ANDROMEDA

ANDROMEDA
Berat



Aurora dan Andromeda bergegas ke rumah sakit. Dengan wajah panik, keduanya menghampiri Rio yang terlihat menunggu di depan ruang ICU.


"Dimana mister tampan?" tanya Andro.


"Mister tampan masih dalam penanganan dokter, Sayang," jawab Rio.


Setengah jam kemudian pintu ruangan itu terbuka. Tampak seorang dokter keluar dari ruangan tersebut. Ketiganya pun bergegas menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan kawan saya, Dokter?" tanya Rio.


Dokter itu membuang nafas.


"Pasien kehilangan banyak darah, ia membutuhkan golongan darah A. Kebetulan stock darah di rumah sakit kami saat ini kosong," jawab dokter.


"Kebetulan golongan darah saya A, Dokter," ucap Aurora.


"Syukurlah, pasien tidak perlu menunggu lebih lama lagi," ucap Dokter.


Aurora mengikuti dokter tersebut ke sebuah ruangan. Di sanalah darah dari dalam tubuhnya diambil demi keselamatan nyawa seorang pria yang begitu berarti dalam hidupnya.


Setelah beberapa jam Keenan pun tersadar. Wajah pertama yang dilihatnya adalah Aurora.


"Aura," ucapnya. Nama itu adalah nama panggilan khusus untuknya saat keduanya masih manjadi sepasang kekasih.


"Syukurlah kau sudah sadar, kami begitu mencemaskanmu," ucap Aurora.


"Bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Keenan.


"Rio yang menelponku," jawab Aurora.


Rio berjalan mendekati Keenan.


"Aku menemukanmu pingsan di dalam kamarmu. Kau kehilangan banyak darah, namun kau begitu beruntung, ada bidadari penolong," ucapnya. Rio sedikit melirik ke arah Aurora yang tersipu.


"Apa maksudmu?" tanya Keenan.


"Darah Aurora kini telah mengalir di dalam tubuhmu, kau berhutang nyawa padanya," jawab Rio.


"Sungguh?" tanya Keenan. Ia lantas memandang wajah Aurora. Tiba-tiba wajahnya bersemu merah.


"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan," ucap Aurora.


"Terima kasih, Aura," ucapnya. Lagi-lagi Keenan memanggil nama panggilan itu padanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Rio.


Keenan memandang langit-langit ruangan tersebut, ia mencoba mengingat sesuatu.


"Semalam seseorang memasuki kamar apartemenku. Dia mengambil map berisi surat warisan dari ibu," ungkapnya.


"Astaga!" seru Rio.


"Apakah ada benda lain yang diambil oleh pencuri itu?" timpal Aurora.


Keenan menggelengkan kepalanya.


"Kurasa pencuri itu hanya mengincar surat wasiat ibu. Ia tak mengambil benda apapun selain benda itu," ujar Keenan.


"Tak salah lagi. Tuan Freddy pasti ada di balik peristiwa ini," tegas Rio.


"Pria itu memang serakah. Mungkin ia tak rela jika seluruh harta milik mendiang nyonya Sarah diberikan padamu," timpal Aurora.


*****


Sementara itu di sebuah kamar apartemen.


"Surat wasiat Sarah sudah berada di tanganmu, kapan kau akan segera mengurusnya agar semua harta itu jatuh ke tanganmu?" tanya Celine yang baru saja mengenakan lingerie. Ia lantas bergelayut mesra di pundak Freddy.


"Besok pagi aku akan mengurusnya," jawab Freddy.


Celine menatap wajah Freddy. Entah mengapa ia begitu mengagumi pria yang usianya lebih dari setengah abad itu.


Freddy mendekatkan wajahnya ke wajah Celine. Entah siapa yang memulai, kini bibir mereka saling beradu. Sentuhan-sentuhan berikutnya pun dirasakan oleh Celine, ia sama sekali tak menolak, bahkan ia sangat menikmatinya.


Malam itu untuk ke sekian kalinya keduanya kembali terhanyut dalam kenikmatan terlarang yang tak sepantasnya dilakukan oleh pasangan yang sama sekali tak memiliki ikatan.


Tiga hari kemudian.


Keadaan Keenan membaik, dokter pun mengizinkannya pulang. Aurora dan Andromeda sengaja menjemputnya pulang ke ke apartemen miliknya. Keenan tak memiliki siapapun, tak sampai hati jika Aurora membiarkannya sendirian.


"Aku membuatkanmu bubur ayam," ucap Aurora sambil menaruh semangkuk bubur hangat di atas meja.


"Maaf aku merepotkanmu," ucap Keenan.


Keenan mengalihkan pandanganya pada mangkuk berisi bubur hangat itu.


"Sepertinya bubur ini lezat," ucapnya.


