
New York, 09.00 a.m.
Nadine tiba di kamar hotel tempatnya menginap. Dari kejauhan terlihat seorang pria berdiri di depan pintu kamarnya. Ia pun melangkah mendekati pria tersebut.
"Joe? Apa yang kau lakukan di depan kamarku?" tanyanya.
"Ternyata benar dugaanku, kau tidak akan meninggalkan New York lebih dari satu minggu," ucap Joe.
Nadine membuang nafas.
"Tak ada lagi yang membuatku bahagia di dalam rumahku," ucap Nadine. Tiba-tiba tangisnya pecah.
"Apa maksud ucapanmu?"
"Nenek yang aku sayangi telah meninggal dunia. Dan kini kehadiran perempuan itu membuatku semakin merasa muak!" ucapnya terisak.
"Apakah perempuan yang kau maksud itu adalah ibumu?" tanya Joe. Nadine menganggukkan kepalanya.
"Ia begitu saja meninggalkanku dan ayahku. Dan setelah tiga puluh tahun tiba-tiba ia kembali untuk meminta maaf.
Aku tak bisa menerimanya. Apa yang telah ia lakukan padaku terlalu menyakitkan. Seribu kata maaf pun tak akan pernah sanggup mengembalikan perasaan hatiku yang telah terluka begitu dalam karena kecewa," ungkapnya.
"Kau hanya butuh waktu untuk berdamai dengan hatimu sendiri," ucap Joe.
"Aku tak bisa memaafkannya!" pekik Nadine.
"Kau hanya belum mau memaafkannya. Tanyakan pada hati kecilmu sendiri. Apakah kau bisa hadir di dunia ini tanpanya? Meskipun perlu waktu yang begitu lama, aku yakin ibumu telah menyesali kesalahannya. Ia ingin memperbaiki semuanya," ucap Joe.
Nadine terdiam sejenak, lantas ia berpikir. "Joe benar, aku bukan tak bisa memaafkan ibu, tapi aku belum berusaha untuk memaafkannya," gumamnya.
"Tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain berkumpul bersama keluarga. Lihat aku. Aku tak memiliki siapapun," ucap Joe.
"Mungkin ucapanmu benar. Aku harus membuka pintu maaf untuk ibuku," ucap Nadine.
Joe mendekatkan wajahnya ke arah Nadine. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Kau tahu, aku paling tidak suka melihat perempuan menangis," ucapnya sambil menyeka air mata Nadine.
Untuk pertama kalinya keduanya bersitatap dengan jarak wajah yang begitu dekat. Entah siapa yang memulai, bibir keduanya saling beradu. Nadine merasa nyaman dengan kecupan itu.
Nadine melingkarkan kedua tangannya di pinggang Joe. Ia dapat merasakan hangat tubuh pria yang bahkan belum pernah menyatakan perasaannya itu.
Setelah beberapa saat bercumbu mesra, keduanya menyadari jika mereka masih berada di depan kamar Nadine.
"Astaga! Konyol sekali kita!" Joe terkekeh. Nadine tersipu. Ia hanya menangkupkan kedua tangannya di wajahnya.
"Kau mau masuk?" goda Nadine sambil membuka pintu kamarnya.
"Aku takut terjadi sesuatu yang kuinginkan," ucap Joe. Nadine terkekeh.
"Kau beristirahat lah, sampai jumpa," ucap Joe. Nadine melambaikan tangannya kemudian tersenyum.
Nadine masuk ke dalam kamarnya. Ia lantas merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Peristiwa yang baru saja terjadi di antara keduanya membuat Nadine menyadari jika hatinya telah terpaut pada Joe, Nadine benar-benar telah menemukan cinta barunya.
*****
Di rumah Sean.
Sean dan keluarganya terlihat tengah mengitari meja makan. Hanya Fiona yang tak berada di ruangan tersebut.
"Kemana Fiona?" tanya Sean sambil menuangkan nasi ke dalam piringnya.
"Setelah kembali dari rumah sakit, Fiona sering mengunci diri di dalam kamarnya. Bahkan untuk makan pun ia memilih melakukannya di dalam kamar," ucap Nikita.
"Sepertinya kakak merasa kehilangan rasa percaya dirinya. Kakak menganggap jika di dunia ini dia lah yang memiliki wajah terburuk," timpal sang adik, Sofia.
"Apa yang harus kita lakukan untuk membuat putri kita kembali seperti dulu?" tanya Nikita.
