ANDROMEDA

ANDROMEDA
Sebuah pelajaran



Di rumah sakit.


Setelah beberapa jam, seorang dokter keluar dari ruang ICU. Sean dan Nikita bergegas menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan putri kami, Dokter?" tanya Sean dengan wajah panik.


"Pasien mengalami luka yang cukup parah di bagian wajah karena terkena serpihan kaca mobil," jawab Dokter.


Nikita membungkam mulutnya sendiri. Tiba-tiba badannya terasa begitu lemas.


Sofia dengan sigap menopang tubuh Nikita kemudian mengajaknya duduk di bangku.


Tiba-tiba terdengar suara jeritan dari dalam ruang ICU tempat Fiona menjalani pemeriksaan.


"Wajahku! Tidak! Kenapa dengan wajahku!" pekiknya.


Sean beserta Nikita dan Sofia bergegas masuk ke ruangan tersebut. Tampak Fiona berteriak histeris. Seluruh wajahnya dibalut perban. Ia kemudian melemparkan cermin yang ada di tangannya ke lantai dan cermin itu pun seketika hancur berantakan.


"Astaga! Fiona! Apa yang kau lakukan!" seru Sean.


"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Sofia sambil melangkah mendekati ranjang Sofia.


"Puas Kau sekarang! Bukankah ini salah satu do'amu? Kau senang jika aku celaka 'kan?" tanyanya sinis.


"Demi apapun! Aku tak pernah menginginkan Kakak celaka!" pekik Sofia.


"Omong kosong!" seru Fiona.


"Aku menyayangimu, Kak," ucap Sofia hendak meraih tangan sang kakak namun Fiona menepisnya dengan kasar.


"Pergi dari ruangan ini sekarang! Aku tak butuh belas kasihanmu!" serunya.


"Fiona! Apa yang Kau katakan? Dia adikmu!" seru Nikita.


Fiona tak menjawab. Ia justru memalingkan wajahnya dari Sofia.


Sofia yang sedari tadi menguatkan hati menerima perlakuan sang kakak, akhirnya tak tahan lagi. Gadis yang selalu direndahkan oleh kakaknya itu berlari keluar dari ruangan tersebut.


"Sofia! Tunggu! Sofia!" Sean terus memanggil putri bungsunya namun gadis itu tak menghiraukan panggilan sang ayah. Sofia terus berlari dan menyusuri lorong rumah sakit hingga tiba-tiba tubuhnya bertabrakan dengan seseorang.


"Sofia? Kau…" ucap pria yang yang baru turun dari mobilnya tersebut.


"Bos…bos Keenan. Maaf, aku tak memperhatikan jalanku," ucap Sofia sambil menyeka air matanya.


"Sedang apa Kau di tempat ini?" tanya Keenan. 


"Aku...aku...mengantar kakakku. Ia baru saja mengalami kecelakaan," jawabnya.


"Apakah aku boleh bertemu dengan keluargamu?" tanya Keenan.


Sofia mengangkat wajahnya kemudian menatap Keenan. Ia tak menyangka jika di luar kantor atasannya tersebut bersikap begitu baik.


"Mari, Saya antar ke ruangan kakak saya," ucap Sofia. Keduanya pun lalu berjalan beriringan menuju ruang Nikita.


"Ayah, Ibu. Ini adalah Tuan Keenan. Dia adalah atasanku," ucap Sofia pada kedua orangtuanya yang kini berada di luar ruangan.


Sean dan Nikita lalu bergantian menyalami Keenan.


"Bagaimana keadaan kakak Sofia?" tanyanya.


"Putri kami terus histeris. Dokter terpaksa menyuntikkan obat penenang," jawab Sean.


"Apakah keluarga Tuan ada yang sedang dirawat di rumah sakit ini?" tanya Nikita.


"Tidak, Nyonya. Aku datang kesini hendak menjenguk kawanku. Ia di dalam ruangan ini," ucap Keenan sambil menunjuk ruang perawatan Andromeda yang berada tepat di depan ruang perawatan Fiona.


"Bukankah ini ruang tempat Andromeda dirawat? Apakah Tuan mengenalnya?" tanya Nikita.


"Ya. Nyonya benar. Kawanku bernama Andromeda. Meskipun usia kami terpaut begitu jauh, namun kami bisa berteman dengan baik, Andro anak yang pintar dan menyenangkan. Apakah Tuan dan Nyonya mengenal Andromeda?" tanya Keenan.


"Tentu saja kami mengenalnya. Andromeda adalah anak dari keponakan kami, Aurora," ucap Sean.


