
Joon Hyuk membuka pakaian Jinan, dia menyentuh bagian dadanya sambil memasukan sesuatu di dalamnya. Matanya tertuju pada sebuah layar besar di hadapaannya. Menelaah setiap inci bagian dalam tubuh Jinan hingga berhenti di beberapa titik.
Dia melangkah menjauhi Jinan lalu membuat sebuah ramuan. Dengan teliti Prof. Lee membuat ramuannya dengan alat-alat seperti tabung reaksi, elenmeyer, corong, gelas beaker, gelas ukur, pipet, klem, pemanas, kaki 3 dan lainnya. Joon Hyuk mengukur volum larutan, memindahkan cairan dan lain-lain.Tak membutuhkan waktu lama membuat ramuan hanya 1 jam.
“Jinan, kau bisa membuka matamu sekarang” ucap Joon Hyuk
Jinan membuka matanya perlahan “ Apa yang terjadi dengan kondisiku?”
“ Kondisimu baik-baik saja hanya saja denyut jantungmu masih belum stabil jika menerima reaksi perlebihan, volumenya akan turun perlahan sehingga membuat tubuhmu lemas. Kau harus bisa mengendalikan dirimu, Hyung meletakan sensor otomatis ditubuhmu jadi hati-hatilah”
“Kenapa tidak manual saja? Aku takut kalau...”
Joon Hyuk memegangi kedua bahu Jinhwan “Jinan, kau itu manusia, bukan robot yang aku ciptakan. Jadi, kau pasti bisa mengendalikan kehidupanmu, bukan aku”
Tatapan Jinan meredup buliran air mata lolos dari pelupuk matanya “Aku memang manusia tapi kondisiku tidaklah sempurna” ucapnya
Joon Hyuk memeluk adiknya sambil menepuk-nepuk punggungnya “ Jangan mengatakan hal itu lagi. Kau adalah manusia, adikku yang sangat aku sayangi” bisiknya
-School-
Jinhwan berjalan menelusuri koridor menuju ruang kelasnya di lantai 3, terdengar bisikan-bisikan di telnganya. Iya mata-mata siswi yang melihat anak baru dengan wajah tampan itulah yang terjadi pada Jinan. Tapi, dia tidak menanggapi apapun sambil terus menaiki tangga.
“Kim Jinhwan” Sebuah tangan menepuk bahunya. “BAHAYA!” Jinan reflek mencengkram lalu melempar orang tersebut.
“KYAAAA!!” teriak Yura dilempar dari ujung tangga *slow motion* Jinan yang melihat dan tersadar akan perbuatannya langsung turun mendahuli GREP! Dia berhasil menangkap Yura. Seketika hening.
“Kau tidak apa-apakan?” tanya Jinan. Jantung Yura seketika berdegup kencang karena dipeluk Jinan dan tatapan keduanya saling bertemu. “Kim Yura”
“Uh, I...iya, aku baik-baik saja” Yura berdiri tegap dan Jinan melepaskannya.
“Maaf” ucap Jinan lalu pergi.
Yura mematung dan sadar ada sesuatu yang aneh pada Jinan “Kenapa tenaganya besar sekali?”
Jinan tidak masuk ke kelasnya melainkan ke atap. Matanya menatap waspada sekelilingnya khawatir ada Bobby atau yang lainnya, dirasa aman dia mengambil ponselnya di saku celana.
📱 “Yeoboseo” ucap pria di ujung sana
📱 “Hyung, aku hampir saja mencelakai temanku. Apa yang kau berikan pada tubuhku? Kenapa saat aku terkejut karena disentuh, tiba-tiba tanganku bergerak begitu saja”
📱 “Maaf, Hyung memasang mode perlindungan pada dirimu tapi... Kau bisa mengendalikannya kalau pikiranmu tidak kosong”
📱 “Hyuung... Kenapa kau tidak bilang padaku tentang itu! Aissh!” kesal Jinan
📱 “Kenapa, kau tidak nyaman? Kalau tidak nyaman, Hyung akan mencabutnya lagi”
📱 “Ah sudahllah, aku harus segera ke kelas karena 5 menit lagi masuk. Bye” BIP! Jinan langsung bergegas menuju ruang kelasnya.