Sean belum menjawab pertanyaan Nikita, namun tiba-tiba terdengar suara teriakan Fiona dari dalam kamarnya.
Ketiganya pun beranjak dari ruangan tersebut dan bergegas menuju kamar Fiona.
Nikita membuka pintu kamar Fiona. Tampak Fiona terduduk di lantai kamarnya sambil menangis.
"Kau kenapa, Fio?" tanya sang ibu.
"Lihat wajahku sekarang. Aku gadis yang berwajah paling buruk di dunia ini!" serunya.
Nikita merengkuh Fiona ke dalam pelukannya. "Kau jangan berkata begitu. Wajahmu mungkin tak secantik dulu, namun kau seharusnya bersyukur, Tuhan masih memberimu kesempatan hidup lebih lama lagi. Tuhan begitu menyayangimu dan ingin kau berubah menjadi manusia yang lebih baik lagi," ucap sang ibu.
"Apakah peristiwa kecelakaan yang kualami adalah teguran dari Tuhan? Aku sering memandang rendah orang lain, bahkan pada adikku sendiri," gumamnya.
Fiona memandang wajah Sofia. Tiba-tiba tangisnya pecah. "Maafkan aku, Sofi," ucapnya.
"Mengapa Kakak meminta maaf?" tanya Sofia.
"Selama ini aku sering memandang rendah dirimu. Aku menganggap diriku yang memiliki banyak kelebihan darimu hingga membuatku tinggi hati. Aku baru sadar jika teguran kecil dari Tuhan seketika mampu merubah hidupku," ucapnya.
"Aku sudah memaafkan Kakak sebelum Kakak meminta maaf," ucapnya. Fiona lantas menghambur ke pelukan Sofia.
Sean dan Nikita memandang adegan itu dengan mata berkaca-kaca. Keduanya bahkan lupa kapan terakhir kali melihat Fiona dan Sofia berpelukan.
*****
Di rumah Emily.
Gibran terlihat tengah melamun di dalam kamarnya. Ia hampir tak menyadari jika seseorang masuk ke dalam kamarnya.
"Kak," ucap Alicya sambil menyentuh lembut pundak sang kakak. Gibran sedikit berjingkat.
"Mengapa kau tak mengetuk pintu?" tanyanya sedikit kesal.
"Kakak terlalu asyik melamun, hingga tak mendengar saat aku mengetuk pintu," jawab Alice.
"Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Kakak?" tanya Alice sambil duduk di sisi Gibran.
"Belakangan ini bayangan tentang Aurora berulang kali melintas," jawab Gibran.
"Apakah maksud Kakak, Aurora ibu Andromeda?" tanya Alicya.
Gibran menganggukkan kepalanya.
"Jika boleh kutahu, bayangan apa yang melintas itu?" tanya Alice.
"Perempuan itu sepertinya pernah begitu dekat denganku di masa lalu," jawab Gibran.
"Setahuku hanya kak Nadine perempuan yang pernah dekat dengan Kakak."
"Lantas, mengapa bayangan tentang Aurora sering mengganggu pikiranku? Apakah masa laluku berkaitan dengannya?"
"Mungkin Kakak bisa bertanya secara langsung pada kak Aurora."
"Kau benar. Besok aku akan menemuinya. Aku ingin semuanya jelas."
"Bagaimana dengan kak Nadine?"
Gibran membuang nafas.
"Ia telah benar-benar membatalkan pertunangan kami," ucapnya.
"Kenapa?"
"Entahlah. Aku sudah mendesaknya untuk mengatakan alasannya membatalkan pertunangan kami, namun ia tak pernah mau mengatakannya dengan jujur. Kini ia bahkan telah berada di kota New York. Aku tak tahu kapan ia akan kembali lagi ke kota ini."
"Sebaiknya kakak beristirahat. Kakak jangan terlalu banyak pikiran," ucap Alice. Ia lantas beranjak dari tempat duduknya dan berlalu dari hadapan Gibran.
"Aurora...aku harus menemuinya besok. Aku tak ingin bayangan tentangnya terus menggangguku," gumamnya.
Tiba-tiba Gibran memegang kepalanya. Dan untuk ke sekian kalinya bayangan Aurora dan dirinya di masa lalu kembali melintas. Membuat kepalanya terasa begitu nyeri. Gibran semakin penasaran, apakah Aurora adalah bagian dari masa lalunya yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupannya kini.
Bersambung….
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