ANDROMEDA

ANDROMEDA
Perlahan muncul



Di ruang perawatan Felice. 


Hans terlihat tengah menyuapi Felice. Akibat stroke yang dideritanya, Felice kesulitan melakukan aktifitasnya. Bahkan untuk makan sekalipun, ia tak bisa melakukannya sendiri.


Dengan penuh kesabaran Hans menyuapi sendok demi sendok menu makan siang Felice. Meskipun sesekali Felice memuntahkan kembali makanan yang telah masuk ke mulutnya, Hans tak mengeluh. Ia akan membersihkannya, kemudian kembali menyuapi sang ibu hingga ia memastikan jika Felice telah benar-benar kenyang.


"Aku sudah berbicara dengan dokter. Ibu diperbolehkan pulang hari ini," ucap Hans sambil membersihkan mulut Felice dengan selembar tissue.


Felice hanya mengangguk. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan. Selain kesulitan bergerak, perempuan berusia 70 tahun itu juga kesulitan untuk berbicara.


"Na...Na…Na...dine" ucap Felice terbata-bata namun Hans paham dengan maksud ucapan sang ibu.


"Nadine? putriku baik-baik saja. Beberapa hari yang lalu aku menelponnya. Mungkin tak lama lagi Nadine pulang. Aku juga merindukannya," ucap Hans.


"Sekarang Ibu minum obat." Hans mengambil beberapa butir obat dan segelas air putih yang terletak di atas meja. Dengan hati-hati ia membantu Felice menelan butiran obat tersebut.


Tak berselang lama ia membenahi bantal di tempat tidur Felice kemudian membaringkan tubuh sang ibu. 


Hans memandang wajah tua Felice. Perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan susah payah. Sang ayah yang telah meninggalkannya saat usianya masih begitu belia membuatnya menjadi orang tua tunggal bagi dirinya. 


Tiba-tiba pintu berderit.


Tampak Helena dan Mira memasuki ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Helena.


"Dokter memperbolehkan ibu pulang hari ini," jawabnya.


"Syukurlah, sebisa mungkin aku akan merawat Ibu," ucap Helena dengan senyum tulus.


Felice memandang Helena. Tiba-tiba air matanya menetes. Felice yang selama ini begitu membenci Helena dan selalu berpikiran buruk tentangnya. Namun Helena justru bersikap baik padanya bahkan ia bersedia merawat dirinya.


"He...He...le...na...ma...ma...af," ucap Felice terbata-bata namun Helena paham dengan maksud ucapan ibu mertuanya.


Helena duduk di tepi ranjang. Tangannya meraba mencari tangan Felice kemudian menggenggamnya.


"Ibu tak perlu meminta maaf, Ibu tak punya salah apapun. Justru dosaku terlalu banyak pada Ibu, Hans, dan Nadine," ucap Nadine. Buliran bening menetes dari sudut matanya.


Untuk pertama kalinya mertua dan menantu itu berpelukan. Hans menatap keduanya dengan tatapan haru. Setelah puluhan tahun akhirnya ia bisa melihat ibu dan istrinya saling memaafkan. Hati Mira pun terasa hangat melihat adegan tersebut. Kekuatan maaf memang luar biasa.


*****


Gibran telah pulang ke rumahnya. Namun setelah peristiwa perampokan itu ia merasa satu per satu peristiwa yang terjadi di masa silamnya perlahan muncul meskipun masih begitu samar.


Seperti siang itu bayangan Nadine terus melintas di kepalanya. Bayangan wajahnya, New York, kebersamaan mereka, hingga cincin dan baju pertunangan silih berganti muncul di pikirannya.


"Arrrghhh!" teriaknya sambil memegang kepalanya.


Teriakannya yang cukup keras terdengar hingga ke luar kamar. Alicya saat itu baru saja pulang dari sekolah dan melintas di depan kamar sang kakak. Ia pun bergegas masuk ke tersebut.


"Kakak kenapa?" tanyanya dengan wajah panik.


"Kepalaku sakit!" pekiknya.


"Kakak sudah minum obat?" tanyanya.


Gibran menggeleng.


Alicya bergegas mengambil botol obat dan segelas air putih yang terletak di atas meja. Ia lalu membantu Gibran menelan obat tersebut. Perlahan sakit kepala yang dialaminya pun berkurang.


