. Aku bahkan tahu segalanya tentang suamimu, Nyonya Sarah."
"Apa yang kau katakan?"
"Jauh sebelum mengenalku, suamimu telah memiliki kekasih gelap bernama Helena. Mereka bahkan menjalin hubungan di belakangmu lebih dari dua puluh tahun."
"Celine! Cukup!" seru Freddy.
Ia tak menyangka jika Celine berani membuka rahasia Freddy di hadapan Sarah dan Keenan. Rahasia besar yang ia simpan rapat selama hampir tiga puluh tahun.
Ucapan Celine seketika membuat hati Sarah terasa hancur. Ia benar-benar tak menyangka, Freddy suaminya melakukan hal menyakitkan. Ia membagi cintanya dengan dua orang perempuan sekaligus.
"Sarah, jangan dengarkan dia," ucap Freddy. Ia mencoba menyentuh pundak Sarah namun Sarah menepisnya. Ia justru menatap wajah suaminya penuh amarah. Tak berselang lama sebuah tamparan keras mendarat di pipi Freddy.
Namun tiba-tiba Sarah memegang kepalanya. Ia tampak merasakan kesakitan yang luar biasa. Keenan pun bergegas menghampiri Sarah.
"Ibu baik-baik saja?" Tanyanya.
Sarah tak menjawab. Ia justru merasa tubuhnya makin lemah. Tak lama berselang perempuan itu pun pingsan di dekapan Keenan.
"Ibu! Bangun! Buka matamu!" seru Keenan dengan wajah panik.
"Lihat perbuatan kalian! Aku tak akan memaafkan kalian jika sesuatu terjadi padanya!" seru Keenan.
Ia pun lalu membopong ibu angkatnya dan keluar dari ruangan tersebut. Keenan melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Freddy melangkah menuju pintu.
"Kau mau kemana?" Tanya Celine.
"Aku harus ke rumah sakit sekarang!"
"Freddy! Tunggu! Freddy!" Celine terus memanggil Freddy namun pria itu tak menghiraukannya. Freddy terus berjalan menjauhi sekretarisnya tersebut.
"Sial!" umpatnya.
*****
Di rumah sakit.
Keenan menunggu Sarah di depan ruang ICU dengan wajah cemas. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak Freddy juga tengah menunggu dengan ekspresi serupa.
"Mengapa Anda tega melakukan ini pada perempuan lemah itu?" Tanya Keenan dengan raut wajah penuh amarah.
Freddy hanya terdiam. Entah apa yang ada di pikirannya saat ini.
"Aku minta maaf…" ucapnya lirih.
"Maaf? Apakah kata maaf bisa mengembalikan keadaan? Bagaimana jika Ibu…" Keenan tak melanjutkan kata-katanya.
"Anda tahu, Ibu bahkan sudah bersusah payah memasak. Ia memakai gaun barunya karena ingin terlihat cantik di depan suaminya. Tapi apa yang ia dapat? Anda justru sedang berbuat me**m dengan perempuan tak tahu malu itu."
"Aku laki-laki normal! Aku masih membutuhkan cinta dan perhatian. Dan hal itu yang sudah bertahun-tahun tak aku dapatkan dari Sarah."
"Rupanya Anda tak bisa membedakan antara cinta dan *****," ucap Keenan ketus.
Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan Ibu saya, Dokter?" Tanya Keenan.
"Pasien kritis. Ia terus memanggil nama Keenan," jawabnya.
Keenan pun bergegas masuk ke ruangan tersebut.
"Ibu...bertahanlah. Ibu akan baik-baik saja," ucap Keenan dengan mata berkaca-kaca.
"Kee...Keenan…" ucap Sarah terbata-bata.
"Iya, Ibu. Aku disini." Keenan menggenggam tangan Sarah.
"Ibu merasa waktu Ibu telah tiba," ucapnya lemah.
"Ibu tak boleh berkata begitu. Ibu akan sembuh," ucap Keenan. Kini ia tak dapat lagi membendung air matanya.
"Surat...surat... wasiat telah aku buat. Dan Rio yang menyimpannya."
"Aku sama sekali tak peduli pada surat wasiat itu! Ibu harus sembuh!" seru Keenan dengan berlinang air mata.
Tiba-tiba nafas Sarah tersengal. Perlahan tangan Sarah terlepas dari genggamannya.
"Ibu! Ibu! serunya. Namun Sarah tak menjawab. Ibu angkatnya tersebut baru saja menghembuskan nafas terakhirnya.
Teriakan panjang yang memilukan terdengar hingga ke luar ruangan. Freddy pun bergegas masuk ke ruangan Sarah. Pria itu hanya berdiri terpaku saat mendapati Keenan menangis di atas tubuh Sarah. Perempuan itu tak bergerak sedikit pun.
"Apa yang terjadi?" Tanya Freddy.
Keenan tak menjawab. Ia terus menangis di atas tubuh Ibu angkatnya tersebut.
Freddy melangkah mendekati Sarah yang telah berhenti bernafas. Ia menatap mata Sarah yang masih basah.
"Anda lihat, akibat perbuatan Anda? Ibu harus pergi untuk selamanya…" ucap Keenan dengan suara bergetar.
"Maafkan Aku, Sarah…" Freddy berlutut di lantai. Mengucapkan beribu kata maaf dan penyesalan yang tak mungkin lagi di dengar Sarah.
Bersambung...
Hai kak..dukung terus karyaku ya. Jangan lupa beri like, komment, favorite dan hadiah. Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan, author akan sangat berterima kasih.😍