
Bab 24
"Hari pertunangan kita semakin dekat," ucap Nadine saat mendatangi apartemen Gibran malam itu.
Gibran menghela napas. Lalu bangkit dari duduknya.
"Aku berencana mengajakmu ke butik malam ini. Kita akan memesan baju untuk pertunangan kita," ucapnya lagi.
"Kurasa kau telah memiliki banyak baju.
Setelan jas yang kumiliki kurasa juga cukup pantas untuk kukenakan di acara pertunangan nanti."
"Aku tak ingin terlihat biasa-biasa saja di depan semua orang."
"Bagiku kau adalah yang tercantik," ucap Gibran.
"Aku bisa pergi sendiri jika kau keberatan." Ucap Nadine kesal. Ia membalikkan badannya hendak keluar dari ruang kerja kekasihnya tersebut.
"Tunggu!" Serunya. "Kita pergi berdua," ucap Gibran kemudian.
Nadine lalu menghambur ke pelukan Gibran. Keduanya lalu menuju sebuah butik untuk memesan baju pertunangan mereka.
Mobil Gibran berhenti di sebuah butik. Mereka pun memasuki butik yang tak terlalu ramai pengunjung itu.
Seorang perempuan berusia dua puluhan menyambut mereka ramah saat mereka masuk ke butik tersebut.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.
"Kami ingin memesan baju untuk acara pertunangan," jawab Nadine.
"Mari kuantar ke dalam," ucapnya.
Nadine dan Gibran mengikuti penjaga toko tersebut.
"Perempuan ini yang akan mengukur dan mencatat ukuran baju kalian."
Tangan gadis itu menunjuk ke arah seorang perempuan yang tengah duduk di hadapan sebuah mesin jahit. Setelah berbisik singkat pada perempuan tersebut, gadis itu pun berlalu dan kembali ke ruang depan.
Penjahit baju itu tampak sudah berumur, namun ia masih terlihat cantik.
Dengan cekatan ia mengukur setiap bagian tubuh kedua pasangan itu menggunakan meteran jahit yang selalu melingkar di lehernya.
"Konsep baju pertunangan seperti apa yang ingin kalian pesan?" Tanyanya.
"Mewah dan berkelas," jawab Nadine.
Gibran menatap mata Nadine. Ia tampak tak setuju dengannya.
"Sederhana tapi elegant," ucap Gibran kemudian.
"Pesanan baju ini atas nama siapa?" Tanya perempuan itu lagi.
"Gibran," jawab Nadine.
"Baiklah, silahkan tinggalkan nomor ponselmu di buku ini. Aku akan menghubungi kalian jika pesanan kalian telah siap."
Keduanya pun meninggalkan butik.
"Mengapa kau tak setuju jika aku memesan baju pertunangan yang mewah dan berkelas?" ucapnya dengan wajah kesal.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu, pertunangan kita nanti tak perlu berlebihan," jawab Gibran.
"Tapi aku ingin membuat semua orang terkesan," bantahnya.
"Tak selalu sesuatu yang mengesankan itu harus mewah. Lagi pula itu hanya pesta pertunangan "kan? Bukan pesta pernikahan," ucap Gibran kemudian.
"Jadi menurutmu pertunangan kita tak penting?"
"Aku tak berkata begitu. Aku hanya mengatakan jika pertunangan tak harus semewah pesta pernikahan."
"Baiklah, kali ini aku menurut. Tapi pesta pernikahan kita nanti harus mewah," ucapnya. Gibran hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Nadine.
Seorang perempuan berpakaian modis memasuki butik. Kedua gadis yang ada di bagian toko tampak mengangguk hormat padanya saat perempuan itu melintas.
"Bagaimana butik hari ini?" Tanyanya.
Kasir pun menyodorkan sebuah buku padanya. Setelah melihat catatan dari buku tersebut, perempuan itu pun masuk ke dalam ruangan penjahit.
"Hari ini ada pesanan baju pertunangan, Nyonya," ucap perempuan itu.
"Bagaimana konsep yang mereka inginkan?"
"Sederhana dan elegan."
"Baiklah. Kurasa kau tahu apa yang mereka inginkan," ucap perempuan pemilik butik tersebut.
"Kurasa hari sudah malam. Kau bisa melanjutkan pekerjaanmu besok, Helena," ucapnya kemudian.
*****
Tengah malam itu hujan turun begitu lebat. Andro tidur lebih awal dari biasanya. Namun Aurora merasa kesulitan tidur. Ia pun memasuki kamar sang anak. Aurora lalu duduk di tepi ranjang. Ia memandang sang anak dalam lelapnya.
