
"Aku memutuskan untuk membuka bisnis baru di kota LA," jawab Gibran.
"Bagaimana dengan ibu dan adikmu? Apa mereka mengijinkanmu pergi?" tanya Aurora.
"Keputusanku sudah bulat. Aku akan tetap berangkat dengan atau tanpa persetujuan mereka."
"Ayah mau kemana?"
Keduanya tersentak kaget saat Andromeda tiba-tiba muncul di ruangan itu. Mungkin bocah itu sudah sedari tadi mendengarkan obrolan mereka.
"Ayah memutuskan untuk membuka bisnis di luar negeri," ucap Gibran.
"Apa bisnis Ayah di kota ini belum cukup menghasilkan banyak uang?" tanya bocah berambut pirang itu.
Gibran terdiam. Rencana kepergiannya ke luar negeri bukan semata untuk urusan bisnis. Setelah apa yang terjadi, dia ingin melupakan semuanya dan memulai hidup baru. Dia ingin lepas dari bayang-bayang gadis yang begitu dicintainya, Nadine.
"Setelah pindah ke luar negeri, Ayah pasti akan jarang menemuiku dan mengajakku berjalan-jalan." Tiba-tiba raut wajah Andromeda berubah murung.
Pria berjambang tipis itu tersenyum.
"Bukankah kita bisa melakukan panggilan video? Setiap hari kau bisa melihat wajah ayah meskipun kita dipisahkan jarak dan waktu," ucapnya.
Tidak berselang lama Keenan pun keluar dari dalam kamarnya.
"Pagi-pagi sekali kau datang ke sini," ucapnya.
"Aku hanya ingin pamit pada kalian."
"Memangnya kau mau kemana?"
"Aku berencana membuka cabang baru bisnisku di kota LA."
"Sayang, buatkan minuman untuk kami," ucap Keenan pada Aurora. Ia lantas duduk di sofa. Sementara Aurora mengajak Andromeda beranjak dari ruangan itu dan berjalan menuju dapur.
"Aku tahu ibu dan adik perempuanmu akan keberatan jika kau pergi keluar negeri," ucap Keenan.
Gibran membuang nafas.
"Terkadang ada alasan yang tak selalu harus diungkapkan saat kita memilih sebuah keputusan," ujarnya.
"Tingal lah di negara ini. Kau ingin melihat Andro tumbuh besar dan dewasa 'bukan?"
Suasana hening sejenak.
"Ehm, sebenarnya sudah begitu lama aku ingin membicarakan masalah ini denganmu," ucap Keenan.
"Apa ada sesuatu yang penting?" tanya pria yang tak lain adalah saudara seayahnya itu.
"Aku ingin mengajakmu bekerjasama membuka bisnis di kota ini. Kita tahu betul kecerdasan yang dimiliki Andromeda. Kelak jika usianya sudah cukup, aku yakin dia pasti bisa mengelolanya. Meskipun bukan putra kandungku, percayalah, aku begitu menyayanginya. Aku ingin memberikan yang terbaik baginya," ucap Keenan.
Gibran terdiam sejenak, ia lantas berpikir.
"Benar juga apa yang dikatakan Keenan. Aku juga harus memikirkan masa depannya," gumamnya.
"Jadi, bagaimana menurutmu?" tanya Keenan.
"Kurasa itu ide yang bagus. Aku setuju," jawab Gibran.
"Apa ini berarti kau membatalkan rencanamu ke luar negeri?"
"Ya. Aku akan tetap di negara ini demi Andromeda," ujar Gibran.
"Jadi Ayah akan tetap di negara ini?" tanya Andro yang baru saja muncul dari dapur.
"Ya. Ayah dan ayah Keenan berencana membuka bisnis di kota ini. Kelak jika usiamu sudah cukup, kau yang akan mengelolanya," jelas Gibran.
"Terima kasih, Ayah." Andro lalu merengkuh tubuh sang ayah ke dalam pelukannya.
"Apa hanya ayah Gibran saja yang kau peluk?" protes Keenan. Andro pun melepaskan pelukannya dari tubuh Gibran yang tak lain adalah ayah kandungnya. Dia lantas berganti memeluk tubuh Keenan, yang kini sudah menjadi ayah sambungnya.
Aurora menatap haru adegan yang tersaji di hadapannya. Tanpa ia sadari buliran bening itu menetes di sudut matanya.
"Kenapa Ibu menangis?" tanya Andro dengan mata polosnya.
"Ibu menangis bahagia, Sayang," ucap Aurora.
"Ayah ingin mengajakmu makan es krim," ucap Gibran yang sontak membuat sorot mata bocah itu berbinar.
"Apa kita hanya pergi berdua saja, Ayah?" tanya Andro. Gibran menganggukkan kepalanya.
"Apa malam ini aku boleh mengajak Andro menginap di rumahku?" tanya Gibran.
Aurora tersenyum.
"Tentu saja. Andro putramu juga. Kau boleh menemuinya kapanpun," ucapnya.
"Aku tahu saat ini kalian ingin selalu menghabiskan waktu bersama," goda Gibran yang sontak membuat sepasang pengantin baru itu salah tingkah.
