
Andro 54
Andromeda dan sang ibu telah sampai di rumah sakit. Mereka pun berjalan menuju ruang perawatan Gibran. Dengan jantung berdegup kencang, Aurora mengetuk pintu yang tertutup rapat itu. Seseorang membuka pintu. Alicya, gadis berusia lima belas tahun itu tersenyum pada Aurora.
"Kak Gibran sudah siuman, Kak," ucapnya.
"Sungguh?" Tanya Andro setengah tak percaya. Bocah itu lalu bergegas masuk dan menghampiri Gibran
"Mister handsome," sapanya. Andro langsung menghambur ke pelukan Gibran. Hal itu membuat pria tersebut sedikit kaget.
"Kau siapa?" Tanya Gibran.
Andro melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Gibran yang saat itu memandangnya dengan tatapan aneh.
Andro kemudian menatap Nyonya Emily yang sedari tadi mengamatinya.
"Gibran tak mengenali siapapun. Bahkan ia tak bisa mengingat namanya sendiri. Andro tersentak. Aurora menutup mulutnya yang tiba-tiba ternganga setelah mendengar ucapan dari perempuan yang duduk di kursi roda itu.
Aurora menatap mata Gibran. Netra mereka bertemu.
"Kau siapa?" Tanyanya pada Aurora.
"Aku…aku…" Aurora tak melanjutkan kata-katanya.
"Ini aku, Andro. Apakah Mister handsome benar-benar tak mengingatku?" Tanya Andro dengan wajah cemas. Gibran menggelengkan kepalanya. Sejenak kemudian justru memegang kepalanya. Pria itu terlihat sangat kesakitan. Alicya bergegas memanggil dokter.
"Untuk saat ini kondisi pasien belum stabil. Mohon jangan membuatnya berpikir terlalu keras," ucap dokter setelah menyuntikkan sesuatu di lengan Gibran.
Andro memandang Gibran yang terlelap karena pengaruh obat yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya. Tanpa ia sadari, air matanya menetes. Aurora sang ibu tak sengaja mendapati Andro yang tengah menyeka air matanya.
"Sebaiknya kita pergi sekarang, biarkan Mister handsome beristirahat," bujuk Aurora. Namun Andro tak bergeming. Ia masih Berdiri di sisi ranjang dan terus memegang tangan Gibran.
Tiba-tiba Emily mengalihkan pandangannya pada Andro. Entah mengapa ia merasakan ada sesuatu yang lain pada bocah laki-laki tersebut. Meskipun ia sendiri tak paham nama perasaan itu. Emily bisa melihat ketulusan Andro saat memandang Gibran. Sungguh jauh berbeda dengan hubungan pertemanan biasa.
"Ayo kita pulang, nak. Hari sudah mulai gelap," bujuk Aurora sambil mengelus lembut kepala Andro.
"Mengapa Mister handsome tak mengenaliku? Apa aku berbuat salah padanya?" Tanyanya polos.
"Mister handsome hanya belum pulih, kau tak perlu khawatir," hiburnya.
Aurora kemudian menggandeng tangan Andro. Keduanya pun berlalu dari ruang tersebut.
Aurora membuka pintu. Di saat bersamaan seorang perempuan terlihat akan memasuki ruang tersebut. Keduanya hampir bertabrakan.
"Kau…? Sedang apa kau disini?" Tanyanya.
"Nadine…" ucap Aurora sedikit kaget.
"Aku ikut prihatin atas apa yang menimpa Gibran," ucapnya kemudian.
Aurora lalu duduk di bangku tunggu dan Nadine mengikuti.
"Kemana kau selama ini?" Tanya Aurora.
"Aku menenangkan diri," jawabnya.
"Kau menghindari masalah," ujar Aurora.
"Seandainya kau yang ada di posisiku, mungkin kau akan melakukan hal yang sama," ucap Nadine.
"Kau salah. Aku bukan tipikal orang yang yang suka menghindari masalah. Bagiku masalah hadir untuk dihadapi. Bukan sebaliknya," ungkap Aurora.
"Aku telah memutuskan untuk membatalkan pertunangan kami," ucap Nadine. Aurora tersentak.
"Bagaimana mungkin kau melakukannya. Aku tahu kalian sangat menginginkan pertunangan itu," ucap Aurora.
"Hati bisa berubah, bukan?" Tanya Nadine.
"Boleh kutahu alasanmu mengapa tiba-tiba membatalkan pertunangan kalian?" Tanya Aurora.
"Kurasa kau tak perlu tahu," jawab Nadine.
"Apa karena kondisinya saat ini? Aku tak menyangka kau setega itu," ucap Aurora.
