ANDROMEDA

ANDROMEDA
Gaun untuk Sarah



Pagi itu Gibran bersiap berangkat ke kantornya. Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya. Ia berharap Nadine yang meneleponnya. Dengan penuh semangat pria itu menjawab panggilan tersebut.


~Gibran: Halo


~Nomor asing: Halo, selamat pagi. Benar ini nomor tuan Gibran?


~Gibran: Ya. 


~Nomor asing: Saya Joyce, pemilik Joyce Boutique. Pesanan baju anda sudah siap sejak beberapa hari yang lalu. Apakah hari ini kau bisa datang ke butik untuk melakukan fitting?


~Gibran: Apakah harus hari ini?


~Nomor asing: Ya, tuan. Kau juga harus menyelesaikan sisa pembayaran bajumu.


~Gibran: Aku belum bisa datang ke butikmu. Simpan dulu bajuku di butikmu. Dan aku akan mentransfer sisa pembayarannya. Kirimkan saja nomor rekeningmu.


~Nomor asing: Baik, tuan, terima kasih, selamat pagi.


Gibran lalu mengakhiri percakapan. Ia kecewa. Nomor asing tersebut bukanlah Nadine.


Tiba-tiba wajah Nadine melintas di pikirannya. Nadine yang terkadang bersifat manja, kekanak-kanakan, dan bahkan menjengkelkan. Namun kini Gibran begitu merindukannya. Dua minggu setelah kepergiannya ke New York, pria itu benar-benar merasa ada yang hilang dari hidupnya.


Nadine pergi di saat menjelang hari pertunangannya. Tanpa ia tahu kapan perempuan itu akan kembali.


Dering ponsel sedikit mengagetkannya. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.


[From: Cindy


Hari ini jadwal bertemu klien di cafe Pandora. Meja nomor 20. Pukul 09.00 WIB.]


"Astaga! Aku hampir lupa," gumamnya. 


Gibran melirik arloji di pergelangan tangannya. Ia pun lalu bergegas meninggalkan kamar apartemennya menuju cafe.


Sesampainya di cafe, Gibran menuju meja yang telah dipesan oleh sekretaris pribadinya. Kursi di meja nomor 20 tampak masih kosong. 


Sambil menunggunya kedatangan klien barunya, Gibran memesan menu sarapan paginya pada pelayan cafe.


Ia telah selesai dengan sarapan paginya. Namun orang yang ditunggunya belum juga datang. Gibran mengambil ponselnya. Ia hendak menghubungi Cindy, sekretaris pribadinya. Namun tiba-tiba seorang pria mengenakan jas dan dasi berwarna senada menghampirinya.


"Selamat pagi, tuan Gibran. Maaf saya sedikit terlambat, ucapnya.


"Selamat pagi tuan. Saya yang sedikit terlalu cepat datang ke tempat ini." Ucap Gibran.


Keduanya pun berbicara mengenai bisnis perusahaan. Klien baru itu berniat menanam saham di perusahaan milik Gibran.


"Gibran William Alvaro," ucapnya saat membaca surat kerjasama di antara keduanya.


 "Ada masalah?" Tanya Gibran.


"Tak apa. Sepertinya nama belakangmu tak asing bagiku," jawabnya.


"Nama itu adalah nama belakang almarhum ayahku," ucap Gibran.


"Oh, maaf," ucapnya.


"Ini kartu namaku." Pria itu menyodorkan selembar kartu nama pada Gibran.


Setelah keduanya menandatangani surat kerja sama tersebut, pria itu pun meninggalkan cafe.


Gibran membaca sekilas nama klien barunya tersebut.


"Freddy Bastian," gumamnya.


******


Freddy keluar dari cafe. Lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah istrinya. Sudah dua malam pria itu menghabiskan malamnya bersama Celine. Sebelum istrinya curiga, pria itu memutuskan pulang.


Mobilnya melewati sebuah butik. Sebuah gaun indah tampak terpasang di maneqin yang sengaja dipajang diluar butik.


"Sudah lama aku tak memberi Sarah hadiah. Kurasa dia akan menyukai gaun itu," gumamnya.


Freddy turun dari mobilnya.


Pria itu memandang gaun tersebut untuk beberapa saat sebelum masuk ke dalam butik.


"Selamat pagi, tuan. Ada yang bisa kami bantu?" Sapa penjaga butik ramah.


"Aku ingin membeli gaun berwarna jingga itu." Freddy menunjuk gaun yang ada di luar butik.


