ANDROMEDA

ANDROMEDA
Insecure



Gibran tengah memandangi sebuah album foto. Berjam-jam ia memandangi puluhan foto yang tersimpan di dalam album tersebut namun tak sedikit pun ingatannya muncul.


Ia meletakkan album tersebut ke atas ranjangnya. Tiba-tiba pandangannya tertuju sebuah bingkai foto yang berada di atas nakas.


Bingkai itu berisi foto dirinya bersama seorang perempuan. Keduanya terlihat mesra.


"Siapa perempuan ini? Mengapa aku tak sama sekali tak mengingatnya ?" gumamnya.


Suara derit pintu sedikit mengagetkannya. Alicya, adik perempuannya lalu masuk ke kamarnya.


"Kakak terlihat bingung," ucapnya.


Alicya memandang sang kakak yang tengah memandangi potret seorang perempuan.


"Siapa perempuan ini? Aku sama sekali tak mengingatnya? Mengapa ia begitu dekat denganku?" Tanyanya kemudian.


Alicya lalu duduk di sisi Gibran lalu mendekatkan wajahnya ke arah album yang berada di tangan sang kakak.


"Namanya kak Nadine," ucapnya sambil tersenyum.


"Nadine? Apakah perempuan ini teman dekatku?" Tanyanya.


"Kak Nadine adalah kekasihmu. Bahkan tak lama lagi kalian akan bertunangan," ungkap Alice.


Gibran memegang kepalanya. Rasa nyeri itu kembali menyerangnya.


Alice bergegas mengambil bingkai foto yang berada di tangan Gibran. Ia lalu membantu sang kakak berbaring.


"Setiap kali aku mencoba mengingat sesuatu. Aku akan merasakan nyeri hebat di kepalaku," ucap Gibran.


"Semua perlu waktu, Kak. Kakak tak perlu memaksakan diri," ucap Alice.


"Bagaimana jika aku harus kehilangan ingatanku untuk selamanya?"


"Jangan katakan itu, aku akan terus membantumu. Aku yakin suatu hari nanti ingatan Kakak akan pulih seperti semula."


Pintu kembali terbuka. Kali ini Emily sang ibu memasuki kamar tersebut.


"Ada apa, Nak?" Tanyanya.


"Kakak mencoba mengingat masa lalunya. Tapi tiba-tiba kepalanya sakit," jawab Alice.


Emily memandang Gibran sambil tersenyum. "Kau jangan terlalu memaksakan dirimu, semua perlu waktu, Nak," ucapnya.


"Bolehkah aku menanyakan sesuatu, Ibu?" Tanyanya.


"Apa yang ingin kau tanyakan, Nak?"


"Apakah aku pernah menyakiti seseorang?" Tanyanya. Emily dan Alice saling memandang.


"Kau pria yang baik, kau tak pernah menyakiti siapapun," ucap sang Ibu.


"Apakah ini hukuman dari Tuhan atas dosa masa laluku?" Tanyanya.


Emily tersentak. Ia tak memiliki jawaban atas pertanyaan putranya tersebut.


Emily sama sekali tak tak tahu perihal masa lalu Gibran. Gibran yang pernah menanamkan benih di rahim seorang perempuan. Dan perempuan itu telah melahirkan seorang anak laki-laki bernama Andromeda.


"Alice, aku bosan di dalam kamar. Apakah kau mau mengajakku ke taman?" Tanyanya.


Alice mengangguk.


Keduanya pun lalu keluar dari kamar tersebut dan menuju sebuah taman.


Sesampainya di taman Flamingoo, Alicya mengajak sang kakak duduk di sebuah bangku taman.


Gibran memandang sekeliling taman yang sore itu tak terlalu ramai didatangi pengunjung.


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang anak kecil yang menaiki sepeda tak jauh dari tempat duduknya. Ia merasa mengenal bocah berambut pirang itu.


"Hai...kau berada di taman ini juga?" Tanyanya sambil melambaikan tangan.


"Mister handsome…" ucap bocah itu.


"Andromeda, sedang apa kau di sini?" Tanya Alice.


"Aku baru saja selesai belajar bersama kawan-kawanku di taman sebelah sana," jawabnya.


Andro turun dari sepedanya lalu duduk di samping Gibran.


"Sudah begitu lama kita tidak mendatangi taman ini," ucap Andro.


"Kita?" Tanya Gibran.


"Dulu kita sering bermain di taman ini," jawab Andro sambil tersenyum.


"Sungguh? Apakah hubungan kita sedekat itu?" Tanya Gibran.


"Tentu saja. Kita kawan baik, Mister," jawab Andro.