"Peristiwa yang terjadi pada Gibran justru tak ada kaitannya dengan keputusan yang kuambil ini," ujarnya.
"Lantas, bagaimana dengan Nyonya Emily?" tanyanya. Dia pasti akan sangat kecewa," ucapnya kemudian. Nadine tak menjawab. Ia justru bangkit dari tempat duduknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Aurora.
"Aku akan kembali ke New York," jawabnya sambil berlalu.
Aurora hanya memandang punggung Nadine yang semakin menjauh. Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengawasi percakapan diantara keduanya.
*****
Sore hari di rumah Hans.
"Dimana putrimu?" Tanya Felice pada Hans yang tengah sibuk di meja kerjanya.
"Mungkin dia ke rumah sakit," jawabnya.
"Bagaimana kondisi Gibran sekarang?" Tanyanya.
"Gibran...pria itu sudah sadar dari komanya," jawab Hans.
"Syukurlah," ucap Felice. Kelegaan terpancar di wajahnya.
"Tampaknya masalah Nadine dan calon tunangannya akan semakin rumit," ucap Hans.
"Apa maksudmu?"
"Gibran memang sudah sadar. Namun yang menjadi masalah sekarang adalah Gibran mengalami Amnesia."
"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?" Tanya Hans.
"Separah apakah amnesia yang dialaminya?" Tanya Felice.
"Menurut keterangan dokter, Gibran mengalami amnesia Disosiatif. Ia tak dapat mengingat informasi penting. Bahkan identitas dirinya sekalipun," jawab Hans.
"Bagaimana dengan Nadine? Apakah Gibran juga tak mengingatnya?" Tanya Felice. Hans menggeleng pelan.
"Lalu bagaimana dengan rencana pertunangan mereka?" Tanya Felice.
"Entahlah. Masalahnya bahkan kini semakin rumit," jawab Hans.
"Apakah kau bisa mengantarku ke rumah sakit besok? Tampaknya aku perlu menemui Nyonya Emily," ucapnya.
"Baiklah," jawab Hans sambil berlalu dari hadapan sang ibu.
*****
Di apartemen Keenan.
Nomor asing itu belakangan ini sering menghubungi nomor Keenan. Meskipun hanya sekedar menyapa, namun Keenan mulai merasa terganggu.
Malam itu ponselnya kembali berdering. Dengan kesal bercampur penasaran, ia menjawab panggilan tersebut.
~Keenan: "Siapa kau sebenarnya? Apa kau tak punya pekerjaan selain menggangguku?"
~Nomor asing: "Aku hanya ingin berteman denganmu."
~Keenan: "Darimana kau tahu nomor ponselku?"
~Nomor asing: "Tentu saja aku tahu. Kau membeli ponsel dan kartu mu di toko ponsel milikku."
~Keenan: "Oh, kau rupanya.
~Nomor asing: "Namaku Fiona. Aku sama sekali tak bermaksud mengganggumu. Aku hanya ingin berteman denganmu. Apakah besok kau sibuk? Aku ingin mengajakmu makan siang."
~Keenan: "Maaf, besok aku sibuk.
Keenan lalu mengakhiri percakapan.
"Perempuan pengganggu!" umpatnya. Ia lalu melemparkan ponsel tersebut di atas ranjang.
Belum hilang rasa kesalnya, ponsel Keenan kembali berdering. Sebuah pesan masuk di aplikasi percakapan.
"Mau apalagi dia?" gumamnya.
Keenan mengambil ponselnya. Rupanya Nadine yang mengirim pesan untuknya.
[From: Nadine
Temui aku di Pandora cafe jam 19.30.]
Keenan melirik arloji di pergelangan tangannya. Pukul 19.00. Ia pun membalas pesan tersebut.
[To: Nadine
OK]
Setelah mandi dan berganti pakaian, pria itu pun lalu menuju cafe.
****.
Sesampainya di cafe.
"Kapan kau kembali dari New York?" Tanya Keenan sambil menarik kursi lalu mendudukinya.
"Ayah yang memintaku pulang," jawabnya.
"Apakah kau sudah tahu apa yang terjadi pada Gibran?" Tanya Keenan.
Nadine mengangguk.
"Gibran sudah sadar dari komanya, namun…" Nadine tak melanjutkan kata-katanya.
"Kenapa?" Tanya Keenan.
"Gibran...dia…mengalami amnesia," jawabnya.
Keenan tersentak. Ia hampir tersedak oleh minumannya.
"Astaga! serunya. Malang benar nasibmu, Gibran," ucapnya kemudian.
"Gibran tak mengenali siapapun. Bahkan identitas dirinya sekalipun," ucap Nadine.
Keenan kembali tersentak.
Bersambung..
Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