ANDROMEDA

ANDROMEDA
Surat wasiat



Di pemakaman Sarah.


Keenan terlihat mendekap foto Sarah. Raut wajahnya penuh kesedihan. Kepergian Sarah yang mendadak membuatnya begitu terpukul.


Meskipun hanya sebagai ibu angkat, namun Keenan dapat merasakan kasih sayang Sarah yang begitu besar padanya.


Sebuah penyesalan tiba-tiba hinggap di hatinya. Beberapa waktu lalu Sarah sempat mengatakan jika ia sangat ingin melihat Keenan menikah. Keenan bahkan belum sempat mewujudkan keinginan tersebut, namun sang ibu angkat kini telah pergi meninggalkannya.


Keenan menyeka buliran bening yang merembes dari balik kacamata hitam yang dikenakannya.


Tiba-tiba seseorang menyentuh pundaknya. 


"Ibumu kini sudah bahagia. Ia tak merasakan kesakitan lagi," ucap Rio.


Keenan membuang napas. 


"Jika saja aku tak memenuhi permintaanya untuk datang ke kantor pria bren**ek itu mungkin semua ini tak akan terjadi," ucap Keenan penuh amarah.


"Aku mengerti perasaanmu. Mungkin ini yang terbaik bagi ibumu," hibur Rio.


Tak berselang lama tampak seorang pria  berjalan mendekat ke arah makam Sarah. Keenan tak asing dengan wajah tersebut.


"Keenan," ucap pria itu.


"Untuk apa Anda datang ke makam ini?" tanya Keenan.


"Siapapun berhak datang ke tempat ini," ucap Freddy.


"Apakah Anda sudah puas dengan Apa yang telah Anda lakukan? Bukankah hal ini yang anda inginkan sedari dulu?" tanya Keenan sinis.


"Dari dulu kau selalu berpikiran buruk tentangku. Aku Ayahmu, yang telah membiayai hidupmu. Namun kau tak pernah menghargaiku. Bahkan tak sekalipun aku mendengar kau memanggilku Ayah," ucap Freddy.


"Selama ini Anda hidup dari harta ibu!" seru Keenan.


"Jaga ucapanmu!" seru Freddy.


"Aku mengatakan fakta. Mengapa Anda tersinggung?" tanya Keenan.


"Kau benar-benar anak tak tahu sopan santun!" seru Freddy.


"Lantas, apakah Anda pikir yang telah Anda lakukan pada ibu adalah sesuatu yang patut dibanggakan? Itu adalah sesuatu yang hina. Seorang pria yang mempermainkan pernikahannya. Bahkan di saat ibu begitu membutuhkanmu, Anda justru membunuhnya secara perlahan!" seru Keenan.


"Cukup Keenan!" seru Freddy.


"Anda bahkan lebih kejam dari seorang pembunuh!" seru Keenan.


"Kau,....!" Freddy mengangkat tangannya ke arah wajah Keenan namun Keenan dengan sigap menahannya.


"Ayo kita pergi dari tempat ini, Rio," ucap Keenan.


Keduanya pun lalu melangkah meninggalkan makam Sarah.


Namun baru beberapa langkah, tiba-tiba datang seorang perempuan mendekat ke arah makam yang masih basah tersebut.


Awalnya Keenan dan Rio tak mengenali perempuan itu. Namun ketika ia membuka kacamata hitamnya, barulah keduanya mengenali siapa perempuan tersebut.


"Celine," ucap Rio. Jantungnya berdegup kencang.


"Kau mengenalnya?" Tanya Keenan.


Rio menatap wajah Celine. Perempuan yang pernah begitu dicintainya. Namun Celine memilih menikah dengan pria pilihan sang ibu. Pernikahan tanpa cinta yang dijalani Celine ternyata berakhir dengan perpisahan.


"Kau…?" Tanya Celine tak kalah kaget.


Ia tak menyangka jika dirinya kembali dipertemukan dengan mantan kekasihnya tersebut. 


"Kau mengenal Nyonya Sarah?" Tanya Celine. 


"Aku pengacaranya," jawab Rio.


"Untuk apa kau mendatangi makam ibuku?" Tanya Keenan dengan pandangan penuh kebencian.


Celine tak menjawab. Kepalanya tertunduk.


"Kau mengenal Celine?" Tanya Rio dengan wajah heran.


"Dia dan pria itu yang telah membunuh ibuku!" seru Keenan.


"Apa maksud ucapanmu?" Tanya Rio.


"Sudahlah. Aku muak dengan wajah mereka!" seru Keenan. Ia kemudian berlalu dari hadapan Celine.


Keenan menuju mobilnya. Sedangkan Rio masih tercengang karena pertemuannya dengan Celine, perempuan yang pernah mengisi hatinya.