"Kakak istirahat saja. Jangan memikirkan hal yang berat," ucap Alicya sambil meletakkan kembali botol obat dan gelas di atas meja. Ia hendak melangkah keluar kamar namun tiba-tiba Gibran menarik tangannya.


"Ada apa, Kak?" 


"Siapa Nadine?" tanyanya.


Alicya lalu duduk di sisi Gibran.


"Mengapa Kakak tiba-tiba menanyakan nama itu?" 


"Nama itu seharian melintas di kepalaku. Nadine, New York, cincin tunangan, baju tunangan. Apakah Nadine dan semua itu berhubungan denganku?" tanyanya.


Alicya membuang nafas.


"Kak Nadine adalah kekasih Kakak. Kalian bahkan hampir bertunangan. Namun yang kudengar sekarang kak Nadine berada di luar negeri," jawab Alicya.


"Mengapa dia harus pergi?"tanya Gibran.


"Entahlah. Mungkin Kakak bisa menanyakannya pada ibu," jawabnya.


Gibran kembali merasakan nyeri di kepalanya.


"Sudahlah, Kakak jangan terlalu memaksakan diri. Semua butuh waktu dan proses," ucap Alicya sambil membenahi selimut yang menutupi tubuh sang kakak. Tak berselang lama, gadis itu pun keluar dari kamar tersebut.


"Ada apa dengan kakakmu?" tanya Emily yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Siapa?"


"Kak Nadine."


"Apa saja yang ia ingat tentang Nadine?" 


"Kakak mengingat New York, cincin pertunangan dan baju pertunangan."


"Perlahan ingatannya mulai kembali," ucap Emily.


"Apa yang harus kita katakan jika kak Nadine telah membatalkan pertunangannya dan pergi ke luar negeri?" tanya Alicya.


"Biarkan kakakmu sendiri yang tahu alasannya. Suatu hari nanti ingatannya akan pulih," ucap Emily.


*****


Di ruang perawatan Fiona.


Fiona terlihat mengaduk-aduk kotak makan siangnya.


"Mengapa kau tak memakan makananmu?" tanya Nikita.


"Aku tidak lapar," jawabnya.


"Kau harus makan agar cepat pulih," ucap sang ibu.


"Lebih baik aku mati daripada hidup dengan wajah cacat!" serunya.


"Astaga! Apa yang kau katakan?" 


"Aku tak punya semangat hidup lagi!"


"Kau seharusnya bersyukur. Kecelakaan yang kau alami tak sampai merenggut nyawamu. Tuhan masih memberimu kesempatan untukmu. Kau harus menjadi lebih baik," ucap Nikita.


"Untuk apa aku hidup dengan wajah cacat? Tak ada seorang pun pria yang mau mendekatiku!" seru Fiona. Tiba-tiba air matanya menetes.


"Jangan berkata begitu. Kau harus bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kau alami."


"Ibu mudah saja berkata begitu karena Ibu tak mengalami yang kualami," ucapnya dengan suara bergetar.


"Ibu tahu perasaanmu, namun kau tak bisa terus begini. Masa depanmu masih panjang," ucap sang ibu.


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. 


Seorang dokter masuk ke ruangan tersebut.


"Nona Fiona, kau akan menjalani operasi wajah sekarang," ucapnya.


"Apakah wajahku bisa kembali seperti semula, Dokter?" tanya Fiona.


"Jika dilihat dari luka wajahmu yang mencapai 90 persen, kecil kemungkinan wajahmu bisa kembali seperti sedia kala," ucap dokter.


"Apakah ada cara yang bisa mengembalikan wajahku seperti dulu?"


"Hanya operasi jalan satu-satunya. Kau seharusnya bersyukur, serpihan kaca itu tak mengenai kornea matamu. Jika hal itu terjadi besar kemungkinan kau akan mengalami kebutaan." ucap dokter.


"Dalam keadaan seperti ini aku harus bersyukur? Tuhan tak adil padaku!" serunya.


"Fiona!" Jaga ucapanmu!" bentak Nikita.


"Jadi, apakah kau keberatan melakukan operasi wajahmu? Jika kau keberatan kami bisa membatalkannya. Namun kami tak bertanggung jawab jika suatu hal yang lebih buruk terjadi padamu di kemudian hari," ucap dokter.


Fiona hanya terdiam.


"Lakukan saja apa yang terbaik menurut Dokter," ucap Nikita.


"Baiklah, Nyonya," ucap dokter.


Bersambung...


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