Sampainya dikelas Dia melihat Yura dan sedikit tidak enak dengan kejadian tadi. Yura melirik ke arahnya membuat Jinan semakin gugup.
“Jinan Ssi, Kenapa reaksimu berlebihan saat aku menepuk bahumu tadi? Kau terlihat sep...”
“Yura, aku minta maaf dan tolong lupakan apa yang terjadi tadi. Kalau aku terkejut, aku selalu berlebihan karena punya penyakit jantung” jawab Jinan
“Eh? Penyakit jantung? Apa hubungannya?” Yura heran
KRIIING...!!! Bel masuk berbunyi. Geng Mino masuk sambil menarik Jinu dan mendorongnya ke meja Jinan lalu menekan kepalanya ke meja.
(“Sial! Pagi-pagi sudah buat masalah” batin Jinan)
“Hei anak baru! Istirahat nanti, kau harus membelikan kami makanan enak kalau kau tidak ingin anak ini menjadi mangsaku lagi. Ingat ya!” ancamnya dengan tatapan tajam lalu melepaskan Jinu dan duduk di bangkunya.
Jinu meringis kesakitan lalu ketempat duduknya. Mino menoleh ke arah Jinan sambil tersenyum miring dan tangannya membentuk tebasan di leher.
Jinan tak begitu menanggapi hanya melempar tatapan sinis.
-@@@-
Jam istirahatpun tiba, Jinan masih duduk tenang di tempatnya lalu mengeluarkan bekalnya. Mino mendekatinya.
“Kim Jinhwan, sekarang waktunya kau membelikan kami makanan, kalau tidak *Mino memberi isyarat pada ke 2 temannya yang sudah standbye memegangi Jinu untuk menyakiti pria itu.
“AAAA!!” Jinu sedikit merintih saat rambutnya di tarik hingga mendongak.
“ Aku ingin 3 porsi bibimbab, jajamyeon, kimchi dan... ayam panggang. A satu lagi 3 minuman soda”
“Ok” jawab Jinan ringan
“Oia antarkan ke markas kami di gudang belakang sekolah. Datanglah sendiri jangan membawa Yura atau... Temanmu si rambut mie atau ****...bibob...atau siapa itulah. Tapi, aku akan membawa Jinu sebagai jaminan” ucap Mino
Jinan tersenyum sinis lalu pergi. Sampai dikantin Jinan memesan semua makanan yang diinginkan Mino and the geng.
“Jinan, apa ini tidak keterlaluan? Lebih baik kau jangan membeli semuanya. Harga makanan di kantin sangat mahal” Yura yang menyusul Jinan
“Diamlah dan jangan ikut campur, Ini uangku dan aku tidak sebodoh yang kau kira” jawab Jinan sambil tersenyum evil
“Apa maksudmu?” Yura tidak mengerti dengan ucapan Jinan
Setelah makanan itu jadi. Jinan membayarnya “Aku butuh bantuanmu, ikut denganku” Jinan menarik tangan Yura.
Lagi-lagi jantung gadis itu berdegup kencang sambil melihat tangannya yang di genggam Jinan sampai di satu ruangan. Mereka masuk. Yura semakin gugup saat hanya berdua di ruangan dengan Jinan, manik matanya menatap setiap inci wajahbpria di hadapannya dari samping yang kini sibuk membuka makanan-makanan yang hanya dibungkus kotak sterofom.
(“Bibirnya yang pink, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang indah dan pipinya yang begitu terlihat halus dengan kulit seputih susu, telinganya yang seksi dengan beberapa tindikan. Oh Tuhan, dia begitu sempurna” batin Yura)
“Yura, bantu aku” pinta Jinan membuat Yura terkesiap
“ Uh, A... Apa yang ingin kau lakukan?” Yura melihat Jinan memberikan botol obat ukuran sedang. “Obat apa ini? Darimana kau dapat obat ini?”