"Keenan! Tunggu!" Rio memilih berlalu dari hadapan mantan kekasihnya dan berlari mengejar Keenan yang telah masuk ke dalam mobilnya. Celine hanya memandang punggung Rio yang semakin menjauh darinya.


Celine berjalan mendekat ke arah Freddy yang belum beranjak dari makam Sarah.


"Sampai kapan kau akan berdiri di tempat ini?" Tanyanya.


"Tinggalkan aku sendiri," ucap Freddy.


"Bukankah kepergian Sarah bagus untuk hubungan kita? Kita bisa bebas menjalani hubungan tanpa perasaan bersalah," ucap Celine.


Freddy hanya terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dan kembali memandang gundukan tanah yang bertabur bunga segar itu.


"Aku merasa bersalah padanya," ucap Freddy.


"Sudahlah. Penyesalanmu tak berguna lagi. Lebih baik kita tinggalkan tempat ini." Celine mengelus lembut pundak Freddy namun pria itu tak bergeming. Pandangannya masih tak beralih dari tempat peristirahatan terakhir istrinya.


*****


Di dalam mobil Keenan terjadi percakapan antara dirinya dan Rio.


"Sepertinya kau tak menyukai Celine," ucap Rio.


"Perempuan j*l**g itu adalah kekasih gelap Freddy!" seru Keenan penuh amarah.


"Apa maksud ucapanmu?" 


"Beberapa jam sebelum ibu meninggal, ibu memintaku untuk menemaninya mendatangi kantor Freddy. Ibu bahkan sudah memasak khusus untuk pria itu. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Sesampainya di ruang kerja Freddy, ibu justru harus disuguhi pemandangan yang menyakitkan. Pria itu tengah bermesraan dengan Celine!"


"Astaga! Apakah Tuan Freddy mengenal Celine?"


"Celine adalah sekretaris pribadi Freddy."


Rio tersentak.


"Kau sendiri, apakah kau mengenal perempuan j**an* itu?" tanya Keenan.


Rio menghela napas.


"Aku dan Celine cukup lama menjalin hubungan. Namun semuanya harus berakhir ketika ia memutuskan untuk menikah dengan pria lain pilihan ibunya," ucap Rio dengan wajah penuh kesedihan.


"Kau masih menyimpan perasaan padanya?" tanya Keenan.


"Entahlah. Namun setelah kepergiannya beberapa tahun lalu hingga kini belum ada seorang perempuan pun yang mengisi hatiku," jawab Rio.


"Itulah hal sama yang kurasakan. Hingga detik ini belum ada seorang pun yang menggantikan Aurora di hatiku," ucap Keenan.


"Bukankah Aurora kini sendiri. Mengapa kau tak mengejar cintanya lagi?" tanya Rio. Keenan tak menjawab. Ia hanya tersenyum getir.


Keenan menghentikan mobilnya di depan rumah Sarah. Bendera berwarna  putih masih terpasang di depan rumah. Keduanya pun lalu masuk ke dalam rumah tersebut.


Keduanya lalu duduk di sofa yang berada di ruang tamu.


"Mungkin ini terlalu cepat. Namun aku harus menyampaikan surat wasiat dari nyonya Sarah," ucap Rio. Ia lalu mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya.


"Surat wasiat apa yang kau maksud?" tanya Keenan dengan wajah heran.


"Beberapa hari yang lalu nyonya Sarah memintaku untuk membuat surat wasiat." 


Rio lalu menyodorkan map berwarna hijau tersebut pada Keenan.


Keenan pun lalu membuka map tersebut.


"Apa maksud tulisan ini?" Tanyanya.


"Nyonya Sarah memberikan seluruh harta yang ia miliki termasuk perusahaan dan apartemen kepada anak angkatnya, yaitu kau, Keenan," jawab Rio.


Keenan tercengang. 


"Bagaimana mungkin?" Tanya Keenan dengan raut wajah tak percaya.


"Nyonya Sarah sendiri yang memintaku menuliskan surat wasiat itu. Kau beruntung. Meskipun hanya ibu angkat, ia begitu menyayangimu. Bahkan sebelum kepergiannya, ia menyampaikan amanat jika seluruh harta yang ia miliki diberikan penuh padamu," tegasnya.


Keenan tak menyadari jika sedari tadi sepasang telinga mendengarkan seluruh isi pembicaraan mereka.


"Surat wasiat itu tidak sah!" seru Freddy yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


Keenan dan Rio tersentak memandang Freddy yang masuk ke ruangan tersebut dengan wajah penuh amarah.


Bersambung….


Tembus 200 👍aku up episode selanjutnya.…


❤ ❤ ❤ 


Hai kak, dukung terus karyaku ya…


Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.


Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.


Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