ANDROMEDA

ANDROMEDA
Rencana Pernikahan



"Astaga! Nadine? Joe? Kalian, …"


Hans yang penasaran pun meninggalkan meja makan dan berjalan menuju ruang tamu. Dia pun tak kalah kaget dengan kedatangan putri sekaligus calon menantunya itu.


"Kenapa kalian tidak memberi  kabar jika ingin pulang?" tanyanya.


"Kami sengaja memberi kejutan, Ayah," ucap Nadine.


"Apa kalian sengaja pulang bersama?" tanya Helena.


"Ehm, saya…saya…"


"Apa kita akan terus mengobrol di tengah pintu begini?" protes Nadine.


Helena pun lantas mengajak mereka masuk ke dalam ruang tamu.


"Bagaimana perjalanan kalian dari NY?" tanya Hans.


"Nadine hanya tidur di sepanjang perjalanan, Yah," jawab Joe.


"Ayah? Coba kau ulangi lagi."


"Ma-ma-af. Maksud saya Tuan, Paman."


"Astaga. Kenapa kau jadi salah tingkah begitu?" bisik Nadine yang duduk persis di sebelah Joe.


"Ehm, Tuan… Nyonya. Sebenarnya maksud kedatangan saya ke rumah ini saya ingin mengutarakan keinginan saya untuk ehm…ehm…"


"Untuk?" Hans mengerutkan keningnya.


"Saya-saya ingin melamar Nadine menjadi istri saya," ucap Joe dengan wajah tertunduk.


Suasana hening sejenak.


"Aku menyerahkan semua keputusan pada putriku. Bagaimana pun dia yang akan menjalani pernikahan itu," ujar Hans.


"Bagaimana menurutmu, Nak?" 


Helena mengalihkan pandangannya pada Nadine yang juga menundukkan wajahnya.


"Aku-aku mencintai Joe. Aku menerima lamaran ini," ucapnya.


"Ayah yakin kau tahu yang terbaik bagi masa depanmu," ucap Hans. 


Ada rasa haru yang tiba-tiba menyeruak saat kalimat itu meluncur dari mulutnya.


"Apa kau masih memiliki keluarga, Nak?" tanya Hans.


"Kedua orangtua saya sudah meninggal. Saya dibesarkan oleh paman dan bibi saya yang kini berada di kota M," ungkap Joe. Hans mengangguk paham.


"Sepertinya kami juga perlu berkenalan dengan mereka."


"Mungkin lusa saya akan mengajak mereka bertemu Tuan dan Nyonya."


"Kenapa kau masih saja memanggil kami dengan sebutan itu?" protes Helena.


"Benar. Mulai saat ini kau bisa memanggil kami dengan sebutan ayah dan ibu," ujar Hans.


"Sungguh?"


Joe merasa matanya mulai menghangat. Dia lekas menyeka buliran bening itu sebelum sempat menetes.


"Kau menangis?" tanya Nadine setengah meledek.


"Siapa juga yang menangis," bantah Joe.


"Jadi, kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Helena.


"Mungkin akhir bulan ini, Nyonya. Eh…Ibu."


"Semakin cepat semakin baik," ujar Hans.


"Sabar, Sayang. Kita perlu membahasnya dengan paman dan bibi Joe 'bukan?" ucap Helena.


"Aku tidak sabar lagi ingin melihat putri kita mengenakan baju pengantin. Lagipula usia kita sekarang sudah pantas untuk dipanggil dengan sebutan kakek dan nenek," ucap Hans.


"Kau yang sudah pantas dipanggil kakek. Aku belum merasa tua." Helena terkekeh.


"Oh ya. Kalian pasti belum sarapan. Bagaimana jika kita sarapan bersama?" ucap Hans.


"Ehm…tidak usah, Tuan eh Ayah. Saya belum lapar," ucap Joe.


"Sudahlah. Tidak usah malu-malu. Aku tahu kau sangat kelaparan," bisik Nadine.


"Memangnya siapa yang kelaparan?"


bantah Joe setengah berbisik.


"Kami akan marah jika kau menolak tawaran kami," ancam Helena.


Joe pun tak punya pilihan selain menerima tawaran mereka untuk sarapan bersama.


"Mari kita ke meja makan sebelum makanan dingin," ucap Helena.


Nadine pun lantas menggandeng tangan Joe dan mengajaknya masuk ke ruang makan diikuti Hans dan Helena di belakangnya.


*****


Di sebuah kamar apartemen terdengar obrolan antara seorang pria dan wanita.


"Percuma saja kau mencuri surat-surat berharga ini jika semua atas nama anak tirimu itu!" 


"Ini bukan perkara sulit, Sayang. Aku bisa membayar orang untuk mengubahnya menjadi hak milikku."


