
Andromeda dan ibunya berada di dapur. Keduanya tengah memasak untuk sarapan pagi. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
"Biar aku yang membuka pintu, mom." Ucap Andro. Bocah itu pun lalu berjalan menuju pintu. Tampak seorang perempuan berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di depan pintu.
"Selamat pagi, benar ini rumah nyonya Aurora?" Tanyanya.
"Ya, benar. Kau mencari ibuku?" Tanya Andro.
"Aku ibunya Nesya, kasir yang bekerja di toko kue ibumu," jawabnya.
"Oh, silahkan masuk, Nyonya."
Perempuan itu pun lalu masuk ke dalam ruang tamu.
Andro masuk ke dalam dapur. Beberapa saat kemudian ia kembali bersama sang ibu.
"Silahkan duduk," ucap Aurora pada tamunya tersebut.
"Namaku Mia, aku ibunya Nesya. Kasir yang bekerja di tokomu," ucapnya.
"Jadi, kau bersedia membantuku membuat kue?" Tanya Aurora.
"Ya, nyonya. Saya terbiasa membuat berbagai macam kue dan menjajakannya dengan berkeliling," jawabnya.
"Nesya sudah bercerita sedikit tentangmu," ucap Aurora.
"Kau bisa mulai bekerja hari ini," ucap Aurora kemudian. Mia pun mengangguk paham.
"Aku sudah selesai memasak. Kau mau ikut sarapan bersama kami?" Tanya Aurora.
"Terima kasih, nyonya. Aku sudah sarapan di rumahku," jawabnya.
Andro dan sang ibu pun lalu menuju ruang makan.
*****
Di rumah Sean.
Empat orang tengah mengelilingi meja makan.
"Kemarin aku bertemu Aurora." Fiona membuka obrolan. Sean menatap Fiona tajam.
"Aurora? Dimana kau bertemu dengannya?" Tanya Sean.
"Di sebuah toko kue," jawabnya.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Sean lagi.
"Dia telah memiliki anak yang tak jelas siapa ayahnya," jawab Fiona.
Sean mengangkat alisnya.
"Kau masih ingat, kejadian beberapa tahun lalu. Bahkan semua orang membicarakannya. Keponakanmu itu hamil sebelum menikah," sambung Nikita.
"Dasar perempuan. Hobi kalian hanya menggunjing!" umpat Sean.
"Kurasa semua orang tahu. Keponakanmu itu bukan perempuan baik-baik. Mana mungkin ia berbuat serendah itu," ucap Nikita kemudian.
"Sudahlah, jangan terus membicarakannya," ucap Sean.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada putri bungsunya. Gadis itu tampak tak bersemangat.
"Kau kenapa? Kau terlihat kurang bersemangat pagi ini. Bagaimana pekerjaanmu?" Tanya sang ayah.
"Atasanku menyebalkan!" Serunya sambil memotong sandwich di piringnya dengan kasar.
"Atasanmu galak?" Tanya Fiona sambil menahan tawa. Gadis itu memandang sang kakak dengan wajah kesal.
"Harga diriku jatuh di depan tukang pel itu!" Serunya.
"Kau kenapa, Sofi?" Tanya sang ibu.
"Aku jatuh karena tukang pel itu. Tapi atasanku justru memarahiku," jawabnya. Ia menusuk-nusuk sandwich di piring dengan sendoknya.
"Lalu kau menangis?" Ledek Fiona. Ia kembali terkekeh. Sofi mengambil sebutir jeruk di depannya lalu dilempar ke arah Fiona. Namun jeruk itu berhasil ditangkapnya. Sang kakak justru mengupas lalu memasukkannya ke dalam mulut.
"Hanya itu sebabnya? Kau seperti orang yang baru kehilangan pacar saja." Fiona kembali membuat sang adik kesal. Wajahnya merengut.
"Fiona, jangan merecoki adikmu terus," ucap sang ibu.
"Gadis cengeng!" ejeknya sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Ponselku rusak sekarang," ucap Sofia.
"Minta saja pada kakakmu. Hanya sebuah ponsel tak akan membuat toko handphone miliknya jatuh bangkrut," ucap sang ibu sambil melirik ke arah Fiona.
"Yang benar saja. Aku harus memberinya handphone baru." Ucap Fiona ketus.
"Sudahlah. Aku berangkat sekarang." Ucap Sofia. Gadis itu lalu meninggalkan ruang makan.
