
Pagi itu Aurora bersiap berangkat menuju kios, namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Ia hampir terperanjat saat mendapati Gibran dan Emily berdiri di depan pintu rumahnya.
"Selamat pagi," sapa Emily.
"Selamat pagi," sahut Aurora.
"Kau pasti heran mengapa kami mendatangi rumahmu pagi-pagi begini. Tapi aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu," ucap Emily.
Aurora lalu mempersilahkan keduanya masuk ke ruang tamu.
"Apakah hal penting yang ingin Nyonya bicarakan?" tanya Aurora.
"Aku ingin bertanya beberapa hal padamu. Kuharap kau menjawabnya dengan jujur," ucap Emily. Tiba-tiba jantung Aurora berdegup kencang.
"Belakangan ini bayangan tentang dirimu sering melintas di kepalaku dan aku merasa begitu tersiksa. Aku merasa pernah begitu dekat denganmu. Aku sudah berusaha keras mengingat semua tentangmu, tapi aku selalu gagal. Semuanya masih terlihat samar dan abu-abu," timpal Gibran.
"Apa kau dan Gibran pernah menjalin suatu hubungan di masa lalu?" tanya Emily. Aurora tersentak. Ia tak menyangka jika Gibran juga mulai mengingat sesuatu tentang dirinya.
"Kami...kami hanya berteman, Nyonya," jawab Aurora.
"Jika kita hanya berteman, mengapa bayanganmu terus muncul di kepalaku? Di bayangan itu bahkan kau berada bersamaku di sebuah kamar dan…Aww!" Tiba-tiba Gibran memegangi kepalanya. Nyeri hebat itu kembali menyerang.
"Begitulah yang sering dialaminya belakangan ini. Setiap bayangan itu melintas, ia akan merasakan nyeri hebat di kepalanya," ucap Emily.
Aurora terdiam sejenak, lantas ia berpikir.
"Apakah ini saatnya? Apakah aku harus mengatakan semuanya?" gumamnya.
"Aku minta maaf, Nyonya. Aku harus segera membuka kiosku," ucap Aurora. Ia lantas beranjak dari tempat duduknya.
"Aku belum selesai bicara," ucap Emily.
"Apalagi yang harus aku katakan? Aku sudah menjawab pertanyaan Nyonya.
"Kau memang sudah menjawab pertanyaanku. Tapi aku tahu kau tak berbicara jujur."
"Apa maksud ucapan Nyonya?"
"Kau tak berbicara jujur."
"Sekali lagi aku minta maaf, aku harus segera berangkat ke kiosku."
Aurora melangkah menuju ke arah pintu.
"Aurora! Berhenti! Kami tak akan meninggalkan rumah ini sebelum kau mengatakan semuanya!" seru Emily.
"Maaf aku tak punya banyak waktu. Aku harus pergi sekarang."
Gibran tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Ia lantas menarik lengan Aurora.
"Lepas!" serunya.
"Katakan semuanya. Jangan terus membuatku kesakitan," ucap Gibran.
"Lepaskan tanganku atau aku akan berteriak!" seru Aurora. Gibran pun perlahan melepaskan tangannya dari lengan Aurora.
Tak lama berselang seseorang masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ada apa ini?" tanyanya.
"Keenan. Kau…?" ucap Aurora.
"Ya. Andromeda yang memintaku datang ke rumahmu. Beberapa saat yang lalu ia mengirim pesan padaku."
"Wajahmu terlihat begitu ketakutan. Apa yang ia lakukan padamu?" tanya Keenan.
"Aku tak melakukan apapun. Aku hanya ingin dia berkata jujur padaku," jawab Gibran.
"Kejujuran apa yang ingin kau dengar?"
"Belakangan ini bayangan tentangnya begitu sering melintas dan membuat
kepalaku begitu kesakitan. Apa aku salah jika aku mencari tahu kebenaran tentang masa laluku?"
Keenan membuang nafas.
"Kebenaran...apakah jika aku mengatakan kebenaran itu kau tak akan menyangkalnya lagi?"
"Apa maksud ucapanmu, Keenan? Apakah kau tahu sesuatu tentang masa lalu Gibran?" timpal Emily.
"Tentu saja. Aku tahu semuanya," ucap Keenan.
Tiba-tiba Aurora menatap lekat mata Keenan. Tatapan itu mengisyaratkan agar Keenan tak mengatakan apapun pada Gibran dan ibunya.
Aurora terdiam sejenak, lantas ia berpikir.