Aurora membelai lembut rambut sang anak. Tiba-tiba ia merasa kaget. Kening Andro terasa begitu panas. Ia pun lalu memegang badan Andro. Sekujur tubuhnya terasa panas. Perempuan itu sontak panik.
"Astaga! Andro! Bangun, nak. Jangan membuat mommy panik!" Pekik sang ibu.
Andro terus mengigau. Ia mengguncang tubuh Andro yang semakin terasa panas.
Tanpa ia sadari, air matanya mengalir.
Aurora membuka tirai jendela kamar Andro. Hujan masih belum juga reda. Ia bergegas mengambil kotak obat. Sayangnya ia tak menemukan obat yang ia cari di dalamnya.
Andro terus menggigil. Aurora menambahkan selimut untuknya. Ia berharap sang anak hanya kedinginan. Namun Andro masih saja menggigil.
Aurora hanya terdiam. Ia tak tahu harus melakukan apa. Tiba-tiba netranya tertuju pada ponsel yang ia letakkan di atas meja riasnya.
"Keenan. Dialah satu-satunya yang bisa membantuku," gumamnya.
Tanpa pikir panjang, ia pun lalu mengambil ponselnya dan menelepon mantan kekasihnya itu.
Ia beberapa kali menghubungi nomor ponsel pria itu, namun Keenan tak menjawab panggilan darinya.
Aurora makin panik. Ia memeluk tubuh Andro yang terus menggigil.
"Andro, jangan buat mommy takut, sayang," ucap sang ibu sambil terisak.
Suara petir yang menggelegar seakan menambah ketakutannya. Tiba-tiba lampu padam. Aurora meraba laci meja riasnya. Ia mencari lilin dan korek api yang ia simpan di dalamnya. Dalam remang ia menatap wajah Andro. Matanya masih terpejam. Namun mulutnya terus mengigau menyebut kata "Ayah".
Ponselnya tiba-tiba berdering. Keenan meneleponnya.
~Keenan: "Halo, Aurora? Ada apa kau menghubungiku tengah malam begini?"
~Aurora: "Andro...Androku sakit. Badannya panas dan menggigil. Ia juga mengigau. Obat penurun panasnya habis."
~Keenan: "Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang."
~Aurora: "Tapi di luar hujan begitu lebat, ~Keenan:" Aku segera datang."
Keenan mengakhiri telepon.
"Bertahanlah, sayang. Aku akan segera membawamu ke rumah sakit," ucapnya parau.
Beberapa menit kemudian seseorang mengetuk pintu rumahnya. Aurora bergegas berlari ke arah pintu depan.
"Kita bawa Andro ke rumah sakit sekarang," ucap Keenan dengan wajah panik. Bajunya tampak sedikit basah karena terpaan air hujan.
Keduanya lalu memasuki kamar Andro. Keenan lalu membopong bocah tersebut dan membawanya masuk ke dalam mobilnya.
"Maaf, aku merepotkanmu. Aku tak tahu harus meminta tolong pada siapa," ucap Aurora.
"Aku akan membantumu selagi aku bisa," ucap Keenan.
Mobil Keenan berhenti di depan rumah sakit. Seorang perawat menghampirinya saat ia memasuki pintu utama.
"Kenapa anak ini?" Tanyanya.
"Dia panas tinggi dan menggigil," jawab Keenan.
"Baiklah, Dokter akan segera memeriksanya. Silahkan kau urus administrasinya," ucap perawat itu.
Keenan menggeletakkan Andro di troli pasien. Tak lama dua orang perawat membawanya menuju ruang ICU.
Keduanya menunggu di depan ruang tersebut dengan wajah dan perasaan cemas.
"Your son will be right, he is a strong boy," hibur Keenan.
"Dia terus mengigau memanggil ayah," ucap Aurora dengan wajah sedih.
"Apa itu sering terjadi?" Tanya Keenan.
"In pertama kali anak itu mengigau memanggil ayah," jawab Aurora.
"Apakah Andro mendengar percakapan kita sore itu?" Tanya Keenan.
"Entahlah. Tapi saat aku masuk ke rumahku setelah kau pulang. Aku melihatnya tengah menangis di balik pintu."
"Seharusnya aku tak menyebut nama Gibran." Ucap Keenan lirih.
Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang ICU.
"Keluarga Andromeda." Ucapnya.
Aurora dan Keenan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan anakku, dokter?" Tanya Aurora dengan mata sembab.
Dokter itu menundukkan kepalanya.
Bersambung….
❤❤❤
Hai Kak, dukung karyaku ya.. jangan lupa beri like👍, komentar💬, vote✒ dan hadiah🎁. Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan, akan sangat berarti untuk author yang masih pemula ini.😍😍😍
Semoga kalian tetap jadi pembaca setia karyaku…💕💕