"Tidak bisa! Aku ingin semuanya atas namaku. Bukankah kau sudah berjanji akan memberikan apapun yang kumau?"


"Kenapa kau jadi egois begini? Aku mempertaruhkan nyawaku untuk mencuri surat-surat berharga ini. Aku bahkan merusak sistem kamera pengawas di apartemen Keenan."


"Baiklah, jika kau tidak mau menuruti keinginanku, lebih baik aku pergi! Anggap saja kita tidak saling mengenal." Celine hendak beranjak dari kamar itu namun Freddy menahannya.


"Jangan pergi. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu," rayu Freddy. Dia lantas merengkuh tubuh Celine ke dalam pelukannya.


"Jadi, kau mau merubah surat-surat berharga itu atas namaku?" tanya Celine. Hans menganggukkan kepalanya.


"Enak saja. Memangnya kau siapa? Aku yang selama ini sudah mengorbankan hidupku untuk menikah dengan wanita penyakitan itu. Sebelum akhirnya meninggal. Semua harta warisannya harus menjadi milikku seutuhnya," gumam Freddy dalam hati.


******


Di apartemen Keenan.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Keenan saat mendapati Aurora tengah duduk melamun di depan meja rias.


"Aku merindukan toko kue ku," jawabnya.


"Lantas?" 


"Jika kau mengizinkan, aku ingin membuka kembali kios ku."


"Aku tidak akan membiarkanmu bekerja keras apalagi sampai kau kelelahan. Sejak menikahimu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membuatmu dan Andromeda bahagia."


"Aku merasa bosan tidak melakukan apapun di sini."


Keenan berpikir sejenak.


"Baiklah, kau boleh membuka kembali kiosmu. Tapi dengan satu syarat."


"Syarat?"


"Kau tidak akan terjun langsung. Kau hanya perlu memberikan resep pada karyawanmu. Kau hanya perlu menjadi manager pemasaran. Aku yakin kau bisa melakukannya," jelas Keenan.


Aurora mengangguk setuju.


"Di mana Andro?" tanya Keenan.


"Dia sedang bersepeda bersama kawan barunya."


"Andro anak yang baik dan menyenangkan. Dia akan dengan mudah mendapatkan kawan," ujar Keenan.


"Kau mau kemana?" tanya Aurora saat Keenan meraih kunci mobilnya dari atas meja.


"Aku dan Gibran berencana meninjau lokasi untuk bisnis baru kami."


"Jangan lama-lama."


"Kenapa?"


"Nanti aku rindu."


"Dari mana kau belajar merayu?" 


"Kau yang sering merayuku 'bukan?"


"Memangnya kapan aku merayumu?"


Keenan mendekati Aurora lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya.


"Pergilah, nanti Gibran terlalu lama menunggu."


Benar saja, ponsel Keenan tiba-tiba berdering. Keenan menatap layar ponsel beberapa saat sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku celananya.


"Aku pergi dulu," ucap Keenan.


"Hati-hati."


Keenan mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening Aurora sebelum akhirnya meninggalkan kamar.


"Ayah mau kemana?" tanya Andromeda yang kebetulan tiba di depan pintu.


"Ayah mau bertemu ayah Gibran," jawabnya.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Andro.


"Kau di rumah saja temani ibumu."


Andro mengangguk paham.


"Kau memang anak pintar," puji Keenan sembari membelai rambut pura sambungnya itu.


"Hati-hati, Ayah."


"Sampai jumpa."


Setengah jam kemudian Keenan tiba di sebuah alamat seperti yang tertulis di pesan singkat dari Gibran. Rupanya Gibran memilih lokasi bisnis di luar kota. Keduanya sepakat bertemu di sebuah cafe.


Keenan baru saja turun dari mobilnya ketika tiba-tiba netranya mendapati sesosok wajah yang sama sekali tidak asing di matanya. Dia tampak melangkah masuk ke dalam cafe tersebut bersama seorang wanita.


Keenan mengawasi mereka hingga keduanya memilih sebuah meja.


"Selamat siang, Tuan," sapanya.


Pria paruh baya itu pun sontak menoleh ke arahnya. Alangkah terkejutnya saat memandang wajah Keenan.


Bersambung…


Hai, pembaca setia. Novel Andromeda hampir tamat ya. Mampir juga yuk di novel terbaruku yang judulnya:


"Maduku, Racunku"


Dijamin banyak mengandung bawang.


Jangan lupa beri dukungan dengan memberikan like, komentar positif, favorit, dan hadiah. Sekecil apapun dukungan kalian, akan sangat berarti bagi Author….


Happy reading 🥰🥰🥰