ANDROMEDA

ANDROMEDA
Sang Mantan



Bab 29


New York, 09.00 am.


"Mengapa kau tiba-tiba mendatangiku?" Tanya seorang pria saat seorang perempuan mendatangi kantornya.


Perempuan itu justru menangis dan menghambur ke pelukannya.


"Seseorang menyakitimu?" Tanyanya lagi. Perempuan itu tak menjawab. Ia lalu merenggangkan pelukannya. 


"Aku ingin kembali padamu, Sammy," ucapnya dengan mata sembab.


"Apa kau sudah kehilangan akal?" Tanya pria itu.


"Aku benar-benar menyesal pernah menolakmu."


"Aku sudah menikah," jawab Sammy. Ia lalu bangkit dari sofa menuju jendela ruang kerjanya.


Perempuan itu sedikit terperanjat.


"Menikah? Bahkan dulu kau bilang aku cinta matimu!"


"Itu dulu. Sebelum kau memilih pria kaya itu menjadi kekasihmu. Perasaanku padamu kini telah hilang."


"Kau bohong, Sam. Aku dapat melihat cinta itu masih tersisa di tatapan matamu."


"Stella kini tengah mengandung anakku."


"Stella? Gadis sombong itu?"


"Kurasa ia perempuan yang jauh lebih baik darimu."


"Omong kosong. Dulu kau mengemis cinta padaku. Begini sikapmu padaku sekarang 'heh?"


"Sudahlah. Aku sedang malas berdebat denganmu, pergilah. Aku sibuk hari ini."


"Kumohon, Sam," ucap perempuan itu sambil menatap wajah pria yang pernah begitu mengaguminya itu dari jarak yang begitu dekat dengan wajahnya. Ia lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Sam.


"Lepaskan!" Serunya. Namun perempuan itu justru semakin mengeratkan pelukannya. Di saat bersamaan seseorang membuka pintu kamar yang tak tertutup rapat itu.


"Sammy!" Jeritnya. Sammy bergegas melepas tangan perempuan itu dari pinggangnya. Stella lalu menghampiri keduanya. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Sammy.


"Kurang ajar! Begini rupanya yang kau lakukan di belakangku?" Tanyanya.


"Stella! Aku bisa menjelaskannya. Ini tak seperti yang kau lihat!" Seru Sammy.


Stella tak menghiraukan ucapan Sammy. Perempuan yang tengah hamil itu pun bergegas keluar dari ruang kerja suaminya. Sammy mengejar Stella namun perempuan itu telah menaiki sebuah taksi.


"Kau lihat? Ini akan menjadi masalah besar bagiku," ucapnya.


"Mungkin dia akan meminta berpisah denganmu. Bukankah itu hal bagus untuk kita?" Tanyanya.


"Nadine! Jaga mulutmu!" Gertak Sammy.


"Pergi dari ruanganku sekarang! Atau security yang akan memaksamu keluar!"


Nadine pun memutuskan untuk meninggalkan kantor Sammy. Dulu pria itu begitu mengaguminya. Namun Nadine sedikit pun tak pernah menghargai perasaannya. Baginya Gibran adalah pria yang terbaik saat itu.


Nadine berjalan di sepanjang trotoar. Di kanan kirinya hanyalah gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Nadine tak asing dengan pemandangan itu. Ia pernah beberapa tahun tinggal di kota itu saat melanjutkan kuliahnya.


Ia lalu duduk di sebuah bangku yang berderet di sepanjang trotoar. Nadine menyesali sikapnya pada Sammy. Ia pun heran mengapa dirinya bersikap sejauh itu pada Sammy. 


Nadine terlalu kecewa pada Gibran. Pria itu sungguh telah melukai perasaannya.


 Tiba-tiba seorang pria berkostum badut menghampirinya.


"You look not good," ucapnya.


Nadine tak menghiraukannya.


"Kurasa kau sedang patah hati," ucapnya.


Nadine mulai merespons pria tersebut.


"Kau orang Indonesia?" Tanya Nadine.


"Ya. Aku tengah menyelesaikan pendidikanku," jawabnya.


"Mengapa kau memakai kostum…?" Nadine tak melanjutkan kata-katanya.


"Aku baru pulang dari bekerja."


"Bekerja?"


"Aku mencari uang tambahan untuk kuliahku."


"Mengapa kau memilih pekerjaan ini?"


"Aku merasa bahagia saat melihat anak-anak tertawa. Masa kecilku begitu pahit. Aku diasuh paman dan bibi. Kedua orang tuaku meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kau tahu, aku membiayai sendiri kuliahku. Meskipun sebagian berasal dari uang beasiswa. Kita belum berkenalan. Panggil aku Joe." Pria itu mengulurkan tangannya.