"Baik, tuan. Saya akan segera membungkusnya untukmu," ucap penjaga butik itu kemudian.


"Aku ingin memberikan kado untuk istriku," ucapnya.


"Apakah istrimu berulang tahun, tuan?" Tanyanya. 


"Sungguh beruntung wanita yang menjadi istrimu," ucap penjaga butik itu kemudian. Freddy hanya tersenyum simpul.


Setelah membayar gaun yang harganya cukup mahal tersebut, Freddy pun keluar dari butik.


Dari dalam butik, Helena sedikit mendengar suara Freddy. Ia tentu saja tak asing dengan suaranya. Ia pun penasaran dan beranjak dari meja jahitnya.


"Mana pria yang baru saja datang ke butik ini?" Tanyanya.


"Ia baru saja pergi," jawab penjaga butik.


Helena bergegas keluar butik. Berharap pria itu masih di luar. Sayangnya pria itu sudah meninggalkan butik. Ia hanya memandang bagian belakang mobil yang telah melaju cukup jauh dari tempatnya brrdiri.


"Astaga!" Kenapa kau ini, Helena?" Rutuknya pada diri sendiri.


Ia yang memilih pergi dari kehidupan Freddy. Namun jauh di lubuk hatinya masih tersimpan keinginan untuk kembali bertemu dengan cinta pertamanya.


*****


Di rumah Sarah.


Freddy memasuki kamar istrinya. Dengan hati-hati pria itu membuka pintu.


Sarah istrinya tampak tengah tertidur. Ia meletakkan gaun yang baru saja dibelinya di sisi ranjang.


Pria itu kemudian menatap Sarah dalam lelapnya. Wanita yang telah lebih dari tiga puluh tahun dinikahiny itu kini bukan lagi seorang perempuan yang menarik di matanya. Penyakit kelainan darah yang dideritanya benar-benar membuatnya berubah menjadi sosok Sarah yang hampir tak ia kenali. Tubuh perempuan itu semakin kurus dan layu. Rambutnya bahkan hampir botak karena kerasnya efek kemoterapi yang ia jalani beberapa tahun terakhir ini.


Tiba-tiba pria itu merasa bersalah. Ia mengkhianati perempuan itu bahkan dengan menyembunyikan sekaligus dua orang perempuan di belakangnya. Dan selama ini pria itu bisa bermain rapi dan aman.


Freddy mendekatkan wajahnya ke wajah Sarah. Entah kapan terakhir kali ia mengecup kening Sarah. Pria itu benar-benar tak ingat.


Tiba-tiba Sarah terbangun. Ia membuka matanya perlahan. Perempuan itu merasa kaget sekaligus bahagia karena Freddy suaminya menjadi orang pertama yang ia lihat saat bangun dari tidurnya. Suatu hal yang belakangan ini jarang didapatinya.


"Kau, kapan kau datang ke kamar ini? Mengapa tak membangunkanku?" Tanya Sarah.


"Kau tampak begitu lelap. Aku tak ingin mengganggu istirahatmu," jawab Freddy.


"Ah. Obat itu benar-benar membuatku tidur dengan lelap."


Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah kotak berwarna merah hati di sisi tempat tidurnya.


"Apa ini?" Tanyanya.


"Aku membelinya untukmu, bukalah," ucap Freddy.


Sarah pun lalu membuka kotak persegi berwarna merah hati tersebut. Sarah tampak sedikit tercengang saat melihat sebuah gaun indah berwarna jingga di dalam kotak tersebut.


"Gaun ini untukku?" Tanyanya dengan mata berbinar.


"Kau menyukainya?" Tanyanya kemudian. Sarah tak menjawab. Perempuan itu justru menghambur ke tubuh Freddy dan memeluknya penuh rasa bahagia.


"Terima kasih, Freddy. Aku sangat menyukainya. Tapi…" Sarah tak melanjutkan kata-katanya. Wajahnya seketika berubah sedih.


"Kenapa?" Tanya Freddy.


"Kurasa aku tak pantas lagi memakai gaun seindah itu," jawabnya.


"Mengapa kau berkata begitu?" Tanya Freddy dengan hati iba.


"Lihat tubuhku sekarang. Aku bahkan enggan menatap tubuhku sendiri di cermin," jawabnya.


"Bagiku kau masih Sarahku yang dulu," hibur Freddy. 


"Benarkah yang kau katakan?" Tanya Sarah. 


"Apakah aku masih punya tempat istimewa di hatimu?" Tanya Sarah kemudian.


Freddy sedikit tersentak.


Bersambung….


Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