
Andro tengah asyik dengan laptop barunya. Semenjak ia memiliki benda tersebut, bocah genius itu makin penasaran mengenai semua hal yang ada di sekelilingnya. Seperti halnya siang itu, ia tengah mencari informasi perihal tes DNA.
Andro membuka internet untuk menjawab keingin tahuannya mengenai istilah tersebut. Setelah menemukan informasi dari salah satu situs internet. Anak itu baru ingat. Ketika beberapa waktu lalu Mister tampan, yang tak lain adalah Keenan. Pernah tiba-tiba mengajaknya ke salon untuk merapikan rambutnya yang sudah mulai lebat.
Andro sempat melihat saat seorang chapter salon menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat yang entah apa isinya.
"Apakah amplop coklat itu berisi rambutku?" gumamnya. Ia juga ingat saat ia hendak menemui Keenan di kamar apartemennya, pria itu tengah berbicara dengan seseorang di telepon perihal tes DNA.
"Tak salah lagi. Pasti Mister tampan mengambil rambutku untuk melakukan tes itu," gumamnya lagi.
"Tapi, butuh satu sampel lagi untuk mencocokkan DNA ku. Sampel siapa yang akan dicocokkan denganku?"
Andro terus menerka-nerka.
"Are you OK, dear?" (Kau baik-baik saja, Sayang?)Tanya sang ibu yang mendapati Andro seperti tengah berpikir keras.
"I'm OK mom, don't worry," (Aku baik-baik saja, Ibu. Jangan khawatir) jawabnya.
Ia bergegas menutup laptopnya dan menghampiri sang ibu yang baru pulang dari supermarket.
"Mengapa Mommy tak mengajakku tadi?" Tanyanya.
"Kau terlalu asyik dengan teman barumu," jawab sang ibu sambil mengeluarkan barang-barang dari tas belanjanya.
"Aku sedang mencari informasi tentang…" Andro tak melanjutkan kata-katanya.
"Informasi apa?"
"Informasi tentang… ya. Pelajaran." Jawabnya.
"Sungguh?" Tanya sang ibu. Ia mendekatkan wajahnya ke arah putranya. Bocah itu pun mengangguk cepat.
"Mommy mau memasak?" Tanya Andro.
"Hari ini aku sedang ingin makan sop ayam," jawabnya.
"Kedengarannya lezat," ucap Andro kemudian.
"Bantu mommy memotong wortel ini."
Aurora menyodorkan sebatang pisau dan sebungkus wortel pada Andro.
"Mister tampan mengatakan jika saat muda dulu, Mommy adalah gadis yang pintar dan juga cantik," ucap Andro tiba-tiba.
Aurora merasa wajahnya memerah. Ia bermaksud menyembunyikannya. Namun Andro rupanya paham jika ibunya telah salah tingkah.
"Wajah Mommy memerah, apa kau merasa kepanasan?" Ledek Andro.
"Tidak. Udara bahkan cukup dingin pagi ini," jawab sang ibu.
"Setelah selesai memasak, aku harus ke kios. Aku akan melakukan sedikit interview pada beberapa pelamar yang ingin menjadi kasir.
"Aku ikut denganmu," ucap Andro.
"Baiklah, kita selesaikan dulu masakan kita," ucap Aurora kemudian.
Setelah menyelesaikan masakan sekaligus menikmati sarapan, keduanya pun menuju kios mereka.
Tampak lima orang gadis berbaju rapi tengah berdiri di depan toko.
"Aurora mempersilahkan pada gadis yang datang paling awal ke tokonya untuk terlebih dahulu masuk ke dalam kios.
"Silahkan duduk," ucapnya pada gadis berambut panjang yang mengenakan kemeja bermotif bunga dan celana hitam.
"Kau baru saja lulus?" Tanyanya sambil mengamati beberapa lembar berkas dari amplop berwarna coklat yang disodorkan oleh gadis tersebut.
"Ya, Nyonya," jawabnya sopan.
"Mengapa kau tertarik menjadi seorang kasir?" Tanya Aurora.
"Aku ingin mencari pengalaman," jawabnya.
Setelah beberapa jam, Aurora pun selesai menginterview semua pelamar. Namun dari kelima gadis yang rata-rata baru lulus SMA itu, Aurora tertarik pada salah satu pelamar bernama Nesya.
Empat pelamar menjawab alasan mereka memilih pekerjaan kasir hanya untuk mencari pengalaman kerja, Nesya memberi jawaban yang berbeda dan menarik dibandingkan pelamar lain. Ia tertarik menjadi kasir karena saat ia kecil, ibunya sering mengajaknya bekerja di sebuah toko. Dan dari pekerjaan kasir itulah sang ibu bisa membiayai sekolahnya hingga lulus SMA.
