
Malam hari di rumah Aurora.
"Apakah tadi paman Sean mengajakmu ke rumahnya?"
"Ya, Ibu. Nenek sangat baik padaku. Tapi…" Andro tak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa, Sayang?" Tanya sang ibu. Ia menatap mata Andro yang mulai berkaca-kaca.
"Bibi Fiona. Mengapa ia begitu membenciku, Ibu? Dia terus memanggilku anak ha**m," ucap Andro.
Hati Aurora merasa teriris mendengar ucapan putranya tersebut.
"Apa karena memang aku tak punya ayah?" Andro tiba-tiba beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam kamarnya. Bocah itu membenamkan wajahnya di bantal dan menangis.
Andro menangis. Ya, anak genius itu kini benar-benar merasa terluka. Ucapan dari mulut pedas Fiona ternyata begitu membekas di hati anak sekecil Andro. Anak kecil polos yang tak mengerti apapun. Anak yang sama sekali tak berdosa.
"Menangislah, Nak, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik," ucap Aurora. Perempuan itu pun kini terduduk lemas di lantai. Ia mulai lelah dengan sandiwara ini. Ia mulai jenuh dengan kebohongan demi kebohongan yang selama ini ia katakan pada Andro.
Di saat semuanya akan terbongkar, Tuhan justru telah menyiapkan skenario tak terduga untuknya. Semua bukti yang Keenan dapatkan dengan susah payah justru hilang. Bukti yang nantinya akan menuntun Andro atas jawaban pertanyaannya selama ini mengenai siapa sosok ayah kandungnya.
Semuanya bertambah kacau saat Gibran, tiba-tiba mengalami kecelakaan dan harus mengidap amnesia karenanya.
Tak ada lagi harapan baginya untuk membuat Gibran mengakui Andromeda sebagai anak kandungnya.
"Tuhan...adilkah ini?" gumam Aurora di sela tangisnya.
Aurora memandang punggung Andro. Ia lalu bangkit dari duduknya dan mendekat ke arah Andro. Karena lelah menangis, bocah itu tertidur dengan bantal yang basah.
Aurora membelai rambut pirang Andro.
"Maafkan Ibu, Sayang. Ibu tahu keadaan ini sulit bagimu. Tapi ini juga tak mudah bagi Ibu," ucapnya dengan mata sembab.
Andromeda adalah semangat hidupnya. Andromeda adalah satu-satunya harta berharga baginya. Namun apa pantas jika ia terus membuatnya tersiksa dengan cemoohan Fiona yang tak lain bibinya sendiri. yang selalu menyebutnya anak ha**m.
*****
Pagi harinya.
Aurora tampak tengah menyiapkan sarapan di meja makan. Tiba-tiba Andro keluar dari kamarnya dengan wajah kisut dan kurang bersemangat. Ia lalu menarik kursi kemudian mendudukinya.
"Are you OK, my dear?" (Apa kau baik-baik saja, Sayang?)Tanya sang ibu.
Andro menggelengkan kepalanya.
"Jika Ibu mengajakmu mengunjungi Mister handsome, apakah wajahmu akan terus seperti ini?" Tanyanya.
Seketika Andro menjadi bersemangat. Wajahnya. berseri-seri dan tersenyum bahagia.
"Sungguh? Hari ini kita akan bertemu Mister handsome?" Tanyanya penuh semangat.
"Mandilah, dan segera habiskan makananmu," ucap sang Ibu.
Andro pun beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah berganti pakaian pun ia krnudian menghampiri sang ibu di meja makan.
Andro mengambil sebuah sandwich kemudian menghabiskannya dengan cepat.
"Astaga! Lihat wajahmu." Aurora terkekeh. Ia lalu mengambil selembar tissue kemudian menyeka mulut Andro yang berlepotan saus tomat.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka, keduanya pun lalu menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit.
Andro membuka ruang perawatan Gibran.
"Selamat pagi," ucapnya dengan wajah ceria. Gibran yang saat itu tengah menikmati sarapannya menoleh ke arah pintu.
"Kau…?" Tanya Gibran sedikit kaget.
"Bagaimana kabar Mister?" Tanyanya.
"Baik, Nak. Hari ini aku diperbolehkan pulang," ucapnya.
"Sungguh?" Tanya Andro dengan mata berbinar. Gibran menganggukkan kepalanya.