"Keenan benar, aku tak mungkin selamanya menyimpan rahasia ini," gumamnya. Aurora menganggukan kepalanya perlahan. Tiba-tiba buliran bening menetes dari sudut matanya.
"Yang akan aku katakan pada kalian berdua adalah sebuah rahasia besar mengenai Gibran," ucap Keenan.
Emily memandang wajah Keenan yang tak lain adalah anak dari istri ke dua mendiang suaminya.
"Suatu malam, tepatnya delapan tahun yang lalu. Saat itu aku dan Aurora masih menjalin hubungan. Dia bermaksud mendatangi kamar apartemenku. Namun malam itu kebetulan Nadine lebih dahulu mendatangi kamarku," ucap Keenan.
"Nadine? Apakah yang kau maksud Nadine…" Gibran tak melanjutkan kata-katanya.
"Ya. Nadine yang hampir menjadi tunanganmu," jawab Keenan.
"Apa yang dilakukan Nadine di kamarmu?"
"Kami tak melakukan apapun. Ia hanya mengajakku untuk menemaninya datang ke acara kampus kami. Aku tak menyadari jika Aurora datang ke kamar apartemenku. Ia sempat melihat kami keluar dari dalam kamar dan ia pun salah paham."
"Lantas, apa yang.Aurora lakukan setelahnya?" tanya Emily.
"Perempuan mana yang tak sedih dan kecewa jika calon tunangannya berada di dalam kamar bersama perempuan lain?" timpal Aurora. Pandangan mata Gibran dan Emily kini tertuju pada Aurora.
Tiba-tiba Gibran memegang kuat kepalanya. Untuk ke sekian kalinya bayangan yang sama melintas dan kali ini ini tampak semakin jelas.
"Lantas, apa yang kau lakukan?" tanya Emily.
"Malam itu aku pergi ke bar. Dan di tempat itu aku bertemu seorang pria. Pria itu juga tengah patah hati. Ia mengajakku untuk minum. Awalnya aku menolak, namun ia terus membujukku. Akhirnya aku minum hingga aku mabuk hingga tak sadarkan diri. Aku meminta agar mengantarku pulang, namun ternyata…" Aurora tak melanjutkan kata-katanya, tangisnya kembali pecah.
"Pria itu membawa Aurora ke sebuah motel. Di tempat itulah ia mengambil mahkota berharga milik Aurora," timpal Keenan.
"Siapa pria yang kau maksud?" tanya Emily.
"Pria itu kini berada di sisimu, Nyonya," jawab Keenan.
Emily lantas memandang wajah Gibran.
"Mak-maksudmu pria itu adalah Gibran?" tanyanya. Keenan menganggukkan kepalanya.
"Astaga!" seru Emily. Ia lantas membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"Kurasa kini kalian tahu mengapa belakangan ini bayangan tentang Aurora dan kejadian di motel itu sering muncul di kepalanya," ucap Keenan.
Gibran menundukkan kepalanya. Ia tak tak memiliki kata apapun untuk menyangkal ucapan saudara tirinya tersebut.
"Apakah setelah malam itu terjadi sesuatu padamu?" tanya Emily.
"Benih yang telah ditanam putramu ternyata tumbuh di rahim Aurora," timpal Keenan.
"Apakah kau mengandung anak Gibran?" tanya Emily. Seketika tangisnya pecah.
Aurora menganggukkan kepalanya.
"Ya. Aku mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki. Aku memberinya nama Andromeda," jawab Aurora dengan berurai air mata.
Sekali lagi Emily tersentak.
"Andro-Andromeda? Apakah itu berarti Gibran adalah ayah kandung Andromeda?" tanya Emily.
"Kurasa semua sudah jelas sekarang," jawab Keenan.
Gibran tertegun. Di satu sisi ia merasa lega karena kebenaran itu sudah terungkap. Namun di satu sisi sulit baginya untuk menerima kenyataan jika Andromeda adalah anak kandungnya.
Tiba-tiba Andromeda muncul dari dalam kamarnya. Bocah kecil itu lantas berlari dan menghambur ke pelukan Gibran.
"Ayah," ucapnya sambil bercucuran air mata. Andro merasa begitu bahagia, pertanyaannya selama ini terjawab sudah. Gibran, pria yang selama ini ia panggil dengan sebutan mister handsome ternyata adalah ayah kandungnya.
Gibran mendekap erat tubuh Andro. Selama ini ia begitu menyayangi Andromeda, namun ia tak menyangka jika Andromeda adalah anak kandungnya.
Bersambung….
Tembus 500 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