"Kita berangkat sekarang, Sayang," ucap Gibran. Bocah laki-laki itu mengangguk setuju.
"Aku pergi dulu, Ayah, Ibu."
"Sampaikan salamku untuk ibumu dan Alicya," ucap Keenan.
Gibran menganggukkan kepalanya, ia lantas tersenyum. Tidak berselang lama keduanya pun meninggalkan apartemen tersebut.
"Kau mau sarapan apa, Sayang?" tanya Aurora pada Keenan sesaat setelah keduanya berlalu.
"Aku mau olahraga dulu," jawabnya.
"Olahraga?"
"Kau mau apa? In bahkan masih pagi."
"Aku mau olahraga bersamamu di kamar," ucap Keenan. Ia lantas mendaratkan sebuah kecupan di bibir istrinya itu.
"Jangan sekarang."
Aurora mencoba turun dari gendongan Keenan. Namun Keenan justru semakin erat mendekapnya. Akhirnya Aurora hanya bisa pasrah saat Keenan membawanya masuk ke dalam kamar.
Sementara itu terjadi obrolan di dalam mobil Gibran.
"Ehm, apa ayah boleh bertanya sesuatu padamu, Nak?" tanya Gibran pada Andromeda yang tengah asyik membaca komik favoritnya.
"Apa yang ingin Ayah tanyakan?"
Andro menutup komiknya lalu meletakkannya di atas dashboard.
"Ehm…apa Fiona itu benar saudaramu?" tanyanya penasaran.
"Ya. Bibi Fiona adalah putri kakek Sean. Adik dari almarhum kakekku," ungkap Andro. "Kenapa Ayah tiba-tiba bertanya tentangnya?" tanyanya kemudian.
"Ti-ti-ti-dak apa. Ayah hanya ingin tahu."
"Dulu bibi Fiona jahat. Dia sering berlaku kasar padaku dan pada ibu."
"Sungguh?"
"Setelah mengalami kecelakaan bibi tak pernah lagi bersikap kasar pada kami."
"Syukurlah."
"Memangnya kenapa Ayah bertanya tentang bibi Fiona? Apa ayah menyukainya?"
"Bu-bu-bukan begitu. Ayah hanya, …"
Kita sudah sampai di kedai es krim." Tiba-tiba Gibran mengalihkan pembicaraan.
"Nanti saja kita makan es krim," ucap Andro.
"Kenapa?"
"Apa kak Alicya ada di rumah?" tanya Andro.
"Ya. Hari ini sekolahnya libur."
"Sepertinya menyenangkan jika kita mengajaknya juga ke kedai es krim," ujar Andro. Gibran mengangguk setuju.
Sesampainya di rumah Gibran.
"Selamat pagi, Nenek, Kak Alicya," sapa Andro pada keduanya yang tengah mengobrol di ruang tamu.
"Selamat pagi."
"Apa Nenek mengizinkan jika malam ini aku menginap di rumah ini?"
"Tentu saja. Nenek justru merasa senang jika mau mau menginap di sini," ucap Emily.
"Terima kasih, Nek."
"Tadi kami sudah sampai di kedai es krim. Tapi Andro justru teringat padamu. Dia mengatakan ingin mengajakmu juga," ucap Gibran pada adik semata wayangnya, Alicya. Gadis yang kini beranjak remaja itu tersenyum simpul menanggapi ucapan Gibran.
"Jadi, sekarang kita pergi ke kedai eskrim?" tanya Alicya. Gibran menganggukkan kepalanya.
"Apa Ibu mau ikut makan es krim juga?" tanya Gibran pada Emily.
"Yang benar saja. Nanti gula darah ibu naik. Kau juga yang susah."
"Ehm, Ibu. Aku berubah pikiran," ucap Gibran.
"Apa maksudmu?" Emily mengerutkan keningnya.
"Aku memutuskan untuk membuka bisnis di kota ini bersama Keenan."
"Sungguh? Ibu rasa itu sebuah keputusan yang tepat. Lagipula ibu dan adikmu akan keberatan jika kau pergi meninggalkan negara ini," ujar Emily.
"Kami pergi dulu, Bu," ucap Alicya sembari menggandeng tangan Andromeda.
"Hati-hati."
Tidak berselang lama ketiganya pun meninggalkan ruangan tersebut.
****
Siang itu Hans dan Helena tengah berada di meja makan ketika tiba-tiba terdengar suara seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Helena beranjak dari tempat duduknya, ia pun lantas berjalan menuju pintu. Alangkah terkejutnya saat melihat siapa tamunya pagi itu.
Bersambung…..
Hai pembaca setia…Andromeda sebentar lagi tamat. Mampir yuk di karya terbaru ku…
Judulnya "Maduku, Racunku"
Penulis: Imma Dealova.
Ditinggu dukungannya ya….
Jangan lupa tinggalkan like,komentar positif, vote, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian. Akan sangat berarti bagi Author 🥰🥰🥰🥰
🙏🙏
Rekomendasi Novel yang sangat bagus untukmu, Maduku, Racunku, di sini dapat lihat: https://share.mangatoon.mobi/contents/detail?id\=2277228&\_language\=id&\_app\_id\=2