Gibran diam-diam memandang wajah bocah berusia tujuh tahun tersebut. Ia merasa wajahnya begitu mirip dengan fotonya saat kecil yang beberapa waktu ia lihat di buku album.


"Apa yang sedang Mister pikirkan?" Tanya Andro yang seketika membuyarkan lamunannya.


Gibran kemudian menggelengkan kepalanya.


"Oh ya, dimana rumahmu?"


"Aku tinggal bersama ibuku di belakang toko kue Aurora. Kurasa Mister pernah mengunjungi rumahku."


"Maafkan aku. Saat ini aku belum mampu mengingat apapun. Aku merasa menjadi orang paling bodoh," ucapnya dengan senyum getir. Andro lalu menatap iba pada Gibran. 


"Namanya Aurora."


"Kau mengatakan jika kau tinggal bersama ibumu. Lalu dimana ayahmu?"


Andro terdiam dan menundukkan kepalanya. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.


"Apakah aku telah mengatakan sesuatu yang membuatmu sedih?" Tanyanya.


"Sejak kecil aku tak pernah mengenal siapa ayahku. Aku bahkan tak tahu ayahku masih hidup atau sudah meninggal," jawab Andro.


Gibran tersentak.


"Apakah ibumu tak pernah memberitahumu?" 


"Ibu selalu sedih dan menangis jika aku menanyakannya. Aku hanya tak ingin membuat ibu sedih. Aku tak pernah menanyakan hal itu lagi."


"Kau memang anak baik, Andro," ucap Gibran sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


Tiba-tiba seorang anak perempuan menghampirinya.


"Andro, kau mau pulang sekarang?" Tanya Florencia kawan Andro yang juga selalu belajar bersamanya di taman tersebut.


Gadis itu lalu memandang Gibran.


"Apakah pria ini Ayahmu?" Tanyanya.


" Bukan, Floura. Kami hanya berteman." Andro terkekeh.


"Wajah kalian mirip seperti Ayah dan anak," ucap Floura.


Gibran dan Andro saling memandang kemudian tersenyum.


Andro beranjak dari duduknya.


"Kurasa aku harus pergi sekarang," ucap Andro.


"Hati-hati, dan sampai jumpa," ucap Gibran.


"Sampai jumpa, Mister," ucap Andro.


Bocah itu pun berlalu dari hadapan Gibran. Sementara pria itu hanya memandang punggung Andro dan Florencia yang semakin menjauh.


*******


Sesampainya di rumah.


"Selamat sore, Ibu," sapa Andro pada Aurora yang tengah menyiram tanaman bunga kesayangannya di teras rumah.


"Kau sudah pulang, Nak," ucapnya.


"Aku baru saja bertemu Mister handsome di taman," ucap Andro.


Aurora tercengang. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.


"Apakah kalian sengaja bertemu di taman itu?" Tanyanya.


"Tidak, Ibu. Aku tak sengaja bertemu dengannya," jawab Andro.


"Syukurlah," gumam Aurora.


"Aku merasa kasihan padanya. Mister handsome tak mengingat apapun tentang masa lalunya," ucap Andro.


"Kau cepatlah mandi. Ibu sudah menyiapkan air panas untukmu." Aurora mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Terima kasih bu," ucap Andro. Bocah itu pun kemudian berlalu dari hadapan sang ibu.


Aurora membuang napas.


Aurora merasa amnesia yang kini dialami Gibran adalah sebuah hukuman dari Tuhan untuknya. Gibran yang selama ini selalu berpura-pura tak mengenalnya. Bahkan pria itu menyangkal perbuatan yang pernah dilakukan padanya delapan tahun silam.


Ia berpikir jika selamanya ingatan Gibran tak pernah kembali. Kalaupun ingatannya kembali pulih, ia tak yakin pria itu akan mengakui perbuatannya.


Tiba-tiba  Aurora merasa takut jika suatu hari saat ingatannya kembali, pria itu akan merebut Andro dari sisinya. Aurora sangat takut kehilangan Andro. Hanya Andromeda satu-satunya harta berharga yang ia miliki. 


Andromeda adalah bintang di hatinya dan cahaya bagi hidupnya. Dialah alasan Aurora untuk tetap bertahan. Tiba-tiba buliran bening mengalir di pipinya.


Andromeda keluar dari kamar mandi. ia mendapati sang ibu yang tengah melamun.


"Ibu baik-baik saja?" Tanyanya.


Aurora bergegas menyeka air matanya dan mencoba tersenyum pada Andromeda.


Bersambung...


Hai kak, dukung terus karyaku ya..jangan lupa beri like, koment, vote dan hadiah.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.😍 😍😍😍


Tetap menjadi pembaca setiaku yaaa



Visual Gibran



Visual Aurora