"Astaga! Sempit sekali dunia ini." Keenan terkekeh.


Tiba-tiba pintu ruangan Andro terbuka. Tampak Aurora keluar dari ruang tersebut. Ia sedikit kaget saat mendapati Keenan berada di depan ruang Fiona dan tengah mengobrol dengan paman dan bibinya.


"Keenan? Sejak kapan Kau datang?" tanyanya.


"Aku baru saja datang," jawab Keenan.


"Bagaimana keadaan Andro?" tanyanya penuh perhatian. 


"Andro baru saja makan dan minum obat. Sekarang dia sedang istirahat," jawab Aurora.


"Sebenarnya yang Anda bilang kawan itu Andromeda ataukah ibunya?" goda Sean.


Pertanyaan Sean membuat Aurora tersipu. "Kami hanya berteman," ucap keduanya hampir bersamaan. Sean terkekeh.


"Apakah kalian sudah lama saling mengenal?" tanya Nikita.


Rupanya Sean dan Nikita paham dan dapat menangkap ada sesuatu yang tersembunyi dari cara keduanya berpandangan. Sean berdehem kecil dan itu membuat keduanya salah tingkah.


*****


Di rumah Emily.


"Andromeda sudah sadar, Ibu," ucap Gibran di sela makan malam mereka.


"Syukurlah," ucap Emily. Raut lega terpancar di wajahnya.


"Ibu, aku mulai jenuh setiap hari hanya di rumah," ucap Gibran.


"Lantas, apa yang ingin Kau lakukan? Kondisimu belum terlalu pulih," ucap Emily.


"Aku ingin kembali ke kantor," ucapnya.


"Untuk masalah perusahaan sementara ini bisa dihandle oleh orang kepercayaan ibu," ucap Emily.


"Jika aku menyibukkan diri mungkin perlahan aku bisa mengingat kembali tentang masa laluku," ucap Gibran.


Emily membuang nafas.


"Itulah Kau. Dari dulu tak bisa membuat ibu menolak permintaanmu," ucap Emily.


Gibran terkekeh.


"Mulai besok pagi aku akan pergi ke kantor," ucap Gibran.


"Tak perlu secepat itu, Nak."


"Bukankah lebih baik jika ingatanku cepat pulih?" 


"Terserah Kau saja. Ibu tak bisa lagi melarang apa yang ingin Kau lakukan."


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada adik perempuannya, Alicya. 


"Dari tadi Kau hanya diam. Apa kau sedang sariawan?" goda Gibran.


"Aku bahkan tak mengerti apa yang kalian bicarakan. Bagaimana aku ikut mengobrol," gerutunya sebal.


"Lihat wajahmu. Jelek sekali kalau sedang kesal," ejek Gibran.


Ucapan Gibran ternyata berhasil membuat Alicya tertawa.


"Laki-laki itu tak pernah mengganggumu lagi 'kan?" tanya Gibran.


"Aku sudah memblokir nomor dan media sosialnya. Dia tak akan bisa menghubungiku lagi!" serunya. Tiba-tiba wajahnya berubah kesal.


"Bagaimana Kau bisa mengenal laki-laki sepertinya? " tanya Gibran.


"Dia terus menerus mengirim pesan di akun media sosialku. Awalnya aku tak menghiraukannya. Tapi lama kelamaan aku pun penasaran. Kupikir dia laki-laki yang baik. Ternyata…" Alicya tak melanjutkan kata-katanya.


"Mungkin itu bisa menjadi pelajaran bagimu. Jangan mudah percaya pada orang lain. Gadis sepertimu, ibarat bunga sedang mekar-mekarnya. Tentu saja akan banyak kumbang yang mendekat," ucap Gibran.


Tiba-tiba Gibran beranjak dari kursinya.


"Kakak mau kemana?" tanya Alicya.


"Kakak mau ke rumah sakit menjenguk Andromeda," jawabnya.


Alicya meneguk minumannya dengan cepat. "Aku ikut!" serunya.


Setelah berpamitan, keduanya pun berlalu dari hadapan Emily.


Gibran melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Baru sehari tak menjenguk Andro, entah mengapa ia merasa begitu rindu pada bocah tersebut.


"Apakah Aku boleh bertanya satu hal pada Kakak?" tanya Alicya saat berada di dalam mobil.


"Apa yang ingin Kau tanyakan?"


"Bagaimana perasaan Kakak saat berada di dekat Andromeda?"


"Hatiku merasa nyaman dan hangat saat berada di dekatnya," ucap Gibran.


Bersambung…


Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