"Kau bersama siapa?" Tanyanyakemudian.
"Aku bersama ibuku. Ia menunggu di luar," jawab Andro.
"Mengapa tak kau ajak ibumu masuk?" Tanyanya.
Andro bergegas keluar. Aurora sempat kaget karena Andro tiba-tiba menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam ruangan tersebut.
Aurora kini berdiri tepat di hadapan Gibran. Ayah kandung Andro. Netra mereka bertemu.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Aurora.
"Aku merasa lebih baik. Hari ini aku diperbolehkan pulang," jawabnya.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada perempuan yang berdiri di samping Gibran. Zi memandang Aurora dengan pandangan berbeda.
"Dokter memperbolehkanku pulang hari ini," ucapnya.
Zivanna tersentak. Ia justru merasa berita itu adalah kabar buruk. Gibran yang dalam waktu singkat ini telah mencuri hatinya, harus meninggalkan rumah sakit. Itu berarti Zi tak dapat melihat wajahnya lagi.
"Syukurlah," ucapnya datar.
Pintu kembali terbuka. Kali ini Emily dan Alicya masuk ke ruangan tersebut.
"Kau sudah siap untuk kembali ke rumahmu?" Tanya Emily.
Meskipun Gibran belum mengingat siapapun, namun ia percaya jika Emily dan Alicya adalah benar keluarganya.
Gibran menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada perempuan berkursi roda itu.
Pandangan Emily tiba-tiba tertuju pada Aurora dan Andro.
"Hai, sejak kapan kalian berada disini?" Tanyanya.
"Baru beberapa saat yang lalu, Nyonya," jawabnya.
"Apa aku boleh mengantar Mister handsome sampai ke rumah Nyonya?" Tanya Andro.
"Tentu saja boleh, kau anak yang baik," ucapnya.
"Astaga! Apa yang kau katakan, Andro? Mengapa kau ingin ke rumah Gibran?" Aurora menggumam dalam hati.
Alicya, satu-satunya adik perempuan Gibran mulai membereskan barang sang kakak.
Setelah menyelesaikan administrasi, Gibran dan keluarganya pun meninggalkan rumah sakit. Sementara Zivanna, perawat muda itu hanya mampu menatap kepergian pria yang dikaguminya dengan hati yang terluka karena merasa begitu kehilangan.
*****
Aurora terpaksa mengikuti keinginan Andro untuk ikut menuju rumah Gibran.
Mereka pun harus berada di dalam mobil yang sama.
Meskipun selama ini Ibu kandung Gibran sekaligus Nenek Andromeda itu selalu bersikap baik padanya, namun tetap saja Aurora merasa canggung.
Namun tidak bagi Andromeda, sang anak justru begitu akrab dengan Gibran. Keduanya bisa tertawa lepas di waktu kebersamaan itu.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah. Mungkin ini rumah paling mewah yang pernah dilihat Andromeda.
"Apakah ini rumahku?" Tanya Gibran.
"Ya. Di rumah ini kau dilahirkan, Nak," jawab Emily.
Gibran memandang rumah itu. Ia belum mengingat apapun terkait rumah mewah tersebut. Semua hal yang ada di pikirannya kini berwarna abu-abu bahkan gelap.
Mereka pun masuk ke dalam rumah.
Di dinding ruang tamu terpasang sebuah foto keluarga berukuran besar. Gibran pun mengamati potret tersebut.
Tampak Emily dan wajah sang ayah saat masih hidup. Foto itu diambil saat Gibran baru saja menyelesaikan kuliahnya. Alicya saat itu masih begitu kecil.
"Kau lihat foto itu. Itu fotomu saat kau baru saja menjadi sarjana. Kau tampak begitu tampan dengan toga itu," ucap Emily.
"Apakah pria ini ayah?" Tanyanya.
"Benar. Namun dia meninggal beberapa bulan setelah kau lulus kuliah," ucap Emily dengan wajah sedih.
Tiba-tiba Gibran merasakan nyeri hebat di kepalanya.
"Kau kenapa, Nak?" Tanya sang ibu dengan wajah panik.
"Apa Kakak mengingat sesuatu?" timpal Alicya.
Gibran terus memegangi kepalanya. Ia semakin merasa kesakitan. Dan pria itu pun akhirnya jatuh pingsan.
Bersambung….
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