“Tentu saja membelinya di apotek masa dikantin, dasar bodoh!” tegas Jinan sambil menuangkan obat tersebut ke dalam makanan-makanan tersebut dibantu oleh Yura.
-@@@-
Jinan datang dan mendapati Jinu yang sedang duduk diikat sambil dijaili, gelak tawa bergema di gudang yang penuh dengan bangku dan meja yang tak layak pakai tapi ruangannya tampak terawat.
“Akhirnya kau datang juga. Kenapa lama sekali?”
“Budaya mengantri” jawab Jinan
“Mana makanannya? Cepat berikan padaku” Mino mengulurkan tangannya
Jinan mengangkatnya tapi tidak langsung memberikannya “Kalau kau mau makanannya. Lepakan dulu si bodoh itu” pintanya sambil menunjuk Jinu yang sedang dijaili Seung Hoon dan Seung Yoon.
“Iya baiklah. Hei, kalian! Lepaskan bocah itu!” perintahnya. Kedua teman Mino langsung melepaskan ikatan Jinu. Pria itu melangkah mendekati Jinan.
“Pergilah dan jangan menungguku” pesan Jinan pada Jinu. Pria itu segera lari ketakutan kemudian Jinan memberikan makananya pada Mino.
“Tugasku selesai kan? Aku akan pergi” Jinan hendak pergi tapi Mino menarik tangannya tiba-tiba. GREP!! Jinan segera mencengkram tangan Mino dan hendak melemparnya tapi segera dia mengendalikan sensornya.
“AAAAA!!!” teriak Mino yang di cengkram kuat tangannya oleh Jinan saat tersadar Dia langsung melepaskan tangan Mino
“AAA!! Tanganku... Sakit sekali!!” rintihnya. Kedua temannya mulai menyerang Jinan dari belakang.
“Bahaya” suara keluar dari tubuhnya. BRAK!! Jinan berniat menepis tangan Seung Hoon tapi namja itu terpental jauh, Seung Yoon yang hampir memukulnya terkejut dan langsung mundur. Begitu juga dengan Mino, begitu terkejut melihat Jinan.
“AARRGH!!” Seung Hoon merintih kesakitan.
“Seung Yoon, A... Aku tidak bermaksud un...”
BRAK!! Seung Hoon memukul tubuh Jinan dengan potongan kayu bangku tapi kayu tersebut malah hancur menjadi beberapa kepingan sedangkan Jinan baik-baik saja. Mino dan Seung Yoon ikut gemetaran.
“K... Kau! Ke...Ke...kenapa Ka... Kau ti...tidak terluka dan ka... Kayunya!!” Seung Hoon gemetar ketakutan. Jinan beranjak berdiri, berjalan mendekatinya sambil menatap tajam Seung Hoon.
“A... A... Aku, Ja... Jangan mendekat!” tegas Seung Yoon sambil melangkah mundur hingga menempel dinding.
Jinan terus melangkah hingga hambil menyentuh tubuh Seung Yoon “Jangan lakukan itu lagi, kalau kau tidak ingin seperti kedua temanmu itu. Hmmm” ancamnya. Jinan berbalik menatap tajam Mino dan Seung Yoon kemudian pergi.
Mino dan Seung Yoon segera menghampiri Seung Hoon yang terduduk lemas. “Siapa dia sebenarnya, kayunya hancur tapi kondisinya baik-baik saja” gumam Mino yang merasa aneh.
-Atap-
“AAARRRGH!! Aku benar-benar gila! Kenapa aku melakukan... *Jinan merasakan sesuatu yang aneh di tubuhnya* A... Apa yang ter...jadi padaku? Kenapa tubuhku su...sah di gerakan?” gumamnya.
Deg deg deg deg Jantung Jinan tiba-tiba berdegup kencang kemudian roboh, terkulai dilantai.
(“Apa, A... Apa yang terjadi padaku, kenapa tubuhku kaku?” batinnya), “Hyung, tolong aku.” gumamnya lalu pandangannya buram dan gelap, air mata menitik dari sudut matanya.