"Kau baru beberapa bulan bekerja di kantor itu. Bukankah itu keinginanmu sendiri? Kau bilang kau tak mempunyai bakat berbisnis seperti kakakmu," ucap Sean.
"Jangan terlalu dimasukkan hati. Atasanmu pasti punya alasan mengapa ia memarahimu," ucap Nikita.
"Cepatlah berangkat. Nanti kau terlambat," ucap sang ibu.
Dengan langkah malas Sofia bangkit dari tempat duduknya.
"Usia Fiona kini sudah hampir tiga puluh tahun. Namun ia belum juga menikah," ucap Nikita tiba-tiba.
"Kau tahu, siapa pria yang kini tengah dekat dengannya?" Tanya Sean.
"Apa dia serius menjalin hubungan dengan Fiona?" Tanya Sean lagi.
"Entahlah. Aku akan menanyakan padanya nanti," jawab Nikita.
Sean bangkit dari kursinya.
"Hati-hati kau menyetir," ucap Nikita sambil merapikan dasi suaminya.
Setelah memberi kecupan di kening Nikita, pria itu pun berlalu dari ruang makan.
"Aurora...ternyata gadis itu bisa bertahan hidup tanpa orangtua dan hartanya," gumamnya kemudian.
*****
Di sebuah toko ponsel.
Seorang perempuan berjalan ke arah sebuah counter handphone.
"Bagaimana penjualan toko kita minggu lalu?" Tanyanya pada seorang gadis penjaga counter. Gadis itu lalu menyodorkan sebuah buku berisikan catatan penjualan barang di counter miliknya.
"Apa ini! Penjualan turun drastis dari bulan lalu!" Serunya.
Penjaga counter itu hanya diam dan menunduk.
"Kau malas ya?" Tanya Fiona sinis.
Gadis itu mendongakkan kepalanya. Menatap perempuan yang sering marah-marah padanya tersebut.
"Aku membuka counter ini setiap jam sembilan pagi dan baru tutup jam lima sore," ucapnya.
"Tambah lagi jamnya. Hingga jam 9 malam," ujarnya.
"Aku tak bisa bila harus meninggalkan ibuku terlalu lama seorang diri di rumah," jawabnya.
"Lalu, kau pikir aku peduli? Bukankah itu masalahmu?" Tanya Fiona.
gadis itu tak menjawab.
"Masih banyak yang mau bekerja di tokoku. Jika kau keberatan kau bisa pulang sekarang juga. Tapi besok tak usah lagi datang ke tempat ini," ucap Fiona kemudian.
"Kau memecatku?" Tanyanya.
"Sekarang terserah padamu. Kau punya dua pilihan. Tetap bekerja disini hingga jam sembilan malam. Atau kau pulang sekarang tanpa perlu kembali," jawab Fiona.
"Aku pilih opsi kedua," ucap penjaga counter.
"Baiklah, jika itu yang kau mau," ucap Fiona.
"Aku meminta gajiku," ucap penjaga counter.
"Gaji?"
"Aku sudah dua minggu bekerja di tokomu. Dan kau bilang akan memberikan gaji padaku setiap minggu."
Fiona mengambil beberapa lembar uang kertas dari dalam dompetnya.
"Ambil gajimu!" Serunya sambil melempar uang tersebut di lantai dengan kasar. Gadis penjaga counter tak bergeming.
"Kenapa kau diam? Ambil!" Serunya.
Gadis itu berjongkok dan memunguti beberapa lembar uang yang tercecer di lantai. Tiba-tiba air matanya mengalir.
Seorang pria datang menghampirinya. Ia lalu membantu gadis itu berdiri.
"Ada apa ini?" Tanya pria yang mengenakan jas tersebut.
Fiona menatap kagum pada pria tampan yang kini berdiri di hadapannya tersebut.
"Tak ada apa-apa, aku tak sengaja menjatuhkan uangku. Dan gadis ini membantuku," ucapnya.
"Kau pikir aku tak melihat kejadiannya?" Tanya pria itu.
Fiona terlihat salah tingkah.
"Jika kau ingin dihargai orang lain, belajarlah menghargainya juga." Ucap pria tampan itu sambil berlalu. Tak lama berselang, gadis itu juga pergi meninggalkan tempat tersebut.
Fiona terus memandang pria itu. Hingga ia tak menyadari kehadiran seseorang yang telah beberapa detik berdiri di sampingnya.
"Kau kenapa, Fio?" Tanya pria itu.
Perempuan itu tersentak.
"Dave? Sejak kapan kau datang?" Tanya Fiona.
Bersambung...
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