"Mommy sudah menemukan kasir pengganti di toko kita?" Tanya Andro.
"Nesya. Kurasa ia cocok menjadi kasir di toko kue kita," jawab sang ibu.
"Pilihan kita sama rupanya," ucap Andro.
"Sungguh?" Tanya Aurora.
"Ia gadis yang ramah dan jujur," jawab Andro.
"Baiklah. Aku akan segera mengirim pesan untuknya."
[To: +62812xxxxxxxxx
Saudari Nesya, anda diterima bekerja di toko Aurora cake. Besok anda bisa mulai bekerja].
Tak lama berselang, sebuah pesan masuk ke ponsel Aurora.
Pesan balasan dari Nesya.
[From: +62812xxxxxxxx
Ya, bu. Terima kasih.]
*****
Di rumah Hans.
Felice terlihat tengah merajut syal di kursi malasnya. Tiba-tiba wajah Helena melintas. Perempuan yang hampir tiga puluh tahun meninggalkan anak laki-lakinya. Tanpa diduga, Tuhan kembali mempertemukan mereka.
Masih jelas di ingatannya saat keduanya bertemu di sebuah toko. Felice dapat melihat sebuah penyesalan di matanya. Sekaligus kepedihan. Namun untuk memafkannya bukanlah hal yang mudah. Helena telah menggoreskan luka yang cukup dalam di hati Hans dan Nadine.
Apalagi jika ia teringat siang itu. Satu minggu menjelang hari pernikahan Hans dan Helena. Perempuan itu justru melihat Helena dan Freddy tengah bermesraan di taman. Meskipun orang tua Helena tak pernah menyukai Hans, Namun keduanya tampak tak terpisahkan.
Beberapa hari setelah Hans dan Helena menikah, Felice mendengarnya muntah-muntah di kamar mandi.
"Baru beberapa hari kalian menikah, istrimu sudah muntah-muntah begitu," ucap Felice pada Hans pagi itu.
"Bukankah itu bagus, tak lama lagi aku akan memberi Ibu seorang cucu. Istriku hamil secepat ini," ucap Hans dengan wajah bahagia.
Hans menjadi orang yang paling bahagia atas kehamilan Helena. Ia bahkan membuat pesta perayaan yang cukup mewah hanya untuk memberi tahu ke semua orang jika istrinya tengah mengandung.
Felice terus melamun, hingga akhirnya jarinya tertusuk jarum rajut. Perempuan itu pun mengaduh pelan.
Hans yang tiba-tiba melintas pun sontak terkejut.
"Ibu kenapa?" Tanyanya.
"Tak apa-apa, Nak. Aku hanya sedikit kehilangan konsentrasiku," jawabnya.
"Tak biasanya Ibu seperti ini. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?" Tanyanya lagi.
"Aku baik-baik saja. Kau tak perlu mencemaskanku," ucapnya.
Hans menatap mata sang ibu.
"Ibu ingin mengatakan sesuatu padaku?" Tanya Hans lagi.
Felice menggeleng pelan.
"Aku harus berbicara pada Gibran," ucapnya kemudian.
"Kau jangan terlalu ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri."
"Nadine terus menghindarinya. Sedangkan Gibran pun tampaknya enggan mencari jalan keluar. Lantas, kapan masalah mereka akan selesai? Hari pertunangan mereka sudah semakin dekat. Bahkan baju pertunangan mereka sudah selesai dijahit."
"Sebenarnya apa yang kau rahasiakan dariku?" Tanya Felice.
"Aku tak menyembunyikan apapun dari Ibu."
"Rahasia masa lalu Gibran mana yang kau maksud? Begitu besarkah pengaruhnya bagi Nadine?"
"Tentu saja besar pengaruhnya. Gibran pernah…" Hans tak melanjutkan kata-katanya. Tiba-tiba ponselnya berdering.
Hans berjalan sedikit menjauh dari sang ibu.
"Aku harus pergi sekarang," ucapnya beberapa saat kemudian.
"Kita belum selesai bicara. Hans! Hans!"
Felice berulang kali memanggil nama anak laki-lakinya tersebut. Namun Hans terlanjur melaju dengan mobilnya.
Bersambung…
Tembus 200 👍aku up episode berikutnya…
❤ ❤ ❤
Hai kak, dukung terus karyaku ya…
Jangan lupa beri like👍, komentar💬, ✒vote, favorit💙 serta hadiah🎁.
Sekecil apapun dukungan yang kalian berikan untukku, aku akan sangat berterima kasih.
Semoga kalian terus menjadi pembaca setiaku..💕💕