Aurora mengambil mangkuk tersebut, ia lantas menyodorkannya ke arah Keenan. Entah berpura-pura atau tidak, tiba-tiba Keenan merintih kesakitan.


"Kau kenapa?" tanya Aurora dengan wajah panik.


"Tanganku sakit, aku kesulitan untuk memegang mangkuk itu," jawab Keenan.


"Astaga! Bukankah yang terluka kepalamu, mengapa tanganmu mendadak sakit juga?" gerutunya.


"Ini benar-benar sakit." Keenan memegang tangan kirinya sambil berpura-pura mengaduh kesakitan. 


"Bilang saja kau ingin disuapi," gumam Aurora. Ia tahu jika Keenan sedang mengerjainya.


Layaknya seorang ibu yang tengah menyuapi anaknya, Aurora mulai mengaduk-aduk bubur itu kemudian mengarahkan sesendok bubur ke arah mulut Keenan.


Keenan enggan membuka mulutnya. Ia justru menatap lekat mata indah yang kini begitu dekat dengan wajahnya. Aurora adalah cinta pertamanya, dan setelah hari dimana Aurora membatalkan pertunangan mereka delapan tahun lalu, belum ada seorang pun yang mampu menggantikannya.


Tiba-tiba Keenan mendekatkan wajahnya ke arah bibir Aurora. Tak disangka, Aurora memejamkan matanya, ia bersiap menerima kecupan lembut dari Keenan.


Wajah mereka semakin dekat dan tak lagi berjarak, namun suara ketukan pintu menggagalkan adegan romantis itu.


Andromeda yang tadi meminta izin bermain ke kamar Rio, telah kembali.


Keduanya terlihat salah tingkah, dan hal itu disadari Andromeda.


"Ibu, mister tampan, kalian kenapa?" tanyanya polos.


"Tak apa, Sayang, ibu hanya sedikit kaget," jawab Aurora gugup. 


"Mister tampan sudah besar, mengapa minta disuapi?" ledek Andro sambil melirik mangkuk yang kini berada di tangan sang ibu.


Pertanyaan Andro lagi-lagi membuat Keduanya salah tingkah. Aurora bergegas memberikan mangkuk itu pada Keenan, dengan sigap Keenan menerima mangkuk itu.


"Cepat sekali tanganmu sembuh," sindir Aurora.


"Ini masih sedikit sakit." Keenan berpura-pura merintih.


"Kau pikir aku percaya?" tanya Aurora. Ia lantas memukul tangan Keenan dengan cukup keras dan kini ia benar-benar kesakitan. Pemandangan konyol itu justru membuat Andromeda terkekeh.


"Ibu, apakah ibu menerima lamaran mister handsome?" tanya Andromeda.


Pertanyaan itu membuat Keenan tersedak oleh bubur yang kini berada di kerongkongannya. Dengan sigap Aurora mengambil segelas air putih, lantas menyodorkannya pada Keenan.


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Keenan.


Aurora menghela napas.


"Tiga hari yang lalu Gibran melamarku," jawabnya.


Ucapan Aurora membuat hati Keenan terasa begitu perih. Apakah ia harus kehilangan Aurora untuk ke dua kalinya?


"Lantas?"


"Aku meminta waktu tiga hari untuk berpikir. Malam ini aku harus memberi jawaban."


"Aku yakin kau tahu mana yang terbaik untukmu, kau berhak bahagia."


Ada rasa perih yang tertahan saat kata-kata itu terucap dari mulut Keenan. Ia merasa takut kehilangan Aurora, namun rahasia itu kini telah terungkap. Gibran adalah ayah kandung Andromeda dan Gibran tak menyangkalnya.


Bukankah hal itu yang diinginkannya sedari dulu? Gibran mengakui perbuatannya pada Aurora, sekaligus Andromeda mendapat jawaban atas pertanyaannya selama ini mengenai siapa ayah kandungnya.


Lantas, mengapa kini Keenan merasa tak rela jika Aurora dan Gibran bersatu?


Keenan kini menyadari jika cintanya pada Aurora masih terlalu dalam dan ia tak siap jika harus kehilangan cinta pertamanya.


Bersambung….


Hai, pembaca setia "ANDROMEDA", 🥰


Kalau novel ini tamat, kira-kira perlu dibuatkan lanjutannya gak? 


Misalnya "ANDROMEDA SEASON 2" yang menceritakan kehidupan Andromeda saat ia beranjak dewasa? Terima kasih untuk masukannya.


Salam hangat🥰🥰


 Maaf jarang up soalnya author sambil nulis di pf sebelah...bagi kakak-kakak silahkan mampir ya...caranya download dulu aplikasi Fizzo.


trus cari novelku yang judulnya "JERAT CINTA ZACK DAN ZILLY"