"Nadine," ucap Nadine sambil menjabat tangan kawan barunya.


"Boleh kulihat telapak tanganmu?" Tanya Joe. Nadine menautkan alisnya.


"Kau bisa meramal?" Tanyanya.


"Entahlah. Aku mempelajari caranya dari seorang kawanku. Kau boleh percaya atau tidak. hampir semua orang yang kubaca garis tangannya mengatakan jika ramalanku mendekati kebenaran."


Nadine lalu membalikkan telapak tangan kirinya. Joe lalu tampak serius mengamati garis tangan Nadine.


Nadine menarik tangannya kembali.


Tiba-tiba ia merasa sedih.


"Kurasa kau telah mengatakan hal yang benar." Ucapnya.


"Kau lari dari masalahmu?" Tanya Joe.


Nadine mengalihkan pandangannya ke arah jalanan yang begitu padat.


"Aku hanya perlu ruang dan waktu untuk sendiri. Masalah yang kuhadapi terlalu berat." Suara Nadine mulai parau.


"Cerita lah. Agar bebanmu sedikit berkurang," ucap Joe.


Nadine kembali menatap Joe. Wajah seorang badut yang seharusnya membuatnya terhibur, namun tidak sama sekali baginya saat itu.


"Aku merasa kecewa. Calon tunanganku menyimpan rahasia besar di masa lalunya. Ia keras kepala. Bagaimana mungkin aku bertunangan dengan pria yang pernah menyentuh perempuan lain! Ia bahkan enggan mengakuinya."


"Lantas, dengan menghindarinya, kau pikir bisa merubahnya begitu saja?"


"Aku hanya ingin kejujuran. Itu saja"


"Meskipun kejujuran itu akan melukaimu?" Tanya Joe.


"Lebih baik aku terluka karena sebuah kejujuran. Aku paling membenci kebohongan!"


"Kembali lah. Kau bisa menyelesaikan masalahmu. Kau dan calon tunanganmu hanya perlu berbicara empat mata."


"Lalu bagaimana dengan pertunanganku. Aku tak ingin kehilangan Gibran."


"Terkadang kita harus menyiapkan diri untuk hal terburuk. Meskipun hal itu belum pasti," ucap Joe.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang?" 


"Selesaikan masalahmu. Jangan justru menghindarinya. Aku yakin saat ini pria itu tengah kebingungan karena tak tahu keberadaanmu."


"Aku benar-benar tak siap bila harus kehilangannya," ucap Nadine.


Joe membuang napas. 


"Jika kau sungguh-sungguh mencintainya, kau juga harus menerima masa lalunya."


"Ini tak sesederhana yang kau pikirkan."


"Wanita itu mengejar calon tunanganmu?" Tanya Joe. Nadine mengernyitkan keningnya. Ia merasa benar-benar tengah berhadapan dengan seorang peramal hebat.


"Aurora namanya. Ia hanya meminta pengakuan."


"Kurasa hal itu wajar."


"Bagaimana jika Aurora benar. Mungkin sekarang baru perempuan itu yang meminta pengakuan. Bagaimana jika ada orang lain yang kembali meminta pengakuannya?"


"Orang lain?" Tanya Joe.


"Anak itu bernama Andromeda. Dia anak laki-laki Aurora."


"Kau berpikir jika Andromeda adalah anak kandung Gibran?" Tanya Joe


"Kurasa itu masuk akal," jawab Nadine.


"Kau perlu pembuktian," ucap Joe kemudian.


"Gibran keras kepala. Jangankan untuk tes DNA. Mengakui perbuatannya di masa lalu saja tak mau."


"Kau perlu tangan orang lain."


"Kau benar. Salah seorang kawanku tengah merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuannya."


"Baik benar kawanmu," ucap Joe.


"Namanya Keenan. Dia adalah mantan kekasih Aurora."


"Masalahmu sungguh rumit, nona," ucap Joe. Ia bangkit dari duduknya. Kemudian mengambil sesuatu dari tas kecilnya.


"Jika kau membutuhkanku untuk teman ngobrol, hubungi saja nomorku," ucapnya sambil menaruh selembar kartu nama di bangku bekas tempatnya duduk.


"Aku harus segera pergi. Anak-anak itu pasti telah menungguku,"ucapnya kemudian.


"Sampai jumpa, nona," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Nadine.


Nadine mengambil kartu nama yang ditinggalkan Joe di samping tempat duduknya.


"Kau teman yang nyaman untuk berbagi, Joe," gumamnya.


Bersambung…


Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